
Mendapat informasi dari presdir jika mereka akan lembur, Sendri menjadi semangat.
Berbeda dengan Ketiga gadis itu yang sama sekali tidak merasa bersemangat.
Ana dan juga Ria, mendekati Meri mencoba merayunya.
"Mom, mau susu pisang."
Dengan Ana sebagai alat, Ria menguwel-uwel wajah Ana agar menjadi imut.
"Baiklah."
Misi Ria berhasil, setelah menerima beberapa lembar uang dari tangan Meri, Ria berlalu begitu saja tanpa membawa Ana bersamanya.
Tawa Sendri dan Nara, menggelar melihat tingkah konyol dua gadis itu.
"Ayok Nara, kita berfoya-foya."
Ana yang sudah mendekati Nara, menarik tangan gadis itu membawanya keluar. Tak ingin meninggalkan Sendri, Nara dengan cepat menggenggam tangan pria itu.
"Ikut saya."
Langkah mereka terhenti, ketika presdir Jovanka grup menghadang mereka di ambang pintu.
Dengan hembusan nafas kasar, Nara terpaksa harus mengikuti Alvian dan meninggalkan teman-temannya.
"Ada apa kak?"
Sembari melontarkan pertanyaan itu, Nara mengikuti Alvian memasuki lift.
Saat lift sudah hampir tertutup, dengan cepat Nara menahannya. Gadis itu melangkah keluar, yang membuat Alvian terkejut.
"Apa yang kau lakukan? "
"Maaf, aku seharusnya tidak lewat sini."
Seolah di sambar petir, Alvian kembali menarik tangan Nara membawanya masuk kedalam lift.
"Tapi tuan,"
Alvian semakin frustasi, dengan perkataan kekasihnya. Ia hanya terbawa suasana waktu itu, tapi mala di salah artikan gadisnya dengan begitu menyerap dan mengingat kata-katanya waktu itu.
"Kak, apa kau tidak marah lagi padaku? "
Alvian yang sedari tadi tidak ingin memperhatikan wajah Nara, seketika berbalik menatap kekasihnya.
"Aku tidak marah, " ujar Alvian instan.
"Tapi, sikapmu akhir-akhir ini berubah. Apa aku melakukan sesuatu yang membuatmu tidak nyaman?"
Alvian sama sekali tidak menjawab pertanyaan Nara, Ia justru menatap ke arah depan. Nara yang mulai canggung akan hal itu, lebih memilih diam tidak ingin bersuara lagi.
Tiba-tiba saja, keduanya di buat terkejut oleh lift yang sudah tidak berfungsi lagi.
"Astaga! Ada apa ini?"
Nara yang sudah panik, menggenggam erat tangan Alvian di sampingnya.
Lagi dan lagi, lift kembali berfungsi namun, dengan seketika lift macet. Nara yang sudah sangat takut, menunduk di bawa sembari menutup telinganya.
Alvian dengan sigap, menarik Nara masuk kedalam pelukannya.
"Tenanglah, ada aku disini."
Serasa obat penenang, Nara semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Alvian.
"Apa kau membawa ponsel?"
Nara menggelengkan kepalanya, sejak awal Ia keluar dari ruangan ponselnya sudah tidak bersamanya lagi.
Alvian mengeluarkan ponselnya dari dalam kantongnya namun sialnya, benda pipih itu seketika redup begitu saja.
__ADS_1
"Sial!" umpatnya.
Alvian menekan tombol emergency berulang kali, tapi sepertinya belum juga ada yang tersadar.
Di luar lift, David yang baru saja selesai dengan Carl dari ruang meeting, berjalan menuju tangga darurat. Dari kejauhan, tampak seorang pria bertubuh tinggi dengan mengenakan baju serba hitam, begitu mencurigakan berjalan menuju pintu keluar.
"Siapa dia?" gumam David bertanya-tanya.
Tanpa menunggu lama, seolah sadar dirinya ketahuan dengan cepat pria misterius itu melarikan diri.
"Security!"
Teriakan David yang begitu menggema, membuat seisi kantor bagian lantai dasar menjadi panik.
"Tangkap dia!"
Saat itu juga, pria itu di hadang di pintu oleh beberapa orang anak buah Alvian.
Namun sayangnya, mereka kehilangan pria itu yang sudah melarikan diri dengan gesitnya.
Beberapa orang anak buah Alvian tak tinggal diam, mereka langsung mengejarnya.
"Apa yang kalian lakukan saja, penyusup masuk kalian kemana?! "
Amarah David menggebu-gebu, di saat melihat kinerja para bawahannya itu.
Victor yang baru saja kembali dari luar, dengan segera menghampiri David.
"Dimana tuan dan nona muda?"
Pertanyaan Victor yang dibarengi nafas memburu, membuat David semakin panik.
"Ada yang menyabotase berkas kerjasama kita, dengan tuan Hansol."
David menerima sodoran berkas itu, matanya membulat melihat isi dari berkas itu yang sudah di lumuri darah.
"Kemana tuan muda?!"
Tanpa menjawab pertanyaan Victor lagi, David bergegas menuju ruang kerja Alvian melalui tangga darurat.
Sedangkan dua insan yang berada dalam lift, mulai kepanasan. Nara melepaskan pelukan Alvian, dengan ragu membuka kancing atas bajunya.
"Apa kau mencoba menggoda ku sayang, " ujar Alvian tepat pada telinga Nara.
"Berhentilah bercanda Al, apa kau tidak panik dalam situasi ini? mana panas lagi."
Mendengar ocehan Nara Alvian memundurkan langkahnya, benar juga dengan apa yang di katakan gadisnya. Mereka sudah hampir tiga puluh menit berada di sana, belum juga ada yang menyadari keduanya terjebak lift macet.
Ketika Victor dan David tiba di dalam ruangan Alvian, keduanya melongo tak menemukan keberadaan sang bos.
"David, Dimana kau melihat penyusup itu?"
"Sepertinya dia baru habis dari ruang instalasi."
Dengan secepat kilat, Victor berlari menuju depan lift khusus untuk pemilik perusahaan.
Dari luar, Victor melihat liftnya sudah tidak berfungsi dengan normal lagi.
"Tuan, apa anda didalam?! "
"Mana mereka dengar, " ujar David mengangetkan.
Benar apa yang dikatakan David, mereka tidak akan bisa mendengar suara teriakan dari luar.
Alvian dan juga Nara yang sudah kehabisan tenaga, keduanya duduk di bawah sembari terus mengusap peluh.
Sudah tidak tahan lagi dengan panasnya lift yang sempit, Alvian melepas seluruh pakaiannya. Nara yang baru kali ini melihat tubuh indah Alvian, memalingkan wajahnya.
"Jangan pura-pura berpaling, aku tau kau pasti tergoda."
Satu pukulan mendarat sempurna pada lengan Alvian, setelah kalimatnya berakhir.
__ADS_1
"Buka bajumu!"
Sontak saja, Nara menatapnya tajam. Namun yang di tatap, memasang wajah tak peduli.
"Apa kau tidak kepanasan?"
"Nggak, biarkan saja begini." kekeh Nara tetap mempertahankan pendiriannya.
Alvian mendengus kesal, menarik Nara mendekatinya.
"Buka nggak!" ujar Alvian sedikit berteriak.
Nara menatap geli pria di sampingnya itu, lalu meloloskan tawanya yang membuat Alvian juga terpancing, ikut tertawa.
"Nara, ayolah buka."
Dengan sedikit mengedipkan matanya, Alvian yang hendak menarik ujung baju Nara di tahan gadisnya itu.
"Apa kau mabok lift?"
Tawa keduanya semakin menjadi-jadi, ketika mereka saling melempar candaan.
"Hanya aku yang melihatnya, jadi tenang saja."
"Nggak Kak."
"Apa kau lupa, aku sudah memegangnya jadi aku rasa tidak apa-apa, jika aku melihatnya."
Lagi-lagi, Sebuah pukulan dari Nara melayang menghampiri tangan Alvian.
"Hahaha lucu deh, " tawa Nara.
"Hahaha, yah kau sangat lucu."
Berusaha menggoda, Alvian mengedipkan matanya agar terlihat imut. Namun, bagi Nara itu sangat menggelikan.
"Itu menggelikan, " ujar Nara.
"Menggelikan mana, wajahku atau ini?"
Tangan Alvian sudah merayap, mengusap lembut gunung kembar Nara. Nara dengan sontak, melepaskan kasar tangan Alvian.
"Kaka!"
Bukannya merasa bersalah, Alvian justru terkekeh geli melihat wajah marah Nara.
Tiba-tiba saja, pintu lift terbuka menampilkan hampir sebagian karyawan tengah menunggu di depan pintu.
"Gila, tubuh tuan muda oke banget."
Menyadari Alvian yang belum memakai baju, dengan cepat Nara menutup tubuh Alvian menggunakan punggungnya.
"Victor."
Victor langsung menyuruh seluruh karyawan berbalik, agar Alvian mengenakan bajunya kembali.
Selesai memakai baju, Nara menatapnya kesal. Bagaimana tidak? pria itu sudah dengan lancangnya mengecup bibir mungilnya.
"Lama. " oceh Alvian kesal, sembari menarik tangan Nara keduanya meninggalkan sekumpulan manusia yang terus menatap mereka.
.
.
.Hai pembaca setiaku...
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.
Dan lagi satu, yuk kritik dan sarannya dong 😚
__ADS_1