
Alvian kembali menetralkan emosinya, tersenyum kembali menarik Nara duduk disampingnya.
“Kau haru mau Nara, “ ujar Alvian melembut.
Nara menggelengkan kepalanya, Ia sama sekali tidak bisa menerima semua itu. Apalagi dirinya bukan istri, hanya kekasih Alvian saja.
“Kita bukan suami istri Al, “ ucap Nara tetap pada pendiriannya.
Alvian sedikit melirik Victor dan juga pak Very bergantian, yang langsung membuat kedua pria itu menjauh dari sana. Victor menuju ruang kerja Alvian, pak Victor menuju dapur.
“Kau akan menjadi istriku. “ Alvian begitu yakin dengan ucapannya, sebab dirinya sudah lama ingin melamar Nara.
Namun, gadis itu belum siap di tambah Firman yang masih koma belum juga sadar, Alvian harus menunggu sampai waktunya tiba.
Tak menjelang beberapa menit kemudian, Victor kembali bersama sebuah kotak di tangannya dan juga beberapa map.
“Cincin yang waktu itu?”
Nara melirik jari tengahnya, di sana masih melingkar cincin pemberian Alvian waktu mereka berada di tepi pantai menikmati indahnya senja.
“Mau ku kembalikan?”
Bukan itu yang Alvian mau dengar dari mulut Nara, pria menempelkan jarinya pada bibir Nara menatapnya lekat.
“Bukan itu yang mau saya dengar, “ jelas Alvian.
Alvian kembali melepaskan tangannya dari bibir Nara, membuka kotak itu yang isinya sebuah kalung mewah yang umurnya sudah cukup lama.
“Ini kalung peninggalan Ibuku, “ ujar Alvian.
Ia bangkit dari duduknya, berjalan mengitari sofa berdiri di belakang Nara lalu memasang kalung itu pada leher kekasihnya.
“Setelah kau memakai ini, kau akan selamanya hanya menjadi pemilik hatiku.”
Nara menyentuh benda indah itu, menatap semua anak buah Alvian yang berada di sana tengah tersenyum menatapnya.
“Aku nggak pantas Al, “ ujar Nara.
“Tidak Nona, kami tidak ingin mendengar perkataan itu dari anda Nona. Apa anda mau kejadian di depan kantor terulang lagi?”
Nara dengan cepat menggelengkan kepalanya, Ia menatap Alvian langsung di tarik masuk kedalam pelukan pria itu.
“Jika anda tidak mau Nona, ayok tanda tangan berkas itu.” Victor kembali menyerahkan pena ke tangan Nara.
“Tapi Al, “ Nara masih ragu menandatangani berkas itu.
“Dengar Nara, semua ini aku lakukan agar musuh-musuh ku tidak bisa lagi melacak pemilik saham Jovanka grup, “ jelas Alvian mengusap lembut pipi Nara.
Nara yang sedikit ragu, mengambil kembali berkas itu menatap sekilas seluruh wajah yang menatapnya.
“Baiklah, akan tanda tangani.”
Nara menarik nafasnya panjang, mulai menggores tinta pena itu pada berkas pemindahan saham yang di berikan Victor.
__ADS_1
“Su-sudah.” Nara menyerahkan berkas itu kembali pada Alvian.
Dalam berkas itu, berisikan tentang pengalihan seluruh aset Alvian atas nama Nara. Alvian, punya rencana tersendiri dalam melakukan hal ini.
“Urus semuanya dalam dua hari.”
Alvian kembali menyerahkan berkas itu pada Victor, pria itu langsung melangkah menjauh dari sana menuju ruang kerja Alvian.
“Ini tuan, minuman yang anda minta.”
Very kembali dari dapur, meletakkan sebuah gelas di atas meja didepan Alvian. Alvian mengambil gelas berisikan air putih itu, langsung menyeruput habis isi gelas itu.
“Kau seperti tidak minum setahun, “ cibir Nara.
“Ia, karena dirimu.”
Alvian bangkit dari duduknya berjalan menuju kamarnya, tak terima ucapan dari Alvian, Nara juga ikut mengejar Alvian yang sudah mendekati tangga.
Menyadari Nara sedang mengejarnya, Alvian mempercepat langkahnya hingga mencapai kamarnya. Kedua pria yang sedari tadi memperhatikan mereka, hanya bisa menganga lebar melihat tingkah konyol kedua pasangan itu.
“Ina, segera siapkan makan malam!” teriak Very menggema, berlalu melewati dapur menuju kolam yang sedang di renovasi.
“Buk, kemana Novita?”
David berdiri di depan pintu, dengan mata yang terus menelusuri isi dapur mencari seseorang yang tidak ada sosoknya di sana.
“Sedang berbelanja tuan, “ jawab buk Ina tak melepaskan pandangannya dari masakannya.
David cukup kecewa, berlalu meninggalkan dapur menuju kembali kedepan televisi bersantai ria di sana. Di saat Victor tengah sibuk memecahkan kepalanya mengurus pekerjaan yang di berikan Alvian, David justru tengah asik menonton televisi sembari tertawa puas.
David yang baru tersadar akan kegiatannya, tertawa kecil menggaruk kepalanya yang tidak gatal menatap wajah Victor yang memerah menahan amarahnya.
“Bisa-bisanya kau asik menonton kartun!” bentak Victor melupakan kekesalannya, sembari melempar David menggunakan bantal sofa.
Di sebuah kediaman yang cukup mewah,
Alvaro memasuki rumah itu, langsung menuju dapur menemui seorang gadis yang tengah sibuk membaca buku di meja makan.
“Maksudnya apa ini?”
Alvian menyodorkan tabletnya kepada gadis itu, dengan sedikit kasar membuat gadis itu mengangkat kepalanya.
“Itu sedikit trik dari ku, “ jawab gadis itu santai.
Alvaro yang sudah kehabisan kesabarannya, mencekik leher gadis itu hingga wajahnya memerah tidak bisa bernafas.
“Jangan pernah macam-macam dengan perusahaan-perusahaan ku!” bentak Alvaro melepaskan kasar gadis itu.
“Beraninya kau!” terika gadis itu.
Alvaro sama sekali tidak memperdulikan perkataan gadis itu, Ia menghancurkan seluruh isi meja makan.
“Jangan sentuh sarapanku!”
__ADS_1
“Itu, karena dirimu berani menyentuh perusahaan ku!” teriak Alvaro tak kalah kerasnya, membuat seisi rumah seketika menghentikan kegiatan mereka sesaat.
Gadis itu terdiam seribu bahasa, tertunduk tak berani menatap Alvaro yang sudah mencapai ambang pintu masuknya.
“Hallo Tante, aku mau kau urus putramu!” kesal gadis itu, berbicara pada ponselnya.
Alvaro sudah melajukan mobilnya, menjauh dari kediam mewah itu menuju sebuah kafe setelah mendapat pesan dari ibunya.
Setibanya di kafe itu, Alvaro langsung disambut tatapan kurang menyenangkan dari Diandra ibunya yang sedari tadi menunggu kedatangannya.
“Apa yang kau lakukan?”
Alvaro belum juga meletakkan bokongnya di kursi, pertanyaan dari Diandra sudah sangat membuatnya begitu malas berlama-lama di sana.
“Akan ku jebloskan ibu kedalam penjara, jika berani ikut campur dalam perusahaanku!” peringat Alvaro tak main-main dengan ucapannya.
“Itu hanya trik, kau tau Alvian pasti tidak akan diam saja melihat perusahaan mu hancur.”
Alvaro menarik nafasnya panjang, memukul keras meja itu hingga minuman yang baru saja di pesan Diandra membasahi seluruh meja.
“Dengarkan aku, aku tidak mau masuk kedalam kebusukan mu kali ini. Jauhi perusahaan ku!” bentak Alvaro pada akhir kalimatnya.
Diandra cukup kaget dengan teriakan Alvaro, melirik sekilas ke sampingnya tersenyum masam menanggapi tatapan pengunjung lainnya di sana.
“Tapi Na-
“Pengusaha muda, Alviano Jovanka di kabarkan tengah memiliki hubungan khusus dengan putri pengusaha sukses Lian Sheng. Dikabarkan, keduanya akan melangsungkan pertunangan dalam bulan ini.”
“Semua ini ulah mu kan?!”
“Akhirnya, berita itu rilis juga.”
“Jika terjadi sesuatu pada hubungan mereka, aku yang menghabisi mu dan juga Roseta.”
Mata Diandra, menatap putranya yang sudah nangkit dari duduknya berjalan keluar kafe menuju parkiran, melaju meninggalkan tempat itu.
“Alvaro, aku ibumu!” teriak Diandra menggema, mengiri kepergian Alvaro menjauhi kafe itu.
Tak hanya Alvaro saja, Rian dan juga Tina yang melihat berita itu sedikit terkejut tak percaya dengan apa yang mereka dengar.
“Nara, pulang!”
Rian mematikan ponselnya, setelah mengirimkan voice note pada kakaknya.
.
.
.
Hai pembaca setiaku...
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
__ADS_1
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.
makasih 🌹