
"David, cari tau siapa yang membantunya kabur, "
Karena sama sekali tidak menemukan kemana Roseta menghilang, Alvian terpaksa memerintahkan David untuk mencari wanita itu.
Tak menjelang lama, Evan menghampiri mereka dengan membawa laptopnya.
Evan mulai membuka rekaman cctv pada taman belakang, di sana tidak ada tanda-tanda siapa yang membantu Roseta kabur.
Namun tiba-tiba saja, cctv itu menjadi blur. Semua yang berada di sana menjadi mengerti.
"Ada yang menyabotase cctv taman belakang, " ujar David.
"Bram, siapa saja yang masuk ke sana selain kamu dan Alexo? "
"Tidak ada tuan. Sebab, kuncinya hanya di pegang saya dan juga bos kecil, " jelas Bram.
Semua tampak berpikir sebentar, mereka belum bisa menyimpulkan siapa pelaku dari semua ini.
"Sudah biarkan dia kabur, lanjutkan pembasahan kita yang tertunda minggu lalu, " putus Alvian.
Ia tidak mau terlalu memperdulikan kepergian Roseta, tapi jika wanita itu berulah barulah Ia mengambil tindakan.
"Mendengar informasi soal tempat penyimpanan berkas kepemilikan Jovanka grup, sepertinya anda harus kembali ke Swedia tuan muda, " titah Victor.
Alvian menarik nafasnya panjang, akan sangat berat jika dirinya harus kembali pada tempat yang di bencinya.
Tak hanya itu, sekarang Ia memiliki Nara, sepertinya akan sangat sulit untuk meninggalkan gadisnya itu.
"Apa kalian tidak bisa memikirkan cara lain? "
Mendengar penuturan Alvian, semua yang berada dalam ruangan itu mengerti akan posisinya saat ini.
"Hanya itu satu-satunya cara tuan, " ujar Victor.
"Kalaupun ada, kita harus mengorbankan Rani kembali ke sana, " tambah Evan.
Alvian terdiam sesaat, benar apa yang di katakan Evan. Jika bukan dirinya yang pergi, Rani yang akan di korbankan.
"Baiklah, mulai hari ini persiapkan segalanya. "
Victor, David, dan juga Evan, saling bertatapan satu sama lain lalu kembali menatap Alvian.
para itu kembali melanjutkan rencana mereka, tentang keberangkatan Alvian.
Tanpa mereka sadari, Nara sedari tadi mendengar semua yang di katakan.
"Nara, kamu di sini? "
Rani berjalan menghampiri Nara, ketika dirinya tak sengaja melihat gadis itu berdiri di depan pintu masuk.
"Ayok kita nonton, " ajak Rani.
Nara sama sekali tidak bersuara, wanita itu hanya bisa pasrah mengikuti kemana Rani membawanya.
"Nara mau di buatkan apa? " tanya Rani, saat keduanya melewati dapur.
"Terserah deh. "
Rani sedikit terkekeh mendengar perkataan Nara.
"Jawaban para wanita Indonesia, " ujarnya.
Hanya senyuman paksa yang diberikan gadis itu kepada Rani.
Dengan membawa beberapa kentang goreng, Rani kembali menggandeng tangan Nara menuju depan televisi. Di sana, sudah ada Alexo yang sedang bermain bersama Alexa.
__ADS_1
"Hai Aunty cantik, " sapa Alexo.
Nara menampilkan senyumannya, mengecup bergantian kening Alexa dan juga Alexo.
"Alexa wangi banget, " ujar Nara.
"Iya dong Aunty, dede Alexa kan sudah mandi. "
Nara mengangguk mengerti dengan ucapan Alexo, lalu menggendong bayi mungil itu.
"Mau nonton film apa? " tawar Rani.
"Gimana kalau horor aja, " ujar Alexo.
Nara seketika teringat akan Rian, sudah lama sekali mereka tidak menonton film itu bersama.
"Siapa yang ajarin Lexo nonton film horor? " tanya Nara tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Alexa.
"Uncle Ian, " hebo Alexo.
Sudah di duga Nara, virus Rian begitu cepat menyebar dalam hal menonton film horor.
Rani dengan antusias, mulai memutar film horor. Meski dengan ekspresi yang penuh ketakutan di antara mereka, tontonan itu terus berlanjut.
"Aaa! " teriak ketiganya saat hantu muncul dalam layar televisi.
Seolah tertarik dengan tonton itu, Alexa tertawa membuat ketiganya mengalihkan pandangan menatapnya.
"Anak mu akan menuruni sikap Rian, " ujar Nara yang langsung di sambut tawa semuanya.
"Aunty, hantunya di belakang cowok itu, "
Nara tidak menjawab perkataan Alexo, Ia menyembunyikan wajahnya kedalam tubuh Alexa.
"Huh ada hantu! "
"Aaa! "
Alvian seolah tidak memperdulikan tatapan itu, Ia duduk di sofa yang di bawanya terdapat Nara yang sedari duduk di lantai bersama Alexo.
Alvian meletakkan kepalanya pada bahu Nara, lalu membenamkan wajahnya di sana.
"Iss, " titah Nara mendorong kepala Alvian menjauh.
Mendapat perlakuan seperti itu Nara, Alvian memegang dagu wanitanya itu sembari mengusap kecil.
"Al, " ujar Nara kesal.
Tak sampai di situ saja, setelah mendapat penolakan dari gadisnya, Alvian malah semakin usil dengan mengusap-usap pinggang Nara.
Kesal sebab tak mampu menyingkirkan tangan Alvian dari pinggangnya, Nara akhirnya diam dan pasrah tanpa suara.
"Setannya muncul lagi, " hebo Rani yang masih setia dengan tontonannya.
"Aaa! " teriak Nara yang dengan sengaja mencubit tangan Alvian.
Alvian mengangkat dagu Nara, membuat gadis itu menatapnya.
"Bisa diam nggak?! " kesal Nara dengan perbuatan pria itu yang tidak mau diam.
"Baiklah, " titah Alvian mengalah.
Karena terus diomeli Nara, Alvian memilih menyandarkan tubuhnya pada sofa sembari memainkan ponselnya.
"Yah habis deh, " ujar Alexo dengan berakhirnya film itu.
__ADS_1
"Mommy, Lexo mau bobo. "
Alexo berjalan mendekati Rani, lalu mendaratkan tubuhnya pada pangkuan wanita yang sudah membesarkannya itu.
"Baiklah, ayok ke kamar, " ujar Rani.
"Nara, biar Alexa Kaka bawa yah. "
Nara menggangguk lalu menyerahkan Alexa pada Rani, tentu saja setelah dirinya mendaratkan beberapa ciuman pada bayi lucu tersebut.
"Bye Aunty Nala, " ujar Alexo dengan cadelnya.
Setelah kepergian Rani dan Alexo, Nara benar-benar tidak memperdulikan Alvian.
Ia mengambil ponselnya dari dalam tas, lalu mulai mengusap menonton beberapa tonton seru dari ponselnya.
Alvian merasa tidak di perdulikan kekasihnya itu, turun dari sofa mendekati Nara.
Tanpa berbasa-basi, Alvian meletakkan kepalanya di atas paha Nara.
"Iss berat tau, " oceh Nara tak terima.
"Lima menit sayang, " ujar Alvian yang mulai memejamkan matanya.
Nara yang melihat Alvian sudah memejamkan mata, menatap lekat wajah pria itu. Pikiran kembali berputar, saat dirinya tak sengaja mendengar pembicaraan Alvian bersama asistennya.
Nara saat ini tidak tau harus bersikap apa kepada Alvian. Ia ingin Marah, ataupun sedih dirinya sendiri bingung harus bagaimana.
"Ayolah Nara, kau hanya sebatas kekasihnya bukan istrinya. " batin Nara menguatkan dirinya.
Alvian yang sedari tadi memperhatikan kekasihnya, membuka matanya penuh.
Dirinya menatap lekat wajah Nara, lalu turun ke bibir ranum wanita itu.
Alvian mengangkat jarinya, mengusap pelan bibir Nara lalu tersenyum.
"Aku menyukainya, " ujar Alvian.
Nara tidak menjawab perkataan Alvian, ataupun menolak perlakuan tangan pria itu.
"Kenapa di sini begitu sangat menggemaskan, " ujar Alvian.
Kali ini, tangannya sudah turun mengusap pelan dada Nara.
"Kaka! tangannya menyebalkan banget, " oceh Nara.
Mendapat kekehan dari Alvian, Nara mencubit lengan pria itu.
Seolah tidak memperdulikan perkataan Nara, pria itu kembali melancarkan aksinya yang kali ini menekankan-nekan dua gundukan milik kekasihnya itu.
"Kenyal banget, boleh di **** nggak sih, " ujar Alvian berbisik.
Nara yang kesal mendengar perkataan frontal dari kekasihnya itu, mendorong keras kepala Alvian dari pahanya.
"Sakit sayang, " keluh Alvian mengusap kepalanya.
"Rasain! " ujar Nara.
Nara bangkit berdiri, berjalan menuju dapur meninggalkan Alvian yang terkekeh melihatnya.
.
.
.
__ADS_1
Makasih yah, buat yang sudah mampir jangan lupa like komen biar aku tau ada yang baca ❤️