Dicintai Tuan Muda Alviano

Dicintai Tuan Muda Alviano
80 Menyerang Alvian


__ADS_3

Tiara menepikan mobilnya di pinggiran jalan, menatap wajah Nara dengan mood berantakan.


“Akh gagal kan, “ ujarnya sedikit kecewa.


“Bagaimana ini Tiara? Sudah capek-capek, eh di curi Alvian.”


Tiara menghela nafasnya panjang, menatap kearah luar mobil. Ia berbalik lagi, menatap Nara lekat. Tenaga keduanya terkuras habis akibat melawan Osman tadi, sekarang flashdisk itu malah di curi Alvian.


“Hubungi Dito, pasti dia punya solusi.”


Nara seolah tersadar akan hal itu, mengangguk setuju lalu menempelkan earphone kembali pada telinganya. Tak langsung tersambung, Ia harus menunggu beberapa saat lagi.


“Dito, flashdisknya di curi.”


Setelah panggilannya tersambung, Nara mulai memberitahukan hal tersebut pada Dito.


[Nara, kau harus mendapatkan kembali benda itu. Data-data di dalamnya, sangat penting untuk khasus ini.]


[Kau harus berusaha lagi Nara.]


Nara melepaskan earphonenya, sedikit melirik Tiara yang juga menatapnya menunggu jawaban dari Dito.


“Kita harus merebutnya di rumah Jovanka, “ tekat Nara bulat.


Jujur saja, Tiara sedikit ragu dengan ucapan Nara. Sebab, itu seperti mereka menyerahkan diri untuk di hukum Alvian. Apa lagi, saat ini Diandra pasti di sana wanita tua itu akan berusaha untuk mencari tau segalanya.


“Tapi Nara, “serkah Tiara.


“Aku tau kerisauan mu, tapi hanya flash itulah yang di butuhkan Dito.”


Tampak berpikir sebentar, Tiara yang belum tau masalah apa ini sebenarnya terpaksa menganggu mengiyakan perkataan Nara.


“Baiklah, tapi kau harus menceritakan apa yang sedang kau selidiki.”


Tanpa ada keraguan sedikitpun dari dalam dirinya, Nara mengiyakan perkataan Tiara. Setelah mendapat kepastian dari Nara, Tiara melajukan mobilnya menuju Rumah Jovanka.


Kembali ke Club,


Bram dan Ada yang sudah berhasil meringkus Fahri maupun Ordi, memborgol tangan kedua pria itu bersama beberapa anak buah Lidia yang lainnya.


Cekrek


Sebelum anak buah Adam membawa para bandit itu pergi, Bram menyempatkan diri memotret mereka semua.


“Bram, thanks yah. Aku akan mengurus mereka, “ ujar Adam Menyodorkan tangannya kehadapan Bram.


Dengan senyuman mengambang, Bram menerima uluran tangan Adam.


“Oke, urus mereka.”


Fahri yang melihat hal itu, sedikit terkekeh menatap kedua pria dihadapannya dengan begitu remeh.


“Cih, dasar penjilat.”


Merasa terganggu dengan ujaran yang dikeluarkan Fahri dari mulutnya, Bram mengambil lakban menutup mulut Fahri.


“Dia akan diam sampai di selnya, “ ujar Bram.


Setelah mengatakan itu dan tanpa berpamitan kepada Adam, Bram melangkah menuju pintu keluar di lantai bawah. Tak lupa, Ia sedikit menendang Osman saat melewati pria paruh baya yang masih sibuk dengan matanya.


“Jangan sampai nama Jovanka buruk, “ ujarnya menatap pemilik tempat itu.


“Baik tuan.”

__ADS_1


...***...


Alvian yang sudah memasuki kediamannya, di sambut khawatir oleh Victor maupun David yang menunggunya di pintu masuk.


“Anda baik-baik saja?” tanya David khawatir.


“Aku bukan bocah, “ ujar Alvian datar.


Kekhawatiran keduanya sirna, setelah perkataan tuannya menembus telinga keduanya. Namun, hal itu hanya berlangsung beberapa menit saat tidak menemukan Nara bersamanya.


“Tuan, kemana Nona?”


Alvian tersenyum kecil, menghentikan langkahnya berbalik menatap keduanya. Panjang umur, gadis itu melangkah mendekati mereka.


Senyuman terukir di bibir Victor maupun David, saat melihat sosok Nara memasuki halaman rumah. Dan yah, mata keduanya terbelak dengan sempurna melihat pemandangan dihadapan mereka.


Bagaimana tidak terkejut?! Nara saat ini sudah Menyodorkan senjata, tepat pada kening Alvian dengan wajah memerah.


“Nona, ada apa ini?” tanya Victor.


“Diam, ini bukan urusan kalian!” teriak Tiara menghampiri mereka.


Meski terlihat sok cool, tapi sejujurnya Tiara tengah menahan ketakutannya agar tidak terlihat oleh para pria tersebut.


“Kembalikan flashdisk itu, “ ujar Nara dingin.


Alvian yang tau senjata itu tanpa peluru, tersenyum smrik memajukan langkahnya semakin mendekatkan dirinya pada senjata Nara.


“Kau mau cari mati?!” ujar Alvian dengan nada sedikit tinggi, menakuti Nara.


Bukannya Nara yang takut, melainkan Tiara yang sudah berlari berlindung di balik tubuh David.


“Tiara!”


Nara dengan cepat mengalihkan pandangannya, menarik nafasnya panjang melihat tingkah konyol Tiara di balik tubuh David.


Di saat Nara lengah, Alvian dengan cepat memukul tangan Nara menjatuhkan senjata itu lalu memelintir tangan Nara.


“Siapa yang mengajarimu begitu berani seperti ini? Hmm, “ ujar Alvian.


Tak menjawab pertanyaan Alvian, Nara menginjak kaki Alvian membuat Alvian meringis kesakitan dan melepaskan tangan Nara.


“KDRT Nara, “ ujar Alvian.


“Mau kembalikan flashdisk itu, atau kubunuh Victor!” ancam Nara memegang tangan Victor.


Alvian tertawa terbahak-bahak, Ia sama sekali tidak peduli dengan ancaman konyol Nara. Victor yang seolah mengerti dengan tatapan Alvian, dengan segera mengikat tangan Nara.


“Victor, kau berani padaku!”


“Maaf Nona, anda harus menyuap kami terlebih dahulu.”


Sepertinya mereka lupa, gadis itu sedikit menguasai ilmu bela diri yang di ajarkan Rian kepadanya. Nara menarik keras ikatan yang masih ada pada tangan Victor, membuat pria itu tersungkur ke lantai.


“Dasar payah, “ ledek David.


Ketika dirinya ingin mendekati Nara, tanpa di sadarinya Tiara sudah lebih dahulu memborgol kedua tangannya.


“Kembalikan flashdisk itu Alvian!” teriak Nara menggema.


Sama sekali tidak ada jawaban dari Alvian, Nara yang geram akan hal itu melayangkan serangannya pada Alvian.


Namun, dengan cepat Alvian menangkis serangannya. Pria itu memeluk erat tubuh Nara, membuat gadisnya tidak bisa bergerak.

__ADS_1


Seisi rumah yang tadinya terkejut akan teriakan Nara, sudah berada di depan pintu menyaksikan pertengkaran itu.


“Jadi kau ingin menjadi musuhku? Hmm,”


Alvian meluncurkan beberapa kecupan pada pipi Nara, semakin membuat gadis itu memupuk amarah.


Bruk


Nara menyiku perut Alvian, dan mendorong tubuh Alvian menjauhi dari dirinya. Sama sekali tidak merasa sakit, Alvian malah menantang Nara berduel.


“Jika aku kala, akan ku kembalikan.”


“Kau meremehkan ku?”


Nara membuang tasnya sembarang, lalu menguncir rambutnya.


“Apa kau yakin mau menang dengan rok itu?” Alvian sedikit meledek.


“Urus saja dirimu, jangan mengurus rok ku.”


“Ayolah, rokmu akan terangkat ketika kau menyerangku nanti, “ ledeka Alvian sedikit menggoda kekasihnya.


“Aku tidak membutuhkan nasehatmu, tuan muda.”


Alvian tersenyum kecil, semakin senang dengan ucapan Nara. Ia akan membuat pertarungan ini, begitu romantis.


Nara melayangkan kembali pukulannya, hampir mengenai wajah Alvian. Namun, dengan cepat Alvain menghindar.


“Mau bertaruh, siapa yang akan?” tawar Rani, mendekati ketiga manusia itu.


“Aku tim Nara, “ ujar Tiara semangat.


Rani memeluk Tiara dari samping, Ia satu tim dengan gadis itu. Sedangkan Victor dan David, saling bertatapan sekilas.


“Kami tim Alvian, “ ujar Evan mendekati kedua pria tersebut.


David dan Victor mengangguk antusias, mendengar ucapan Evan lalu menatap Rani dan Tiara, mencari persetujuan.


“Setuju.”


Seolah menonton pertandingan seru, mereka berlima duduk di tangga masuk sembari mengunyah beberapa ciki yang di bawah Evan tadi.


"Nara akan mengunakan jurus apa yah?" ujar Rani bertanya-tanya, lalu memasukan ciki kedalam mulutnya.


"Aku yakin Alvian akan menang, " ucap Victor percaya diri.


Tak hanya mereka berlima, di sana juga terdapat Ridwan dan Diandra yang ikut menyaksikan duel maut kedua pasangan itu.


“Semoga saja, gadis itu lumpuh, “ gumam Diandra sinis.


Sama seperti apa yang dipikirkan Diandra, Ridwan juga mengharapkan hal yang sama dengan apa yang akan terjadi pada Nara nantinya.


.


.


.


Hai pembaca setiaku...


Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.


Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.

__ADS_1


makasih 🌹


__ADS_2