
Nara bersama dengan Victor, memasuki sebuah rumah yang cukup sederhana di tengah kota.
“Rumah siapa ini Victor?” tanya Nara.
Belum sempat pertanyaan di jawab, keduanya di kejutkan dengan kehadiran Alvaro bersama Tiara yang secara tiba-tiba memasuki ruangan itu.
“Mereka juga sudah tiba, Nara kau duduklah!” titah Victor.
Nara sama sekali tidak mengerti dengan apa semua ini, Ia pasrah mengikuti perkataan Victor duduk di antara Alvaro dan juga Tiara.
Victor masuk kedalam sebuah ruangan, lalu keluar dengan membawa sebuah map yang entah apa isinya hanya dia saja yang mengetahuinya.
“Kau, bisa buka itu.”
Nara sedikit melirik kedua orang di sampingnya, kemudian mengambil map itu. Baru beberapa detik memegang kertas yang telah Nara keluarkan dari map, Ia langsung meletakkan kembali keatas meja.
“Aku nggak bisa!” Nara bangkit dari duduknya.
Tiara yang juga sama-sama bingungnya seperti Nara, langsung meraih kertas itu membaca keras isinya.
“Surat kuasa penggantian posisi Presdir utama Jovanka grup, Winara Atmaja menggantikan posisi Alvian menjadi direktur!”
Alvaro yang tadinya berpikir itu hanya surat biasa dari Alvian, terkejut bukan main ketika surat itu adalah surat kuasa penggantian posisi Alvian untuk sementara waktu.
“Mau tidak mau, kau haru tetap melaksanakannya Nara, “ ujar Victor santai.
“Nggak, kenapa dia harus memberikan aku beban seberat ini?!” serkah Nara, tak mau menggantikan posisi Alvian.
“Kenapa bukan Evan saja?” tanya Alvaro, dengan mata yang masih terus meneliti isi surat itu.
“Sudah kami usulkan, tapi Alvian hanya mau Nara seorang. Sebab, “ ucapn Victor menggantung, ketika sadar dirinya hampir membeberkan semuanya di depan Alvaro.
“Intinya, Alvian hanya mau Nara yang menggantikan posisinya!” tukas Tiara, membantu Victor yang sudah hampir tertangkap basah.
Nara meraih ponselnya, hendak menelpon Alvian. Namun, Ia mengurungkan niatnya tak ingin menghubungi pria itu lagi.
“Maaf Victor, aku tidak bisa.” Putus Nara bulat, bukan datar.
Victor yang sama sekali tidak memperdulikan perkataan kekasih bosnya itu, meletakkan tabnya di atas meja lalu menekan tombol speaker sehingga semua penghuni ruangan itu bisa mendengar suara dari tab itu.
“Silahkan bicara tuan, “ ujar Victor.
“Nara, apapun yang terjadi kau tetap harus menggantikan aku.”
Mendengar suara yang begitu familiar di telinganya, Nara yang tadinya sudah hendak pergi menghentikan langkahnya.
“Aku tidak menerima penolakan Nara, hanya dirimu yang aku percaya saat ini.”
Mau sekeras apapun Ia berusaha untuk menyembunyikan rasa rindunya, tetap saja hal itu terpancar jelas lewat bulir-bulir berharga yang keluar dari matanya.
“Cukup Alvian, aku tidak bisa!” bentak Nara.
“Tidak Sa-
Belum sempat Alvian menyelesaikan perkataannya, sebuah suara memenuhi panggilan itu dengan begitu jelas.
__ADS_1
“Al, apa kau tidak ingi makan?”
Alvian langsung memutuskan panggilannya. Mendengar ada suara wanita dalam panggilan itu, Nara meneteskan air matanya. Hatinya sakit, kekasihnya bersama wanita lain di sana.
“Victor, aku mau menggantikan posisinya.”
Mendengar penuturan dari Nara, Victor menggulum senyumannya. Sedangkan Alvaro dan juga Tiara, keduanya bingung harus bereaksi apa sekarang?!.
“Kau yakin Nara?” tanya Alvaro, memastikan.
Nara dengan cepat mengangguk antusias, mengiyakan pertanyaan Alvaro. Pria itu bangkit dari duduknya, diikuti oleh Victor dan juga Tiara.
“Okey Nona direktur, kami siap membantu anda. Mari!”
Dengan mendahului ketiga orang itu, Nara melangkah keluar rumah itu mendekati mobil Alvaro. Setelah semuanya sudah berada dalam mobil, Victor melajukan benda itu menuju Jovanka grup.
“Aku membencinya.” Batin Nara.
...***
...
Entah apa yang sedang di lakukannya saat ini, Ridwan bersama beberapa petinggi perusahaan Jovanka grup, memasuki Aula yang sudah di penuhi seluruh karyawan dari Jovanka, dan juga Sanders grup di sana.
“Ayah, apa ayah sudah membicarakan ini dengan Alvian?” Evan menghentikan langkah Ridwan.
“Dengar Evan! Ini juga perusahaan ku, Aku tidak butuh izin dari Alvian.”
Ridwan kembali melangkah, menuju Aula. Sedangkan Evan, terus mengusap ponselnya mengirimkan pesan pada Victor dan juga Alvaro yang belum tiba.
“Ayolah, kemana kalian?” risau Evan.
Evan yang sedikit berlari, memasuki lift. Di dalam sana, sudah terdapat Bianka dan juga beberapa karyawan lainnya. Saat melihat sosok Evan memasuki lift, Bianka dengan cepat mengirimkan pesan pada seseorang.
“Sepertinya Evan juga hadir dalam pertemuan ini.”
Bianka tersenyum smrik, lalu menunjukkan ekspresi biasa saja sampai pintu lift terbuka.
Di dalam aula Jovanka grup, terlihat semua para karyawan bersama jajaran dan juga petinggi perusahaan sudah berkumpul di sana.
“Bagaimana Ridwan, apa kita sudah bisa memulainya?” tanya Mario, salah seorang petinggi perusahaan.
“Sebentar lagi, pengacara belum tiba.”
Ridwan terus mengecek jam tangannya, tak menjelang lama Diandra dan juga Roseta bersama Lian memasuki aula itu.
“Hello Mr. Lian, apa kabar?” ujar seorang petinggi perusahaan Jovanka, mengulurkan tangannya menyambut kedatangan mereka.
“Baik-baik, “ sahut Lian penuh keramahan.
“Dia putri sulung anda?”
“Yah, seperti yang kalian lihat.”
Roseta tersenyum, menanggapi seluruh perkataan yang tertuju padanya. Tak hanya para petinggi perusahaan saja, tapi seluruh karyawan Jovanka tengah berdesas-desus membiarkan tentang berita Waktu itu.
__ADS_1
“Bukannya, dia yang di beritakan Waktu itu?” bisik Ana, pada Meri, Sendri, dan juga Ria.
“Iya benar, tunggu kemana Nara?”
Mereka berempat yang tadinya sedang duduk tenang, kini menjadi khawatir saat Nara belum juga muncul dalam tempat duduknya.
“Iya, dia belum ada.”
Mata mereka tertuju hanya pada pintu, hingga akhirnya Evan bersama seorang wanita yang diduga pengacara milik Jovanka memasuki aula.
“Nara, muncullah, “ ujar Ria.
Ketika Evan dan juga pengacara tersebut sudah menduduki kursi di sana, Ridwan dengan penuh kewibawaan bangkit berdiri membuka pertemuan tersebut.
“Selamat pagi semua, saya selaku Ridwan Jovanka membuka pertemuan hari ini, dalam rangka pembahasan pergantian Alvian dalam menjalankan perusahaan ini untuk sementara waktu.”
Pidato singkat dari Ridwan berakhir, dengan mengetuk palu sebagai tanda pembukaan acara tersebut.
“Untuk selanjutnya, ini ada sambutan dari Mr. Li-
“Tidak Ridwan, langsung saja pada pembahasannya. Saya tidak punya banyak waktu di sini, “
Seorang wanita yang diduga pengacara tersebut, memotong pembicaraan Ridwan yang ingin meminta Lian memberikan sambutan. Seketika, seisis ruangan menjadi riuh dengan banyak bisikan dari para hadirin.
“Karena pengacara kita tidak punya banyak waktu, maka saya langsung saja pada intinya, “ ujar Ridwan.
Diandra bangkit dari duduknya, menggantikan posisi Ridwan. Evan memijat pelipisnya, melihat tingkah konyol kedua mertuanya itu.
“Sangat memalukan, “ gumam Evan.
“Diamlah Evan, bukankah ini sangat seru?!” ujar Tika menanggapi perkataan Evan yang sempat Ia dengar, karena jarak keduanya tidak terlalu jauh.
“Para hadirin sekalian, kami sudah menentukan siapa yang akan menggantikan posisi Alvian. Maka dari itu, kami meminta persetujuan petinggi perusahaan ini agar tidak ada yang bisa menggangu gugat keputusan ini, “ ujar Diandra lantang.
“Tika, bisakah aku menghilang sekarang juga.” Tika tersenyum kecil menanggapi perkataan Evan.
“Jadi Tika, kami sudah menentukan Roseta yang akan menggantikan Alvian.”
Mendengar hal itu, ada yang senang ada juga bingung dan juga ada yang tidak terima dengan keputusan Diandra dan Ridwan.
“Bagaimana Tika, dan para petinggi perusahaan?”
“Berhenti!”
Semua mata tertuju pada pintu, yang menampilkan seorang rang pria tengah berdiri di sana dengan sebuah map di tangan.
.
.
.
Hai pembaca setiaku...
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
__ADS_1
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.
makasih 🌹