
Alvian sedikit terburu-buru, berjalan menuju parkiran. Di sana, terdapat banyak sekali wartawan yang sudah menunggu di depan gerbang masuk Jovanka grup. Nara juga yang sedari tadi sudah berada di depan gerbang masuk, sedikit melirik Alvian yang mendekatinya.
“David, ada apa ini?” ujar Alvian mendekati David yang berdiri di samping Nara.
“Tuan, apa anda benar-benar akan menikah?”
“Benarkah anda mencintai putri Mr. Lian Sheng?”
“Tolong jawab tuan!”
Beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh para wartawan, cukup membuat hati Nara sedikit teriris. Di tambah lagi, Alvian sama sekali tidak memberikan jawaban.
“Mau saya usir mereka tuan?” tanya David melirik Alvian yang sudah mau memasuki mobilnya.
“Tidak perlu.” Alvian benar-benar sudah berada dalam mobil, tanpa sedikitpun memandang Nara.
Nara hanya bisa berdengus memutar bola matanya malas, berjalan mendahului Alvian dan juga David.
“Permisi!” ketus Nara sedikit berteriak, melewati kerumunan para wartawan kondang itu.
“Mbak, mbak siapanya tuan Jovanka?” tanya salah seorang wartawan menghentikan Nara.
“Saya babunya!” ujar Nara sedikit berteriak, sembari melirik mobil Alvian yang tidak jauh dari gerbang masuk.
David hampir melepaskan tawanya, ketika Ia dan juga Alvian bisa dengan jelas mendengar apa yang di katakan Nara yang seolah menyindir Alvian.
“Babu, maksudnya mbak?”
“Ia babu, masa mbak nggak tau babu sih!” Nara benar-benar berteriak dengan suara yang dibuat-buat.
“Sudah, minggir saya buru-buru!” Nara berlalu dari sana, sedikit menghentakkan kakinya menuju halte yang jaraknya hanya lima langkah dari gerbang masuk.
“Jalan!” titah Alvian pada David, tanpa mengangkat kepalanya Ia terus berkutat pada ponselnya.
“Tuan Jovanka tolong beri penjelasan!”
“Tuan!”
Teriakkan Riuh parah wartawan itu, sama sekali tidak di ubris Alvian maupun David. Dengan perlahan, David melajukan mobilnya meninggalkan halaman kantornya.
“Stop!”
David cepat-cepat menginjak remnya, ketika melihat Alvian membuka pintu mobil barulah David mengerti kenapa Alvian menyuruhnya berhenti.
“Jalan David, saya pake taksi saja, “ ujar Nara malas menatap wajah kekasihnya.
“David, kalau dia tidak masuk kamu saya pecat!” tegas Alvian. Walaupun begitu, gadis itu sama sekali tidak memperdulikan semua kata yang keluar dari mulut Alvian. David yang risau akan kehilangan pekerjaannya, memasang wajah melemas kearah Nara.
“Nggak Vid, saya nggak mau semobil sama calon suami orang, “ ujar Nara menekan kalimat terakhirnya.
“David!” bentak Alvian.
Dengan sangat terpaksa, David keluar dari dalam mobil menarik Nara masuk kedalam duduk berdampingan dengan Alvian.
Sebelum akhirnya para wartawan itu melihat mereka, David dengan segera melajukan mobilnya meninggalkan halte menuju mansion milik Alvian.
“Aku mau pulang David!” ujar Nara kesal, saat sadar jalan yang ditempuh oleh David bukan ke rumahnya ataupun ke rumah sakit.
__ADS_1
“Maaf Nona, saya hanya menjalankan perintah.”
Mendengar penuturan yang keluar dari mulut David, Nara melayangkan tatapan tajam kearah Alvian yang sibuk dengan ponselnya.
“Kau keluar dari the gosip hot, “ ancam Nara.
“Maaf Nona, saya adminnya.” Nara terdiam seribu bahasa, benar juga waktu itu yang membuat grup itu adalah David.
“Tau ah, pokoknya turunkan saya!”
“Masalahnya Nona, pekerjaan saya jadi taruhannya, “ David tetap tidak mau menuruti perkataan Nara.
Nara memutar bola matanya malas, saat tidak sengaja dirinya dan juga Alvian saling bertemu pandangan keduanya.
“Ya gampang saja, kau bisa bekerja di tempatku.”
“Anda punya perusahaan?” tanya David sedikit ragu.
“Nanti jika kau di pecat, aku juga keluar kita pengaruhi otak Victor ikut keluar, lalu kita buat perusahaan sendiri terus kita hancurkan Jovanka grup.”
“Saya yakin, kita yang akan bangkrut, “ ujar David, langsung mematahkan semangat Nara yang tadinya berapi-api.
“Males ah, “ kesal Nara, menyandarkan kepalanya.
Alvian menarik nafasnya panjang, sembari mengusap kasar wajahnya Ia menarik Nara masuk kedalam pelukannya.
“Lepaskan aku!” Nara memberontak sembari memukul-mukul dada bidang Alvian meluapkan kekesalannya.
“Semua yang tadi kau dengar tidak benar.”
Nara melepaskan pelukan Alvian dengan mendorong kecil tubuh pria itu, berbalik memunggungi tubuh Alvian tak mau menatapnya.
Alvian memutar tubuh Nara menghadapnya, langsung di tepis kasar gadisnya itu.
“David, pelankan laju mobilnya.”
Sesuai perintah Alvian, David melaju dalam kecepatan sedang namun tidak terlalu cepat mematuhi perintah tuannya.
“Sa-
“Jangan sentuh aku!” bentak Nara.
Gadis itu benar-benar marah, Ia pikir Nara hanya bergimik saja di depannya tapi ternyata dugaannya salah.
“David, hubungi Victor segera ke mansion dalam tiga puluh menit.”
“Baik tuan.”
Sembari menyetir, David tak lupa melakukan perintah Alvian mengirimkan pesan pada Victor. David kembali menaikin kecepatan laju mobilnya, setelah selesai mengirim pesan pada Victor dan juga mendapat isyarat dari Alvian.
“David, bisa pelan saja?!” Nara menekan kuat tempat duduknya ketakutan.
Menyadari hal itu, David bukannya mengurangi kecepatan lajunya Ia malah semakin menginjak gas membuat mereka seperti berada dalam sirkuit balap.
Nara semakin ketakutan, menutup matanya dengan tangan kirinya menekan tempat duduknya, tangan kanannya meremas kuat ujung roknya. Sedangkan Alvian yang berada di sampingnya, sama sekali tidak memperdulikannya Ia malah sibuk dengan ponselnya lagi.
David kembali melambatkan mobilnya, ketika melihat Nara sedikit membuka matanya David kembali menambah kecepatan mobilnya. Alvian menampilkan senyumannya, ketika Nara masuk kedalam pelukannya tanpa Ia minta.
__ADS_1
“Ada apa?” tanya Alvian seolah tidak terjadi apa-apa.
“Aku takut, “ jawab Nara sedikit gugup, sembari menutup kedua matanya.
Alvian sedikit terkekeh pelan, mengusap lembut surai hitam Nara menatap David dari belakang melalui kaca spion.
“Sama-sama tuan muda, “ gumam David pelan.
David kembali melaju pada kecepatan sedang, hingga mereka tiba di mansion milik Alvian. Mereka langsung di sambut pak Very, yang sudah siap di depan pintu masuk.
“Kolam belakang sudah beres?” tanya Alvian sembari menggenggam erat tangan Nara memasuki rumah itu.
“Sudah tuan, “ jawab pak Very, langsung di angguk Alvian mengerti.
“Victor sudah menunggu anda di dalam tuan, “ ujar pak Very memberitahu kehadiran Victor yang mendahului David.
“Nggak, aku mau pulang!” Nara melepaskan tangan Alvian, berbalik kearah pintu tak mau mengikuti kekasihnya.
“David!”
Satu kata yang keluar dari mulut Alvian, langsung membuat David dan juga pak Very menutup akses keluar Nara.
“Ikut saya!” tegas Alvian kembali menarik pelan tangan Nara.
“Nggak mau, Rian pasti sudah menunggu di taman.”
Apa kalian pikir Alvian percaya dengan ucapan Nara? Oh tentu saja tidak, Ia tau gadisnya hanya berbohong.
“Rian sudah tau kau akan di sini sampai besok.”
Mendengar penuturan Alvian, Nara akhirnya pasrah mengikuti kemana pria itu membawanya akhirnya mereka berhenti di ruang keluarga yang di sana, sudah ada Victor menunggu mereka.
“Sudah kau siapkan?”
“Sudah tuan.”
“Penamu.”
Victor menyerahkan penanya kepada Alvian, langsung di sambut oleh tuannya. Alvian menyerahkan benda panjang itu pada Nara, membuat gadis itu bingung.
“Tanda tangan itu!” pintah Alvian menarik Nara duduk di sofa tepatnya di sampingnya.
“Apa ini? Aku harus baca dulu, jangan-jangan kau ingin menjual ku.”
Nara mengangkat berkas itu, mulai membaca isinya. Matanya membulat sempurna, saat sudah mengetahui seluruh isi berkas itu.
“Aku nggak mau!” serkah Nara, membuat Alvian bangkit dari duduknya menatapnya tajam.
.
.
.
Hai pembaca setiaku...
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
__ADS_1
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.
makasih 🌹