
Dengan sedikit paksaan, Alvian akhirnya bisa membujuk Nara menemaninya meeting. Keduanya sudah berada di mobil, dengan David sebagai supirnya.
“Di sana, aku harus apa?” tanya Nara khawatir.
Ini pertama kalinya Ia harus bertemu klien besar, dirinya begitu gugup saat ini. Di tambah lagi, Alvian tidak mau di ajak bicara lengkap sudah penderitaannya.
“David, saya harus bagaimana?”
Karena tidak mendapat respon dari pria disampingnya, Nara sedikit memajukan tubuhnya mendekati David didepannya.
“Anda hanya menemani Nona, tidak melakukan apapun, “ jawab David.
Nara sedikit lega dengan apa yang di dengarnya, Ia memundurkan tubuhnya lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya.
Pria disampingnya begitu dingin, Ia sama sekali tidak bersuara. Sesekali Nara meliriknya namun, tetap saja Alvian hanya menatap keluar kaca mobil.
Setibanya di kafe yang di tuju, mereka di sambut dengan senyuman dari seorang pria seusia Firman yang juga baru beberapa menit tiba.
“Hallo tuan Alviano, “ sapanya menyodorkan tangannya.
“Anda sudah lama menunggu?”
Alvian menerima uluran tangan tuan Park, lalu duduk berhadapan dengan tuan Park. Nara yang bingung harus apa, hanya berdiri bersebelahan dengan David.
“Baru beberapa menit, “ jawab tuan Park.
“Kami sedikit terlambat, jalanan kota begitu padat hari ini, “ ujar Alvian, sembari menarik Nara duduk di sebelahnya.
Nara hanya bisa pasrah mengikuti Alvian, jika Ia menolak dirinya akan langsung dihabisi oleh pria tersebut.
“Anda punya sekretaris wanita?”
Bukan tanpa alasan Park menanyakan itu, sebab Alvian di ketahui tidak pernah memilih sekertaris seorang wanita. Hal itu bisa dilihat, hanya David dan Victor yang menjadi asistennya kemanapun Ia pergi.
“Dia calon istri saya, “ ujar Alvian.
Diperkenalkan sebagai calon istri, jantung Nara sudah tidak karuan lagi. Ia meremas kuat roknya, ketika sadar wajahnya sebentar lagi akan berubah menjadi tomat masak.
“Luar biasa, gadis yang cantik, “ puji tuan Park.
“Kapan kalian aman menikah?” tanya tuan Park lagi.
Menyadari keterkejutan yang melanda Nara, Alvian menggenggam erat tangan Nara yang tengah meremas roknya.
“Beberapa bulan lagi, “ jawab Alvian.
Sepertinya ada sedikit dusta di sini, terlihat dari raut wajah David mereka berdua sepertinya ingin membohongi tuan Park.
“Baiklah, sebagai hadiah pernikahan kalian nanti, saya akan menandatangani kontrak kerja sama ini,” ujar tuan Park.
Nara yang baru saja menyadari hal itu, mencubit pelan tangan Alvian di bawah meja lalu menatap lekat wajah David.
David dengan segera, Menyodorkan berkas-berkas yang di perlukan kepada tuan Park. Pria itu langsung menandatangani berkas itu, dengan sedikit senyuman terukir indah pada bibirnya.
“Akhirnya Jovanka grup akan memiliki penerus, “ ujar tuan Park.
“Tentu saja tuan.”
Alvian menatap wajah Nara sekilas, menampilkan senyumannya lalu tangannya bergerak mengelus lembut surai hitam Nara.
“Kalau begitu, saya permisi.”
__ADS_1
Alvian mengangguk mengiyakan perkataan tuan Park, lalu menjabat tangan pria itu sebelum tuan Park meninggalkan tempat tersebut.
Setelah kepergian tuan Park, Nara menatap kesal kedua pria itu.
“Jadi aku hanya alat di sini?”
“Siapa bilang alat, David siapkan tempat resepsinya,” ujar Alvian.
Nara berdengus kesal, memukul lengan Alvian berbalik memunggungi kekasihnya itu.
“Ayolah Nona, peranmu sangat besar di sini. “
“Yah tentu saja peranku besar, karena ada tipu muslihat yang kalian mainkan, “ oceh Nara kesal.
Alvian tersenyum kecil, begitu menggemaskannya gadis di sampingnya itu.
“Ayok pulang, “ ujar Alvian.
Nara ikut bangkit berdiri di ikuti David juga, melangkah beriringan bersama Alvian menuju parkiran. Ketika mereka hampir mencapai parkiran, Nara tersontak kaget saat tangannya di tarik seorang pria.
“Gino, “ ujarnya.
Bukan hanya Nara saja, Alvian juga ikut terkejut dengan kehadiran tiba-tiba pria gila tersebut. David dengan sigapnya, melepaskan tangan Gino berdiri melindungi Nara.
“Aku mohon Nara, kembalilah padaku.” ujar Gino seperti kehilangan akal.
“Apa kau gila?!”
Alvian yang melihat kegilaan Gino, dengan segera menarik tangan Nara menuju mobil. Namun, pria itu kembali menghentikan tangan Nara.
“Nara ayolah, apa kau lupa kita sudah tidur bersama?!”
“Berhentilah berbual Gino, menjauh dariku!” bentak Nara.
Gino tersenyum licik, mengeluarkan ponselnya lalu mengarahkan pada Nara dan juga Alvian. Seolah di tusuk pisau, Nara tak sanggup bernafas melihat foto itu.
“Mau bukti yang lain?”
Bruk
Hantaman keras dari Alvian, mengenai wajah Gino membuat pria itu tersungkur jauh dari sana. Kondisi parkiran yang tidak terlalu ramai, membuat David membiarkan Alvian meluapkan emosinya.
“Beraninya kau menyentuh gadisku!”
Lagi dan lagi, Alvian menghujani wajah Gino dengan pukulan keras dari tangannya. Nara yang cukup shyok akan foto itu, sama sekali tidak bergerak dari tempatnya dengan tatapan yang kosong.
Bruk
Alvian mendorong kasar tubuh Gino, beralih mendekati Nara. Dengan penuh amarah, Alvian menarik tangan Nara menuju mobilnya. David langsung mengurus Gino, tanpa memperdulikan mobil Alvian yang sudah melaju menjauh.
Dengan kecepatan tinggi, Alvian terus melaju menuju sebuah tempat yang hanya dirinya saja yang tau.
“Al, pelan-pelan aku takut, “ ujar Nara menutup matanya.
Sama sekali tidak memperdulikan perkataan gadis di sampingnya, Alvian malah semakin menaikan kecepatan lajunya.
“Avian!” teriak Nara.
Alvian menginjak remnya mendadak, membuat keduanya harus tersungkur kedepan. Nara sama sekali tidak ingin menatap Alvian, dengan begitu geramnya Alvian menarik dagu Nara mencengkeram keras.
“Sudah berapa kali kau tidur dengannya?!” teriak Alvian.
__ADS_1
“Lepaskan Al, sakit, “ ringis Nara.
Bukannya melepaskan tangannya, Alvian semakin kuat mencengkram dagu Nara.
“Jawab Winara!” bentak Alvian lagi.
Tak dipungkiri Nara benar-benar terkejut akan suara Alvian. Ia meneteskan air matanya, ketika sudah tidak bisa lagi menahan sakitnya cengkraman tangan Alvian.
“Bang sat!”
Alvian melepaskan kasar tangannya, memukul stir mobil meluapkan segala amarahnya.
“Jawab Nara.”
Suara Alvian melemah, tetap saja Nara masih begitu takut dengannya. Gadis itu sama sekali tidak berani menatap wajah Alvian.
“Aku tidak pernah melakukan itu Al, “ jawab Nara di sela-sela tangisannya.
“Lalu foto itu apa?!"
Lagi dan lagi, Alvian belum bisa mengontrol amarahnya. Nara menutup matanya ketika suara Alvian bergema di telinganya.
“Aku tidak tau Al.”
Alvian mengusap kasar wajahnya, membalikkan tubuh Nara menatapnya.
“Cukup Nara, aku begitu menyayangi mu. Kenapa kau berbohong padaku?”
“Aku tidak melakukan itu dengan Gino!” teriak Nara kesal.
“Bisa kau jelaskan foto itu.”
Nara bungkam, Ia harus menjelaskan apa? Ia pun baru melihat foto itu dari Gino.
“Apa kau tidak percaya padaku?”
Alvian melepaskan tangannya dari bahu Nara, tersenyum smrik menatap kearah depan.
“Ternyata kau tidak jauh berbeda dengan gadis-gadis yang kutemui sebelumnya, kau begitu murahan Nara.”
“Keluar dari mobilku!” teriak Alvian.
Hati Nara begitu sakit mendengar perkataan Alvian, dengan berlinang air mata Nara keluar dari mobil Alvian.
Ia menatap kearah depan, ketika Alvian sudah melajukan mobilnya meninggalkan dirinya di tepi pantai sendirian.
“Argggh!” teriak Nara frustasi.
.
.
.
Gino mah bangsat banget ih, kesal aku 🤬
Hai pembaca setiaku...
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.
__ADS_1