Dicintai Tuan Muda Alviano

Dicintai Tuan Muda Alviano
81 Alvian vs Nara


__ADS_3

Mendapat serangan dari Nara, Alvian dengan cepat menghindar. Tak mau menyerang, Ia malah menunggu serangan dari kekasihnya.


“Akh, Alvian kok nggak lawan?” Penonton menyesal.


Ketika Nara hendak menyerang lagi, Alvian memeluknya erat menghujani pipi Nara dengan ciumannya.


“Wah, curi-curi kesempatan tuh!” hebo para penonton.


Nara langsung menyiku perut Alvian, berhasil lepas dari pelukan pria itu. Marah, tentu saja hal itu yang tengah di tampilkan wajah tampan Alvian.


“Nona, kakinya!” teriak David menggema.


Nara dengan gerakan cepat, menendang kaki Alvian membuatnya kehilangan keseimbangan dan jatuh.


“Kau ini mendukung siapa?” oceh Victor tak terima.


David terkekeh kecil, menatap wajah Victor dan Evan yang sudah memasang wajah masam padanya. Tiara yang melihat senyuman David, menjadi kepanasan dalam sekejap.


“Ada apa?” tanya Rani menatapnya.


Tak menjawab pertanyaan Rani, Tiara menyeruput minuman di sampingnya malu ketika pandangan keempat manusia di hadapannya beralih padannya.


“Kau benar-benar ingin menguji kesabaran ku?hmm, “ Alvian bangkit berdiri.


“Lemah, yah lemah saja, “ ledek Nara.


Alvian tersenyum smrik, menendang Nara. Namun, tendangannya meleset ketika gadis itu menghindar dengan cepat.


Para penonton setia mereka, sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan Alvian. Untung Nara menghindar, kalau tidak jantung mereka copot.


Berbeda dengan kelima orang dihadapannya mereka yang terkejut, Diandra dan juga Ridwan justru kecewa ketika Nara menghindar.


“Kau lumayan juga sayang, “ puji Alvian.


Tak mau tergoda dengan ucapan Alvian, Nara kembali memasang kuda-kuda menantang Alvian. Matanya tak sengaja, tertuju pada sebelah kanan kantong celana Alvian.


“Di sana.” Batinnya.


Nara menghalau pukulan Alvian, langsung memelintir tangan Alvian ke belakang tubuh kekasihnya. Namun, tenaganya tidak cukup besar. Alvian dengan satu putaran, merubah posisi mereka sekarang.


Mencuri kesempatan lagi, Alvian kembali meluncurkan ciumannya pada wajah Nara setelah berhasil menarik Nara mendekatinya.


“Pertarungan apa itu?!” protes Tiara.


Tak hanya Tiara, semua yang berada di sana juga ikut mengangguk mengiyakan perkataan gadis itu. Alvian berbalik menatap mereka dan tersenyum kecil, Nara mengambil kesempatan dalam situasi seperti itu, sedikit mendorong flash itu agar keluar dari kantong Alvian tanpa disadari pria itu.


Namun sayang, belum sampai berhasil mengeluarkannya Alvian memutar tubuhnya. Al hasil, Nara menginjak kaki Alvian melepaskan pelukannya.


“Kau yakin ingin melanjutkan lagi, “ ujarnya menantang maut.


Wajah Alvian memerah menahan amarahnya, cukup sudah Alvian kehabisan kesabarannya. Ia mengeluarkan senjata apinya, ketika Nara hendak menghajarnya Alvian dengan cepat menyodorkan benda itu pada keningnya.

__ADS_1


“Pengecut, “ cibir Nara.


Gadis itu menendang tangan Alvian, membuat senjata itu terhempas ke langit. Dengan gerakan cepat, Nara melompat menjemput senjata itu.


“Kembalikan, atau ku habisi kau!” ancam Nara, sembari menyodorkan pistol tadi pada Alvian.


Para penonton keduanya sedikit terkejut dengan aksi Nara namun, mereka senang dengan keberanian gadis itu. Sangat pilih kasih bukan, ketika tadi Alvian yang melakukan itu mereka seolah ingin bangkit membantu Nara. Sekarang Nara yang melakukan hal itu, sama sekali tidak ada yang peduli.


“Ayolah sayang, kau harus berusaha lagi.”


Bruk


Pistol milik Alvian itu, sudah terjatuh ke tana lalu tergelincir jauh ketika kaki Alvian menendangnya. Nara yang hendak mengambilnya lagi, dengan cepat pinggang rampingnya di peluk Alvian.


“Kau sangat menginginkan flash itu? Apa isinya?”


Chup


Lagi, dan lagi Alvian mendaratkan ciumannya. Namun kali ini, berbeda tempatnya kali ini Alvian meluncurkan beberapa kecupan pada leher Nara.


“Mesum!”


Bruk


Nara menghantam keras wajah Alvian, hal itu sama sekali tidak dipedulikan Alvian. Ia malah semakin gemas dengan gadisnya itu.


“KDRT,” ujar Alvian.


Sembari tersenyum kecil, Alvian mengarahkan pukulannya tepat pada wajah Nara. Namun, tidak sampai mengenai wajah gadisnya. Sejumlah hadirin yang berada di sana, menarik nafas lega. Mereka seolah senam jantung menonton pertarungan konyol itu.


“Huuu!” heboh para penonton.


Nara membuka matanya, langsung menginginkan tangan Alvian dari pahanya lalu menjauhi pria itu.


“Sudah ku katakan, rokmu akan menganggu mataku, “ goda Alvian.


Mendengar penuturan tak berguna Alvian, akhirnya Nara mengeluarkan senyumannya. Sedikit terpukau akan senyuman itu, Alvian membulatkan matanya ketika melihat tangan Nara menunjukkan Flashdisk itu sudah pada tangannya.


“Akh, rok ini sangat berguna, “ ujar Nara menatap lekat Alvian.


Tiara dan Rani, tertawa girang melihat keberhasilan Nara yang begitu cekatan dan rapih dalam mengambil kembali flashdisk tersebut.


“Kembalikan Nara!” ujar Alvian sedikit meninggikan suaranya.


Nara menggelengkan kepalanya, tersenyum meremehkan Alvian yang sedari mengejeknya. Ia memungut tasnya, mendekati Tiara. Alvian yang tidak terima akan kekalahannya, kembali mendekati Nara.


Bruk


Menyadari kehadiran Alvian di belakangnya, Nara berbalik menendang kuat perut Alvian sampai Ia tersungkur jauh.


“Ayok Nara!”

__ADS_1


Tiara menarik tangan Nara, berlari menuju mobilnya. Sedangkan tiga orang itu, hanya menatap bingung ingin mendekati siapa terlebih dahulu. Ketika mobil Tiara melaju keluar pagar, Alvian bangkit dan hendak mengejar. Namun, Evan dan Victor dengan cepat menghentikannya.


“Sudahlah Al, dia kekasihmu. Apa kau ingin menghabisinya juga?!”


Alvian mengusap kasar wajahnya, menatap lekat ipar dan juga asisten yang tengah berkhianat padanya saat ini.


“Apa kalian tau? Flashdisk itu dari Osman, isinya data-data penting tentang beberapa perusahaan yang dulunya bekerja sama dengan Jovanka grup!” kesal Alvian.


“Tapi kenapa Nara menginginkan benda itu?” bingung Evan.


“Mana aku tau,Bram kejar mobil Tiara!”


Ketika melihat Bram yang baru saja memasuki kawasan rumahnya, Alvian dengan cepat memerintahkan agar Bram menyusul para gadis itu.


Tak tinggal diam saja, saat David sudah memutar mobilnya dengan segera Alvian memasukinya lalu David melaju mengikuti jejak Nara dan Tiara.


Victor dan juga Evan yang tidak ingin diam saja, langsung bergerak menuju taman belakang tepatnya menuju markas mereka.


Sialnya, Alvian yang tadi sempat tidak bisa mengendalikan emosi berteriak soal flashdisk itu. Diandra tersenyum lebar, melangkah mundur kedalam rumah menekan beberapa tombol pada ponselnya mengirimkan pesan pada seseorang.


“Tuan, hati-hati mereka sepertinya akan masuk ikut masuk.”


Victor mematikan ponselnya setelah mengirimkan pesan pada Alvian, bergerak menyusul Evan setelah menangkap basah Diandra.


Mendapat pesan seperti itu dari Victor, semangat dalam diri Alvian semakin menggebu-gebu ingin segera bertemu orang suruhan Diandra.


“Bram, cepat temui mereka. Akan ada musuh yang menyerang gadisku, “ ujar Alvian pada ponselnya.


“David, seperti di depan kita akan mendapatkan musuh.” Alvian meletakkan ponselnya di sembarang tempat, sedikit memajukan tubuhnya mendekati kursi kemudi.


Helaan nafas panjang, begitu nyaring terdengar pada telinga David. Mereka akan sangat kecapean hari ini. Dan yah, benar saja dalam dua puluh menit perjalanan mereka di hadang segerombolan musuh.


Tak hanya Alvian dan David, Nara bersama Tiara maupun Bram juga bertemu dengan musuh dalam perjalanan.


“Apa mereka suruhan Alvian?” Nara menatap wajah Tiara.


“Mereka musuh Alvian, Nara.”


Keduanya begitu takut ketika melihat sosok para pria-pria tersebut, mendekati mereka dengan berbagai jenis senjata di tangan mereka. Keduanya terkejut hebat, ketika ponsel Nara berbunyi. Melihat nama yang tertera di sana, Nara mengusap layar ponselnya.


“Ada aku bersamamu.”


.


.


.


Hai pembaca setiaku...


Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.

__ADS_1


Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.


makasih 🌹


__ADS_2