
Mentari yang perlahan menerangi bumi, sinarnya masuk menembus sela sela tirai menyinari wajah Alvian.
Dengan perlahan, Alvian membuka matanya. Ia menengok ke kiri dan kanan, tidak menemukan keberadaan Nara lagi.
“Kaka sudah bangun? Sana mandi dulu.”
“Tidak sayang, aku harus segera bertemu David dan Victor. Kau sudah siap? “
“Sudah. “
“Ayok! “
“Setidaknya sarapan dulu, “ ujar Nara menarik tangan Alvian.
“Sampai di rumah. “
Dengan menggandeng tangan Nara, Alvian berjalan menuju mobilnya yang semalam terparkir di halaman rumah Nara.
Setelah memasuki mobil, Alvian melajukan mobilnya membelah jalanan kota menuju kediamannya.
“Kita mau ke rumah Kaka? “
Alvian hanya mengangguk mengiyakan perkataan Nara, lalu kembali fokus pada jalanan yang belum terlalu macet.
“Tapi aku harus kerja kak, ini hari pertama aku kerja, “
“Hmm, hari ini tugasmu menemaniku mengurus beberapa masalah. Aku membutuhkan mu, untuk meretas beberapa data penting.
“Baiklah, tapi berapa upahku? “
“Periksa rekening mu! “
Nara di buat kaget dengan nominal yang di berikan Alvian. Bagaimana tidak, pria itu memberinya dua ratus juta.
Setibanya di kediaman Alviano, dengan menggandeng tangan Nara pria itu menuju meja makan.
Di sana sudah ada Roseta yang entah sejak kapan tiba. Alvian melihat kesekelilingnya tak menemukan keberadaan Alexo.
“Kemana Alexo? “
“Anak ku sedang nongkrong di taman bersama Bram, “ jelas Rani.
“Hai sayang, “ sapa Rani yang melihat kehadiran Nara di sana.
Roseta yang mendengar panggilan Sayang keluar dari mulut Rani, membuatnya tak terima.
“Kok hanya dia yang di panggil sayang sih? “
Semuanya seketika menatap kearahnya, Rani yang tidak perduli dengan ocehan Roseta kembali menatap piringnya.
“Dewi bawa ini ke taman belakang! “ pintah Alvian.
Dengan segera asisten rumah tangganya itu, membawa beberapa makanan menuju taman belakang.
Alvian menggandeng tangan Nara menuju kamar, Roseta semakin kesal saat Alvian tidak menghiraukannya.
“Apa kau lihat rambut Nara yang basah Ran? “ ucap Evan.
Roseta semakin di buat panas dengan ucapan Evan. Ridwan yang juga sempat melihat hal itu, semakin frustasi dengan putranya.
__ADS_1
“Paman, “ rengek Roseta.
“Cukup Roseta! Kau kembali saja ke Amerika, “ bentak Diandra yang sudah tidak tahan dengan sikap Alvian yang semakin tidak menganggap keberadaannya.
“Diandra apa maksud mu?! “
Ridwan ikut bangkit dari duduknya, menatap Diandra.
Evan dan Rani yang seolah mendapat tontonan gratis, saling memandang lalu mengunyah dengan penuh rasa penasaran, apa yang akan terjadi berikutnya.
“Cukup mas! Aku capek dengan semua ini, apa kau tidak lihat bagaimana putraku sama sekali tidak memberiku muka? Aku mohon berhentilah, “ ujar Diandra menggebu-gebu.
“Aku tidak peduli, Roseta dan Alvian harus menikah. “
Rani dan juga Evan terkejut akan perkataan ayahnya. Bisa-bisanya Ridwan berkata seperti itu, di saat Diandra tengah berusaha keras meluluhkan hati Alvian.
“Kenapa dengan ayah? Ayah kok bisa se egois itu, hanya demi wanita murahan ini. “
Tak terima dengan sikap Ridwan pada Diandra, Emosi Rani memuncak.
“Maksud kamu apa? “ ujar Roseta yang tak terima di Katai seperti itu.
“Hei hei, jika sehelai buluh di tubuhnya jatuh, kau akan berurusan denganku, “ ujar Evan memasang badan melindungi Rani.
“Sudah Cukup! Kau Rani tidak usah ikut campur, “ ujar Ridwan.
“Ikut campur saja Rani, aku berada di belakang mu. “ nantang Victor menghampiri meja makan.
Ridwan yang tau tidak akan bisa melawan Victor, memilih pergi dari sana tanpa menyelesaikan sarapannya.
“Sudah ku peringatkan kau, tapi dirimu tidak mendengarkan ku. Jery! “
Roseta menjadi panik mendengar ucapan Victor. Bukan hanya Roseta, Rani dan juga Evan ikut ketakutan saat nada suara pria itu terdengar dingin.
Mendapat perintah seperti itu dari Victor, Jery mendekati Roseta hendak membawa pergi wanita itu.
“Lepaskan dia Victor! “ ujar Diandra menahan.
Victor tersenyum puas mendengar perkataan itu keluar dari mulut Diandra, sejak kedatangan Roseta dirinya selalu menanti kata-kata itu dari mulut Diandra.
“Ini peringatan terakhir kali, jika kau berani macam-macam buaya yang berada di rawa belakang menantimu. “
Victor melangkah pergi meninggalkan tempat itu, di susul Rani dan juga Evan yang berjalan menuju kolam.
Sementara Alvian, pria itu saat ini tengah pusing di omel Nara.
“Ayolah Kak keringkan rambutmu, David dan yang lainnya pasti sedang menunggu. “
Seolah tidak mendengar perkataan Nara, Alvian melangkah kedepan cermin lalu mulai merapikan rambutnya.
Setelah melihat Alvian yang sudah selesai menata rambutnya, Nara terlebih dahulu keluar kamar Alvian menuju taman belakang. Alvian pun tak luput mengikuti langkah kaki Nara.
Keduanya beriringan melangkah masuk kedalam taman, yang memang di ranjang sedemikian rupa layaknya sebuah ruangan.
Bukan hanya itu saja, Di tengah-tengah taman terdapat sebuah aquarium kecil yang berisikan seekor ikan mas kecil.
“Semuanya sudah ada? “
Alvian menggandeng tangan Nara menuju tempat duduk khusus untuk keduanya.
__ADS_1
“Sudah tuan, Bram juga sudah kembali. “
Mendengar penuturan David, Alvian mengangguk lalu menatap ke arah laptopnya.
“Tuan, perusahaan asal Korea milik tuan Kim Hyun menginginkan perusahaan kita menjadi investornya, “ jelas Victor menyerahkan data-datanya.
“Ya sudah terima, apa kendalanya? “
“Masalahnya tuan, kami belum bisa memastikan keadaan perusahaannya saat ini. Sebab Ilone masih sibuk mengurus nyonya Lidia, “ ujar Bram menambahkan.
Alvian berbalik menatap Nara, yang sepertinya tengah sibuk dengan dunianya.
“Kenapa menatap ku seperti itu? “
Belum sempat pertanyaan di jawab, Alvian mengisyaratkan Jery meletakkan laptop di hadapan Nara.
“Baiklah, Nara semangat demi lembaran Soekarno-Hatta. “
Semua yang berada di sana, menahan tawa mereka ketika mendengar perkataan gadis itu.
“Menggemaskan, “ gumam Alvian yang untungnya tidak di dengar oleh anak buahnya.
Dengan telatennya, Nara mulai mengotak-atik laptopnya mencari informasi tentang perusahaan Kim Hyun.
Dari data yang di bilang sangat umum, sampai data-data yang lumayan bersifat pribadi di usik Nara sampai tuntas.
“Mau di lihat apanya nih? “
“Perkembangan perusahaannya dua bulan terakhir ini, “ ucap Alvian.
“Dua bulan terakhir ini cukup baik, Diagram dari tabel menunjukkan angka tujuh puluh persen. Dan lagi, mereka menyelesaikan proyek besar dengan kurun waktu yang lumayan cepat. “
“Aku mau data keuangan mereka Nona, “ ujar David.
“Keuangan mereka sebulan terakhir ini, lumayan stabil. Namun, dalam dua bulan terakhir sempat merosot tapi sekarang sudah stabil lagi, “ jelas Nara.
“Perusahaan mana saja yang bekerja sama dengannya? “ tanya Alvian.
“Aku tidak bisa membaca perusahaan apa ini, tapi nama pemiliknya aku tau. “
“Siapa? “ tanya Alvian lagi.
“Nikolas Kazim, Lidia Jovanka, dan juga Lian Sheng. “
Darr
Alvian tersenyum smrik saat nama-nama itu di sebutkan Nara. Victor dan juga David mengusap wajah keduanya kasar.
“Katakan pada Hyun, kita menerima kerja sama ini, “ pintah Alvian.
Setelah mengatakan hal itu, Alvian bangkit dari duduknya berjalan menuju kolam yang tidak jauh dari sana sembari membawa Nara di sampingnya.
“Teruslah bermain-main denganku, sebentar lagi akan ku pastikan hanya kehancuran yang akan menimpah kalian seperti lima belas tahun yang lalu. “ batin Alvian.
.
.
Hambur radul deh,
__ADS_1
tapi makasih yah buat yang sudah mah mampir ❤️
jangan lupa like, komen, saran, kritiknya makasih.