
Setibanya di rumah sakit, Nara tak langsung turun dari mobil Alvaro, Ia sedikit melirik pria itu.
"Ada apa?"
Tertangkap basah melirik Alvaro, dengan cepat Nara memalingkan wajahnya. Alvaro tersenyum kecil, memutar tubuh Nara berbalik menatapnya.
"Ada apa?"
pertanyaan yang sama, terdengar lagi oleh Nara. Gadis itu menampilkan senyumannya, menatap lekat wajah Alvaro.
"Makasih sudah mau membantu ku akhir-akhir ini, " ujarnya.
Hanya sebuah kekehan yang muncul dari pria itu, Ia sudah mendengar beberapa kali kata itu ucapkan Nara saat ini.
"Ayolah Nara, aku menunggu traktiran mu, " ujarnya yang langsung disambut tawa, oleh gadis disampingnya.
"Besok kita bisa bertemu?"
Alvaro tampak berpikir sebentar, kemudian memutuskan mengangguk mengiyakan ajakan Nara.
Ketika sudah mendapat jawaban yang pasti, Nara keluar dari mobil Alvaro. Ia tidak langsung jalan, Nara masih menunggu sampai mobil Alvaro menghilang dari pandangannya.
Setelah Alvaro sudah tidak terlihat dihadapannya lagi, Nara melangkah masuk kedalam rumah sakit. Seperti biasa, ruangannya yang akan ditujunya ruang VVIP tempat dimana Firman ayahnya di rawat.
Nara seketika menghentikan langkahnya didepan pintu, ketika maniknya tak sengaja menangkap Alvian sudah menunggunya bersama David di sana.
Mencoba tak memperdulikan pria itu, Nara melangkah begitu saja melewati mereka. Namun, dengan cepat tangannya dicekal Alvian.
“Bawa ini ke Rian!”
Alvian merebut paksa belanjaan dari tangan Nara, menyerahkan ke David. Dengan sedikit menyerempet, Alvian membawa Nara menuju taman yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah sakit itu.
David yang melihat kepergian mereka, segera melangkah masuk menemui Rian. Ketika kakinya sudah berada didalam ruangan itu, mata Rian dan Tina tertuju padanya.
“Nona dan Tuan muda sedang ada urusan,” ujarnya seolah tau akan tatapan itu.
Tina tersenyum menanggapi perkataannya, melangkah mendekati David mengambil alih belanjaan itu.
“Apa kau sudah makan?”
Mendengar pertanyaan Tina, David tersenyum malu menggelengkan kepalanya. Rian yang melihat itu, meluncurkan tawanya.
“Ayok kak, kita makan.”
Tanpa menunggu lagi jawaban David, Rian sudah lebih dahulu menarik tangan David membawanya kearah sofa.
“Maaf yah nak, jika makannya kurang pas sama lidahmu, “ ujar Tina, setelah selesai membagi makanan kepada kedua pria dihadapannya.
“Sangat enak bibi, mana mungkin makanan seenak ini tidak cocok dengan lidahku, “ puji David.
“Iya kan, enak banget kak, “ tambah Rian lagi.
Dibarengi tawa dan candaan satu sama lain, ketiga menikmati makanan yang telah dihidangkan Tina seadanya.
Terlepas dari ketiga orang dalam ruangan rawat Firman, Alvian dan Nara yang sudah mencapai taman saling melempar tatapan tajam satu sama lain.
“Kenapa menatap ku seperti itu?”
Nara menampilkan wajah judesnya, berjalan kearah bangku panjang dalam taman itu. Tak mau kalah, Alvian mengikuti langkah gadisnya. Duduk sengaja dibuat begitu rapat dengan tubuh Nara, risih akan hal itu karena tidak ingin berdekatan dengan Alvian, Nara bergeser menjauhi Alvian.
“Jadi sekarang kau ingin menghindariku?!” ujar Alvian dengan sedikit senyuman yang terukir pada bibirnya.
__ADS_1
Tak mau menanggapi perkataan Alvian, Nara justru semakin bergeser ke ujung. Alvian yang melihat Nara hampir jatuh, dengan gerakan cepat menarik tangan Nara hingga gadisnya bertubrukan dengan dada bidangnya.
“Modus Banget, “ judes Nara mendorong tubuh Alvian.
“Hanya denganmu aku berani melakukan hal-hal ini, “ jawab Alvian.
Ia hendak menarik tangan Nara, membawanya kedalam pelukannya. tapi itu Nara, gadis itu dengan cepat langsung menepis tangan Alvian.
Geram dengan sikap Nara yang mencoba menjauhinya, Alvian bangkit dari duduknya menatap Nara dibawahnya.
“Minggir, aku tidak ingin melihat mu.”
Tidak mengindahkan ucapan Nara, Alvian semakin mendekatkan dirinya kepada Nara yang saat ini tengah duduk.
Nara yang muak dengan sikap kekanak-kanakan kekasihnya, Ikut berdiri.
Namun sialnya, bibirnya seketika menempel dengan bibir Alvian yang jarak diantara keduanya begitu sangat dekat.
Saat Nara hendak menjauhkan tubuhnya, Alvian justru dengan cepat menarik tengkuk Nara memperdalam ciumannya.
“Dasar me sum, “ oceh Nara.
Meski haru mengeluarkan seluruh kekuatannya, tapi Nara berhasil lepas dari pangutannya dan juga Alvian.
Alvian tersenyum puas, berhasil membuat Nara memanyunkan bibirnya kesal dengan apa yang dilakukannya.
“Apa kau sengaja membuatku cemburu? Kenapa lebih memilih Alvaro?”
Pertanyaan-pertanyaan itu, berhasil menembus pita suaranya keluar dari rongga mulutnya menembus telinga Nara.
“Untuk apa memilihmu? Apa katamu tadi, cemburu? Dasar bang sat.”
Mata Alvian membulat sempurna, ketika mendengar umpatan keluar dari mulut mungil gadisnya. Ia justru terkekeh geli, ketika gadisnya terus saja mengoceh tanpa henti.
“Dih siapa yang cemburu?! Aku tidak peduli dengan apa yang kau lakukan bersama mantan kekasihmu itu, “ ujar Nara berapi-api.
“Aku tidak menyebut mantanku Nara, “ ucap Alvian.
Seolah tersadar akan ucapannya, Nara sedikit berpaling kesamping. Alvian tersenyum kecil, menarik dagunya menatap dirinya lagi.
“Kau begitu menggemaskan, “ ujarnya.
Dengan menepis kasar tangan Alvian, Nara bangkit dari duduknya berjalan kearah danau.
Hari sudah semakin gelap, suasana taman yang mulai sepi menambah kesejukan dengan hembusan angin yang terus meniup-niup. Sinar bulan yang mencapai bumi, menyinari danau itu menambah indahnya ciptaan semesta.
Senyuman pada wajah Alvian kian memudar, ikut melangkah mendekati Nara yang sudah duduk di tepi danau.
“Maafkan saya, Nara.”
Air mata yang selama ini ditahannya, meluncur begitu saja ketika suara Alvian menembus telinganya. Sakit, itulah perasaannya sekarang ketika mengingat bagaimana Alvian menjauhinya akhir-akhir ini.
“Apa kau marah karena aku dijebak waktu itu? Atau karena aku salah membuat laporan?”
Alvian yang sudah duduk di samping Nara, menarik gadis itu masuk kedalam pelukannya mengusap lembut surai hitam gadisnya.
Sama sekali tidak ada jawaban dari pria itu, Nara semakin bingung dengan sikap Alvian yang terkadang baik, dan kada juga berubah menjadi dingin dalam sesaat.
“Kau harus bisa kuat mulai saat ini, sayang, “ jelas Alvian membuat Nara menjadi ambigu.
Ia dengan seketika, melepaskan pelukan Alvian menatap lekat wajah pria itu mencari jawaban dari balik manik indah Alvian.
__ADS_1
“Apa maksud mu?”
Dengan berakhirnya Kalimat yang diucapkan Nara, ponsel Alvian berbunyi. Alvian mengusap layarnya, menjawab panggilan itu.
“Aku kesana sekarang!”
Alvian kembali menutup ponselnya, menatap wajah Nara yang juga tengah menatap dirinya dengan sejuta pertanyaan.
“Aku harus pergi, Tiara sedang di rumah.”
Bukan Alvian yang lebih dahulu pergi, melainkan Nara yang sudah menjauh dari pria itu. Alvian ikut berlari mengejar Nara, memeluk erat tubuh Nara dari belakang.
“Lepaskan aku, “ ujar Nara dingin.
Tidak mau mendengarkan perkataan Nara, Alvian membenamkan wajahnya pada leher jenjang Nara meninggalkan bekas kepemilikannya di sana.
“Apa kau hanya menjadikan ku sebagai pemuas nafsumu?”
Seperti teriris pisau berulang kali, hati Alvian begitu sakit dengan apa yang di dengarnya. Ia belum bisa memberitahukan semuanya kepada Nara saat ini.
“Aku hanya menyentuh gadis yang begitu aku cintai, “ ujar Alvian dengan posisi wajahnya masih berada pada leher Nara.
Pembohong, kata itu terus berputar dalam kepalanya setiap kali ada kata yang berhasil lolos dari mulut Alvian.
“Lepaskan aku Al, temui Tiara.”
Alvian sadar akan kekecewaan Nara, mengambil ponselnya menghubungi Rani lagi.
“Aku tidak kesana.”
Kembali memutuskan panggilannya secara sepihak, Alvian tersenyum kecil mengusap perut rata Nara.
Nara yang terkejut dengan keputusan Alvian, melepaskan tangan Alvian dari pinggangnya menatap Alvian yang tersenyum manis kepadanya.
“Aku mencintaimu Nara, akan ku jauhi dia.”
Alvian begitu paham dengan tatapan Nara, Ia menggenggam erat kedua tangan Nara meletakkannya pada dada bidangnya. Bisa Nara rasakan, detak jantung Alvian berdetak begitu kencang dari tempo seharusnya.
“Aku tidak yakin akan hal itu.”
Nara menjauhkan tangannya dari dada Alvian, melangkah pergi meninggalkan menuju bangku panjang tempat keduanya semula.
Alvian terkekeh kecil, ikut mendekati Nara yang sudah duduk di sana.
Satu kecupan hangat diberikan Alvian pada kening Nara, membuat gadis itu seketika tersipu malu. Alvian dengan sigapnya, membawa Nara masuk kedalam pelukannya.
Dari kejauhan, seorang wanita dengan pakaian serba hitam menatap keduanya dengan senyuman yang tidak bisa diartikan.
“Tersenyumlah sekarang, akan ku pastikan kalian tidak akan tersenyum lagi, “ gumamnya.
.
.
.
Hai pembaca setiaku...
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.
__ADS_1
Dan lagi satu, yuk kritik dan sarannya dong 😚