Dicintai Tuan Muda Alviano

Dicintai Tuan Muda Alviano
Bab 17 Kelly Milor


__ADS_3

Swedia


Lidia yang sejak pagi mendapat informasi bahwa Liam telah menjadi debu, dan Evan serta Alexo telah berada dalam tangan Alvian menjadi murka.


“Bagaimana kerja anak buah mu Niko! “ teriak Lidia marah dari balik telepon.


“Nyonya maaf mengganggu, aku ingin melaporkan bahwa seluruh transaksi yang di lakukan di pulau seribu di ketahui oleh pihak kepolisian. Barang-barang kita di sita habis, “ lapor Ciko salah seorang anak buah Lidia.


“Bang sat! Bagaimana kerjanya Mario sampai Ia bisa kecolongan seperti itu?! “ murka semakin menjadi-jadi.


“Ilone cepat cari tau siapa yang sudah membocorkan semua rencana kita? “ ujar Lidia.


Malangnya nasib wanita tau itu, disaat Ia begitu percaya dengan Ilone justru gadis tersebutlah yang menusuknya dari belakang.


“Baik Nyonya, “ Ilone meninggalkan ruang Lidia.


Ilone sedikit tersenyum smrik lalu berjalan keluar ruang kerja Lidia menuju kamarnya.


"Dasar bodoh, " umpat Ilone.


Selepas kepergian Ilone, Lidia mengambil ponselnya menghubungi seluruh bawahannya berkumpul di ruang bawa tanah yang berada di dekat gudang besar keluarga Jovanka.


“Kerja bagus Tio, “ ujar Alvian tersenyum kecil saat mendapat pesan beruntun dari Tio dan juga Ilone.


Di saat Lidia sedang resah akan semua rencananya untuk menghancurkan Alvian gagal, Alvian justru sudah perlahan masuk dan mulai menghancurkannya.


“Maafkan aku Oma, tapi kau sendiri yang memintaku melakukan semua ini, “ gumamnya.


Nara yang sedari tadi memperhatikan Alvian, menggelengkan kepalanya di kala setiap beberapa menit ekspresi wajah Alvian berubah.


“Apa kau sedang sakit? “ tanya Nara saat tidak tahan dengan setiap perubahan wajah Alvian.


Alvian menarik nafasnya panjang, lalu mendekati wanita itu.


“Aku tidak mengerti beberapa hari yang lalu kau begitu diam, tapi lihatlah sekarang kau sangat banyak bicara, “ ujar Alvian saat sudah di hadapan Nara.


“Aaa kau tau kak, aku harus pulang, “ titah Nara yang ingin berlari keluar kamar Alvian namun, dengan gerakan cepat Alvian menariknya hingga Nara terjatuh tepat di atas tubuhnya.


“Berhenti mengoceh, atau saya akan, “ ucapan Alvian menggantung.


“Akan apa hmmm? “ ujar Nara menantang.


Alvian terkekeh kecil lalu terus menarik wajah Nara mendekati wajahnya. Nara yang semakin panik, berusaha melepaskan pelukan Alvian namun sayang hal itu sia-sia.


“Alvian, Evan sudah menunggumu-

__ADS_1


Rani yang masuk kedalam kamar adiknya, seketika menghentikan langkahnya saat melihat posisi Nara yang berada di atas tubuh Alvian.


Dengan cepat Nara bangkit dari tubuh Alvian namun sialnya, Alvian terus mengeratkan pelukannya.


“Maaf lanjutkan, “ ujar Rani dengan ekspresi mengejeknya lalu menutup pintu kamar Alvian dan kembali keluar.


“Gara-gara kamu sih, nanti Kak Rani mikir yang aneh-aneh lagi, “ ujar Nara sedikit memukul lengan Alvian setelah berhasil bangkit dari tubuh pria itu.


“Yah sudah ayok kita buat pikirannya menjadi benar, “ ujar Alvian sesaat sebelum bangkit menuju ke arah pintu.


Nara berdecak kesal mengikuti langkah Alvian keluar, saat Melewati meja makan Rani tersenyum kecil melihat Nara dan juga Alvian.


“Tuh kan ekspresinya kak Rani jadi gitu, “ oceh Nara yang tak henti.


Alvian menghentikan langkahnya berbalik melihat ke arah Rani, lalu menarik Nara masuk kedalam pelukannya dan menutupi wajah Nara menggunakan baju tidurnya yang begitu besar.


“Berhentilah menatapnya! Kau aman sekarang, “ ujar Alvian.


Rani yang berada di meja makan, tertawa terbahak-bahak melihat tingkah adiknya dan juga Nara. Yah Rani hanya seorang diri di sana, sebab Rian yang sejak pagi sudah terlebih dahulu pulang ke rumah, karena Ia harus sekolah. Alexo dan Juga Diandra sedang sibuk di kolam memberi makan ikan.


“Akhh sudahlah kak, aku mau pulang. Aku harus ke pasar mencari barang yang akan aku Pakai buat wisuda Minggu depan, “ ujar Nara melepaskan pelukan Alvian saat keduanya sudah berada di depan pintu ruang kerja Alvian.


“Setelah aku selesai dengan mereka, akan aku antar, “ ujar Alvian.


“Hanya beberapa menit, ayok, “ ujar Alvian menarik tangan Nara masuk kedalam ruang kerjanya yang di sana sudah ada Evan, Victor, dan juga David.


“Sanders grup sudah ku pulihkan, “ ujar Alvian sembari mengisyaratkan David menyerahkan dokumen milik Evan.


“Aku sangat berhutang kepadamu Al, “ ujar Evan.


Victor bangkit dari duduknya, lalu membuka sebuah blok internet yang disana memuat informasi tentang kematian Milor beberapa hari lalu, serta berita kepulangan Kelly putri Milor ke Indonesia.


“Jadi Kelly Milor itu anak penculik itu, “ ujar Nara.


Alvian mengangguk mengiyakan perkataan Nara, Ia kembali mengotak-atik laptopnya dan menunjukkan kepada Evan, Victor, dan juga David.


"Padahal dia cantik banget loh, " ucap Nara lagi.


keempat pria itu hanya meliriknya sekilas lalu kembali fokus pada pekerjaan mereka.


“Aku mau kau mengurus proyek ini Victor secepatnya, dan David kau terus pantau pergerakan Niko. Evan kali ini aku sangat membutuhkanmu dalam mengurus surat kuasa seluruh aset ku yang berada di sana, “ pintah Alvian.


“Lalu Tuan, bagaimana dengan Kelly dia pasti akan mengacaukan semuanya? “ tanya David.


“Dia begitu sangat terobsesi denganku, aku sendiri yang akan mengurusnya, “ ujar Alvian menatap wajah Nara.

__ADS_1


“Oho maaf Tuan, aku tidak ingin ikut campur dalam urusan mu lagi, “ ujar Nara menolak.


Seolah tak memperdulikan perkataan Nara, Alvian tersenyum kecil lalu kembali membahas beberapa pekerjaannya.


“Baiklah Al, aku pergi dulu, “ ujar Evan keluar dari ruang kerja Alvian di ikuti oleh Victor.


“Tuan, barang anda yang minta sudah tiba, “ ujar David.


“Baiklah David, “


Setelah itu, David pun ikut meninggalkan Alvian dan Nara yang masih saling memandang tanpa arti.


“Ayolah Kak, aku harus pulang, “ ujar Nara kesal disaat Alvian dengan cepat mengunci pintu ruangan itu.


“Huft baiklah-baiklah kali ini kau menang, “ pasrah Alvian sembari membuka pintu.


...***...


Nikolas Kazim, tangan kanan Lidia serta musuh bebuyutan Alviano Jovanka saat ini tengah menyusun rencana membalaskan dendam kematian Liam saudara sepupunya itu.


“Lihat saja Alvian, akan ku habisi kau! “ ujarnya dengan berapi-api.


Niko melempar seluruh benda yang ada di hadapannya meluapkan kekesalannya.


“Tua bangka ini tidak bisa diam sebentar saja, “ makinya ketika melihat ponselnya berdering dan tertera nama Lidia disana. Dengan kesalnya Ia membaca pesan tersebut.


[Dalam beberapa menit lagi, kau harus selesaikan masalah ini. ]


Niko menganga lebar melihat pesan Lidia, dirinya tak habis pikir dengan otak wanita tua itu.


“Dalam beberapa menit, apa dia kehilangan akal? “ ujarnya menutup ponselnya kasar.


Niko mengusap wajahnya kasar, lalu kembali tersenyum saat pikirannya teringat sesuatu.


“Ah Niko, kekasihmu sudah di sana. Kau tau, semuanya akan sangat mudah untuk menghancurkannya sekarang hahahaha, “ tawa jahat Niko menggema.


Ia dengan cepat mengambil ponselnya lalu mengirimkan beberapa pesan kepada kekasihnya itu, lalu bergegas ke luar ruangannya dengan sedikit berlari.


.


.


.


BERKOMENTARLAH DENGAN BIJAK!!

__ADS_1


__ADS_2