
Di markas belakang, Bram dan juga David sibuk membereskan keperluan mereka yang akan di bawah nantinya.
“Bos, menurut orang bandara lusa baru bisa.”
David dan juga Bram menghentikan kegiatan mereka, berbalik menatap salah seorang anak buahnya yang membawa informasi tentang akses keberangkatan mereka.
“Jam berapa lusa? “ tanya David.
“Pukul dua pagi.”
David hanya mengangguk, lalu meraih ponselnya mengirimkan pesan pada Alvian. Sedangkan Bram, memeriksa seluruh perlengkapan yang akan di bawah kedalam pesawat.
“Segera konfirmasi ke pihak bandara, tetapkan jadwal itu.”
Anak buah David tadi, langsung berlalu dari sana kembali lagi ke bandara sesuai perintah Alvian melalu David sebagai perantara.
Berbeda dengan David yang dan juga Bram yang sedang melakukan persiapan, Victor dengan penuh aura mematikan berjalan melewati ruangan televisi menuju parkiran.
“Mau kemana terburu-buru?”
Pertanyaan yang dilontarkan oleh Diandra, mampu menghentikan langkah Victor yang sudah berbalik menatapnya tajam.
“Bukan urusan anda!” ujar Victor dingin, kembali melanjutkan perjalanannya.
Setibanya di dalam mobil, Victor mengeluarkan berkas itu lalu meletakkan di bangku kemudi barulah dirinya menduduki lembaran kertas tersebut.
Victor melajukan mobilnya, meninggalkan kediaman Jovanka dengan kecepatan tinggi. Diandra yang masih memantau, menaruh kecurigaan pada pria itu.
“Mencurigakan, “ gumamnya pelan.
“Benar sekali.”
Diandra yang terkejut akan kehadiran Alvian secara tiba-tiba, berbalik menatap pria itu dengan tersenyum manis.
“Ayok ma, kita bahas lagi soal pertunangan itu.”
Mendengar Alvian memanggilnya dengan sebutan “Mama” Diandra tersenyum bahagia, mengikuti langkah Alvian menuju ruang keluarga.
“Uncle, bagaimana cara menghitung ini?” Alexo menghampiri Alvian, menyodorkan tugasnya pada pamannya.
“Sini, ini di jumlahkan dulu habis itu baru di bagi lalu di kurang.”
Alexo mengangguk, kembali mengerjakan tugasnya sesuai arahan dari Alvian. Diandra yang sudah tidak di perdulikan, sedikit merasa kecewa. Namun, Ia tersenyum bahagia ketika melihat anak dan juga cucunya tertawa bahagia.
“Semua karena dirimu Ros.” Batinnya.
Rani yang sedari tadi memperhatikan mereka, berdengus kesal menutup kasar pintu kamarnya menghampiri Evan.
“Mas, “ keluhnya.
Evan membaringkan Alexa keatas ranjang, ikut berbaring bersama putrinya tak memperdulikan ocehan istrinya yang sangat menggangu pendengarannya.
“Mas” bentak Rani.
“Jangan teriak-teriak sayang, Alexa akan rewel lagi.”
Evan bangkit dari kegiatan berbaringnya, sedikit menyelimuti tubuh Alexa lalu menarik tangan Rani mendekati balkon. Evan memeluk Rani dari belakang, menghirup dalam aroma leher jenjang istrinya.
“Aku mencintaimu sayang, “ bisik Evan.
Rani yang kesal dengan suaminya, berbalik melepaskan pelukan Evan menatap lekat wajah suaminya yang tersenyum padanya.
“Besok kau akan mengetahui semuanya Sayang, “ ujar Evan kembali mengecup pipi Rani.
__ADS_1
Victor menepikan mobil yang dikendarainya, ketika Ia sudah mencapai rumah sakit. Ia sama sekali tidak keluar dari dalam mobil, pria itu mengeluarkan ponselnya mengirim pesan pada seseorang.
Di dalam ruang rawat Firman, Nara sibuk memainkan ponselnya. Sedangkan Rian dan juga Dito, keduanya begitu bising memperebutkan sebuah tempe goreng.
“Kembalikan Ba-
Rian menghentikan ucapannya, melirik ponselnya yang berdering. Tanpa sepatah kata pun, Ia berlari ke luar ruangan itu.
“Mau kemana dia?” ujar Nara menatap kearah pintu.
“Bodoh amat dia mau kemana, ayok habiskan ini.”
Nara yang juga tergoda dengan tawaran Dito, menggantikan tempat Rian bersama dengan Dito keduanya menyantap habis makanan yang di kirim Tina memalui Fitri beberapa menit yang lalu.
“Masakan mbak Fitri memang juara, “ puji Dito.
“Ini masakan mama bodoh, “ serkah Nara, Dito hanya terkekeh menanggapi perkataan Nara.
Rian langsung mendekati mobil Victor dengan sedikit melirik sekitarnya, lalu masuk kedalam saat Victor membukakannya pintu.
“Ada apa bang?” tanya Rian, menyeruput segelas air kemasan yang ada di atas dashboard mobil milik Victor.
“Nggak permisi gitu, “ ujar Victor tak terima, ketika airnya diminum habis pria itu.
“Langsung saja Bang, ada apa?” Rian menyodorkan uang koin, sebagai bayaran atas air yang diminumnya tadi.
Victor membuang koin bernilai seratus rupiah itu keluar mobil, lalu mengambil berkas tadi dari bawah tempatnya duduk.
“Tuan muda sudah memberitahukan ini padamu?”
Rian melirik berkas itu, menjadi teringat akan apa yang dikatakan Alvian kemarin waktu keduanya bertemu di sebuah taman.
Flashback on
“Rian, “ ujar Alvian menyentuh bahu pria itu.
Rian berbalik tersenyum, memeluk tubuh Alvian lalu ikut duduk di bangku bersama David yang sudah mendahului keduanya.
“Ada yang ingin saya sampaikan, “ ujar Alvian, tak mau basa-basi.
“Silahkan saja Kak, kalian dari mana?”
“David!”
Tak menjawab pertanyaan dari Rian, Alvian beralih pada David meminta tablet pria itu lalu menyodorkan pada Rian.
“Setelah Nara menandatangani ini, mau kah kau yang menyimpannya?”
Rian tak langsung menjawab pertanyaan Alvian, Ia sedikit melirik isi tab itu merasa ragu dengan perkataan Alvian.
“Jangan sampai Nara terluka.”
Alvian Mengangguk antusias, syarat kecil dari Rian bisa Ia laksanakan.
“Baiklah, aku akan melakukan seperti apa yang kau minta.”
Flashback off
“Kemarin dia sudah meminta ku, “ jawab Rian melirik kearah luar.
Victor mengeluarkan selembar map, Victor memasukkan seluruh berkas itu lalu menyerahkan pada Rian.
“Rian, kau harus ingat Dito, ibumu, bahkan Nara sekalipun mereka tidak boleh tau soal ini, “ jelas Victor.
__ADS_1
“Kalau Dito aku bisa, tapi jika Nara dan juga mama aku tidak bisa jamin.”
Melihat keraguan dari dalam diri Rian, Victor berbalik tersenyum kecil pada pria itu seolah memberi kekuatan.
“Itu bukan urusanmu, “ ledek Victor.
Rian memutar bola matanya malas, Ia pikir senyuman pria itu seolah senyuman penyemangat. Namun, Ia dihianati sebelum saatnya.
“Rian, apa kau punya tempat yang aman?”
Sedari tadi pertanyaan ini ingin di keluarkan Victor dari mulutnya namun, pikirannya tidak sejalan dengan mulutnya saat ini.
“Iya, aku membeli sebuah apartemen. “
Victor seketika berbalik, menatap lekat wajah Rian mencari kebohongan di sana. Ketika Ia tidak menemukan kebohongan itu, Victor menatap intens tubuh Rian.
“Dari mau kau mendapatkan uang?”tanya Victor.
“Apa kau bersama tante girang?”
Rian meluncurkan beberapa pukulan pada pria itu, hendak keluar dari mobil Victor. Ia dengan cepat, di hentikan Victor sebelum kakinya keluar dari dalam mobil.
“Aku serius Rian, “ ujar Victor.
“Aku dan Nabila membantu tes masuk anak SMA yang membutuhkan, “ jelas Rian.
"Maksudnya bagaimana? aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang kau katakan."
Rian menarik nafasnya panjang, sembari mengusap wajahnya kasar.
"Membobol soal tes masuk di beberapa SMA, " jelas Rian.
“Calon buronan polisi, “ cibir Victor.
“Bodoh!”
Rian keluar dari mobil Victor, langsung menuju motornya berlalu membawa berkas itu menuju tempat yang dimaksud dirinya tadi.
“Ilone, besok kiriman perkembangan terbaru.”
Setelah mengirimkan pesan kepada Ilone, Victor ikut melajukan mobilnya berlawanan arah dengan Rian kembali ke kediaman Jovanka.
Dari kejauhan, Gino yang sedari tadi memperhatikan Rian masuk kedalam mobil Victor, tersenyum puas mematikan rekaman pada ponselnya.
“Aku pasti mendapatkan uang dengan ini, “ ujarnya bangga.
Ketika dirinya hendak memasukkan ponsel itu kedalam kantongnya, seorang pria dengan cepat merebut benda itu darinya.
“To-tolong kembalikan, “ ujar Gino ketakutan.
.
.
.
Hai pembaca setiaku...
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.
makasih 🌹
__ADS_1