Dicintai Tuan Muda Alviano

Dicintai Tuan Muda Alviano
86 Masih bocah


__ADS_3

Disebuah rumah mewah, seorang pria berbaju hitam menghampiri seorang wanita yang tengah sibuk dengan piringnya.


“Bagaimana?” tanya wanita itu, setelah memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


“Hampir berhasil Nona, “


Bruk


Piring yang berada di sampingnya, melayang melewati wajah pria itu ketika kata yang diucapkannya berakhir.


“Kau bosan hidup?”


“Maaf Nona, Alvian mengacaukan semuanya.”


“Alvian lagi, Alvian lagi! Sebegitu besarnya cinta itu pada seorang gadis kampung?!” amarah wanita itu, meluap mendengar nama Alvian.


Namun, hal itu hanya berlangsung beberapa menit saja. Di menit berikutnya, Ia kembali menarik bibirnya tersenyum smrik menatap ponselnya.


“Katakan pada Osman, sore ini aku mau bertemu dengannya.”


Tak menunggu jawaban dari anak buahnya, wanita itu langsung melangkah menuju kamarnya dengan penuh senyuman.


...***...


Mentari sudah mulai muncul, Alvian yang berjanji akan kembali ke rumah sakit terpaksa tidak melakukan itu. Ia cukup lega, ketika mengirimkan pesan pada Nara dan mendapat jawaban yang tidak mengkhawatirkan.


[Tidak mengapa, Istirahatlah.]


Tiga kata itu dari Nara, sudah berhasil membuat Alvian menarik nafas lega. Karena sebelum Nara mengirimkan balasannya, Alvian sudah menduga-duga bahwa gadisnya pasti marah.


“Tuan, mereka sudah tiba.”


Mendengar suara David di luar ruang kerjanya, dengan penuh amarah Alvian berjalan keluar. Dapat dilihat jelas pada wajahnya, dari semalam Alvian sama sekali tidak tidur dan itu cukup membuat anak buahnya khawatir.


Brak


Alvian membuka kasar ruang kerja Ridwan, di dalamnya juga terdapat Diandra di sana. Matanya memerah mendekati ayahnya, yang menatapnya datar.


“Jelaskan apa ini?” masih dengan nada lembut, Alvian menyodorkan beberapa foto kehadapan Ridwan.


Sama sekali tidak memperdulikan Alvian, Ridwan justru mengambil foto-foto itu membuang ketempat sampah. David mengusap kasar wajahnya, mencoba tetap tenang ketika melihat kuping Alvian memerah.


“Aku hanya ingin memajukan perusahaan Jovanka, “ ujar Ridwan tanpa dosa.


“Memajukan? Apa ayah lupa, semua ini karena ayah! Ini perusahaan ibuku, bukan perusahaan mu.” telak Alvian.


“Ayah, sama sekali tidak berkontribusi di dalamnya. Justru keluargamu yang berusaha menghancurkan perusahaan ibuku!” tambah Alvian, kali ini nadanya sudah meninggi.


Ridwan yang awalnya biasa saja, wajahnya menjadi merah padam ketika Alvian membeberkan fakta yang sebenarnya Ia sendiri sudah tau.


“Dia juga istriku Alvian!” bentak Ridwan.


“Huh, berhentilah berbual ayah, mau aku tunjukkan suami seperti apa kau!”


Ridwan sudah mengangkat tangannya, ketika hampir mengenai wajah Alvian, seperti Biasa David dengan cepat menyodorkan pistolnya.


“Kau lihat, bahkan di rumah ini kau dan istrimu ini sangat tidak di anggap.”


Alvian melangkah pergi namun, sebelum kakinya menginjak pintu Ia menghentikan langkahnya tanpa berbalik berkata,


“Jangan coba-coba menemui musuhku, akan ku hancurkan kalian berdua!” peringat Alvian.

__ADS_1


Ridwan yang begitu kesal, menghamburkan semua berkas dihadapannya melupakan kekesalannya setelah mendengar perkataan Alvian.


“Dia begitu sangat menyusahkan, “ gumam Diandra menatap kearah pintu.


Jika saja Alvian tidak ada, mungkin sekarang seluruh harta milik Jovanka sudah sepenuhnya jatu ke tangannya. Tapi, hambatan terbesarnya saat ini masih sama dari dulu, yaitu Alvian.


Ketika Alvian sedang sibuk dengan urusannya, Nara saat ini tengah duduk bersama kedua insan yang tengah memanas-manasinya.


“Ian, buka mulutmu.” Nabila menyodorkan sesendok makanan kedalam mulut Rian.


Melihat kekesalan Nara, Rian membuka mulutnya menyantap makanan dari tangan Nabila.


“Enaknya, “ ujar Rian dibuat-buat.


Kesal dengan Rian, Nara bangkit dari duduknya memasukan semua makanan kedalam mulut Rian dengan sangat kasar.


“Tahu goreng doang, mana ada enak!” ujarnya meluapkan kekesalannya.


Tina yang baru memasuki ruangan Firman, membuat kedua anaknya terkejut saat melihat sosoknya di sana.


“Mama, sejak kapan disitu?” tanya Nara memastikan, sebab sedari tadi pembicaraan ketiganya hanya seputar Firman.


“Baru beberapa menit,” ujar Tina.


Kakinya melangkah masuk, mendekati Firman. Wajah Nara maupun Rian, begitu tegang saat Tina memperhatikan seluruh kondisi Firman.


“Kapan ayahmu sadar? “ ujar Tina bertanya-tanya.


Cukup lega, mereka pikir Tina akan bertanya soal beberapa selang yang terpasang pada tubuh Firman.


“Kalian sudah makan?”


“Kau tidak bekerja Nara?”


“Sebentar lagi.”


Setelah kata itu selesai di ucapkan, Nara bangkit dari duduknya berjalan menuju toilet bersiap ke kantor.


Ketika Nara sudah berada di dalam, Dito memasuki ruangan itu. Tina sedikit terkejut, mendekati Dito tersenyum.


“Bibi, “ ujar Dito memeluk erat tubuh Tina.


“Nak, kapan kau kembali?”


“Sudah hampir sebulan bi, “ ujar Dito.


Beberapa detik berikutnya, Nara keluar dari toilet sudah berpakaian lengkap. Tak hanya Dito saja, Alvian juga sudah berada di sana bersamaan dengan keluarnya Nara darih toilet.


“Sayang, ayok!” Alvian menyodorkan tangannya langsung disambut oleh kekasihnya itu.


“Nak Alvian, sudah sarapan?”


“Susah bibi, sebelum kesini.”


Ada sedikit rasa yang berbeda, ketika tangan Nara dan Alvian saling menggenggam satu sama lainnya. Namun, perasaan apa itu? Dito sama sekali tidak tau.


“Ma, kami jalan dulu.”


Nara mencium telapak tangan Tina, diikuti dengan Alvian yang melakukan hal sama. Setelahnya, Nara dan Alvian benar-benar menghilang dari sana.


Selepas kepergian kedua pasangan itu, Dito mendekati Nabila maupun Rian duduk di antara keduanya.

__ADS_1


“Apa sih bang?!” kesal Rian.


“Masih kecil, jangan suap-suapan.” Dito mengambil alih sendok dari tangan Nabila, menyuapi Rian dengan begitu kasar.


“Kapan kalian ospek?” Dito sengaja mengalihkan pembicaraan, ketika melihat wajah Rian yang sudah begitu kesal padanya.


“Lima hari lagi, “ jawab Nabila.


Melihat Dito menyuapj Nabila makan, Rian yang kesal dengan cepat menyingkirkan Nabila mengambil alih suapan itu.


“Dasar bocah.” Dito menyentil kening Rian.


Tak sampai di situ saja, Rian kembali memanas-manasi Dito seperti apa yang Ia lakukan pada Nara tadi, dengan mengusap pelan sudut bibir Nabila yang terdapat sisa makanan.


“Sudah aku bilang, masih kecil nggak baik suap-menyuap! Apa lagi, ngusap bibir cewek.”


Entah kesal atau apa? Dito menahan tangan Rian, agar tidak melakukan hal yang menurutnya sangat menyebalkan.


“Halah, bilang aja jealos?!” goda Rian.


Tak mau tinggal diam saja, Dito yang sudah sangat kesal memasukkan beberapa potong tahu kedalam mulut Rian.


“Nggak ada yang jealos sama bocah, “ ujarnya.


“Dih, ngaku aja deh, “ ujar Rian lagi.


“Masih bocah, jangan cinta-cintaan dulu!” oceh Dito.


“Jomblo diam saja, “ ujar Rian dengan makanan yang sudah masuk kedalam mulutnya.


Dito mendekati Rian, menggelitik tubuh Rian karena Ia sudah muak dengan semua godaan bocah itu.


Nabila maupun Tina, hanya bisa tertawa terbahak-bahak melihat tingkah keduanya. Ternyata, Rian begitu jahil bukan dengan Nara saja tapi dengan Dito juga sama.


Kembali ke Nara dan Alvian,


Hanya berdua saja dengan Alvian, keduanya melaju menuju perusahaan Jovanka. Kenapa tak bersama David maupun Victor? Sebab Alvian sudah menyuruh keduanya langsung ke kantor tanpa menunggunya lagi.


Dalam perjalanan, Alvian menghentikan laju mobilnya tepat pada sebuah tempat makan yang tak jauh dari sana.


“Katanya sudah makan, “ ujar Nara.


“Ya sudah, tapi dirimu.” Benar saja, sedari tadi Nara sibuk memperhatikan Rian dan Nabila tanpa mengisi perutnya.


Ketika keduanya bergandengan tangan hendak masuk kedalam rumah makan itu, sebuah motor menyerempet keduanya.


“Nara!” teriak Alvian menggema.


.


.


.


Hai pembaca setiaku...


Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.


Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.


makasih 🌹

__ADS_1


__ADS_2