
Nara yang sudah memasuki ruangan Alvian, berjalan ke hadapan Alvian dengan sedikit senyuman di wajahnya.
Alvian mengeluarkan sebuah map kuning, berisikan berkas yang berasal dari divisinya.
"Apa kau yang membuat itu? "
Intonasi suara Alvian begitu meninggi, membuat Nara seketika terkejut.
"Ini bukan dari devisi kami Tuan. "
Alvian mengambil berkas itu, menatap intens wajah Nara.
"Ya sudah, kau kerjakan saja! " pintah Alvian.
Nara yang hanya bisa pasrah, membawa berkas itu berjalan menuju ambang pintu.
"Mau kemana kamu?! " teriak Alvian saat Nara sudah hampir meraih handle pintu.
"Mengerjakan ini, " ujar Nara.
Alvian menunjuk ke arah sofa yang berada di ruangan itu.
"Kerjakan di sana. "
"Tap-
"Duduk! "
Nara yang hanya bisa pasrah, berjalan mendekati sofa itu.
Victor yang hendak memasuki ruangan Alvian, mengurungkan niatnya saat melihat Nara yang berada di dalam.
"Nanti saja, " gumamnya.
"Tu-
Ucapan David terhenti, saat tangan Victor menahannya masuk kedalam. David sedikit melirik ke arah dalam, lalu mengikuti Victor menjauh dari sana.
"Tuan, apa anda melihat Nara? "
Ana menghentikan langkahnya, saat mendapati David yang juga berada di ruangan Victor.
"Sory. "
Diselimuti rasa malu, Ana berbalik arah keluar dari ruangan Victor.
"Ana! "
Kakinya berhenti melangkah, ketika suara Victor menggema memanggil namanya.
"Baiklah. "
Mendapat tatapan dari Victor, David berlalu keluar dari ruangan tersebut meninggalkan kedua insan tadi.
Ana mendekati meja Victor, melekat laporan di atas meja Victor.
"Hanya ini saja? "
Dengan penuh antusias dan senyuman yang mengambang, Ana mengangguk.
"Jadi, apa anda melihat Nara? "
"Iya, Nona ada di ruangan presdir. "
Ana berohiya, kemudian berbalik meninggalkan ruangan Victor.
Nara yang sudah menyelesaikan laporan tadi, menghampiri Alvian.
"Sudah selesai, " ujarnya.
Alvian mengambil berkas yang di letakkan Nara di atas meja, mulai memeriksa dengan teliti tanpa terlewat sedikit pun.
"Revisi, ini masih belum benar. "
__ADS_1
Nara yang tadinya sudah ingin keluar dari ruangan itu, berbalik arah mendekati Alvian lagi.
"Baiklah. "
Kembali ke tempatnya semula, Nara mulai memeriksa bagian mana saja yang menurut Alvian salah.
Setelah sudah menyelesaikan revisi yang di maksud Alvian, Nara menyodorkan berkas itu lagi.
"Revisi lagi, ini masih ada yang salah."
Dengan menarik nafasnya panjang, Nara melangkah kembali ke sofa namun, kali ini tidak dengan membawa berkas pada tangannya.
"Nara! " bentak Alvian.
Nara menahan tangisannya, tak mau menatap wajah Alvian.
"Berhentilah menangis, cepat selesaikan. "
Nara yang sudah sangat kesal dengan Alvian, mengambil berkas tadi melangkah keluar dari ruangan tersebut.
"Nara! "
Suara teriakan Alvian menggema mengikuti langkahnya sampai ke depan lift. Nara tampak mematung di sana, menatap kearah tangga yang menuju ke atas atap.
David yang melihat kepergian Nara menuju atap, kembali ke ruangan Alvian.
Dengan begitu tergesa-gesa, David memasuki ruangan itu yang sudah tidak menemukan keberadaan Alvian di sana.
"Kemana dia? "
David kembali melangkah keluar, mendekati ruangan Victor.
"Dimana tuan muda? "
"Mengejar Nona muda. "
Mendapat jawaban yang begitu melegakan, David kembali meninggalkan tempat itu tanpa suara lagi.
Di atas rooftop, Nara membejek-bejek berkas laporan yang tidak berdosa itu meluapkan kekesalannya.
Mendapati Alvian sudah berada di belakangnya, Nara memilih menjauhinya.
"Lihatlah, apa kau ingin menghindariku? "
Jantung Nara berdetak tak karuan, ketika Alvian sudah menghimpitnya diantara tembok.
"Menyingkir dariku! " bentak Nara kelepasan.
Alvian tersenyum smrik, menatap seluruh tubuh Nara dengan tatapan yang hanya dirinya saja yang tau.
"Aku tidak suka gadisku meninggikan suaranya, " telak Alvian.
Setelah berusaha payah mencoba lepas dari Alvian, Nara mendorong keras tubuh pria yang di yakini kekasihnya menjauh darinya.
"Ada apa denganmu?! "
Tak menjawab pertanyaan Nara, Alvian memilih melangkah menuju kursi yang berada di sana.
"Aku bersikap biasa saja. "
Nara yang sudah sangat menahan amarahnya, hendak berjalan meninggalkan rooftop. Namun, dengan cepat tangannya di cekal Alvian dengan keras.
"Lepaskan Alvian, sakit. "
Mendengar namanya di sebut lengkap, Alvian merasa dadanya menjadi panas.
"Kau begitu berubah Nara. "
Nara menepis kasar tangan Alvian, menatap lekat wajah kekasihnya tersebut..
"Aku, huh apa kau tidak sadar? sikapmu akhir-akhir ini seperti apa padaku?! Kenapa kau marah karena melihat foto itu? atau kau marah karena seseorang menolongku, ketika kekasihku sendiri tidak memperdulikanku?! "
Alvian tampak terdiam sejenak, Ia merasa bersalah menjauhi Nara.
__ADS_1
"Sudah ku bilang, aku tidak suka gadisku meninggikan nada bicaranya. "
Dengan dinginnya, Alvian menatap tajam wajah Nara yang sudah memerah menahan tangisnya.
"Kenapa kau muak denganku, katakan jika bosan bicaralah. Jangan seperti ini, " titah Nara.
"Apa maksudmu Nara? "
"Apa ada wanita lain yang kau sembunyikan? "
Seolah di sambar petir, Alvian tidak menyangka kata kata itu akan keluar dari mulut Nara.
"Apa yang kau bicarakan?! Sikapku seperti ini itu semua karena salahmu. "
"Kau pikir aku tidak sakit melihatmu bercumbu bersama pria lain, aku hampir gila Nara melihat foto itu. "
Meskipun dengan suara yang begitu pelan, Nara masih bisa merasakan kemarahan yang besar dalam diri Alvian.
"Sudah ku katakan berapa kali, Aku diculik dan dijebak. "
Alvian tersenyum pahit, menendang keras kursi yang berada di dekatnya hingga hancur menjadi kepingan reruntuhan.
Nara yang takut dengan amarah Alvian, memilih meninggalkan tempat itu tanpa memperdulikan berkas yang di bawanya tadi.
Melihat kepergian Nara, Alvian dengan segera berlari menahan tangan Nara yang hampir meraih handle pintu.
Chup
Satu kec upan di berikan Alvian dengan sedikit paksaan kepada bibir ranum Nara.
Tak hanya sampai di situ saja, Alvian juga melu mat kasar bibir Nara mengekspos setiap isi yang berada dalam rongga mulut Nara.
"Ahmm, " erang Nara, ketika pasokan udaranya sudah sangat menipis.
Tak memperdulikan hal itu, Alvian semakin menarik tengkuk Nara memperdalam ciu mannya.
Alvian melepas luma tannya, turun menelusuri leher jenjang Nara.
"Akh, " de sah Nara, ketika tangan Alvian sudah jauh memasuki bajunya dengan bibir Alvian yang masih setia meninggalkan bekas kepemilikan pada leher Nara.
Nara berusaha ingin menolak namun sayang, tubuhnya seolah membiarkan apa yang ingin di lakukan Alvian kepadanya.
"Aku tidak suka jika milikku di sentuh siapapun. "
Dengan berakhirnya Kalimat itu, Alvian juga melepaskan pengait bra Nara, yang begitu sangat menghalangi tangannya.
Alvian menggendong tubuh Nara, membawanya ke atas meja yang letaknya tak jauh dari sana, lalu kembali melu mat bibir Nara. Kali ini, lum atan itu begitu halus.
Dengan penuh ragu, Nara mulai membalas lum atan Alvian dengan tangan yang sudah terkalung pada leher kekasihnya.
Alvian melepaskan pangutannya, menatap intens wajah Nara.
Tangannya terangkat mengusap setiap bekas yang diberikannya pada leher jenjang Nara.
"Ini milikku, " ujar Alvian mengusap halus bibir Nara.
"Ini juga milikku. "
Tangannya kini sudah turun, menekan pelan gundukan kembar yang menempel pada da da Nara.
"A-Al, " ujar Nara terbata-bata, ketika tangan Alvian terus me re mas gun dukan tersebut.
"Aku mencintaimu sayang, " ujar Alvian.
Alvain memeluk erat tubuh Nara yang masih berada di atas meja, mengecup dalam kening gadisnya itu.
"Jangan pergi dariku, " tambah Alvian lagi.
.
.
.
__ADS_1
Makasih buat yang sudah mampir ke cerita aku 🌹
yuk komen sama likenya dong biar aku tau ada yang baca ❤️