
Sebulan telah berlalu, Firman belum juga membuka matanya. Setiap dokter yang masuk memeriksanya selalu mengatakan hal sama.
“Saya belum bisa memastikan kapan Ia akan sadar, “ kata-kata itu susah sangat bosan di dengar oleh istri dan anak-anaknya.
Rian yang kembali dari acara kelulusannya dengan membawa ijazah di tangannya, menghampiri Nara dan juga Tina.
“Aku sudah putuskan akan mencari kerja, “
Nara mengangkat kepalanya lalu menggeleng, Ia tidak akan membiarkan Rian bekerja sebelum waktunya.
“Tidak, kau harus kuliah! “
“Berhentilah bersikap bodoh Nara, apa kau tidak lihat ayah seperti itu. Siapa yang akan membiayai aku? “
“Aku.“
Tina yang mendengar hal itu membulatkan matanya.
“Nara, “
“Ia ma, besok Nara akan kerja. Nara mau Rian juga Kuliah, “ ujarnya.
Rian menggelengkan kepalanya, “Memangnya kemana kau mau melamar? “
Seolah di remehkan dengan perkataan sang adik, Nara meletakkan sebuah map di tangan Rian.
“Sanders grup. “
Sanders grup merupakan sebuah perusahaan di bawah naungan perusahaan besar Jovanka grup milik Alvian. Selain itu juga, direktur perusahaan itu tak lain adalah Evan suami Maharani Jovanka.
“Hahaha aku yakin kau pasti di tolak, “ ledek Rian.
“Hah meremehkan, apa kau tidak sadar diri? Mana ada perusahaan yang mau menerima lulusan SMA sepertimu, “ ujar Nara.
Tina hanya bisa menggelengkan kepalanya menyaksikan perdebatan kedua anaknya itu.
“Berhentilah berdebat, Ayahmu tidak akan sembuh jika setiap hari kalian terus menerus berteriak seperti ini, “ serkah Tina melerai perdebatan kecil itu.
“Apapun keputusanmu, Mama akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu, “ ujar Tina.
“Dih Nara doang nih, “ kesal Rian yang seolah tak di pedulikan.
Tina sedikit terkekeh menarik Rian masuk dalam pelukannya, “Iya deh Iya anak mama yang paling tampan. “
“Jadi kapan kamu mau melamar Nara? “ tanya Rian.
“Sudah kemarin, hari ini interview. “
Tina dan Rian yang mendengar hal itu, seketika berbalik menatap Nara tanpa berkedip sama sekali.
“Kau yakin? “ ujar Rian memastikan.
Nara hanya mengangguk mengiyakan perkataan adiknya itu, lalu menyeruput segelas air putih hingga tak tersisa.
“Aku pergi dulu Ma, Ian. “
setelah mengecup berganti kening Rian dan juga Tina, Nara bergegas meninggalkan ruangan itu.
...***...
Evan yang mendapat data karyawan baru dari sekretarisnya, tak sengaja melihat berkas Nara terselip disana.
“Winara? “ ujarnya sembari menatap Hana Sekretarisnya.
__ADS_1
“Ia tuan, dia salah satu pelamar disini, “ ujar Hana.
“Apa Alvian mengetahui hal ini? “ tanya Evan.
“Maaf tuan, tapi itu hanya karyawan yang akan melamar. Saya rasa tuan muda tidak perlu mengetahui hal ini, “ ujar Hana.
Benar juga apa kata gadis itu, sejak kapan Alvian mau ikut campur dalam hal merekrut karyawan.
Tapi, sepertinya kali ini berbeda yang dimana pelamarnya adalah calon Nona muda seluruh karyawan Jovanka dan juga Sanders.
“Situasi kali ini berbeda Hana, “ ujar Evan sesaat sebelum melangkah menuju ruangannya.
Dengan segera, Evan mengambil ponselnya lalu menghubungi Alvian.
“Jangan kemana-mana, aku segera tiba dalam tujuh menit! “ Evan menutup panggilan teleponnya, lalu berjalan menuju kantor Alvian yang jaraknya hanya lima langkah dari kantornya.
Alvian meletakkan kembali ponselnya, lalu beranjak menuju ruang kerja Victor yang bersebelahan dengannya.
“Apa ada yang terjadi pada perusahaan Evan? “ tanya Alvian saat sudah meletakkan bo kongnya di sofa empuk yang kebetulan menghadap ke jalanan kota.
“Perusahaanya oke, “ jelas Victor.
Alvian dan Victor di kejutkan dengan kehadiran Evan yang membawa map berisikan berkas-berkas karyawan baru.
“Jadi kau begitu tergesa-gesa dari sana datang hanya ingin menunjukkan ini? “ ujar Alvian menunjuk map tersebut.
“Victor bukalah, “ pintah Evan.
Dengan segera Victor meraih Map tersebut lalu menelusuri setiap berkas yang ada disana. Manik coklatnya terhenti saat melihat berkas Nara juga terselip disana.
“Apa dia kekasihmu? Kekasih seorang Alviano Jovanka melamar di perusahaannya sendiri wah luar biasa, “ ujar Victor.
Alvian yang mendengar hal itu, seketika merebut berkas Nara dari tangan Victor lalu menatap tak berkedip kertas itu.
“Tiga puluh menit lagi. “
Tanpa menunggu lama, dengan membawa map tersebut Alvian melangkah menuju kantor Evan.
Nara yang sudah tiba di perusahaan Sanders grup, di arahkan menuju ruang interview yang dimana itu ruang kerja Evan.
“Mau melamar juga? “ tanya seorang pria yang duduk di sebelahnya.
“Ia, aku Nara, “ ujarnya mengulurkan tangan.
Pria tersebut menerima uluran tangan Nara,
“Deny. “
Belum sempat Nara mengeluarkan kata-kata dari mulutnya, tiba-tiba saja terdengar suara panggilan dari ruang interview.
“Deny wijaya! “
“Aku masuk dulu yah, namaku sudah di panggil. “ ujar Deny melangkah meninggalkan Nara.
Nara yang sedang menunggu, meremas jari-jarinya menghilangkan rasa gugup dalam dirinya.
Tak menjelang lama, Deny keluar dengan senyuman ceria sembari menghampiri Nara.
“Aku di terima, kamu semangat yah, “ ujar Deny menyemangati gadis itu sesaat sebelum pergi.
“Winara Atmaja! “
Nara bangkit berdiri melangkah masuk ke dalam ruang interview saat namanya di panggil. Dengan perasaan gugup, Nara yang sudah berada di dalam meletakkan dokumennya di atas meja tanpa bersuara.
__ADS_1
“Keluar! Masuk kembali dengan mengetuk pintu, “ ujar pria yang berada di balik kursi.
Dengan begitu sangat tergesa-gesa, Nara keluar ruangan. Ia sedikit menarik nafasnya panjang menenangkan dirinya agar tak gugup.
Totok
“Masuk! “ setelah suara itu terdengar barulah Nara masuk.
“Selamat siang Pak, “ sapanya.
“Hmm, kenapa kau ingin bekerja? “
“Sa-saya mau memban-
“Apa kau memiliki kekasih? “ pertanyaan itu seketika membuat Nara sedikit terkejut.
“Maaf pak itu-
Lagi lagi, belum sempat Nara Menyelesaikan kalimatnya Ia sudah tidak di perbolehkan bicara.
“I-Iya punya, “ jawabnya.
“Apa kau pikir aku semiskin itu membiarkanmu bekerja hmm, “
Alvian membalikkan kursinya menghadap Nara yang tengah kegugupan.
“Kok Kaka disini? “ tanya Nara dengan polosnya saat melihat Alvian berada di hadapannya.
“Harusnya aku yang bertanya, kenapa kau disini? “ kesal Alvian.
“Cari kerja. “
Alvian mengusap kasar wajahnya lalu menarik tangan Nara menuju balkon.
“Dengar Nara! Kau hanya perlu duduk diam di rumah, cukup habiskan uangku saja, “ Alvian memegang kedua pundak Nara sembari menatap dalam manik indah gadisnya itu.
“Aku belum bisa melakukan itu, sekarang Rian menjadi tanggung jawabku, “
Yah apa yang di katakan Nara ada benarnya, statusnya sekarang hanyalah seorang kekasih dari Alvian bukanlah istri.
“Baiklah kau di terima kerja, “ putus Alvian.
“Loh Kaka kok bisa memutuskan seperti itu? “ ujar Nara kebingungan.
“Aku masih pemilik sah dari perusahaan ini. “
Nara yang terkejut dengan pengakuan Alvian berbalik dan menatap wajah pria itu mencari kebohongan namun, di mata Alvian Ia sama sekali tidak menemukan dimana letak kebohongan itu.
“Jadi selama ini Kaka tuh kaya? “
Alvian yang mendengar pertanyaan Nara menganga lebar dengan apa yang di dengarnya.
“Jadi selama ini dia buta apa bagaimana sih?! “ gumamnya pelan.
.
.
.
Makasih buat yang sudah mampir love you sekebon 🌹🌹🌹
tinggalin jejak yuk, biar aku tau ada yang baca makasih.
__ADS_1