
Setibanya di sebuah rumah yang sangat besar dan mewah, dengan nuansa klasik bertema hitam putih, mata Nara tak berhenti memancarkan kekaguman. Ia memandangi setiap inci rumah itu tanpa berkedip.
“Ayok masuk! “
Alvian menggandeng tangannya masuk, mereka langsung di sambut puluhan bodyguard yang menundukkan kepala menyambut kedatangan mereka.
“Selamat datang Tuan Muda, “ sapa seorang pria seusia Firman menghampiri mereka.
“Hallo pak Very, bawakan saya kopi ke ruang televisi, “ ujar Victor.
“Baik Tuan. “
Pak Very merupakan orang kepercayaan Alvian yang tugasnya adalah mengurus seluruh asisten rumah tangga, sopir dan juga tukang kebun.
Jika ada yang tidak beres dengan kerjaan mereka, Pak Very orang pertama yang harus tau sebelum Victor dan David baru ke Alvian.
Dengan menggandeng tangan Nara, Alvian berjalan tanpa ekspresi menuju lantai dua.
“Aku lapar kak, “
Alvian menghentikan langkahnya, lalu tersenyum sekilas membawa Nara menuju dapur.
Lagi lagi, Nara di buat kagum dengan dapur Yang dimana tidak terlihat seperti dapur pada umumnya.
“Mbok Ina tolong buatkan makanan. “
“Baik Tuan muda, “
Mbok Ina dengan segera mengarahkan anak buahnya yang berada di dapur, mempersiapkan bahan makanan untuk mulai memasak.
“Ini rumah siapa? “ tanya Nara.
Entahlah pikirannya kemana?! Sepertinya sejak awal Ia menginjakkan kakinya di istana mewah ini, pikiran kosong sehingga bertanya seperti itu kepada Alvian.
“Rumah saya, saya sengaja membangunnya di sini agar tidak ada yang menganggu. Nanti, di saat saya menikah dan punya anak di sinilah anak-anak ku akan tinggal bersama istriku. “
Nara tampak terdiam sejenak, Ia sekarang berstatus kekasih Alvian. Tapi untuk membayangkan menjadi istri pria itu, sepertinya sulit apalagi pamor dan juga kehidupan pria itu jauh berbeda dengan hidupnya.
“Beruntung sekali wanita yang akan menjadi istrimu, “ ungkap Nara.
Alvian yang terkejut akan perkataan gadisnya itu, mencoba untuk tidak melakukan hal yang akan dirinya sesali.
“Bagaimana jika itu kamu? “
Nara yang sedari tadi menyapu isi ruangan itu, berbalik menghadap Alvian.
“Apa aku pantas? “
Bukannya menjawab pertanyaan Alvian, gadis itu malah berbalik bertanya.
Alvian mengambil tangannya, menggenggam erat tangan Nara lalu menampilkan senyuman khasnya.
“Aku tidak melihat pantas atau tidaknya dirimu denganku, yang aku temukan dalam dirimu hanyalah sebuah kenyamanan. Parsetan dengan apa yang di katakan dunia, jika aku memilihmu maka semuanya juga harus tunduk menerima pilihanku. “
__ADS_1
“Tap-
Belum sempat Nara selesai berkata, Alvian dengan cepat menempelkan jarinya pada bibir Nara.
Alvian mengangkat tangannya mengisyaratkan sesuatu, yang saat itu juga seluruh bodyguard bersama asisten rumah tangga, dan juga para pekerja lainnya berkumpul di hadapannya.
“Berdirilah dan jalan ke arah pintu, lalu kembali. “
Nara mengikuti perkataan Alvian, Ia bangkit dari duduknya berjalan ke arah pintu.
Saat Ia kembali menghampiri Alvian, seketika seluruh anak buah Alvian menundukkan kepala mereka di saat Nara melewati mereka.
“Kau mengerti sekarang?! “
Nara yang tidak bisa berkata apa-apa, hanya bisa menganga menghampiri Alvian.
“Kok bisa? “ bingungnya.
“Mereka hanya akan menunduk kepada siapa yang memang pantas berada di rumah ini, “ ujar Alvian.
“Ayolah kak, jangan pake bahasa dosen otak ku nggak nyampe. “
“Selamat datang Nona Muda! “ ucap seluruh anak buah Alvian bersama.
"Jadi itu maksudnya Kaka. "
Nara yang baru paham akan maksud perkataan Alvian, wajahnya bersemu merah. Baru kali ini Ia benar-benar di ratukan oleh seorang pria.
“Apa kau sudah mengerti maksud ku honey? “
Ada begitu banyak jenis masakan yang di sajikan mereka. Nara yang melihat semua itu merasa tidak nyaman.
“Kenapa harus sebanyak ini Kak? “
“Jika tidak habis bisa mubasir, “ protes Nara.
“Maaf Nona, kami sengaja memasak banyak seperti ini, karena sudah hampir tiga tahun tuan muda tidak kesini. Dan sekalinya kesini, Ia membawa Nyonya rumah ini. “
Nara yang mulai kesal dengan perkataan Mbok Ina, menatap tajam ke arah Alvian.
Sejujurnya dirinya senang di perlakukan seperti itu namun, Ia belum terbiasa mala membuatnya risih.
“Kalian bisa kembali! “
perintah dari Alvian membuat seluruh anak buahnya yang berada di sana, meninggalkan meja makan begitu juga dengan mbok Ina.
Setelah kepergian mereka, Nara mulai canggung dengan suasana itu. Alvian sama sekali tidak berkata apa-apa, hanya menatapnya tanpa ekspresi.
“Bodoh ah aku lapar, “ kesel Nara lalu mengambil beberapa makanan di hadapannya.
Senyuman berhasil terukir di sudut bibir Alvian, saat melihat tingkah Nara yang menurutnya begitu menggemaskan.
“Wah enaknya, “ ujar Nara selesai mengunyah.
__ADS_1
“Astaga aku lupa, bagaimana dengan kak Rani? “
Nara melepaskan kegiatan makan malamnya, berbalik menatap Alvian yang juga tengah menatapnya.
“Dia pendarahan besar. “
“Ini semua salahku kak, dimana dia sekarang? “
“Mereka selamat dan sekarang sedang berada di rumah sakit, “ jelas Alvian.
“Maksudnya mereka? “
“Iya, Rani terpaksa harus di operasi kalau tidak Ia dan juga bayinya akan meninggal. “
Alvian mengambil alih sendok Nara, mulai menyuapi gadis itu.
“Terus terus kak, “ kepo Nara.
“Berhentilah membahas Rani, Ia sudah bersama Evan. Makanlah habis itu temani aku di kamar, “ ujar Alvian sembari terus memasukkan makanan ke dalam mulut Nara.
Nara seketika membulatkan matanya mendengar kata-kata terakhir Alvian. Setelah menerima suapan terakhir, Nara menyeruput habis air di depannya tanpa sisa.
"A-aku mau ke toilet sebentar, " ujar Nara yang sudah bangkit dari duduknya.
Namun, Alvian kembali menariknya duduk di tempat semula.
Nara semakin gelisah akan perkataan Alvian tadi.
Alvian yang paham akan kegelisahan Nara saat ini, mencoba menggodanya dengan menarik kursi Nara berdempetan dengannya.
“Kenapa gugup begitu sayang, “ bisik Alvian dengan sesekali meniup telinga Nara.
Darah berdesir hebatnya ketika mendapat perlakuan dari Alvian. Dengan sekuat tenaga, akhirnya Ia berhasil melarikan dirinya dari Alvian.
Alvian yang berhasil menggoda Nara, sedikit tertawa melihat kegemasan Nara.
Dari dalam dapur, Pak Very bersama Mbok Ina yang sedari tadi memperhatikan, ikut tersenyum bahagia melihat senyuman di wajah Alvian.
“Setelah sekian lama, Serigala ganas itu akhirnya dijinakkan oleh seekor kucing yang menggemaskan, “ ujar Victor yang entah dari kapan berada di belakang keduanya.
“Anda benar sekali Tuan Victor, “ ujar mbok Ina.
Pak very ikut mengangguk, pertanda setuju dengan apa yang di katakan Victor.
Sudah hampir lima belas tahun, Alvian selalu menampakkan wajah dingin disertai dengan sikap acuhnya membuat semua yang memang mengenal siap dirinya menjadi ngeri berada di dekatnya.
Namun, hari dimana Ia bertemu dengan Nara seolah mengubah hidupnya. Yang dimana di saat sedang berada bersama anak buahnya, ketakutan parah bawahnya berangsur kurang.
“Teruslah seperti itu, “ batin Victor.
.
.
__ADS_1
.
Makasih buat yang sudah mau mampir yuk komen sama like biar makin semangat nulisnya.