
Jovanka grup
Dengan penuh pesona dan pamor, kemanapun Alviano melangkah seluruh mata akan selalu tertuju padanya. Begitu terkenalnya Ia, hingga pebisnis luar negeri bahkan rela menjual anaknya hanya untuk bekerja sama dengannya.
“Maaf Tuan Milor saya tidak bisa menerima putri anda menjadi istri saya, “ tolaknya lalu meninggalkan ruang tersebut tanpa menunggu lagi.
Yah hampir seminggu ini, tawaran yang sama selalu di dapatnya dan selalu di jadikan alasan dalam bekerja sama.
“David lain kali jika ingin mengadakan kerja sama, di lihat-lihat dulu apa dia punya anak atau tidak paham kamu! “ tegas Alvian kepada asistennya itu agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi.
“Yah saya bisa apa tuan muda, jika apa yang di tawarkan sangat baik bagi masa depan anda, “ jawab David yang seketika menghentikan langkah kaki Alvian.
“Masa depan matamu, apa kau tidak lihat bagaimana kelakuan putri mereka?! “ kesal Alvian yang dengan cepat menekan tombol lift meninggalkan David di luar.
Sedangkan David yang masih di luar, terkekeh geli dengan tingkah tuannya itu sesat sebelum dirinya ikut menyusul Alvian.
Alvian yang sudah berada di mobil, menunggu kedatangan David dengan mengotak-atik ponselnya, Winara nama tersebut seketika muncul dalam benaknya. Dengan segera Alvian mencari kontak Nara, lalu mengirimkan pesan singkat.
...MINE 🌹
...
[Sedang apa? ]
Tak menjelang lama, ponselnya kembali berdering dan mendapat balasan dari gadis itu.
[Bersiap-siap, ]
...[Mau kemana? ]...
[Entahlah, ]
...[Temui aku di taman dalam tiga puluh menit! ]...
[Baiklah, ]
Setelah mendapat balasan dari Nara yang mengiyakan ajakannya, Alvian segera menutup ponselnya bertepatan dengan kedatangan David.
“Ke taman, “ pintah saat David baru saja menutup pintu mobil. Karena tidak ingin banyak bicara, David hanya mengangguk mengiyakan perkataan tuanya.
Sementara di kediaman Atmaja, Nara dengan terburu-buru menyisir rambutnya lalu berjalan keluar rumah.
“Mau kemana dia? “ gumam Rian penasaran kemana kakanya pergi.
Setibanya di taman, Nara mencari ke sana kemari namun tidak menemukan keberadaan Alvian. Ia memutuskan untuk duduk di sebuah bangku yang ada di sana, sembari menunggu kedatangan Alvian.
Namun, entah di sengaja ataupun tidak Gino mantan kekasihnya menghampirinya, kali ini Gino tidak bersama Ani Ia seorang diri saja.
“Ara, “ suara lantang Gino seolah mengusik ketenangan Nara.
__ADS_1
Debaran jantungnya berdegup tak beraturan bertepatan dengan tatapan manik Gino yang berada di hadapannya.
Seketika Nara bangkit dari duduknya menatap tajam ke arah Gino yang tersenyum.
“Aku merindukanmu Nara, “ ujar Gino menarik Nara masuk kedalam dekapannya.
Dengan susah payah, Nara melepaskan pelukan Gino namun, pria gila itu kembali menariknya ke pelukannya.
“Kau pulang saja David, “ pintah Alvian mengeraskan rahangnya ketika melihat Nara dalam dekapan Gino.
“Tapi tuan, “ serka David sebab Ia tau apa yang akan terjadi jika Ia membiarkan Alvian menemui Nara.
“Aku bilang pulang DAVID! “ bulu yang berada di sekujur tubuh David seketika tegang ketika teriakan Alvian masuk menembus pendengarannya.
Dengan mengangguk kecil, David keluar dari mobil Alvian dan berjalan pulang. Sedangkan Alvian, pria tersebut meremas kedua tangannya kuat membuka pintu mobil dan berjalan menuju Nara.
“Lepaskan aku! “ bentak Nara mendorong kasar tubuh Gino hingga Ia terpental beberapa langkah.
“Beraninya kau, “ ujar Gino dengan mengangkat tangannya ingin mengarahkan ke Nara namun, dengan cepat di tahan Alvian.
Buk
Satu pukulan keras berhasil mendarat tepat di wajah Gino, membuat sudut bibirnya mengeluarkan cairan merah.
“Beraninya kau menyentuh gadisku, “ ujar Alvian dengan santainya namun, nada suaranya terdengar begitu menakutkan.
Buk
Buk
Seolah tak menghiraukan perkataan Nara, Alvian terus menghantam tubuh Gino tanpa ampun. Nara yang tak kuasa melihat Gino tidak berdaya, berlari melindungi pria itu.
“Cukup! Aku mohon hentikan, “ Alvian yang sudah hampir melayangkan pukulannya lagi, seketika tangannya tertahan di udara di kala Nara yang berada di hadapannya.
“Argggh! Ikut saya, “ kesal Alvian menarik tangan Nara menuju mobilnya, meninggalkan Gino yang terkapar lemah.
“Lepaskan aku, “ ujar Nara mencoba melepaskan genggaman Alvian darinya.
Namun, kekuatannya tidak lah sebanding dengan Alvian. Sekuat apapun Ia berusaha Ia tidak akan bisa lagi lepas dari genggaman pria itu.
“Kenapa? Apa kau ingin membantu? Hah, “ bentak Alvian.
Nara yang di bentak seperti sedikit menjauh dari Alvian. Seketika, air matanya jatuh begitu saja. Baru kali ini, ada yang membentaknya seperti itu bahkan Rian sekalipun tidak pernah berteriak kepadanya.
“Maafkan aku Nara, “ ujar Alvian lembut.
Ia menarik Nara kedalam pelukannya namun, gadis tersebut mendorongnya keras dan berlari menjauh darinya.
“Sial! “ umpat Alvian yang dengan segera masuk kedalam mobilnya menyusul Nara.
__ADS_1
Dengan sekuat tenaga Nara berlari menjauh, hingga Ia sendiri tidak tau kemana Ia pergi.
Tiba-tiba datang sebuah mobil putih mendekatinya, turunlah dua orang pria berbadan tegap lalu menutup mulutnya dengan sapu tangan.
“Hmmm hmmm. “
Meski berusaha melepaskan diri namun, kekuatannya secara drastis melemah akibat obat bius yang sudah mulai bekerja.
Alvian yang sedari tadi berusaha menyusul Nara, kehilangan jejak gadis itu. Dengan kesalnya Ia memukul stir mobilnya, lalu melaju menuju kediamannya.
Sementara di kediaman Jovanka, Rani yang sedari tadi asik menikmati udara sore dengan di temani segelas teh, di kejutkan dengan sebuah vas bunga yang sengaja di banting.
Seluruh pengawal Alvian berusaha melindunginya dari beberapa orang yang menyerbu kediaman Alvian menggunakan senjata api.
“David lindungi Nona Rani, biar mereka saya yang urus! “ pintah Victor yang baru saja muncul.
“Ayok Nona ikut saya, “ ujar David menuntut Rani menuju tempat persembunyian.
Bruk
Namun, tanpa di sadarinya musuhnya melempar kepalanya menggunakan vas bunga. David yang sudah tidak sadarkan, tidak bisa menolong Rani yang sudah di bawa pergi oleh musuhnya.
“GPS! “ teriak Rani kepada Victor sebelum akhirnya pingsan akibat obat bius.
“Alvian, Rina! “ teriak Victor saat melihat Alvian yang baru memarkirkan mobilnya.
Dengan cepat, Alvian mengejar penculik yang membawa Rina. Namun, Ia kalah cepat mobil tersebut sudah pergi jauh.
“Bram kejar mereka! “ teriak Alvian kepada pengawalnya itu.
Bram menghidupkan motornya lalu bergegas mengejar komplotan pria yang menculik Rina.
Beberapa menit kemudian, Bram kembali dan langsung berlari menuju ke arah Alvian dan juga Victor yang tengah menatap David yang masih belum sadar.
“Bagaimana? “ tanya Alvian.
“Mereka berhasil lolos tuan, tapi di pertigaan dekat bundaran aku melihat mereka memindahkan seorang gadis ke mobil yang sama dengan Nona Rani tuan, “ jelas Bram.
Ingat Alvian langsung tertuju pada Nara. Ia mengusap wajahnya kasar, bagaimana bisa kali ini dirinya kecolongan. Dua wanita berharganya di renggut sekaligus di hari yang sama.
.
.
.
.
BERKOMENTARLAH DENGAN BIJAK
__ADS_1