
Rian yang mendengar kabar bahwa Rani sudah melahirkan, setelah berpamitan kepada Tina dan mengecup singkat kening Firman bergegas menuju rumah Alvian.
"Bawakan Nona Rani tempe buatan mama, " ujar Tina menghampiri Rian yang sudah hendak pergi.
Rian mengambil tupperware berisikan tempe buatan Tina, lalu berjalan keluar.
"Aku pergi dulu, "
Tina hanya mengangguk mengiyakan perkataan Rian.
“Nabila, mau kemana? “
Saat sudah tiba di parkiran, Rian tidak sengaja bertemu dengan Nabila yang sepertinya hendak masuk kedalam rumah sakit.
“Mengajak mu membeli keperluan ospek, “ kata Nabila.
“Nanti saja, ayok ikut aku bertemu seseorang. “
Nabila tampak berpikir sebentar namun, dengan cepat Rian menarik tangannya.
Setelah Nabila sudah berada di atas motornya, Rian melakukan motornya dengan kecepatan sedang meninggalkan rumah sakit.
Setibanya di kediaman Jovanka, mata Nabila tak kunjung berkedip melihat indahnya rumah di hadapannya.
“Ayok masuk! “ ajak Rian.
“Nona Rani sudah menunggu anda di dalam. “
Rian tersenyum menanggapi perkataan security, lalu melangkah masuk kedalam tanpa menunggu Nabila yang tampak ragu.
“Bila, ayok! “
Nabila sedikit menggelengkan kepalanya namun, Rian menghampirinya dan menarik tangannya.
Dengan menggandeng tangan Nabila, Rian berjalan menuju ruang keluarga yang tengah dihuni Evan, Rani, dan juga Alexo.
“Uncle Ian! “ teriak Alexo hebo berlari ke pelukan Rian.
“Jangan teriak-teriak, “ peringat Rani.
“Stt diam boy, “ bisik Rian.
“You know Uncle, I have a sister, “ ujar Alexo berbisik.
“Tapi tidak perlu berbisik seperti itu juga kalik, “ ujar Rani.
Alexo berbalik memasang wajah masam ke arah Rani yang sedari tadi menyuruh jangan berisik, lalu sekarang menyuruh untuk tidak berbisik.
“Hahahaha kemana adikmu? “
Alexo kembali tersenyum, lalu membawa Rian ke tempat adiknya di baringkan.
“Lucukan? “
Rian mengangguk mengiyakan perkataan Alexo. Bayi kecil Rani begitu menggemaskan dengan pipi tembemnya.
“Ian, Siapa gadis manis ini? “ tanya Rani menatap ke arah Nabila.
Rian yang sejak awal masuk sibuk dengan Alexo, tanpa memperdulikan Nabila. Ia baru tersadar saat Rani bertanya.
“Ah iya aku lupa, kenalin kak dia Nabila teman Rian. “
“Temen apa temen, “ goda Evan yang masih setia berkutat dengan laptopnya.
“Teman kak, “ ujar Rian.
"Nggak percaya aku, " ujar Evan sedikit melirik ke arah Rian
"Ya ampun temen kak. "
Rani terkekeh, melihat ekspresi wajah Rian yang seolah menyembunyikan sesuatu
“Hai sayang, ayok kesini. Nama aku Rani, “ ujar Rani menyodorkan tangannya ke hadapan Nabila.
Dengan senyuman terukir di bibirnya, Nabila menerima uluran tangan Rani.
“Nabila, “ ujarnya.
“Apa bener kalian hanya berteman? “
__ADS_1
Pertanyaan dari Rani mengalihkan pandangan Rian, yang tengah menatap bayi lucu dalam keranjang tidurnya.
“Ayolah kak, kita hanya berteman. “
Rani dan Evan tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Rian. Sedangkan Nabila hanya bisa menunduk kecewa.
“Apa kau sudah memiliki nama untuk bayimu? “
Rian dengan antusiasnya duduk di sebelah Rani, memasang wajah seimut mungkin.
"Berhentilah mengalihkan pertanyaan, lihat tuh Nabilanya sedih kan, " ucap Evan masih mencoba menggoda Rian.
"Bener Bila? "
Pertanyaan dari Rian seketika, membuat wajah Nabila berubah menjadi merah padam.
"Dia suka kamu tuh, " bisik Rani tepat pada telinga Nabila.
Nabila hanya tersenyum kecil menanggapi perkataan Rani, lalu menatap lekat wajah Rian.
Evan yang sedari tadi sibuk dengan pekerjaannya, menghentikan kegiatannya ikut mendekati Rian dan juga Rani.
“Kau mau menamai putri kita dengan nama apa? “ tanya Evan.
Rani tampak berpikir sebentar, lalu menggelengkan kepalanya sembari tersenyum. Evan pun hanya ikut mengangguk, bagaimana tidak? Keduanya sama sekali belum menyiapkan nama untuk bayi mereka.
“Orang tua macam apa kalian ini, “ ledek Rian yang langsung mendapat tatapan tajam dari kedua pasangan itu.
Saat itu, Diandra mendekati mereka dengan Roseta yang selalu menempel layaknya perangko dengan di buntuti Ridwan dari belakang.
“Siapa mereka? “ tanya Roseta menunjuk Rian dan Nabila.
Rian menaikkan sebelah alisnya, lalu menatap Rani dengan tatapan yang hanya keduanya yang mengerti.
“Hahahha! “ tawa julid Rian dan Rani bersamaan.
Roseta yang merasa di sindir, menggoyangkan lengan Dianra mencari perlindungan.
“Berhentilah tertawa! Nanti bayinya menangis, “ ujar Ridwan.
“Sejak kapan ayah peduli dengan anak-anak ku? “
Bukan Rani yang berseru, melainkan Evan yang mencoba mengeluarkan isi hatinya. Sejak tiga hari lalu Rani masih berada di rumah sakit, Ridwan sama sekali tidak menampakkan wajahnya begitu juga Diandra.
Mendengar penuturan Diandra, Evan berbalik lalu tersenyum meremehkan. Hatinya begitu kecewa dengan kelakuan mertuanya itu.
“Pantas saja Alvian tidak memberimu muka, kau begitu busuk, “ ujar Evan.
Ridwan yang terbakar api Amarah mengayunkan tangannya kepada Evan. Namun, tangannya dengan cepat di cekal Alvian.
"Yang di katakan Evan benar, kenapa ayah jadi marah. kemana saja ayah? mengurus wanita ini? hmm. "
Alvian melepaskan tangan Ridwan, berjalan mendekati Roseta yang berada di samping Diandra.
“Apa kau tidak punya malu hmm, “ ujarnya.
“Untuk apa malu datang ke rumah calon suami sendiri. “
Jantung Rian berdegup kencang saat mendengar perkataan Roseta. Namun, ketika Ia berbalik dan menatap Nara yang terlihat tidak perduli dengan semuanya itu.
"Maksudnya apa Al? " tanya Rian tak terima jika kakanya di duakan.
"Kau bisa dengerkan? aku calon suami Alvian. "
Rian menatap Alvian, mencari kebenaran dari pria itu.
“Oh apa kau menjadi istri ketiganya, tenang saja akan ku siapkan acara pernikahan kalian. “ ujar Alvian menatap Diandra.
Diandra yang mengerti akan perkataan Alvian, nafasnya memburu.
“Alvian! “ teriak Ridwan marah.
“Berhentilah berteriak, keponakan ku akan terbangun, “ ujar Alvian menatap lekat wajah Ridwan.
“David, bawa dia keluar! “ pintah Alvian.
Namun, dengan cepat Diandra menghalangi David yang hendak membawa Roseta pergi.
“Biar saya yang membawanya pergi, “ tawar Diandra.
__ADS_1
Alvian tersenyum smrik, lalu berjalan mendekati Rian.
"Hanya ada Nara dalam hidupku, bukan yang lain, " ujar Alvian.
Rian kembali ke samping Rani. Hatinya kembali tenang, ketika mendapat anggukan kepala dari Rani dan juga Evan.
"Baiklah aku percaya kepadamu, " ujarnya.
“Alvian! Aku tidak akan pergi jika dia juga tidak pergi, “ ujar Roseta tak terima dengan keberadaan Nara.
“Dengar Roseta, kau tidak sebanding dengannya, “ ujar Alvian.
Muak dengan kegilaan Roseta, David menyeretnya membawa keluar. Sebab sedari tadi, Diandra tak melakukan hal itu.
“Awasi dia jangan sampai kembali kesini! “ pintah David setelah mengusir Roseta, lalu melangkah masuk.
“Tante Diandra! “ teriak Roseta hebo.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, dengan cepat Roseta menarik senyuman di bibirnya lalu meninggalkan tempat itu.
Sedangkan di dalam, Nara melepaskan pelukan Alvian lalu kembali ke tempatnya semula di samping Rani.
“Aku mau melihat bayimu, “ ujar Nara menatap Rani.
Rani tersenyum, lalu menunjuk ke arah bayinya yang tengah tertidur pulas. Nara menghampiri bayi itu, hendak mencubit pipinya tapi di tahan Rian.
“Kau akan membangunnya, “ ujar Rian.
Nara memanyunkan bibirnya, lalu menatap ke Rani dan mendapati Nabila di sana.
“Ada bila juga yah, “
“Iya kak, “ ujar Nabila.
"Sama siapa kesini? "
Rani melirik Rian, lalu melepaskan tawanya saat mendengar pertanyaan Nara.
Nara yang mengerti akan maksud dari tawa Rani, ikut terkekeh pelan melihat Rian yang salah tingkah.
“Apa dia suda ada nama? “ tanya Nara sembari menatap Rani dan Evan bergantian.
Kedua pasangan itu menggelengkan kepala sembari terkekeh kecil, lalu berpelukan.
“Bolehkah aku yang menamainya? “ tanya Nara dengan hati-hati.
“Memangnya kamu sudah punya namanya? “ tanya Rian.
Nara mengangguk mengiyakan perkataan adiknya, lalu kembali memasang wajah seimut mungkin, yang malah membuat Alvian mencubit gemas pipinya.
“Boleh saja, “ ujar Evan, menatap Rani meminta persetujuan.
Dengan segera dan tanpa keraguan sedikitpun, Rani mengangguk mengiyakan perkataan Nara.
“Jadi apa namanya? “ tanya Rani penasaran, begitu juga seisi ruang tamu.
“Alexandria Sanders, panggilan Alexa. Biar Alexo, Alexa, " ujarnya menarik Alexo ke atas pangkuannya.
"Alexo suka? "
“Yea, Lexo suka, “ ujar Alexo menghujani pipi Nara.
Semuanya tersenyum, mendengar nama indah yang di lantunkan Nara. Sedangkan Nabila, memasang wajah masam tak suka.
Alvian menyadari hal itu, menetap David yang sudah tau akan maksudnya.
"Itu milik uncle boy. "
Alvian mendekati Alexo yang berada di pangkuan Nara, mencubit gemes pipi Nara bekas ciuman Alexo.
"Dih nggak yah Uncle, Aunty Nala punya Lexo. "
Semuanya tertawa terbahak-bahak melihat keposesifan Alexo.
Diandra yang sedari tadi berada di sana, menjadi sedih ketika tak bisa merasakan hangatnya kasih sayang anak dan juga cucunya.
.
.
__ADS_1
.
Makasih buat yang sudah mampir yuk komen dan like biar aku tau ada yang baca makasih 🌹