Dicintai Tuan Muda Alviano

Dicintai Tuan Muda Alviano
Bab 16 Kembali dengan selamat


__ADS_3

Alvian membuka matanya, dan merasakan tangannya tidak bisa bergerak. Saat Ia sepenuhnya sadar, barulah Ia mengetahui bahwa dirinya sudah di ikat bersamaan dengan Alexo dan juga Evan.


“Nara, Tuan muda, “ ujar Victor khawatir dengan terus mengurus musuh yang berdatangan.


“David, perlahan masuk melalui jendela kiri. Al, dalam kantong kiri mu ada gunting, gunakan itu untuk melepaskan ikatannya, “ ujar Nara.


Alvian tersadar dirinya teringat saat Nara memeluknya tadi, ternyata gadis tersebut sudah memprediksi semuanya.


“Hahahaha Seorang Alviano menjadi tawanan ku, “ ujar Liam bangga dan berjalan menghampiri Alvian.


Ia mengambil segelas air kemasan, meludahi air tersebut lalu mengguyur ke sekujur tubuh Alvian.


"Bang sat! " umpat Alvian dengan wajah Datarnya.


Dor


Bersamaan dengan guyuran air di atas tubuh Alvian, David dengan cepat lumpuhkan beberapa anak buah Liam.


Alvian yang sudah berhasil melepaskan ikatan Evan, dengan cepat menyerahkan gunting kepada Evan.


Setelah kedua pria itu terlepas dari ikatan keduanya, David membuang sebuah pistol ke arah Evan.


“Kau tau Liam, ketika Evan Sanders dan juga Alviano Jovanka bersama, kau akan hancur menjadi debu, “ ujar Alvian.


Dor


Dor


Dua tembakan Alvian berhasil mengenai kaki Lima membuatnya meringis kesakitan.


“Kalian akan mendapatkan akibatnya, “ ujar Liam dengan berteriak menahan rasa sakitnya.


Dor


Satu tembakan dari Alvian mengenai tangan kiri Liam, yah pria tersebut tengah meluapkan kekesalannya.


“Evan buka ikatan Alexo, “ Pintah Alvian sembari menatap Alexo.


“Victor segera ke tempat Alvian, “ ujar Nara.


Victor memerintah anak buahnya untuk berlari menuju ke dalam ruangan Evan dan Alexo di kurung, disana ia melihat Evan yang sudah bebas.


“Evan, “ ujar Victor berlari memeluk Evan.


“Al, dalam tiga menit Bram akan kesitu kalian harus cepat keluar, “ pintah Nara.


Alvian mengangguk, Bersama dengan Evan yang menggendong Alexo, Alvian Victor, David, dengan cepat masuk kedalam jet mereka dan terbang meninggalkan tempat dimana Liam yang masih meringis kesakitan.


Tiga menit kemudian, Bram menjatuhkan granat tepat di atas gedung tersebut membakar seisinya.


“Argh! “ teriak Liam menjerit kesakitan.


“Aku menunggumu, “ setelah mengatakan hal itu, Nara melepaskan earphone.

__ADS_1


Rina mendekati Nara lalu memeluk erat gadis itu, sembari meneteskan air matanya.


“Bagaimana kau bisa menguasai semua ini? “ tanya Dianra bingung.


“Hidupnya selalu di habiskan di dalam kamar dengan komputernya, “ ujar Rian menjawab pertanyaan Dianra.


“Luar biasa, “ puji Diandra.


Nara melepaskan pelukan Rani, lalu mengusap pipi bumil dihadapannya itu sembari tersenyum.


“Apa kau tidak menyiapkan sesuatu yang berharga menyambut kepulangan mereka? “ ujar Nara.


“Aku dan Rian sudah membuat itu, “ ujar Rani menunjuk es buah yang berada di atas meja makan.


Diandra tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah Nara, serta es buah yang hanya tersisa airnya sedangkan buahnya sudah habis di makan Rian dan Rani.


“Mereka pasti akan kabur lagi ketika melihat es buah milik mu, “ ujar Dianra bangkit dari duduknya menuju dapur.


Nara yang melihat kepergian Diandra, ikut berlari menuju dapur dengan maksud ingin membantu Dianra.


Keduanya dengan telaten mengolah bahan makanan yang berada dalam kulkas, lalu menyajikan dia atas meja makan.


Benar saja, setelah masakannya masak suara mobil terdengar terparkir di halaman rumah Alvian.


Dengan segera, Rani mengajak Rian berjalan menuju arah pintu. Kaki tangannya seolah kaku, saat sudah di depan pintu.


Ceklek


Hendel pintu terbuka dan menampilkan Evan yang tengah menggendong Alexo putranya dengan wajah kusam tak terurus.


Rani seketika meneteskan air matanya dan berhamburan kedalam pelukan Evan. Yah sudah hampir enam bulan, Ia kehilangan suami dan juga putranya akibat ulah neneknya yang tidak setuju akan pernikahan mereka.


“Huaaaa, aku merindukanmu, “ ujar Rina di sela tangisannya.


Alexo yang seketika sadar, menatap wajah Rani di hadapannya berhamburan kedalam pelukan ibunya.


“Mami, “ tangis kedua ibu dan anak itu semakin menjadi-jadi.


“Ayolah apa kalian akan terus menangis disana?! “ ujar Dianra menghampiri mereka.


“Oma, “ Alexo berlari ke dalam pelukan Dianra.


Evan menatap Alvian lalu memeluk erat tubuh adik istrinya itu. Entahlah jika tanpa Alvian, hidupnya akan selama terkurung selamanya disana.


Setelah melepaskan pelukan Evan, Alvian melangkah menuju Nara yang tengah sibuk di dapur.


“Apa kau sekarang bekerja sebagai chef disini? “ suara berat Alvian yang berbisik di telinga Nara membuatnya menghentikan kegiatan dan berbalik.


Nara tersenyum lalu memeluk erat tubuh Alvian begitu saja, setelah beberapa menit Ia melepaskan pelukan tersebut dengan tersipu malu.


"Akhm! " deheman Evan seketika membuat Nara melepaskan pelukannya dari tubuh Alvian.


“Aku akan selalu berhutang budi padamu, “ ujar Evan kepada Nara.

__ADS_1


Nara tersenyum mengangguk, “Selamat


berkumpul kembali dengan keluargamu. "


“Ayolah David carilah kekasih, agar ketika kau pulang kau di sambut seperti itu, “ ledek Victor.


“Terserah apa katamu, “ kesal David meninggalkan ruang tamu.


semua yang berada di sana, tertawa terbahak-bahak melihat tingkah David.


“Hallo tampan siapa nama mu? “ ujar Rian berkenalan dengan Alexo putra Rina.


“Lexi, kalau paman namanya siapa? “ ujar Alexo menyambut uluran tangan Rian.


“Adrian, tapi cukup di panggil Rian okey?! “


Alexo mengangguk mengiyakan perkataan Rian


“Paman tampan sekali, rahasianya apa? “


“Paman waktu sekecil mu, sering di cium Tanta itu, “ ujar Rian menunjuk ke arah Nara.


Seketika Alexo turun dari pangkuan Rani, dan berlari menuju Nara yang tengah tersenyum menatapnya.


“Lexo mau di cium juga biar tampan seperti paman Ian, “ ujar Alexo menunjuk pipinya.


“Baiklah, “ ujar Nara lalu menghujani pipi gembul Alexo dengan ciumannya.


“Alexo, itu punya uncle tau, “ ujar Alvian yang berpura-pura marah saat Nara mencium bocah kecil itu.


“Ah masa sih, “


Tawa semua orang pecah mendengar perkataan yang keluar dari mulut mungilnya itu.


“Apa kau tidak percaya kalau dia punya paman? Hmmm, “ ujar Alvian menggendong tubuh Alexo.


Nara yang sudah tau arah pembicaraan Alvian, dengan segera berlari menuju meja makan.


“ Hahahaha tantenya kabur, “ ujar Alexo yang sekali lagi mengundang gelak tawa semua orang.


Beberapa menit kemudian setelah menyelesaikan makan malam, dengan Rian dan juga Nara yang ikut bergabung seketika hening di kala semuanya berada pada kegiatan mereka masing-masing.


Rian dan Alexo yang tengah asik bermain game di temani Diandra di ruang keluarga, sementara Evan dan Rani, saat ini tengah asik memadu kasih di dalam kamar melepas semua kerinduan.


Sedangkan Alvian yang tengah sibuk mengurus pekerjaannya di temani, Aaa ralat di tinggal tidur Nara.


“Hari yang panjang dan melelahkan, “ ujar Alvian sembari mengecup singkat kening Nara, sebelum meninggalkan Nara dalam kamarnya menuju ruang kerjanya untuk beristirahat yang disana, terdapat kasur dan selimut untuknya.


.


.


.

__ADS_1


BERKOMENTARLAH DENGAN BIJAK!!!


__ADS_2