
Nara yang terduduk di trotoar, mengangkat kepalanya saat tangan seorang gadis menyentuhnya.
"Ara, " ujar gadis itu.
Nara tanpa menunggu lagi, memeluk erat tubuh gadis tersebut.
"Mar, aku merindukanmu."
Tangisnya kembali pecah, saat berada dalam dekapan gadis yang ternyata adalah sahabatnya Marni.
"Kemana saja kau?" tanya Nara melepaskan pelukannya menatap Marni.
Hanya senyuman yang diberikan gadis itu, lalu melirik kearah seorang pria yang menggendong bayi mendekati mereka.
"Aku harus pergi jauh dari kota, semua ini demi keamanan suami dan juga bayiku."
Nara sedikit terkejut dengan penuturan Marni, sahabatnya sudah menikah Ia sendiri tidak tau akan hal itu.
"Kapan kau menikah? Lexi, kenapa kalian tidak mengundangku?"
pertanyaan beruntun dari Nara, membuat kedua pasangan itu hanya tersenyum menatapnya.
"Ayok kita ke sana, " ujar Lexi menunjuk tempat duduk yang tidak jauh dari mereka.
Nara mengambil alih bayi Marni dan Lexi, menggendongnya dengan penuh semangat.
“Apa dia benar-benar anakmu?”
Marni berdengus kesal dengan perkataan Nara, memukul pelan gadis itu. Lexi hanya terkekeh melihat tingkah istrinya dan juga sahabatnya.
“Tentu saja Nara, “ jawab Lexi.
“Hai cantik, siapa namamu, “ ujar Nara mencubit gemas pipi bayi itu.
Nara mengembangkan senyumnya, ketika bayi itu tertawa menatapnya.
“Lihatlah Mar, dia tersenyum padaku,” hebo Nara.
Seketika, kejadian tadi bersama Alvian seolah hilang begitu saja dari pikirannya. Nara kini tertawa terbahak-bahak sembari menggendong bayi Marni dan Lexi.
“Ceritakan apa yang terjadi? Kenapa kalian harus menjauh dari kota?”
Nara mendekati kedua pasangan itu, dengan bayi Marni masih pada gendongannya. Marni menatap sekilas Lexi, lalu menarik Nara duduk di sebelahnya.
“Sejak wisuda itu,
Flashback on
“Bi, ayok kita ke rumah sakit, “ ujar Marni panik, ketika prosesi wisuda telah selesai di laksanakan.
Namun, Bianka sama sekali tidak mau mengikuti perkataan Marni. Ia melepaskan tangan Marni dari lengannya.
“Kau saja yang pergi, “ ujar Bianka.
“Bi, Nara sahabat kita. Kenapa kau tidak ingin kesana? Paman Firman sangat baik pada kita.”
“Aku malas Mar, apa dengan kehadiran kita dia akan langsung pulih?”
Marni sudah tidak tau lagi apa isi pikiran wanita itu, Marni memilih pergi sendirian menuju rumah kediaman Atmaja.
__ADS_1
Ketika tiba di sana, rumah Nara sama sekali tidak berpenghuni. Beberapa kali Marni berteriak, sama sekali tidak ada yang menjawab.
“Mereka sedang pergi!” ujar Fitri yang sudah tidak tahan dengan suara Marni.
Akhirnya, Marni memilih meninggalkan tempat itu. Marni tidak tau Firman di rawat dimana? Sudah beberapa kali Ia menghubungi nomor Nara maupun Rian, sama sekali tidak ada jawaban dari keduanya.
“Besok aku akan ke sini lagi, “ ujar Marni.
Marni memutar motornya, melaju meninggalkan rumah Nara. Setelah kepergian Marni, terlihat Gino dan juga Ani, mendekati rumah itu. Namun, apa yang mereka lakukan tidak ada yang tau.
Seminggu kemudian,
Marni dan Lexi di barengi tawa di antara keduanya, memasuki sebuah pusat perbelanjaan. Kaki keduanya berhenti melangkah, ketika melihat Ani dan juga Bastian tengah bercumbu di sela-sela rak minuman.
“Bastian!” teriak Marni menghampiri keduanya.
Bastian yang melihat kehadiran Marni, mendorong tubuh Ani menjauhinya. Panik, tentu saja panik Bastian tertangkap basah oleh Marni dan juga Lexi.
Plak
Satu tamparan mendarat pada pipi Bastian, Marni menatap tajam keduanya dengan amarah menggebu-gebu.
Bastian tidak membalas perbuatan Marni, Ia tersenyum saat Bianka sedari tadi memperhatikan apa yang dilakukan Marni padanya.
“Bi, dia selingkuh, “ ujar Marni mendekati Bianka.
“Diam Marni! Aku kecewa padamu.”
Bianka mendorong tubuh Marni, mendekati Bastian mengusap lembut pipi kekasihnya bekas tamparan Marni.
“Jangan dekati aku lagi!”
Mendengar hal itu, Lexi yang sudah kehabisan kesabarannya menarik Marni meninggalkan tempat itu. Sejak hari itu, kehidupan keduanya tidak tenang mereka selalu di teror oleh pria misterius.
“Loh, buat apa ma?”
“Mereka ingin membahas tentang teror yang terjadi ini.”
Tak menjelang lama, mobil keluarga Lexi terparkir di halaman rumahnya. Citra ibunya Marni, bergegas menghampiri mereka.
“Mari masuk jeng Vina,” ujar Citra menyambut kehadiran keluarga Lexi.
Marni yang tadinya berpikir itu hanyalah sebuah candaan dari Citra, terkejut saat kekasihnya sudah ada di ruang tamu.
“Marni, sayang, ayok kesini!!” teriak Citra.
Marni dan juga Romi, secara bersamaan menuju ruang tamu. Kedua ayah dan itu, di sambut senyuman ramah dari Vina dan juga Wiliam,kedua orang tua Lexi.
“Apa kabar tuan Romi, “ sapa Wiliam basa-basi.
“Baik, anda sekeluarga bagaimana?”
“ Seperti yang anda lihat.”
Para orang tua begitu asik berbincang-bincang, sampai melupakan kedua anak mereka yang hanya menjadi penonton setia tanpa suara.
“Sesuai dengan perkataan kita kemarin, kami ingin agar pernikahan keduanya di percepat saja, “ujar Wiliam ayah Lexi.
Marni sama sekali tidak mengetahui hal itu, jika tentang pernikahan keduanya memang sudah ada rencana sebelumnya. Tapi untuk pemajuan waktunya, dirinya memang tidak tau.
__ADS_1
“Kenapa mendadak paman? Lexi apa kau mengetahui hal ini?”
Pertanyaan beruntun dari Marni, membuat Lexi kekasihnya mengangguk mengiyakan pertanyaannya.
“Nak, jika tidak di percepat kalian akan dalam bahaya, “ ujar Vina.
“Ia sayang, setelah kalian menikah ayah akan mengirim kalian ke vils kita di ujung kota. Sampai semuanya tenang, barulah kalian kembali, “ jelas Romi.
Marni yang awalnya ingin menolak, seketika terdiam mendengar perkataan ayahnya. Dan tiba-tiba saja, mereka di kejutkan dengan bunyi kaca yang pecah.
Dengan cepat, Lexi berlari keluar rumah. Namun sayangnya, Ia tidak menemukan apapun di sana.
“Siapa Lex?” tanya Vina.
“Pelakunya kabur, “ ujarnya.
Marni melirik sekilas kearah jalan, mendapati mobil Bianka di sana. Ia dengan cepat mengejar mobil itu.
“Marni!” teriak semuanya panik.
Tak memperdulikan teriakan mereka, Marni terus berlari mengejar mobil Bianka. Namun, dari saat sudah hampir mendekati mobil itu Ia terpaksa menghentikan langkahnya, saat sosok dalam mobil itu ternyata bukan Bianka.
Ponsel Marni seketika berdering, gadis itu mengeluarkan ponselnya dari dalam kantongnya lalu mengecek siapa yang pengirim pesan.
“Nomor tidak di kenal, “ gumamnya.
[Teror ini akan terus berlanjut, itu akibat dari ulahmu mencampuri urusan adikku]
Marni jadi paham akan semuanya, jika ini adalah perbuatan Bianka. Tapi apa alasan Bianka? Marni sendiri masih bingung.
Bahkan di hari pernikahannya bersama Lexi, teror itu terus ada Mengganggu setiap acara yang di gelar selama dua hari itu.
“Apa pelakunya sudah di temukan?” tanya Lexi pada salah seorang teman yang kebetulan adalah seorang polisi yang bernama Andi.
“Apa Marni punya teman lain, selain Bianka?”
Marni sedikit menatap Lexi, kemudian mengangguk mengiyakan perkataan Andi.
“Nara namanya, “ ujarnya.
“Ini semua ada kaitannya dengan Nara.”
Mendengar penuturan Andi, Marni tampak terdiam sejenak. Ia ingin menghubungi Nara namun, nomor gadis itu sama sekali tidak bisa di hubungi.
Flashback off
Nara terdiam lama, meresapi perkataan Marni. Selama ini, Ia sama sekali tidak memiliki musuh. Apa ini ada kaitannya juga dengan Alvian?
Pikirannya berkalut beberapa saat, kemudian pandangnya menatap kearah depan dengan langkah kaki yang sudah mendekati bibir pantai.
.
.
.
Hai pembaca setiaku...
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
__ADS_1
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.
makasih 🌹