
Setibanya di kediaman pria itu, kaki Nara yang langsung di obati oleh pria itu.
Dengan telatennya, pria tersebut mulai mengolesi obat merah pada bagian yang robek.
"Aww, " ringis Nara.
"Sory, tahan yah ini bakal sangat perih. Tapi, ampuh kok. "
Sembari meniup-niup luka Nara yang di beri obat merah, pria itu melanjutkan pengobatannya dengan memasang perban pada luka Nara.
"Selesai, " ujarnya.
Ia bangkit dan duduk di samping Nara, lalu menatap lekat wajah gadis itu.
"Makasih ya, sudah mau di obati, " ujar Nara.
Pria itu hanya mengangguk, sembari menampilkan senyuman khasnya yang begitu mempesona.
"Namaku Winara, kau siapa? " ujar Nara berusaha akrab.
"Saya, Alvaro Negredo. "
Nara mengangguk mengiyakan perkataan Alvaro. Namun, Ia kembali berbalik lagi menatap lekat wajah Alvaro.
"Namamu tidak asing, " ujarnya.
"Benarkah? "
Nara mengangguk antusias, berusaha mengingat dimana Ia mendengar nama itu.
Alvaro sedikit terkekeh, lalu bangkit dari duduknya melangkah menuju dapur.
Pria itu kembali, dengan membawa dua mangkok mie ayam buatannya. Alvaro sudah lebih dahulu menikmati mie itu, sedangkan Nara hanya menatapnya tanpa suara.
"Ayo makan, apa yang kau lihat? "
Nara masih ragu untuk memakannya. Alvaro yang menyadari hal itu, terkekeh kecil lalu memakan mie milik Nara.
"Kau lihat, aku tidak menaruh hal yang mencurigakan didalamnya, " ujar Alvaro.
Nara sedikit malu, lalu mengikuti Alvaro mulai memakan mie buatan pria itu.
"Wah, sangat enak, " puji Nara.
"Tentu saja, aku yang masak pasti selalu enak, " ujar Alvaro menyombongkan diri.
"Kau bisa memasak? "
Alvaro mengangguk antusias, lalu menyeruput habis kuah mie yang masih tersisa.
"Aaa sangat lezat, " titah Nara setelah selesai menyantap habis mie suapan terakhirnya.
Alvaro menatapnya lekat, kemudian menarik senyuman di ujung bibirnya.
Nara yang hendak membereskan bekas makan keduanya, di hentikan pria itu.
"Kau duduk saja, kakimu sedang sakit, " ujar Alvaro.
Nara yang pasrah, hanya bisa melihat Alvaro membereskan semua bekas makan keduanya sendirian.
"Aku janji, nanti ketika kaki ku sembuh akan ku traktir dirimu, " ujar Nara.
"Aku akan menagih janjimu itu. "
Nara tersenyum kecil, pandangannya terus bergerak mengikuti Alvaro yang sudah berada di dapur.
Setelah selesai membereskan semuanya, pria itu kembali duduk di sebelah Nara.
__ADS_1
"Kau sudah mengantuk? "
Nara yang ragu untuk menjawab, mengundang tawa dalam diri Alvaro.
"Mari aku bawa ke kamar, " ujar Alvaro.
Tanpa menunggu jawaban dari Nara, pria itu menggendong tubuh Nara membawanya ke dalam kamar tamu.
Nara di letakkan di atas ranjang, kemudian Alvaro berjalan menuju arah sofa.
Pria itu meletakkan bokong di sana, lalu menatap ke arah Nara. Nara yang bingung harus berbuat apa, berbalik menatap Alvaro.
"Tidurlah, aku tidak akan macam-macam, " ujar Alvaro.
Pria itu sudah merebahkan tubuhnya di atas sofa, mulai menutup kedua maniknya.
Nara yang sedikit tenang, mulai merebahkan dirinya di atas ranjang. Matanya perlahan menutup, tak lama Ia mulai masuk kedalam alam bawah sadarnya.
Alvaro membuka perlahan matanya, sedikit melirik Nara lalu menarik senyuman di bibirnya.
"Akan ku buat dirimu melupakan di brengsek itu, " gumam Alvaro.
...***...
Mentari perlahan memasuki kamar seorang Alviano, Ia membuka matanya menatap keluar jendela sembari mengumpulkan nyawanya.
Pria melangkah menuju kamar mandi, membersihkan tubuhnya. Setelah selesai dengan urusannya, Alvian melangkah turun menuju meja makan.
Di sana, Ia sudah di sambut David dan juga Victor yang tengah menunggunya.
"Ada meeting hari ini? " tanya Alvian saat sudah duduk di meja makan.
"Tidak ada tuan, " ujar David.
Seolah tidak memperdulikan tentang Nara, Alvian sibuk memasukkan makannya kedalam mulut.
Victor yang sudah sangat kesal dengan sikap Alvian, meluapkan emosinya.
"Jika sudah bosan kerja, kau bisa pergi, " ujar Alvian santai.
Darah Victor seolah mendidih mendengar perkataan Alvian. Pria itu bisa begitu santainya makan, dan sama sekali tidak memperdulikan Nara.
"Aku bicara sebagai sahabat mu, bukan sebagai asisten mu Alvian, " tutur Victor.
"Aku menjawab sebagai bos mu. "
Victor yang tidak bisa berkata apa-apa lagi, melangkah pergi dengan kesalnya.
David yang bingung harus berbuat apa, memilih melangkah menuju tangga lalu terdiam di sana.
"Kenapa dalam situasi seperti ini, aku selalu konyol, " gumamnya menyalahkan dirinya.
Tak menjelang beberapa menit, Alvian menyelesaikan sarapan lalu berjalan keluar.
David yang melihat kepergian Alvian, dengan segera menyamakan langkahnya dengan bosnya itu.
Meskipun sedang dalam keadaan marah sekalipun, Victor tetap melaksanakan tugasnya. Pria itu sedari tadi sudah berada dalam mobil Alvian, menunggu kedatangan pria itu.
"Langsung ke kantor! "
Mendengar perintah Alvian, dan setelah David sudah duduk di sebelahnya Victor melajukan mobil menuju Jovanka grup.
Sedangkan di kediaman Alvaro, Alvaro yang baru saja membuka matanya berjalan ke arah dapur.
Alvaro yang hendak mengambil segelas air, menghentikan langkahnya di ambang pintu saat matanya mengarah ke arah kolam.
Dengan membawa air dalam tangannya, pria itu menghampiri seorang gadis yang tengah sibuk bersama ikan di kolam.
__ADS_1
"Winara, " ujar Alvaro.
Nara mengangkat kepalanya, mendapati Alvaro sudah berada di hadapannya.
"Hai, kau sudah bangun? "
Pertanyaan konyol di lontarkan Nara sebagai basa basi di pagi hari. Alvaro menampilkan deretan giginya, lalu berjalan menghampiri kursi yang jaraknya hanya selangkah dari samping Nara.
"Apa tidak ada yang mencari mu? "
Nara sedikit berbalik melirik ke arah Alvaro, lalu Ia mengambil ponselnya menunjukkan kepada pria itu.
"Rusak, jadi aku nggak tau di cariin atau tidak, " ujar Nara.
Fokusnya kembali pada ikan koi, Alvaro menggelengkan kepalanya sembari menatap gadis tersebut.
"Sudah bisa berjalan? "
"Iya lumayan, tapi masih sedikit pincang lihat nih. "
Nara bangkit berdiri, lalu memperagakan caranya berjalan yang pincang.
Alvaro hanya mengangguk, dan kembali melangkah masuk kedalam rumah.
Pria itu berjalan ke arah dapur, tanpa di sadarinya Nara membuntuti dirinya dari belakang.
"Kau ingin memasak? " tanya Nara antusias.
Alvaro yang sedikit terkejut, tersenyum tanpa suara mengangguk mengiyakan perkataan Nara.
"Kau duduk saja, " ujar Alvaro.
"Tap-
belum sempat Nara menyelesaikan perkataannya, tangan Alvaro sudah menempel di bibirnya.
Alvaro mengarahkan Nara dengan jari telunjuknya, menyuruh gadis itu duduk di kursi yang tidak jauh dari sana.
Mendapat sikap manis dari Alvaro, Nara seolah melupakan Alvian yang sepertinya menjauhinya.
"Aku merindukanmu. " batin Nara menatap punggung Alvaro.
"Makanan sudah jadi, ayok makan. "
Nara mengangguk antusias, mengikuti Alvaro menuju meja makan.
Keduanya mulai menghabiskan makanan yang di buat Alvaro. Sesekali, Nara memuji masakan Alvaro dengan hebohnya.
"Setelah makan, mau ikut aku ke suatu tempat? "
Nara tampak berpikir sebentar, lalu mengangguk mengiyakan perkataan Alvaro.
"Setelah dari tempatmu, kau harus mengantarkan aku pulang okey? "
"Oke, deal. "
Dengan tawa yang meliputi keduanya, makanan di atas meja di lahap habis.
Sesuai dengan perkataan Alvaro, selesai sarapan keduanya berjalan menuju tempat yang di maksud pria tersebut.
.
.
.
Makasih ya sudah mau mampir ke cerita aku makasih 🌹
__ADS_1
jangan lupa like komen biar aku tau ada yang baca ❤️