
Sedikit berlari, Alvian mendekati Nara menariknya bangkit berdiri. Sembari meringis kecil, Nara mengusap lututnya yang tadi tak sengaja mencium aspal.
Ketika Alvian hendak mengejar pelaku tabrak lari tersebut, Nara menahannya tak ingin memperpanjang masalah.
“Sudah Al, tidak usah, “ ujar Nara.
“Shit!” umpat Alvian kesal.
Nara kembali menggenggam tangan Alvin, menarik pria itu kembali kedepan mobilnya. Alvian mengusap kasar wajahnya, menatap lekat Nara.
“Apa ada yang terluka?” Alvian menatap setiap inci tubuh Nara memperhatikan ada yang luka atau tidak.
“Lutut aku tergores.”
Alvian menarik Nara, membuka lebar pintu mobilnya lalu mengambil kotak obat yang berada di belakang.
“Duduk!” titahnya.
Nara hanya patuh mengikuti perintah Alvian, lalu memberikan pria yang merupakan kekasihnya itu mengobati lukanya.
“Aw, sakit, “ ringis Nara.
Alvian terus mengobati Nara, dengan sesekali meniup luka kecil itu mengurangi rasa sakitnya.
“Sudah, ayok makan!” oceh Alvian.
Nara cukup terkejut akan perubahan mood Alvian secara tiba-tiba Namun, Nara sudah biasa akan sikap kekanak-kanakan Alvian.
“Makannya di kantor saja, kita sudah telat Al, “ Nara menghentikan langkahnya menatap Alvian.
“Aku pemilik kantor kau bekerja,” sombong Alvian.
“Iss, jangan sok menyombongkan diri.”
Nara kembali menarik tangan Alvian, memasuki mobil. Alvian hanya bisa pasrah, mengikuti Nara memasuki mobilnya.
“Jangan mengeluh, jika kau lapar!” peringat Alvian.
Sama sekali tidak memperdulikan perkataan Alvian, Nara malah sibuk dengan ponselnya membalas pesan pada “the gosip hot” yang baru saja aktif setelah sekian lama dibuat.
...The gosip hot...
Victor: jika dia marah, bunuh saja dia nona.
David: mau ku adukan?
^^^Me : hahaha dia sedang badmood^^^
^^^/Nara send picture^^^
Victor: wahahahaha lihatlah wajah marahnya seorang Alviano Jovanka 🤣
David: tuan muda seperti seorang bayi lucu 😪
Nara sibuk tertawa terbahak-bahak dengan ponselnya, Alvian yang merasa tidak di perdulikan kekasihnya mengambil paksa ponsel Nara.
“Chat sama siapa kamu?!” judes Alvian ingin memeriksa ponsel Nara.
Namun, dengan cepat Nara merebutnya kembali, membuat Alvian semakin menaruh curiga padanya.
“Nara, “ ujar Alvian melembut.
Nara menjulurkan lidahnya, meledek Alvian. Ketika keduanya tiba di lampu merah, Alvian merebut kembali ponsel itu.
__ADS_1
“Oh, kalian bergosip yah, “ mata Alvian sama sekali tidak luput dari ponsel Nara.
“Sudah ah, sini balikin!”
Dengan sedikit tatapan tajam, Alvian menyerahkan kembali ponsel Nara lalu mengambil ponselnya dari dalam kantong celananya.
“Kalian berdua, temui saya di kantor!” ujar Alvian pada benda pipih itu, dengan nada sedikit tinggi membuat Nara seketika berbalik menatapnya.
“Dasar kejam!” sindir Nara melirik kearah luar mobil.
Tak memperdulikan apa yang dilontarkan kekasihnya, Alvian kemudian kembali melajukan mobilnya setelah lampu yang tadinya merah berubah menjadi hijau.
Sama seperti perintah Alvian beberapa menit lalu, baik David maupun Victor keduanya langsung menuju ruangan Alvian dengan penuh kekhawatiran dalam diri keduanya.
“Mampus, bisa di makan hidup-hidup aku.” Batin David risau.
Tak hanya dirinya saja, pria di sampingnya juga sedang merasakan hal yang sama. Namun, Victor sedikit tenang dibandingkan David.
“Semua ini ulahmu, “ ujar David menyalahkan Victor.
Victor yang tidak terima akan perkataan David, meluncurkan bantal sofa dan akhirnya mendarat sempurna pada wajah David.
“Salahkan Nona muda sana, “ kesal Victor.
“Mau nyalahin siapa?”
Alvian memasuki ruangannya, dengan penuh wibawa dan wajah yang kesal tentunya Alvian mendekati keduanya.
“Al, ayolah jangan menyalahkan mereka.” Nara ikut memasuki ruangan Alvian.
David dan Victor yang awalnya takut, menarik nafas lega ketika melihat sosok Dewi penyelamat juga berada di sana.
“Kalian mau hapus grup itu, atau?” Alvian menggantung ucapannya.
“Enak saja di hapus!” protes ketiganya tidak terima.
“Saya hitung sampai tiga, satu!” ujar Alvian menekan kata terakhirnya.
“Sabar dulu dong, kami harus berunding.”
Alvian memutar bola matanya malas, membiarkan ketiganya berunding mengambil keputusan yang tepat dalam masalah serius ini.
“Jadi bagaimana ini Nona?” tanya Victor.
“Tidak, kita harus mempertahankan hak kita, “ timpal David menambahkan.
“Yah, aku setuju dengan David. Kita tidak boleh lemah, dia akan menindas kita.” Alvian menghembuskan nafasnya kasar.
Bagaimana tidak? Mereka bertiga berunding, dengan nada suara tinggi yang sudah pasti Alvian mendengarkan semuanya.
“Benar, ayok pertahankan the gosip hot!” tekat Victor yang langsung disambut anggukan antusias dari Nara maupun David.
Brak!
Alvian memukul keras mejanya, membuat anggota inti the gosip hot seketika berbalik menghadapnya.
“Sudah selesai?”
“Sudah, dan kami telah putuskan tidak mau membubarkan grup ini, “ putus Nara sebagai keputusan akhir dari diskusi singkat ketiganya.
“Sangat tidak berguna, “ cibir Alvian.
“Maaf tuan, itu ada gunanya, “ serkah David, tidak terima dengan apa yang diucapkan Alvian barusan.
__ADS_1
“Apa gunanya? “
“Bergosip!"
Ketiganya serempak menjawab, lalu beriringan keluar dari ruangan Alvian dengan menampakkan wajah judes mereka.
“Resiko punya pacar bocil.” Alvian mulai mengotak-atik laptopnya mengerjakan pekerjaannya.
Sedangkan Nara dan juga kedua asisten Alvian, ketiganya berhenti di depan lift yang bersampingan dengan ruang devisi marketing.
“Tetap pertahankan the gosip hot, “ ujar Victor.
Nara sedikit mengangguk, hendak melangkah menuju ruangannya namun, Ia harus menghentikan langkahnya ketika mendengar namanya di sebutkan.
“Nara!” Bianka menghampirinya dengan senyuman terukir pada bibirnya.
Tak hanya Nara, David dan Victor yang juga sudah hendak berlalu dari sana terpaksa mengurungkan niatnya saat Bianka mendekati Nara.
“Nara, kok kemarin nggak masuk sih?”
Memori Nara berputar, mengingat ucapan Lexi ketika di pantai waktu itu. Ia sedikit memundurkan langkahnya, mencoba menjauhi Bianka.
“Ah, i-itu,
“Nara sedang ada tugas di luar, “ serkah Ria cepat, membuat Nara menggantungkan ucapannya.
“Oh gitu yah, hmm oke deh.”
Nara cukup menarik nafasnya lega, saat Bianka menyudahi rasa penasarannya dengan menjawab Ria singkat.
“Eh, Nara mau nggak besok kita ke pantai?” ajak Bianka.
Ada sedikit rasa ragu dalam diri Nara, Ia bingung harus menjawab apa kepada Bianka. Jika Ia menolak, Bianka akan mengira dirinya menjauhinya.
“Maaf, Nara besok akan pergi bersama saya ke suatu tempat.” Sendri keluar dari ruangan, menghampiri mereka.
“Benar yah Nar?” Nara sedikit melirik Victor dan David, lalu mengangguk pelan menatap Bianka lekat.
“Iya Bi, Sendri mau mengatakan sesuatu padaku.” Nara terpaksa mengeluarkan kebohongan itu, jika tidak Bianka akan curiga padanya.
“Okelah, kalau seperti itu.” Bianka berlalu pergi dari sana, membuat semuanya tak hanya Nara bisa bernafas dengan lega.
Mengapa semuanya juga? Sebab, beberapa hari yang lalu Victor sudah memperingati devisi marketing untuk tidak terlalu berhubungan dengan Bianka.
“Kalian semua baik-baik saja?” Meri yang tadinya memperhatikan, mendekati mereka semua.
Ketika mendapat anggukan dari anak-anaknya, Meri sedikit lega.
“Sekarang, ayok masuk dan mulai menghancurkan punggung belakang dengan kursi kita.”
Ada sedikit rasa malas diantara mereka, seandainya Alvian mau meliburkan mereka sehari saja mungkin mereka akan terus mendoakan pria itu agar tetap kaya.
“Hallo, besok ikuti Dia dan juga Sendri jam sembilan pagi, “ Bianka mematikan ponselnya, berjalan kembali menuju ruangannya.
.
.
.
Hai pembaca setiaku...
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
__ADS_1
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.
makasih 🌹