
Gino tampak begitu terburu-buru, setelah mendapat pesan dari seseorang yang sama sekali tidak Ia ketahui identitasnya.
"Mau kemana kamu?! " teriak Maya.
"Ada urusan. "
Gino berlari keluar tanpa memperdulikan teriakan Maya, Ia mengendarai mobilnya menuju suatu tempat.
Ani yang baru saja tiba di kediaman Gino, berlari mengejar mobil Gino yang sudah menjauh.
"Gino! " teriak Ani menggema mengikuti arah mobil yang sudah jauh dari sana.
Ani menghentikan langkahnya mengejar Gino, berbalik arah masuk kedalam rumah pria itu.
"Mau kemana dia? " tanya Ani menghampiri Maya.
Maya tak memperdulikan perkataan gadis itu, berbalik masuk kedalam rumah.
"Tante Maya, mau kemana? "
Ani ikut berlari menghampiri Maya sampai ke depan televisi.
"Ada apa Ani? " ucap Maya sembari menikmati tontonannya yang tertinggal.
"Gino kemana? "
Maya menaikkan kedua bahunya pertanda tak tau. Ralat, lebih tepatnya tak peduli.
"Ada apa ? " ujar Maya bertanya maksud kedatangan Ani ke rumahnya.
"Ayah aku mau Gino melamar aku secepatnya, " ucapnya.
Maya semakin tak memperdulikan perkataan Ani, Ia malah cengengesan dengan tontonannya.
"Aduh kenapa di matikan sih?! " kesal Maya bangkit dari duduknya.
"Aku tuh lagi ngomong sama Tante, malah asik sama tontonan nggak jelasnya, " kesal Ani.
Maya yang tersulut emosi, menjambak rambut Ani membuat kepalanya terbentur tembok.
"Aww, " ringis Ani.
"Dasar tua bangka! " teriak Ani.
Gadis itu mengambil gelas yang tak berisi air di atas meja, menghantam kepala keras kepala Maya hingga mengeluarkan darah.
"Gadis sialan, awas kamu yah, " ujar Maya.
Belum sempat Maya membalas perbuatan Ani, gadis itu sudah berlari keluar rumah.
"Jangan harap Gino akan menikahi mu! " teriak Maya menggema mengikuti langkah Ani.
...***...
Gino yang sudah tiba di sebuah restoran yang tampak sederhana, di hampiri seorang waiters.
"Mari mas ikut saya. "
Gino melangkah mengikuti waiters tersebut, sampai pada sebuah tempat yang di sana sudah terdapat seorang gadis cantik tengah menunggu kedatangannya.
"Silahkan duduk, " ucap gadis tersebut.
Gino meletakkan bokongnya pada kursi, lalu menatap bingung wanita di hadapannya itu.
"Siapa kamu? "
Tak menjawab pertanyaan Gino, gadis itu tersenyum sekilas lalu menyodorkan tangannya.
"Roseta, " ucapnya.
Gino menerima uluran tangan itu, menggenggam lama sebelum akhirnya di lepaskan paksa oleh Roseta.
"Dari mana kau mendapatkan nomorku? " tanya Gino.
"Lupakan hal tidak penting itu, aku ingin bertanya. Apa kau mengenalnya? "
Roseta menyodorkan ponselnya, yang di sana terdapat foto Nara.
Gino tampak terdiam sebentar melihat foto Nara, lalu kembali menatap Roseta.
"Dia mantan kekasihku, ada apa? "
Roseta tersenyum puas dengan apa yang di dengarnya, lalu mengeluarkan segepok uang.
"Ini untukmu, tapi dengan satu syarat. "
__ADS_1
Roseta yang tadinya sudah menyodorkan uang itu pada Gino, dengan cepat ditarik lagi ketika Gino hendak mengambilnya.
"Buat dia kembali padamu, " ucap Roseta.
"Deal. "
Tanpa berpikir panjang, Gino tersenyum lebar lalu mengulurkan tangannya.
Roseta tersenyum sekilas, menyerahkan uang tersebut lalu bangkit dari duduknya berjalan meninggalkan restoran tersebut.
"Nara sayang, meskipun kita sudah tidak ada hubungan lagi, tapi kau masih tetap menghasilkan uang untukku, " gumam Gino.
Roseta yang sudah berada dalam mobilnya, menekan ponselnya menghubungi seseorang.
"Halo Tante Diandra, bisakah kita bertemu? "
"oke. "
Setelah meletakkan kembali ponselnya kedalam tas, Roseta melaju menuju suatu tempat.
Di kediaman Jovanka, Diandra yang sudah bersiap-siap, dengan tergesa-gesa keluar rumah.
Saat itu, Rani dan Evan bersama Beby Alexa yang hendak ke ruang televisi, menghentikan langkah mereka menatap kepergian Diandra.
"Mama mau kemana? " ujar Rani menatap bingung.
"Mencurigakan banget yah mas, " tambahnya lagi.
"Bener. "
Evan mengangguk mengiyakan perkataan istrinya, dengan pandangan yang masih setia ke arah pintu.
"Sudahlah ayok kita nonton, " ujar Rani berjalan terlebih dahulu, lalu di ikuti Evan sembari menggendong Alexa.
Diandra yang sudah berada dalam mobil, melajukan mobilnya meninggalkan rumah itu.
Alexo dan juga Bram yang baru saja kembali dari sekolah, menatap bingung dengan tingkah laku Diandra. Rasa curiga dalam diri keduanya begitu menggebu-gebu.
"Uncle Blam, kamu lihatkan? "
"Iya bos kecil, "
"Ayok kita selidiki. "
Keduanya yang baru saja keluar dari mobil, masuk kembali ke dalam dan melaju mengikuti Diandra.
"Mencurigakan, " gumam Bram.
Tak lama setelah Diandra mengetuk pintu, seorang gadis keluar dari dalam. Bram dan Alexo yang sudah ingin mengambil bukti, terhalang ketika Ridwan menelpon keduanya.
[Bram temui saya di rumah, ]
"Baik Tuan. "
Bram menjauhkan ponselnya dari telinga, dan saat menatap kembali ke arah Kontrakan itu, sosok Diandra pun ikut lenyap.
"Sial! bos apa kau melihat siapa yang di temui Nyonya Diandra? " tanya Bram kepada Alexo.
"Tidak Uncle, Lexo juga fokusnya ke ponsel Uncle, " jawab Alexo.
Tanpa menunggu lama, Bram kembali melajukan mobilnya menuju kediaman Alvian.
Diandra yang sedari tadi tau dirinya di buntuti Bram dan juga Alexo, menarik nafasnya lega ketika mendengar bunyi mobil Bram menjauh dari sana.
"Lain kali hati-hati, rencana yang sudah kita susun bisa hancur dalam semenit, " oceh Diandra.
"Ya maaf, saya pikir tidak ada membuntuti. "
Diandra berjalan dan duduk di sofa yang berada dalam ruangan itu.
"Jadi sekarang bagaimana? " tanya Diandra.
"Tua bangka Lidia sudah berhasil mendapatkan perusahaan Alvian yang berada di Jamaika, jadi tugas kita merebut perusahaan disini, " jelas Roseta.
"Bagaimana caranya? "
Roseta tersenyum, mengambil foto Gino yang memeluk Nara waktu di taman.
"Hubungannya dengan gadis kampung itu akan berakhir, Alvian orang yang temperamental dan posesif. jadi Dia pasti akan langsung terbakar api, ketika disiram sedikit bensin. "
Diandra menarik senyumannya, tersenyum menatap foto di tangannya.
"Akan aku hancurkan mereka semua, " ujarnya.
...***...
__ADS_1
"Ayolah sayang, kau harus mandi. "
Sudah hampir dua puluh kali, Alvian berusaha membujuk Nara mandi.
"Nggak mau, Dingin tau, kamu saja yang mandi males aku! "
Nara membuka pintu kamar Alvian, berlari turun menuju dapur.
"Mbok, aku mau bakso, " ujarnya.
Alvian yang mengikutinya, mengangkat tangannya mengisyaratkan agar tak mematuhi perkataan Nara.
"Maaf Nona, saya tidak bisa. "
Mendapat penolakan dari Mbok Ina, Nara berbalik dan mendapati Alvian di sebelahnya.
"Mbok mau buatin atau saya jajan diluar, " ancam Nara.
"Coba saja kalau berani, " nantang Alvian.
Nara tersenyum meremehkan, melangkah menuju pintu.
Saat itu juga, Hampir separuh anak buah Alvian mengepungnya di depan pintu.
"Kalian mau minggir atau-
"Apa?! "
Belum sempat Nara menyelesaikan kalimatnya, Alvian lebih dahulu memotong pembicaraan sembari duduk di kursi.
"Cihk menyebalkan, " kesal Nara.
"Kalau kamu mau mandi, Mbok Ina akan segera membutakan mu bakso. "
Nara menarik nafasnya panjang, melangkah linglung menuju hadapan Alvian lalu menunduk kepalanya.
"Baik yang mulia Raja. " ujarnya sembari mencubit keras hidung Alvian lalu berlari menuju kamar.
Alvian yang melihat tingkah kekanak-kanakan kekasihnya itu, menampilkan senyuman.
"Mbok buatkan dia bakso! " pintahnya.
Alvian Melangkah menuju ruang kerjanya, lalu kembali dengan membawa Laptop di tangannya.
Saat tengah asik berkutat dengan pekerjaannya sembari menunggu Nara, Alvian di kejutkan dengan kehadiran David yang sangat terburu-buru.
"Ada apa?! "
"Rumah Jovanka di serang. "
Mendengar perkataan David, Alvian bergegas menuju ruang kerjanya lalu kembali dengan membawa beberapa senjata.
"Mau kemana? "
Langkahnya terhenti, saat suara kecil Nara menembus dinding pendengarannya.
Alvian menarik nafasnya panjang, melangkah mendekati Nara.
"Aku harus kembali, rumah utama di serang. Kau tunggulah di sini, " ujar Alvian memegang kedua pipi Nara.
Nara menggelengkan kepalanya tak setuju dengan perkataan Alvian.
"Aku ikut! " ucapnya.
"Tapi sayang nan-
"Ayok David! "
Belum selesai berbicara, Alvian harus mengusap kasar wajahnya ketika Nara sudah mendahuluinya menuju mobil, sembari menarik tangan David.
"Sayang, kalau kau terluka bagaimana? " ujar Alvian yang sudah berada dalam mobil.
David melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi, menuju rumah utama.
"Jika aku terluka dan masih hidup, aku akan menuruti semua perkataan mu. "
Alvian tersenyum kecut, menarik Nara masuk dalam pelukannya.
.
.
.
Aaa makasih banyak buat yang sudah sejauh ini mengikuti ceritaku 🌹
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak yah biar aku tau ada yang baca ❤️