Dicintai Tuan Muda Alviano

Dicintai Tuan Muda Alviano
100 Nara capek Ma,


__ADS_3

Alvian tersenyum smrik, lalu melemparkan bunga Kamboja tepat pada wajah wanita tua yang di duga, adalah Lidia Jovanka Omanya.


“Kenapa masam Oma, kau tidak senang menyambut cucumu ini?”


Alvian tertawa kecil, menyelonong masuk begitu saja kedalam rumah itu. Ingatan sedikit berputar, di kala melihat ruang tamu dan juga tangga itu.


Dor


“Bunda!”


Suara tembakan yang masih tersimpan rapih dalam ingatannya, membuat Alvian semakin memupuk dendam dalam dirinya.


“Siapa yang mengizinkan mu masuk?!” teriak Lidia, mendekati Alvian.


Alvian berbalik menatap Lidia, lalu tersenyum lebar sembari mengambil rokok dari tangan Lidia.


“Ada apa Oma? Ini rumahku juga, “ ujarnya, menginjak rokok itu setelah dihempaskan ke lantai.


Alvian sedikit melirik Ilone yang baru saja mendekati mereka, lalu melangkah menaiki anak tangga menuju lantai dua. Lidia tau Ia tidak akan bisa menghentikan Alvian, Ia mengarahkan anak buahnya yang langsung menghadang Alvian ketika cucunya sudah mencapai lantai dua.


“Wooow, apa ini Oma? Apa ini sambutannya?”


Beberapa anak buah Lidia, sudah mengarahkan senjatanya kearah Alvian. Salah satu diantara mereka, ada Ino yang merupakan orang suruhan Alvian.


“Apa kalian akan menembaki, pewaris tunggal Jovanka?” ujar Alvian dengan menekan kata terakhirnya.


Saat itu juga, seluruh anak buah Lidia langsung menurunkan senjatanya. Lidia mungkin bosnya, tapi Alvian yang mengeluarkan uang untuk membayar mereka setiap bulannya. Jadi ketika di hadapan Alvian, perintah Lidia akan sia-sia saja. Hal itulah, yang selalu ditakuti oleh Lidia ketika Alvian kembali ke Swedia.


Alvian tersenyum puas ketika mereka menurunkan senjata, Ia melangkah masuk pada sebuah kamar yang begitu sangat dirindukan aromanya oleh Alvian.


Lidia yang hendak melangkah mendekati Alvian, dengan cepat ditahan oleh Ilone sembari menggelengkan kepalanya.


“Jangan Nyonya, mereka semua bisa lepas kendali, “ ujar Ilone, dengan pandangan yang masih mengarah keatas.


“Argh! Anak sialan, kau cocok mati bersama ibumu!” kesal Lidia, melangkah pergi.


Setelah kepergian Lidia, Ilone sedikit tersenyum kecil menekan tombol pada belakang lehernya mengirimkan pesan.


“Welcome Home, MR. Alviano Jovanka, “ ujarnya.


...***


...


Jakarta,


Sudah hampir tiga hari semenjak kepergian Alvian, Victor juga selalu menyempatkan diri berkunjung ke rumah sakit tempat Firman di rawat.


“Anda yakin tidak ingin bekerja Nona?”


Dan sudah hampir tiga hari, pertanyaan itu selalu didengar oleh Nara ketika Victor berkunjung ke rumah sakit.

__ADS_1


“Ayolah Victor, aku benar-benar tidak ingin kesana, “ ujar Nara kesal.


Tak lama setelah kata terakhir keluar dari mulut Nara, Alvaro bersama Tiara pun memasuki ruang rawat Firman. Nara kembali memutar bola matanya malas, melihat kehadiran kedua manusia itu lagi. Ia tau, kata-kata yang akan di ucapkan oleh keduanya sama seperti apa yang di katakan Victor barusan.


“Mau makan bakso?”


Oh, kali ini dugaan Nara salah. Meskipun begitu, Nara tak muda luluh Ia tetap mempertahankan egonya tak mau menerima tawaran Alvaro.


“Nggak!” jutek Nara, berjalan kearah kursi.


“Oh, ya sudah.”


Bukan itu yang diharapkan Nara saat ini, di tambah lagi Rian dan juga Nabila yang dibuntuti Dito, ketiganya baru tiba langsung bergabung bersama Victor, Tiara, dan juga Alvaro.


“Gilak, enak banget baksonya, “ ujar Tiara memanas-manasi Nara.


“Iya benar banget, Kak Nara yakin nggak mau nih?!” tawar Nabila lagi.


Nara yang lebih mementingkan gengsi dari pada perutnya, menggelengkan kepalanya tak mau menerima tawaran Nabila.


“Dasar rakus!” ujar Nara melangkah keluar dari ruangan itu.


Ia berjalan perlahan menelusuri lorong itu, sampai kakinya berhenti di depan sebuah ruangan Dokter. Nara dengan sedikit ragu, membuka pintu itu tanpa mengetuk lalu menyelonong masuk begitu saja.


“Maaf Dok, apa saya mengganggu?”


Seorang dokter cantik bernama Putri yang selama ini menangani Firman, tersenyum kearah Zahra lalu menyuruhnya duduk.


“Duduklah Zahra, “ ujarnya.


“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Putri.


“Bagaimana perkembangan kondisi ayah saya?” jawab Nara, langsung pada intinya.


Ada sedikit keraguan dari Putri, untuk menjawab pertanyaan Nara. Namun, sebisa mungkin Ia menutupi keraguannya lalu mengeluarkan sebuah berkas.


“Aku belum bisa memberikanmu jawaban yang pasti, tapi jika kau sudah tidak sanggup lagi bisa kau tanda tangani berkas itu.”


Nara cukup kecewa dengan perkataan Putri, seharusnya sebagai seorang dokter Putri tidak pantas mengatakan hal itu. Namun, Ia juga mengerti mau berusaha seperti apapun, Kondisi ayahnya sama sekali tidak ada perubahan malah semakin memburuk.


“Maafkan aku Nara, “ ujar Putri menyesal.


Putri hendak meraih kembali berkas itu, tapi Nara sudah lebih dahulu mengambilnya dari atas meja.


“Aku mengerti, “ ujar Nara.


Nara bangkit dari duduknya, berjalan keluar ruangan tanpa berpamitan kepada dokter itu. Setelah kepergian Nara, putri mengeluarkan ponselnya menempel pada telinganya.


“Dia sudah menerima berkas itu, “ ujarnya tersenyum smrik.


Sembari memegang berkas itu, Nara berjalan menuju taman. Ia melirik jam tangannya, sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Hati dan juga pikirannya campur aduk antara ingin kekantor, atau tetap di rumah sakit.

__ADS_1


“Nara, sedang apa di sini?”


Suara wanita yang selama ini membesarkannya, membuat Nara berbalik tersenyum menatap Tina.


“Ma, “ ujarnya.


Tina melepaskan tasnya, ikut duduk disamping Nara sembari memandang kearah depan menikmati tawa anak-anak yang begitu renyah dalam pendengaran mereka.


“Mereka bahagia sekali yah ma, “ ujar Nara.


“Hmm, terlihat tidak beban dalam hidupnya.”


Bisa Nara rasakan dari suara Tina, ada begitu banyak rasa capek yang di rasakan ibunya selama ayahnya berada di rumah sakit. Nara menggenggam erat tangan Tina, menyandarkan kepalanya pada bahu wanita itu.


“Ujian ini begitu besar yah, ma?!”


Tina mengangguk, mengelus lembut surai hitam Nara. Jika badai ini bisa berlalu dengan cepat, Tina akan membawa keluarganya jauh dari kehidupan menyedihkan ini.


Nara menarik kepalanya dari bahu Tina, kembali menyenderkan kepalanya pada kursi. Tina sedikit meliriknya, hingga matanya tertuju pada berkas di tangan Nara. Air matanya mengalir begitu saja, dirinya sendiri tidak kuat lagi bagaimana dengan putrinya ini?!


“Kau tidak bekerja hari ini?” ujar Tina.


“Aku membeli sebuah rumah di pinggiran kota.”


Jawaban yang keluar dari mulut Nara, sama sekali tidak berhubungan dengan pertanyaan ibunya itu. Tina sama sekali tidak terkejut akan hal itu sebab, dirinya sempat melihat Nara membereskan beberapa bekas.


“Apa kau yakin sayang?!”


Nara mengangguk antusias, menanggapi perkataan Tina.


“Nara capek ma, selama ini Nara berusaha kuat. Tapi Tuhan seperti tidak mendengarkan doa Nara, Nara harus bagaimana lagi? Apa semarah itu ayah sama Nara, hingga membuka matanya saja tidak bis?!”


Tangis Nara pecah, Tina menarik putrinya masuk kedalam pelukannya mengusap lembut surai hitam Nara sembari mengecupnya.


“Jika kau lemah seperti ini, bagaimana dengan Rian sayang? Ayok kuat, kita pasti bisa! Mungkin sedikit lagi, “ ujar Tina menguatkan putrinya.


“Capek itu manusiawi sayang, tapi jika kau menyerah sekarang itu jauh lebih buruk dari pada sampah, “ timpal Tina lagi.


Tina berusaha kuat saat ini, putrinya sekarang lemah jika dirinya menunjukkan hal yang sama, siapa yang akan menopang kedua anak-anaknya?!


“Kami merindukanmu mas.” Batin Tina berseru.


.


.


.


Hai pembaca setiaku...


Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.

__ADS_1


Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.


makasih 🌹


__ADS_2