
Sebelum pesan yang dikirimkan Rian masuk ke ponsel Nara, gadis itu sudah meninggalkan ponselnya di atas ranjang Alvian menuruni anak tangga menuju ke ruang televisi.
“Heboh banget kalian berdua, “ Nara menghampiri David dan juga Victor yang sedang main perang-perangan.
“Manusia satu ini, nggak kerja dia malah asik sama tontonannya, “ ujar Victor mengadu pada Nara.
“Saya lupa, “ elas David, yang menurut Victor itu sangat tidak masuk akal sekali.
“Jangan banyak omong, kerjakan saja tugasmu!” oceh Victor, menatap tajam David sedikit kesal.
Sedangkan Nara, hanya bisa tertawa terbahak-bahak, melihat tingkah keduanya lalu fokus pada kartun Pororo yang di tontonnya.
Alvian yang baru saja keluar dari kamar mandi, sudah tidak lagi menemukan keberadaan Nara di ruangan itu. Dengan handuk yang masih melilit pinggangnya, serta dada bidang yang terpampang jelas, pria itu mengitari seluruh isi kamarnya mencari keberadaan kekasihnya.
“Nara, Ka-
Belum sempat Alvian menyelesaikan perkataannya, matanya tertuju pada ponsel Nara yang terbengkalai di atas ranjangnya tanpa di kunci. Di saat benda pipih itu sudah berada di tangan Alvian, pesan dari Rian masuk. Tak mau menunggu lama, Alvian langsung membuka apa pesan dari Rian.
“Nara, pulang!”
Saat itu juga, mata Alvian langsung tertuju pada layar televisi yang tengah memberitakan tentang dirinya dan juga Roseta.
“Sial!”
Alvian mematikan televisi, mengenakan pakaiannya bersama dengan membawa ponsel Nara Ia menuruni anak tangga menghampiri kekasihnya, yang tengah sibuk tertawa bersama kedua asistennya.
“Apa yang kalian lakukan?!” tanya Alvian, dengan nada yang sedikit tidak enak ketika masuk dalam pendengaran.
“Nonton, “ jawab Nara tersenyum kearahnya.
Alvian menarik nafasnya panjang, sedikit terlihat gugup meraih remote disebelah Nara hendak mematikan televisi itu Namun, dengan cepat Nara menghalangi televisinya.
“Nggak boleh, Aku masih mau nonton!” serkah Nara sudah merentangkan tangannya di depan Alvian.
“Minggir Nara, “ ujar Alvian menatap tajam wajah Nara.
“Biarkan saja Tuan, lagian yang di tontonnya Cuma kartun.” Victor ikut membela Nara, agar Alvian tak jadi mematikan televisi.
Belum sempat Alvian kembali mengarahkan remote kearah televisi, semuanya sudah di buat kaget dengan berita yang di tampilkan di sana. Mata Nara seketika berair tanpa sebab, Ia menarik ponselnya secara paksa dari tangan Alvian berlari keluar dari rumah mewah itu.
“Kalian, hancurkan stasiun televisi itu!” titah Alvian, sebelum berlari mengejar Nara yang sudah sampai di parkiran.
“Nona, mau kemana?” Novita yang baru kembali, bertanya pada Nara. Namun, gadis itu tidak menjawab pertanyaannya Ia malah berlari menuju Jalanan.
“Novita, tahan dia!”
Mendengar suara teriakan Alvian, Novita sedikit berlari memegang tangan Nara tak memberikan gadis itu pergi dari sana.
“Tolong, saya harus pergi.” Nara mencoba melepaskan tangannya namun, sama sekali tidak dipedulikan oleh gadis itu.
“Sayang, ayok kembali ke dalam, “ ujar Alvian pelan, setelah mengisyaratkan Novita masuk kedalam rumah.
__ADS_1
“Jangan pegang-pegang!” teriak Nara.
“Nara, ayolah jangan seperti ini, “ ujar Alvian masih dengan nada suara melemah.
“Urus saja calon tunanhanmu, “ jutek Nara.
Alvian mengusap kasar wajahnya, mengeluarkan ponselnya dari dalam kantong celananya mengirim pesan pada Evan.
“Sayang, “ Alvian mendekati Nara.
Nara menepis kasar tangan Alvian dari pipinya, memberhentikan paksa sebuah taksi yang melintas di arah sana.
“Pak ke rumah sakit.”
Bukan hanya Nara saja yang berada dalam taksi, Alvian juga sudah ikut masuk di dalamnya. Supir taksi yang langsung melaju, membuat Nara tidak bisa mendorong Alvian keluar.
“Jangan dekat-dekat!” bentak Nara, ketika Alvian hendak meraih pinggangnya.
“Istrinya lagi badmood yah pak?” ujar sang sopir taksi bertanya.
Alvian hanya tersenyum menanggapi perkataan sang supir, sedangkan Nara memasang wajah masamnya sembari menatap keluar kaca taksi.
“Ia pak, maklum lagi hamil.”
Nara yang tadinya tidak memperdulikan percakapan tak penting kedua makhluk itu, berbalik saat mulut Alvian tidak bisa di kontrol lagi.
“Yang pastinya bukan hamil sama kamu!” jutek Nara, keluar dari taksi saat mereka sudah di di depan rumah sakit.
“Nara,bayar!” teriak Alvian menggema mengikuti langkah Nara yang sudah memasuki rumah sakit.
Setelah menyodorkan selembar kertas bergambar Soekarno Hatta, Alvian langsung ikut menyusul Nara.
“Uangnya kurang, “ supir taksi hanya bisa menggelengkan kepalanya, pasrah dengan kekurangan uang lalu kembali melajukan taksinya meninggalkan tempat itu.
Nara dengan langkah cepat, menghampiri Rian yang menatapnya dari ambang pintu masuk. Sedangkan Alvian yang juga baru mencapai depan ruangan rawat Firman, menghentikan langkahnya ketika melihat tatapan tak mengenakan dari Rian.
“Masuk!”
Sosok Rian yang sebenarnya kali ini benar-benar keluar, Ia memerintahkan Nara masuk dengan nada begitu dinginnya membuat kakanya mengikuti perkataannya.
“Ngapain kesini?” Rian menutup rapat pintu masuk, setelah di pastikan Nara benar-benar sudah berada di dalam sana.
“Rian, itu tidak seperti ap-
“Menjauh dari kakaku, “ Rian masih bisa mengontrol amarahnya.
Ketika Ia berbalik hendak masuk kedalam, dengan cepat Alvian menahan tangannya membuatnya harus menghentikan langkahnya.
“Aku tidak bisa hidup tanpa Nara.”
Kata-kata yang keluar dari mulut Alvian, seperti menggelitik perut Rian membuatnya tertawa renyah dengan apa yang di dengarnya.
__ADS_1
“Berhentilah berbual, kau sebentar lagi tunangan, “ ujar Rian kembali menatap tajam Alvian.
Jika sekarang yang berada di hadapannya bukan adik dari wanita yang Ia cintai, mungkin Alvian sudah menghabisinya sekarang. Seumur hidupnya, Alvian tidak pernah mengeluh untuk mendapatkan sesuatu seperti ini.
“Itu hanya rencana busuk ayah dan juga ibu tiriku!” bentak Alvian tak bisa mengontrol emosinya lagi.
Nara yang berada di dalam bersama Tina, sempat mendengar perkataan Alvian sedikit merasa bingung akan maksud pria itu.
“Apa maksudnya, Nyonya Diandra bukan ibu kandungnya?!” batin Nara bertanya-tanya.
Rian tersenyum smrik, mendekati Alvian yang tengah mengusap kasar wajahnya mencoba agar tenang.
“Buktikan dulu, baru ku biarkan kau mendekati kakaku!” ujar Rian tak kalah keras.
Nara yang khawatir keduanya akan di usir oleh security, dengan sangat terpaksa membuka pintu mendekati keduanya.
“Sayang, aku mohon dengarkan aku dulu, “ ujar Alvian mendekati Nara.
Rian yang sudah kehabisan kesabarannya, menarik tubuh Alvian mendorongnya menjauh agar menjauh dari Nara.
“Menjauh darinya!” bentak Rian meraih kera baju Alvian dengan wajah memerah, pertanda dirinya sedang berapi-api.
Dito yang juga baru saja tiba di sana, berdiri jauh menonton pertarungan yang memanjakan matanya dari ujung lorong. Ia sama sekali tidak mau membantu, dirinya ingin melihat seberapa kuatnya seorang Adrian Atmaja menjaga kakaknya.
“Lepaskan Rian, “ ujar Nara menghentikan keduanya.
Namun, keduanya sama sekali tidak mau mendengarkan Nara. Alvian yang juga sudah tersulut emosi, meraih kerah baju Rian seperti apa yang dilakukan oleh pria itu.
“Aku datang baik-baik, tapi kau mencoba menguji kesabaranku!” teriak Alvian menggema.
Nara menarik nafasnya panjang, kembali mendekati keduanya mencoba melerai mereka meski dirinya sendiri tidak yakin akan berhasil.
“Itu karena dirimu tidak becus, “ ujar Rian berapi-api.
“Berhenti!” bentak Nara dan,
Bruk
Nara tersungkur jauh hingga kepalanya terbentur ujung bangku, mengeluarkan darah segar. Baik Alvian maupun Rian, hendak mendekatinya ingin membantu dengan cepat keduanya di halangi Dito.
“Menyingkir dari hadapanku, “ ujar Nara dingin.
.
.
.
Hai pembaca setiaku...
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
__ADS_1
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.
makasih 🌹