Dicintai Tuan Muda Alviano

Dicintai Tuan Muda Alviano
Bab 41 Serangan II


__ADS_3

Setelah keadaan sudah membaik, Alvian mendekati Alexa menggendong bayi itu.


"As long as I am alive, you will be safe. "


Alvian mengecup hangat kening Alexa, lalu menyerahkan bayi itu kepada Evan.


Bram dan juga Victor, memasuki ruang tamu sembari membuka helm keduanya.


"Mereka berhasil lolos tuan, " ujar Victor.


"Sial! Apapun yang terjadi, cari tau siapa mereka. "


"Tuan, sepertinya kita mendapatkan petunjuk. "


David melangkah, lalu memberikan sebuah bulu elang yang terjatuh di lantai.


"Ya, aku juga memperhatikan di setiap topeng mereka terdapat bulu ini, " ujar Nara.


Alvian memperlihatkan bulu itu, ingatannya tertuju pada seseorang yang begitu familiar.


"Alvaro, " ujarnya.


Victor, David, Evan, dan juga Rani terkejut mendengar perkataan Alvian.


Alvian mengangkat kepalanya, menatap lekat wajah Bram.


"Kemana saja kamu Bram? " tanya Alvian dengan dinginnya.


"Maaf tuan, saya tadi menjemput bos kecil. " jelas Bram.


"Iya uncle. "


"Kau taukan tugas mu apa?! Hari ini kau begitu lalay Bram! " bentak Alvian.


Bram menundukkan kepala merasa bersalah, Ia seharusnya tidak meninggalkan rumah.


"Tapi uncle, kita tuh udah sampe rumah, tapi kita putar balik setelah melihat oma keluar dari rumah dengan buru-buru, " jelas Alexo.


Alvian berbalik menatap Bram, mengkonfirmasi perkataan keponakannya.


"Benar tuan muda, nyonya Diandra terlihat seperti ingin bertemu seseorang yang sangat penting, " jawab Bram.


Saat itu juga, Diandra bersama Roseta dan juga Ridwan memasuki ruang tamu.


Seluruh mata seketika tertuju kepada mereka. apa lagi, pada jas yang di kenakan Ridwan terdapat bulu elang yang mirip dengan yang di pegang Alvian.


"Rani ada apa ini? " tanya Diandra menghampiri Rani.


Namun, dengan segera Evan menarik Diandra ke belakangnya.Seketika, Diandra menggantikan langkahnya tak berkutik.


"Kalian dari mana? " tanya Alvian dengan senyuman mengukir di bibirnya.


"Habis dari kafe, kenapa kamu kangen yah sama aku? "


Roseta berjalan menghampiri Alvian, lalu duduk di sebelah Alvian sembari memeluknya manja.


David dan juga Victor, dengan segera mendekati Nara.


"Aku tau pasti kau akan marah, tapi jangan meledak sekarang. "


Nara berdecak kecil mendengar perkataan Victor.


"Benarkah kau jalan-jalan tadi, bersama siapa? " tanya Alvian.


Roseta yang mendapat sikap manis dari Alvian, semakin bergelayut manja pada lengan pria itu.


"Sama Tante Diandra dan juga Paman Ridwan, " ujarnya.


Nara yang melihat hal itu, semakin terbakar api panas dalam dirinya.


"Bersabarlah sedikit lagi nona, " ucap David menguatkan.


Alvian tersenyum kecil, lalu mendorong kasar Roseta hingga gadis itu terjatuh ke lantai.

__ADS_1


"Alvian apa yang kau lakukan?! " teriak Ridwan tak terima.


Alvian bangkit dari duduknya, berjalan mendekati Ridwan.


"Bros berbentuk bulu elang, Dari mana ayah mendapatkan ini? " tanya Alvian.


Ridwan yang menyadari hal itu, melihat tangan Alvian yang menggenggam bulu yang sama dengan punya dia.


"Ini diberikan oleh Roseta waktu itu, " jujur Ridwan.


Karena beberapa hari yang lalu, gadis itu sempat memberikan bros itu kepada Ridwan sebagai hadia.


"Aku sudah pernah memperingati ayah, jangan pernah membawa wanita murahan ini kedalam rumahku! " ujar Alvian dengan nada suara yang sedikit meninggi.


Melihat keributan itu, Bram membawa Alexo dan juga Alexa menuju kamar.


"Wanita murahan dari mana Alvian? dia wanita baik-baik, dan lagi dia adalah mantan kekasihmu, " ujar Ridwan.


Degh


Mendengar penuturan Ridwan, dada Nara semakin teriris. Ia berbalik dan hendak melangkah pergi namun, tangannya di cekal Victor.


"Jangan pergi. "


Nara melepaskan tangan Victor, lalu berjalan mendekati Evan dan Rani yang menganggukan kepala memanggilnya.


"Ya, dia memang mantan kekasih Alvian. Tapi asal ayah tau kenapa aku mengakhiri hubunganku dengannya, karena dia salah satu dalang di balik kematian Bundaku! " teriak Alvian menggema.


Rani yang mendengar hal itu, membelakan matanya tak percaya.


"Apa maksudmu Alvian?! " ujar Diandra.


"Diam! " bentak Alvian.


"Aku selama ini sabar dan membiarkan mu menikahi ayahku, tapi kau beraninya mengatur kehidupanku. Siapa kau?! "


Diandra yang mendengar perkataan Alvian, sekujur tubuhnya bergetar hebat.


"Alvian jaga bicara mu, " ujar Ridwan.


"Jika ayah masih saja mempertahankan pendirian ayah, hubungan ayah dan anak ini sampai di sini. "


"Alvian! " bentak Rani.


"Apa kau lupa Ra-


Belum sempat Alvian menyelesaikan perkataannya, salah seorang penjaga memasuki ruang tamu.


"Tuan, gudang senjata kita di bobol. "


Tanpa menunggu lagi, Alvian berlari menuju mobilnya.


Evan dan juga David bersama Victor, mengikuti Jejak Alvian.


"Ada apa ini? " tanya Ridwan bingung.


Sedangkan Diandra dan juga Roseta, saling melempar tatapan lalu tersenyum.


"Rani ada apa nak? " tanya Ridwan menghampiri Rani.


"Kita di serang, untung Alvian cepat kesini. Dan sekarang, gudangnya ikut di bobol, " jelas Rani.


"Ayok Nara! "


Rani menarik tangan Nara berjalan menuju kamar.


Ridwan yang tidak bisa berbuat apa-apa, memilih duduk di sofa tempat Rani sebelumnya.


...***...


Sesampainya Alvian di markas tempat penyimpanan senjata dan juga benda-benda terlarang bekas rampasannya dari musuh, Ia memarkirkan mobilnya jauh saat melihat Markasnya di kepung.


"Kau ingin bermain-main denganku? " gumamnya.

__ADS_1


Dengan membawa dua senjata api berukuran besar di tangannya, Alvian melangkah maju.


Evan bersama Victor dan juga David, membuntuti Alvian dari belakang dengan membawa senjata yang serupa dengan milik Alvian.


Bunyi suara tembakan terus beradu, membuat musuhnya tumbang dalam waktu singkat.


"Beraninya kalian memasuki kawasan ku! "


Amarah Alvian menggebu, diiringi dengan tangannya yang terus mengayunkan pukulan.


Evan mengarahkan senjatanya, melumpuhkan beberapa orang musuh di dekatnya.


David yang tengah kewalahan, langsung di bantu Victor.


Setelah berhasil menghancurkan pertahanan musuh di depan, Alvian bersama Evan dengan cepat masuk kedalam.


Keduanya kembali di sambut oleh beberapa musuh yang saat ini membawa celurit di tangan.


"Tuan muda! " teriak Victor melemparkan sebuah benda tajam ke arah Alvian.


Dengan gerakan cepat, Alvian menangkapnya dan mulai menyerang.


"Al, kita tidak bisa jika terus bersama seperti ini. "


Alvian mengangguk mengiyakan perkataan Evan, lalu kembali menyerang.


Sret


Sebuah sayatan musuh, berhasil menggores pipi mulusnya.


"Bang sat! " umpat Alvian.


Dengan begitu membabi-buta, pria itu menghabisi sebagian dari lawannya.


"Wah wah, Alviano. "


Alvian dan Evan menghentikan serangannya, menatap sekeliling ruangan tak menemukan siapa pemilik suara itu.


"Apa kabar Alvian? "


Alvian langsung tersadar, bergerak sekelilingnya mencari keberadaan pemilik suara itu.


"Hahaha tidak usah mencari keberadaan ku Alvian, kau hanya akan mendengar suara ku. "


Alvian yang mendengar hal itu, menarik senyuman iblis di wajahnya.


"Kenapa Alvaro? kau takut bertemu dengan ku, sehingga hanya mengirim suaramu. hmm, " ucap Alvian menantang.


"Jangan terlalu percaya diri Alvian, " ujar pria yang di ketahui bernama Alvaro.


Saat itu juga, seorang musuh suruhan Alvaro menyerangnya dari belakang. Dengan cepat, Evan menembak mati musuh itu.


"Hati-hati semuanya! " teriak Alvian.


Matanya seketika terjtuju pada rekaman yang berada di sampingnya.


"Hahaha selamat bersenang-senang, musuh lama. "


Tawa dari Alvaro menggelegar di seluruh penjuru ruangan. Dengan satu tembakan, Alvian menghancurkan benda itu.


"David, sebelah kiri. "


David melayangkan tendangannya, dengan cepat mengambil sebuah baja di sampingnya melindungi Evan yang hampir di tembus peluru.


Keempat pria itu berkumpul di tengah, ketika musuh mengepung mereka.


Suara tembakan beradu, hingga akhirnya Alvian dan juga timnya berhasil mempertahankan markas itu.


Evan menarik nafasnya lega, tersenyum ke arah Victor dan David.


.


.

__ADS_1


.


Makasih yah yang masih setia sama ceritanya aku, maaf kalau kadang suka nggak nyambung dan juga banyak typonya. Mungkin dengan saran dan kritik kalian, aku bisa menulis dengan rapih lagi jadi jangan lupa yah saran kritiknya makasih ❤️🌹


__ADS_2