
Mentari yang bersinar harus mengalah mengizinkan gelapnya menguasai bumi, Nara yang mendapat pesan singkat dari Rian tentang kondisi Firman bergegas menuju rumah sakit, setelah selesai merapikan isi rumahnya yang sudah hampir sebulan di tinggal.
“Nara mau kemana? “
Fitri yang melihat kepergian Nara dengan terburu-buru, menghampiri gadis itu dengan penuh tanda tanya.
“Maaf aku sedang tidak ingin berkelahi kak, “
Fitri menarik nafasnya panjang, kali ini dirinya sama sekali tidak bernafsu untuk membuat keributan dengan Nara.
Ia benar-benar khawatir dengan kondisi Firman yang biar bagaimanapun Firman adalah satu-satunya keluarga yang Ia punya.
“Aku juga Nara, bagaimana keadaan paman?
“
“Entahlah Rian meneleponku katanya ada sedikit perubahan, “ kata Nara.
“Ini bawalah untuk kalian, besok baru aku bisa kesana ayahnya putra belum kembali. “
Fitri menyerahkan rantang stainless berisikan makana yang di buatnya subuh tadi.
Tanpa ragu, Nara menerima rantang itu menarik sedikit senyuman di bibirnya lalu meninggalkan halaman rumah Fitri.
Rian dan Tina yang sedari tadi berdiri di luar ruangan menunggu dokter selesai memeriksa keadaan Firman, di kejutkan dengan kehadiran Nara.
“Bagaimana keadaan ayah? “ tanya Nara dengan nafas memburu.
“Dokter sedang memeriksa. “
Nara hanya mengangguk mengiyakan perkataan Tina, lalu ikut mendukukan bok ongnya di samping Rian.
Rian memperhatikan rantang di tangan Nara, mengambil benda itu dan menatapnya sembari memutar-mutarnya lalu kembali menatap Nara dari atas kepala sampai ke ujung kaki.
“Kau masak? Lalu mau kemana kau? “
Pertanyaan beruntun dari Rian membuat Nara berbalik menatap adiknya itu.
“Itu dari Fitri dan aku mau ke perusahaan Sanders, aku di terima kerja, “ jelas Nara.
Rian yang ingin membuka mulutnya mengatakan sesuatu, di urungkan niatnya sebab dokter baru saja keluar dari ruang rawat tempat Firman berada.
“Dok Bagaimana keadaan suami saya? “
Tina menghampiri Dokter dengan perasaan cemasnya.
“Tidak perubahan dari pasien. Apa anda yakin ingin terus melanjutkan perawatan ini? Sebab sudah hampir sebulan pasien sama sekali tidak merespon obat yang di berikan, “
Tina tidak mampu berbicara lagi, dirinya hanya bisa menundukkan kepalanya sembari berpikir apa yang harus Ia lakukan.
“Tetap lanjutkan perawatan, apapun yang terjadi. “
Nara bangkit dari duduknya menghampiri Tina, memegang bahu mamanya.
“Tapi maaf, biaya yang dikeluarkan tidak sedikit. Anda yakin? “ tanya Dokter memastikan.
“Yah, apapun yang terjadi jangan pernah lepaskan alat medis itu dari tubuh ayah saya. “
“Baiklah saya permisi. “
Setelah kepergian dokter Rian berjalan menghampiri Nara dan juga Tina lalu memeluk erat tubuh kedua wanita berharganya itu.
__ADS_1
“Aku akan berusaha mendapatkan beasiswa agar kau tidak terlalu terbebani Nara, “ ujarnya.
Nara melepaskan pelukannya lalu menatap wajah Tina dan berseru,
“Jangan terlalu khawatir, cukup doakan kami. “
Tina mengangguk mengiyakan perkataan putrinya, lalu melangkah masuk kedalam ruang rawat.
“Aku harus pergi, “ ujar Nara menatap Rian.
“Semangat, “
Nara mengangguk mengiyakan perkataan Rian, berlalu tanpa berpamitan kepada Firman terlebih dahulu menuju ke perusahaan Sanders.
“Rian! “
Rian yang mendengar namanya di panggil, berbalik dan mendapati seorang gadis cantik tersenyum kepada.
Yah gadis itu tak lain adalah Nabila anak salah seorang dosen Nara yang kebetulan tinggal sekompleks dengannya.
“Bila, sedang apa disini? “ tanya Rian menghampiri gadis itu.
“Ingin menjenguk om Firman, ini aku bawakan buah. “
Rian tersenyum lalu mengambil alih keranjang buah dari tangan Nabila.
“Ayok, “ ajaknya.
Keduanya beriringan memasuki ruangan dimana Firman di rawat, mereka langsung disambut senyuman hangat dari Tina.
“Eh ada nak Bila, “ sapa Tina hangat.
“Hallo Tante, bagaimana keadaan Om Firman? “
“Yah seperti yang kamu lihat, sedang ada keperluan yah kesini? “ ucap Tina.
“Bila pengen jenguk om Firman saja Tante, sekalian ngajak Rian buat daftar beasiswa masuk universitas, “ jelas Nabila.
“Benarkah? “ tanya Rian yang tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
Nabila mengangguk antusias lalu kembali menatap ke arah Tina meminta persetujuan, yang langsung di sambut anggukan dari wanita tersebut.
“Ayok, mau dimana? “ ujar Rian.
“Disini saja. “
Nabila mengeluarkan laptopnya dan juga berkas-berkas yang dibawanya tadi, begitu juga Rian yang memang sudah hampir seminggu selalu membawa berkas-berkas pentingnya kemanapun Ia pergi.
"Jangan menatapku seperti itu, aku selalu membawa ini kemana aku pergi, " ujar Rian yang mengerti akan maksud dari tatapan Nabila.
Nabila hanya mengangguk saat melihat keseriusan dari kata-kata Rian.
...***...
Nara yang baru saja tiba di perusahaan Evan, langsung di arahkan security menuju tempat yang sudah di sediakan untuk karyawan baru.
“Selamat pagi semua, “ sapa seorang pria yang suaranya tampak familiar di telinga Nara.
“Pagi pak, “
David melangkah berhadapan dengan mereka membuat Nara seketika terkejut akan kehadiran pria itu.
__ADS_1
“Saya akan membagi kalian di beberapa devisi. Setelah itu kalian langsung ke sana. “
Setelah mendengar perkataan David, semua yang berada di sana mengangguk mengiyakan perkataannya begitu juga Nara.
David mulai menyebutkan beberapa nama begitu juga tempat penempatannya namun, sampai akhir Nara sama sekali tidak mendengar namanya di sebut.
“Maaf pak, nama saya kok nggak ada? “
David tersenyum, lalu mengisyaratkan agar kelima karyawan baru itu meninggalkan ruangan itu.
Setelah mereka pergi, David mengarahkan tangannya agar Nara mengikutinya.
“Anda di tempatkan di Jovanka grup, ini semua atas permintaan tuan muda. “
Nara yang merasa bingung akan semua itu memasuki lift mengikuti langkah David.
“Kenapa begitu? “
David tak menjawab perkataan Nara, Ia justru dengan cepat memasuki kantor Alvian.
“Wooow, “ kagum Nara yang melihat kantor Nara bak istana.
Keduanya beriringan masuk kedalam lift menuju kerja Alvian. Lagi lagi, Nara di buat kagum dengan ruang kerja Alvian yang tidak terlihat seperti ruang kerja melainkan kamar hotel berbintang.
“Tuan, Nona muda sudah disini. “
Alvian membalikkan kursinya menghadap Nara dan juga David.
Nara yang melihat sosok Alvian semakin bingung di buatnya.
Alvian bangkit dari duduknya, lalu berjalan mendekati Nara sembari tangannya mengistirahatkan agar David meninggalkan ruangan itu.
“Kenapa aku di bawa kesini? “ tanya Nara.
“Kau akan bekerja sebagai asistenku disini. “
“Kenapa begitu? “
Alvian tidak menjawab pertanyaan Nara, Ia justru membawa wanita itu duduk di sofa lalu memeluknya erat.
“Aku mencintai mu, “
“Dih di tanya lain jawabannya lain, “ kesal Nara.
Alvian hanya terkekeh mendengar ocehan gadisnya itu.
"Bisakah aku di tempatkan pada posisi yang biasa saja? "
"Apa kau keberatan berada di dekatku? "
"Tidak seperti itu, hanya saja aku tidak bisa jika harus menjadi asisten mu itu terlalu berat. "
"Baiklah, " ujar Alvian mengalah.
Sejujurnya Ia tidak ingin Nara bekerja namun, apa dikatakan gadis itu beberapa hari lalu benar bahwa mereka belum memiliki hubungan yang sangat serius layaknya suami istri.
.
.
.
__ADS_1
Makasih yang sudah mampir love you deh ❤️❤️❤️🌹