
Swedia,
Bersama dengan beberapa anak buah Lidia, Ilone memasuki ruangan kerja Lidia menemui wanita tua tersebut. Sepertinya ada yang sangat penting, sehingga dirinya harus dipanggil malam-malam begini.
“Kenapa bisa ketahuan polisi?!”
Ketika Kaki Ilone baru menginjak ambang pintu, suara terikan Lidia menyambut kedatangan mereka dengan begitu menggema.
“Maaf Nyonya, mereka salah satu tangan kanan Alvian.” terpaksa, Ilone harus jujur saat ini. Jika tidak dirinya yang akan menjadi korban selanjutnya.
“Cucu tidak tau diri, mau apa dia sebenarnya?!”
Beberapa barang dari atas meja, sudah memenuhi lantai dalam satu kedipan mata. Ilone sama sekali tidak berekspresi, sampai pada akhirnya Ia harus membulatkan matanya ketika melihat berkas yang di berikannya pada Kheir waktu itu, di letakkan Lidia di atas mejanya.
“Bisa kau jelaskan apa ini?” nada suara Lidia melembut.
“Saya tidak tau berkas apa ini, “ ujar Ilone menyangkal.
Lidia tersenyum, Menyodorkan ponselnya yang sudah terputar sebuah rekaman pembicaraan Ilone bersama Kheir waktu di parkiran.
“Kau mau mencoba mengkhianati ku?”
“Anda salah paham nyonya.”
Bruk
Vas bunga yang berada di atas meja, melayang melewati wajah Ilone dan hancur berkeping-keping di lantai.
“Aku yang menyuruhnya melakukan itu, Lidia, “ Niko memasuki ruang kerja Lidia.
Melihat kehadiran Niko, Lidia memasang wajah penuh tanda tanya. Dirinya sama sekali tidak mendapatkan konfirmasi, soal menyuruh Ilone melakukan hal ini.
“Yah Nonya, Mr. Niko yang menyuruh saya menyerahkan berkas itu pada Mr. Kheir.”
Jelas saja Ilone sedang berbohong dan menumbalkan Niko saat ini, jika Ia tidak mau melakukan hal itu Lidia pasti sudah menghabisi nyawanya saat ini juga.
“Kenapa? Lagi pula, kita dirugikan saat ini.”
“Tidak Lidia, ini hanya trik kecil agar Kheir tetap mau berinvestasi pada perusahaan ini.”
Lidia menatap lekat Niko, mencari titik kebohongan di sana. Namun, yang dipancarkan Niko hanyalah sebuah ekspresi datar.
“Jangan pernah macam-macam, aku bisa menghabisi kalian berdua menggunakan satu peluru!” peringat Lidia.
“Tenang saja, kami bukanlah menantu mu itu.”
Ilone langsung menatap tajam Niko, ketika pria itu menekan kata menantu pada akhir kalimatnya.
Lidia mengangkat tangannya, mengisyaratkan agar keduanya meninggalkan ruangan itu. Tanpa basa-basi, keduanya langsung melaksanakan perintah Lidia.
“Awasi Niko dan juga Ilone, “ ujar Lidia, pada ponselnya mengirim pesan kepada seseorang, setelah kedua Insan itu sudah benar-benar menghilang dari pandangan.
“Kau dengar kan?!”
__ADS_1
Ilone mengangguk mengiyakan perkataan Niko, keduanya tidak benar-benar langsung pergi dari sana mereka masih menguping.
“Berhati-hatilah mulai sekarang, “ ujar Niko lagi.
Ilone menaikkan sebelah alisnya, melangkah pergi tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Melihat hal itu, Niko tersenyum kecil menatap kearah ruang kerja Lidia lalu mengikuti jejak Ilone.
“Kau pikir, aku mau menjadi tumbal begitu saja?” Niko memainkan tangannya pada bahu Ilone.
“Aku tidak meminta mu, membantu ku, “ judes Ilone menghempaskan tangan Niko dari bahunya.
Niko menarik tangan gadis itu, ketika melihat Ilone yang sudah hendak melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
“Lepaskan Niko!” ujar Ilone menekan kata-katanya.
Sama sekali tidak memperdulikan perkataan Ilone, Niko menarik tangan gadis itu mendekati pintu masuk ke gudang. Sebab, Di sana jarang sekali dilalui orang.
“Ngapain kesini?!” kesal Ilone.
Sedikit melirik sekitarnya, Niko mengecup singkat bibir Ilone tanpa Izin sang empunya membuat gadis itu melongo tak percaya.
“Bang sat!”
Bruk
Sebuah pukulan dari Ilone, menghantam keras perut Niko. Namun, Pria itu sama sekali tidak merasakan apa-apa.
“Kau!” ujar Niko menggertak Ilone.
Tapi, mau bagaimana pun? Seorang Ilone tidak akan bisa di gertak atau semacamnya.
“Jangan balik, kita sedang di awasi.”
Ilone yang paham akan hal itu, menarik kera baju Niko dengan maksud agar mereka berdua tidak di curiga sedang ingin mencari sesuatu. Namun, bagi Niko saat ini Ia berpikir hal yang lain bertentangan dengan pikiran Ilone.
“Apa kau mencoba menggodaku?”
Geram dengan pertanyaan konyol Niko, Ilone menginjak kaki Niko sembari tersenyum mengejek pria yang sedang meringis kesakitan.
“Jika kau bersuara, tua bangka itu akan mencincang tubuh kita, “ ujar Ilone pelan.
Niko menahan sakitnya injakan kaki Ilone, lalu menarik pinggang ramping gadis itu merapatkan dengan tubuhnya.
“Jadi, apa kita harus seperti ini?” goda Niko, semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Ilone.
Ilone yang berusaha melepaskan diri, semakin membuat Niko mengeratkan pelukannya dengan tangan yang mencoba membuka pintu gudang itu.
“Diamlah bodoh, aku sedang berusaha membuka pintu ini,” kesal Niko menatap lekat wajah Ilone.
Mengerti dengan maksud dari perkataan Niko, Ilone membiarkan pria itu memeluk pinggangnya dan tangannya memegang kerah baju Niko.
“Tetap pantau keduanya, “ titah Lidia menatap layar ponselnya yang menampilkan rekaman cctv bagian lorong belakang dekat gudang.
“Niko sepertinya menyukai gadis itu, “timbal Lidia lagi, dengan senyuman terukir pada bibirnya.
__ADS_1
Sementara kedua pemeran drama depan gudang, tengah sibuk bertengkar mencoba masuk kedalam ruangan itu.
“Sudah terbuka, kau harus menciumku, “ ujar Niko.
Mata Ilone membulat, berdecak kesal menanggapi perkataan Niko. Pria itu sepertinya tengah mencari kesempatan dalam kesempitan sekarang.
“Kau ingin mati!” ancam Ilone semakin menarik kerah baju Niko.
“Ayolah, jika tidak seperti ini kita tidak bisa masuk kedalam sana tanpa membuat anak buahnya mendekat ke sini, “ jelas Niko.
“Kenapa begitu?”
Helaan nafas panjang Niko, terdengar nyaring pada pendengaran Ilone. Tangan kiri Niko memeluk pinggang Ilone, sebelah kanan tangannya mengusap lembut wajah Ilone.
“Kita sedang di pantau sekarang, jadi kau harus menciumku agar aku mendorong mu masuk kedalam sana!” kesal Niko terdengar dari setiap kata yang keluar dari mulutnya.
Ilone tampak berpikir sebentar, Ia menarik nafasnya panjang mendekatkan wajahnya pada wajah Niko dan,
Chup
Bibir ranumnya, mendarat sempurna pada bibir seksi Niko. Tak mau membuang waktu, Niko sedikit melu mat bibi Ilone. Di luar dugaan Ilone, tangan Niko dengan agresifnya sudah mere mas dua gun dukan kembar miliknya.
“Bang sat!” batin Ilone menjerit.
Seperti rencana Niko sebelumnya, Ia langsung mendorong Ilone masuk kedalam gudang dengan posisi bibir keduanya masih saling bertautan.
Salah seorang anak buah Lidia hendak melangkah mendekati mereka, dengan cepat dihentikan Lidia dengan satu jarinya saja yang terangkat.
“Biarkan saja mereka, Niko sepertinya membutuhkannya untuk memuaskan hasratnya, “ ujar Lidia sesaat sebelum menarik asap rokok panjang.
Tanpa Ilone sadari, tangan Niko tidak sengaja menekan tombol pada balik telinganya membuat Victor, David, Alvian saat ini mendengar semua ******* yang keluar dari mulutnya.
“An Jing! “ umpat Victor mengusap wajahnya kasar.
“Rencana konyol macam apa ini?!” timpal David menambahkan perkataannya.
Sedangkan Alvian, hanya bisa menarik panjang nafasnya sembari menggelengkan kepalanya.
“Apa kita akan terus mendengar ini?!” teriak Victor kesal.
“Yah, Mereka pasti sedang merencanakan sesuatu, lihat lokasinya berada di dalam gudang lama, “ jelas Alvian.
Dari luar ruang kerja Alvian, Nara yang sudah ingin masuk mengurungkan niatnya setelah mendengar perkataan Alvian. Ia terus menguping, setiap kata yang keluar dari mulut Alvian harus di rekam baik-baik dalam memorinya.
.
.
.
Hai pembaca setiaku...
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
__ADS_1
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.
makasih 🌹