Dicintai Tuan Muda Alviano

Dicintai Tuan Muda Alviano
108 Kehancuran Lidia II


__ADS_3

Ketika Alvian berbalik, Ia mendapati Niko sudah berada di belakangnya. Tak mau menunggu lama lagi, Niko dengan segera menarik tangan Alvian memasuki ruangan itu.


Setelah sudah berhasil berada di dalam kamar Lidia, Niko mengunci pintu dari dalam. Sedangkan Alvian, pria itu hanya berdiri mematung melihat apa yang di lakukan Niko dengan pintu itu.


“Ayok, ruangannya di lemari itu, “ titah Niko penuh semangat.


Namun, lawan bicaranya hanya berdiri menatapnya tanpa sepatah katapun. Saat Niko hendak meraih tangan Alvian, dengan cepat Alvian menghempaskan tangan pria itu.


“Bagaimana aku bisa percaya denganmu?” ujarnya.


Dalam situasi seperti ini, pria itu masih saja memikirkan tentang kepercayaan Niko. Namun, ada betulnya juga Ia bertanya seperti itu sekarang, yah jaga-jaga saja jika Niko berkhianat di akhir nantinya.


“Aku mencintai Ilone, “ ujarnya.


Satu kalimat yang keluar dari mulut Niko, membuat Alvian dengan segera mendekati lemari pakaian yang di maksud Niko tadi.


Niko mendekati sebuah tas ransel, lalu memutar dan sebuah ruang rahasia terpampang jelas di hadapan Alvian. Alvian bereaksi biasa saja akan hal itu, sebab ruangan itu dulunya pernah menjadi tempat bermainnya bersama Rani kakaknya.


“Kau tidak kagum?” tanya Niko.


“Dasar bodoh, “ umpat Alvian, melangkah masuk terlebih dahulu.


Bagaimana tidak mengumpat? Pertanyaan yang dilontarkan oleh Niko, terdengar sangat konyol bagi pendengaran Alvian.


“Ah iya, aku lupa ini rumahmu, “ ujarnya mengikuti langkah Alvian.


Ketika keduanya sudah berada di dalam sana, Alvian menghidupkan lampu yang langsung menerangi seluruh penjuru ruangan itu. Dan di hadapan keduanya, sudah terpampang jelas sebuah brankas besar yang hampir memenuhi ruangan itu.


Alvian mulai memasukkan beberapa pin, lalu brankas tersebut terbuka lebar. Meski sudah terbuka, di dalamnya masih terdapat sebuah brankas kecil yang isinya merupakan semua surat wasiat, dan juga seluruh berkas saham Jovanka grup.


“Woow, kau membukanya hanya dalam beberapa menit, wanita tua itu harus membutuhkan beberapa Minggu baru bisa membukanya. Dan ketika sudah di buka, Ia harus putus asa karena brankas kecil itu tidak bisa di buka lagi, “ jelas Niko, meskipun Alvian sama sekali tidak membutuhkan penjelasannya.


Keduanya kembali beriringan masuk kedalam brankas itu, mendekati brankas kecil. Alvian mengeluarkan sebuah kertas usang, bertuliskan beberapa angka di sana. Niko yang hendak meluncurkan tawanya, terpaksa harus mengurungkan niatnya saat tatapan Alvian sudah begitu sangat mengintimidasi dirinya.


Demi mengusir kecanggungan, Niko mengeluarkan sebuah rokok lalu membakar tepat di hadapan Alvian.


“Kau mau kita mati di sini, “ ujar Alvian, menarik rokok itu dari tangan Niko lalu memasukkan ujungnya kedalam mulutnya.


Niko yang melihat kelakuan Alvian, memutar bola matanya malas.


“Bilang saja kalau mau, “ ujarnya kesal.


Alvian mulai memasukkan angka-angka tersebut hingga pada angka terakhir, Ia masih sedikit melirik Niko sebentar. Lalu kembali menatap brankas itu, ketika jarinya menekan enter alarm berbunyi pertanda pin yang di masukan salah.


“Bagaimana bisa salah? Bukannya itu di berikan langsung oleh bibi Viona?” tanya Niko, merampas paksa kertas tersebut dari tangan Alvian.


“Aku juga tidak tau, kenapa bisa tidak jadi seperti ini?!” Alvian ikut frustasi.


“Apa kau pernah membukanya sekali?”


Alvina mengangguk mengiyakan perkataan Niko, “Waktu itu aku dan Bunda pernah membukanya.”


“Lalu apa password-nya?”

__ADS_1


Alvian menggelengkan kepalanya lagi, yang Ia ingat hanyalah pin pada kertas yang dipegang Niko saat itu.


“Ayolah Al, aku mohon ingat lagi. Aku sudah capek harus terus-menerus di musuhi gadisku, dan juga harus terus berdrama seperti ini, “ celutuk Niko.


Alvian mulai memeras otaknya, mencoba mengingat apa yang di katakan Viona ketika keduanya berada di dalam brankas tersebut.


“Ah Iya, aku ingat Niko, “ ujarnya.


“Apa?!” Niko begitu sangat antusias, mendekati Alvian.


“Kata Bunda,


“Ingat ini Al, hanya Al dan juga Viano yang bisa membuka berkas ini.”


Niko menarik salah satu alisnya keatas, bingung dengan maksud dari perkataan Alvian barusan. Bukan hanya dirinya saja, Alvian saja bingung dengan perkataannya sendiri.


“Apa Rani pernah tau soal brankas ini?”


Alvian menggelengkan kepalanya, meskipun sering masuk kedalam sana, Rani sama sekali tidak mengetahui soal brankas tersebut.


“Bisa kita hubungi Ilone sekarang?”


“Tidak Al, dia sangat repot mengurus musuh-musuh itu, “ serkah Niko.


Saat ini, di lantai bawah seluruh anak buah Niko maupun Alvian tengah sibuk melawan suruhan Lidia, yang jumlahnya begitu sangat banyak.


Alvian yang mulai bingung harus apa sekarang, tiba-tiba teringat akan Nara. Dengan segera, Ia melangkah keluar dari dalam brankas tersebut lalu duduk di lantai tanpa alas di ikuti Niko.


... ***


...


Masih dengan drama pergantian posisi Alvian untuk sementara waktu, Nara memasuki ruang kerja Alvian. Hatinya begitu berat memasuki ruangan itu, bulir-bulir bening berjatuhan dari matanya dikala setiap sudut ruangan itu mengingatkannya pada kekasihnya.


“Dasar breng sek, “ umpatnya, mendekati kursi kerja Alvian.


Ketika Nara mendekati laptop Alvian, tiba-tiba saja langsung terhubung pada sebuah panggilan yang ternyata dari Alvian.


“Jangan di matikan, aku tau kau di dalam ruangan ku, “


Mendengar suara Alvian, Nara yang tadinya hendak menutup laptop tersebut mengurungkan niatnya.


“A—ku harus pergi, “ ujarnya gugup.


“Tunggu Nara, aku membutuhkan bantuanmu!”


Mendengar keseriusan dari suara Alvian, Nara tampak berpikir sebentar lalu Ia mendudukkan bokongnya di kursi milik Alvian.


“Katakan, Aku sibuk!” judesnya.


Niko yang mendengar perkataan Nara yang tidak terdengar menyenangkan, melepaskan tawanya meledek pria di hadapannya itu.


“Apa kau bisa memecahkan kata-kata ini?”

__ADS_1


Nara terus memperhatikan laptop tersebut, hingga akhirnya matanya membulat melihat isi pesan yang dikirimkan Alvian.


“Dari mana kau tau kata-kata ini?!” tanya Nara.


Mendengar perkataan Nara, Alvian dan juga Niko saling bertatapan. Keduanya kembali di buat bingung lagi, dengan pertanyaan gadisnya itu.


“Maksudnya?” bukannya menjawab pertanyaan Nara, Alvian kembali bertanya kepada gadis itu.


“Jangan menjawab dengan pertanyaan Al, katakan dari mana kau mengetahui Kalimat ini?”


Alvian tampak berpikir sebentar, Ia mencoba mencari cara agar Nara tidak terus bertanya dan membantunya.


“Nanti aku ceritakan, tolong pecahkan teka-teki itu, “ ujarnya.


Nara menarik nafasnya panjang, jujur Ia sama sekali tidak ingin memberitahukan kode dari kalimat tersebut.


“Maaf Al, aku tidak bisa.”


Alvian menarik nafasnya panjang, Ia meletakkan ponselnya sedikit jauh darinya lalu menghantam tembok disampingnya dengan keras.


“Nara, aku mohon sayang, jika kau tau kodenya katakan! Aku akan kembali dalam dua hari, “ tekatnya bulat.


Mendengar perkataan Alvian, Nara sedikit tersenyum. Ia mengeluarkan sebuah liontin dari balik lengan kirinya, lalu kembali menatap laptop Alvian.


“Password-nya, 181360.”


Alvian dengan segera, kembali memasuki brankas itu lalu mulai memasukkan angka-angka yang dikatakan oleh Nara tadi.


Saat menekan angka terakhir, brankas kecil itu langsung terbuka dan menampilkan beberapa berkas penting yang sangat di butuhkan Alvian.


“Aku menyangyangimu Winara, “ ujarnya.


Alvian mengeluarkan berkas-berkas tersebut, lalu kembali menutup brankas kecil itu dan keluar menemui Niko yang sudah berada di balik pintu.


“Sudah selesai?”


Alvian mengangguk mengiyakan perkataan Niko. Niko langsung menempelkan sebuah peledak pada dinding ruangan itu, lalu bersama Alvian keduanya melompat melewati jendela yang di bawahnya sudah di tunggu David, Bram, Ilone, dan juga Ino.


Bruk


Mobil mereka melaju, bersamaan dengan hancurnya tempat itu.


“ALVIAN!” teriak Lidia.


.


.


.


Hai pembaca setiaku...


Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.

__ADS_1


Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.


makasih 🌹


__ADS_2