Dicintai Tuan Muda Alviano

Dicintai Tuan Muda Alviano
Bab 11 Di temukan


__ADS_3

Setelah kepergian Gino dan Maya, di dalam kamarnya Nara menatap dirinya sembari tersenyum kearah kaca.


“Setidaknya aku sudah bisa tersenyum di saat aku membayangkan pengkhianat mu, “ gumam Nara.


“Kenapa dia bodoh sekali? “ kesal Rian.


“Berhentilah kesal, sekarang lihat siapa yang di depanmu Rian? Kau bahkan tidak memperkenalkannya pada kami, “ ujar Tina menatap kagum Alvian.


Alvian tersenyum lalu mengulurkan tangannya, “ Aku Alviano Jovanka. “


Tina mengusap tangannya di bajunya, lalu menerima uluran tangan Alvian dengan senyuman.


“Aku Tina, dan ini Firman. Kami orang tua Rian dan juga Nara, “ ujar Tina menjelaskan.


Firman yang ingin mengulurkan tangannya, di pukul istrinya.


“Lihatlah tanganmu kotor, sana cuci dulu, “ ujar Tina.


Namun, Alvian dengan cepat menarik tangan Firman dan berjabatan membuat Firman tersenyum menang.


“Eh apa yang kau lakukan tanganmu bisa kotor, lepaskan! “pintah Tina yang berjalan ke arah dapur.


Sesaat kemudian Ia kembali dengan membawa kain putih yang sudah di basahi dengan air lalu mengusap tangan Alvian.


“Dih, giliran kak Alvian aja di perlakukan seperti itu, “ oceh Rian melihat tingkah Tina.


“Benar, bahkan ayah juga nggak pernah tuh seperti itu, “ sambung Firman yang langsung mendapat tatapan tajam dari Tina. Sedangkan Alvian hanya terkekeh dengan keharmonisan keluarga itu.


“Apa saya bisa ke kamar Nara? “ tanya Alvian yang langsung mendapat tatapan tidak biasa dari keluarga Atmaja.


“Sejujurnya aku tidak bisa membiarkan mu memasuki kamar putriku namun, aku percaya padamu, “ ujar Firman yang di akhir kalimat Ia sedikit berbisik.


Setelah mendapat persetujuan dari orang tua Nara, Alvian berjalan kearah kamar Nara.


“Ayah kok, “ ujar Rian menggantung ucapannya.


“Kapan lagi dapat mantu cakep, iya nggak Bu, “ angguk Tina menyetujui perkataan suaminya.


“Perdagangan Anak, “ ujar Rian sesaat, lalu menekan remote menonton film horor kesukaannya.


Alvian dengan perlahan membuka pintu kamar Nara, Nara yang melihat kedatangannya hanya bisa menatapnya tanpa suara.


“Sedang apa? “ tanya Alvian saat sudah berada di hadapan gadis itu.


Mata Alvian menyapu seisi kamar yang bernuansa putih dengan beberapa coretan di dinding.


“Mengapa kau begitu ingin di dekatku? “ tanya Nara yang seketika mengalihkan pandangan Alvian dan menatapnya.


“Karena dalam matamu, aku melihat ada sosok yang begitu aku rindukan di dalamnya, “ ujar Alvian.


“Siapa? “


“Semesta, kebahagiaan, lukaku, senyumanku, bahkan hidupku, ada di balik manik matamu, “


“Sayangnya aku tidak yakin, “ ujar Nara yang ingin pergi namun, dengan cepat Alvian menariknya.


Chup


Satu kecupan mendarat tepat di bibir ranumnya, yang seketika membuat pipinya bersemu merah.

__ADS_1


“Ciuman pertamaku, “ ujar Nara membuat Alvian membulatkan matanya.


“Apa yang kau katakan? “ tanya Alvian membuat Nara berdecak kesal.


“Pake tanya lagi, kau mencuri ciuman pertamaku, “ ujar Nara lalu berbalik memunggungi Alvian.


Alvian mengangkat kedua sudut bibirnya mendengar perkataan Nara, Alvian mengira dirinya orang kesekian yang mengecup bibir Nara namun ternyata salah, dirinyalah yang pertama.


“Tapi itu bukan ciuman Nara, itu hanya kecupan. Apa kau mau aku ajarkan apa itu ciuman yang sesungguhnya hmm? “ ujar Alvian berbisik di telinga Nara membuat darah dalam diri Nara berdesir hebat.


“Ya, ini rumahku aku bisa membunuhmu kapan saja paham! “ ujar Nara marah namun, bagi Alvian Ia begitu menggemaskan.


...****...


Gino dan Maya yang telah berhasil memorot Nara, tengah melaju menuju pasar. Namun sialnya, keduanya mengambil jalan yang salah dimana banyak pepohonan tanpa adanya penghuni.


“Ada apa? “ tanya Maya, saat putranya tiba-tiba saja menghentikan mobil secara mendadak.


“Astaga siapa mereka Gino? “ tanya Maya, saat melihat beberapa pria bertubuh besar mengepung mobil mereka.


“Keluar! “ teriak salah satu dari mereka mengetuk kaca mobil.


“Mama tunggu disini, biar aku yang turun, “ ujar Gino lalu membuka pintu mobilnya.


“Ada apa? “ tanya Gino saat sudah berada di hadapan pria tersebut.


Buk Buk


“Gino! “ teriak Maya saat melihat putranya di pukuli.


Setelah selesai menghajar Gino, pria tersebut membuka pintu mobil lalu merampas paksa tas beserta dompet milik Maya.


Namun, kekuatannya tidak sebanding dengan mereka. Al hasil, Ia harus merelakan semua barang berharganya.


“Gino tas mama! “ teriak maya.


Gino yang ingin berlari menyelamatkan tas mamanya, kala cepat dengan orang-orang tersebut mereka sudah jauh pergi dengan menggunakan motor.


“Sial! “ umpat Gino sembari menendang krikil tak berdosa.


“Bagaimana ini sekarang? Uang hasil porotan dari Nara juga di curi, “ ujar Maya saat sudah berada di samping Gino.


Dari kejauhan David yang sedang memantau, mengambil ponselnya lalu mengirimkan pesan kepada tuannya


.


[Beres Tuan, ]


Alvian yang membaca pesan tersebut, menampilkan senyum smriknya lalu berjalan menghampiri Nara yang duduk di hadapannya.


“Nara aku harus pergi, besok jam sepuluh pagi aku jemput, “ pintah Alvian yang sudah melangkah menuju pintu.


Nara dengan cepat menahan tangannya, membuat Alvian menghentikan langkahnya dan menatapnya.


“Besok aku mau ke kampus, besok yudisium, “ ujar Nara.


Alvian mengangguk mengiyakan perkataan Nara, “Baiklah, jika sudah kembali hubungi aku okey, “


Nara mengangguk mengerti, lalu melepaskan tangan Alvian. Alvian tersenyum meninggalkan kamar Nara.

__ADS_1


“Rian, Paman, Bibi, aku haru pergi ada urusan mendadak, ” ujarnya.


“Tapi, tunggu sebentar lima menit, “ ujar Tina yang dengan cepat berlari kembali ke dapur.


Nara yang penasaran ikut keluar kamar melihat apa yang akan di lakukan oleh ibunya itu.


“Bawa ini kau pasti belum sarapan, “ ujar Tina menyodorkan paper bag berisikan masakannya.


“Dih si mama, kita aja nggak pernah di gini'in, “ ujar Nara sembari terus memandangi paper bag itu.


Alvian tersenyum lebar lalu mengambil pemberian Tina, “Terima kasih, akan saya makan. “


Setelah mengatakan itu, Alvian melangkah pergi. Namun, Ia berbalik lagi dan menatap Nara dan juga Rian yang tengah cemberut.


“Makanya tampan, biar bisa di perlakukan seperti ini, “ ujarnya membuat Nara dan Rian membulatkan matanya.


“Dasar maling mamah! “ teriak Rian kesal mengikuti langkah kaki Alvian yang sudah berada di dalam mobil.


“Hahahahah posisi kalian sebentar lagi akan di gantikan oleh pria itu, “ ujar Firman memanas-manasi kedua anaknya.


“Haha, apa ayah tidak sadar? Aya juga akan bernasib sama dengan kami, “ ujar Nara dan kembali ke kamarnya. Sedangkan Rian tertawa terbahak-bahak melihat wajah pasrah ayahnya.


“Victor, temui aku di kantor dalam lima belas menit lagi, “ ucap Alvian melalui earphone sembari membela jalanan kota menuju kantor.


“Ada dengan pria datar ini? Sudah sejak sejam aku di kantor, “ ujar Victor setelah mendengar pesan dari tuannya itu.


Tak menjelang lama, David memasuki ruangan Alvian sembari membawa tas Maya yang di ambilnya secara paksa tadi.


“Selain sebagai asisten seorang Alviano, kau juga memiliki profesi tambahan yaitu copet yah, hahahahaha, “ tawa Victor seketika berhenti saat menatap tatapan tajam dari David.


Yah David dan juga Alvian memiliki sifat yang sama persis namun, keduanya akan melemah ketika berada di hadapan Rina. Tapi saat ini, Alvian juga mulai melemah di hadapan Nara.


“Bagus jika David sudah ada, “ ujar Alvian memecah keheningan di antara keduanya.


“Katakan Victor! “ pintah Alvian.


“Nyonya Lidia saat ini tengah menyusun rencana untuk menyingkirkan anda dan juga Rani dari perusahaan Jovanka, “ ujar Victor menjelaskan kedatangannya dari Swedia.


“Sepertinya Ia ingin bermain-main, apa lagi? “


“Sementara Evan dan juga Alexo, keberadaannya sudah di temukan, “ ujar Victor.


“Dimana? “ tanya David.


“Mereka berada di Indonesia tepatnya di Kalimantan, tapi yang menjadi masalah saat ini, Ilone masih belum bisa kembali kesini, “ ujar Victor.


“Benar juga tuan, jika tanpa Ilone kita akan kewalahan, “ ujar David menambahkan.


“Segera persiapkan segalanya, besok kita jemput keponakan dan juga suami kakaku, aku punya Rian yang akan menggantikan Ilone, “ ujar Alvian tegas.


Victor dan juga David bertatapan, yah keduanya benar-benar melupakan Rian adik Nara.


.


.


.


.

__ADS_1


i love you guys yang sudah mampir maap agak nggak jelas ceritanya 🤣


__ADS_2