Dicintai Tuan Muda Alviano

Dicintai Tuan Muda Alviano
68 Diusir Alvaro


__ADS_3

Alvaro yang baru saja hendak masuk kedalam apartemennya, dihadang Victor yang sudah lebih dahulu berada di sana.


Tak mempedulikan keberadaan Victor, Alvaro melangkah begitu saja dengan sedikit menyenggol lengan Victor.


“Jauhi Nara!”


Alvaro menepis tangan Victor pada lengannya, menatap Victor dengan senyuman pada bibirnya.


“Kau mau apa jika aku tidak mau?!”


Seolah menantang Victor, Alvaro meluncurkan kata-kata itu dari mulutnya dengan begitu entengnya. Wajah Victor sudah tidak bisa dikondisikan lagi, amarah pada dirinya seolah sudah membara.


“Apa kau lupa siapa yang menghancurkanmu?”


Senyuman dari wajah Alvaro seketika sirna, ketika kata-kata dari Victor menembus telinganya. Putaran kejadian lima tahun lalu, kembali terulang dalam benaknya.


“Bang sat!” umpan Alvaro.


Dengan cepat, Victor berhasil menahan serangan Alvaro yang sudah hampir menganai wajahnya. Victor menepis tangan Alvaro, hingga tangan pria itu terpental mengenai beton di sana.


“Akan ku hancurkan kau, jika berani merebut Nara dari Alvian.”


Ancaman yang dilontarkan Victor, kembali terdengar oleh telinga Alvaro. Bukannya takut, pria itu justru tertawa renyah mendengarnya.


“Aku tidak yakin kau melakukan ini untuk Alvian, apa kau memiliki perasaan yang sama dengan Nara?”


Bruk


Satu pukulan keras dari Victor, mendarat sempurna pada pipi kiri Alvaro. Seolah tak merasa sakit, pria itu bangkit berdiri sembari tersenyum remeh.


“Jaga mulut sampahmu, aku tidak serendah itu menyukai wanita yang sama dengan Alvian.”


Alvaro semakin menampilkan senyumannya, dikala Victor yang sudah tidak bisa mengontrol emosinya lagi. Alvaro selalu senang berhadapan dengan Victor, apalagi disaat pria itu tidak bisa mengontrol amarahnya seperti saat ini.


“Kau tidak berubah Victor, apa jiwa Alvian sekarang menguassimu?”


Tak memperdulikan perkataan Alvaro, sedikit mendorong tubuh Alvaro menjauh Victor lebih dahulu masuk kedalam apartemen Pria itu.


Melihat hal itu, Alvaro tak tinggal diam. Ia juga dengan segera mengikuti langkah Victor, memasuki apartemennya.


“Apa mereka bersekongkol?” ujar seorang gadis bertanya, kepada seorang lainnya yang duduk disebelah kursi kemudi mobilnya.


“Aku yakin, Alvaro tidak mungkin melakukan itu.”


Mendengar jawaban wanita lainnya itu yang ternyata adalah Diandra, gadis itu tersenyum smrik melirik ponselnya.


“Ayok kita pergi.”


Melihat kepergian mobil Diandra yang sudah menjauh dari apartemennya, Alvaro menelpon seseorang.


“Ikuti mereka.”


Setelah menutup panggilan teleponnya, Alvaro mendekati Victor yang berada di sofa ruang tamunya. Sejujurnya, ia begitu malas berurusan dengan orang-orang Alvian.


“Ada apa kemari?” tanya Alvaro judes.


Victor mengeluarkan sebuah map kuning, yang didalamnya berisikan beberapa lembar foto dengan kondisi yang lumayan buruk.

__ADS_1


“Foto itu, dari kejadian lima belas tahun lalu, “ ujarnya.


Alvaro tak memperdulikannya, Ia menutup kembali map itu sembari matanya terus menatap foto-foto itu dengan detailnya.


“Dalam foto itu, terlihat dirimu juga terlibat di sana. Apa kau pikir aku tidak akan mengetahuinya?!”


“Aku juga korban Victor, “ ujar Alvaro.


Seperti biasa, Victor sama sekali tidak mempercayai setiap kata yang keluar dari mulut musuh Alvian. Ia mengambil ponselnya Menyodorkan kearah Alvaro, pria itu membulat melihat isi ponsel itu.


“Kau sempat berhubungan dengan Roseta bukan?” tanya Victor, sedikit menampilkan senyuman khasnya yang terlihat menakutkan.


Seolah tidak takut akan semuanya itu, Alvaro menyimpan ponsel Victor ke atas meja, lalu bangkit dari duduknya berjalan kearah kamar.


“Sudah ku katakan, aku juga korbannya Victor.”


Alvaro meletakkan sebuah album pada meja, dan dengan cepat Victor mulai memeriksa isi didalamnya. Tak percaya, yah itulah reaksi Victor saat ini. Ia adalah orang yang susah percaya kepada siapapun, apalagi orang itu musuh Alvian.


Tanpa Alvaro sadari, Victor sudah berhasil mencuri foto-foto itu dan memasukkannya kedalam ponselnya.


“Apa kau pikir aku sebodoh itu? Bisa saja foto ini hanya rekayasa,” ujar Victor.


Hanya helaan nafas panjang yang mampu diberikan Alvaro, ketika pria dihadapannya sama sekali tidak percaya dengan apa yang dikatakannya.


“Terserah apa katamu, sekarang pergilah dari tempat ini. Atau akan ku habisi kau?!” ancam Alvaro.


Sedikit menginjak keras kaki Alvaro, Victor melangkah meninggalkan apartemen mewah Alvaro.


“Bang sat!” umpat Alvaro, sembari mengusap kakinya bekas kejahilan Victor.


Setibanya di parkiran, Victor mengeluarkan ponselnya dari dalam kantong celananya, mengirim pesan kepads Bram dan juga David secara bersamaan. Tak hanya kedua orang itu, Ia juga mengirimkan pesan yang sama kepada Ilone dan juga Evan.


[Akan ku hubungi kau dalam satu jam kedepan]


Mendapat balasan seperti itu dari Ilone, Victor dengan segera meninggalkan kawasan apartemen Alvaro. Setelah kepergian Victor, Diandra bersama seorang gadis memasuki parkiran apartemen Alvaro.


Bukan Victor namanya, jika hal seindah ini harus dilewatkannya. Dengan cepat Ia mengeluarkan ponselnya, memotret Diandra bersama gadis itu saat memasuki apartemen Alvaro.


“Ternyata kau masih mencobanya, gadis nakal.”


Victor sedikit tersenyum, melihat seorang gadis yang bersama dengan Diandra.


Dengan berakhirnya Kalimat itu, Victor melajukan mobilnya benar-benar meninggalkan tempat itu dengan senyuman terukir indah pada bibirnya.


Alvaro yang sejak tadi mendengar belnya berbunyi, begitu mala membuka pintu sebab Ia tau siapa yang menemuinya saat ini.


“Alvaro!” teriak Diandra.


Tak ingin membuat keributan disekitar kediamannya, Alvaro mendekati handle pintu membuka dan menampilkan sosok Diandra bersama seorang gadis yang mengenakan masker di sana.


“Ada apa ma?”


Merasa kehadirannya tidak dinginkan, Diandra sama sekali tidak memperdulikan hal itu. Sembari menarik tangan gadis itu, keduanya menyelonong masuk begitu saja kedalamnya.


“Apa yang dilakukan Victor di sini?”


Tak menjawab pertanyaan Alvaro tadi, Diandra malah melontarkan pertanyaan yang sejenis dengan apa yang diucapkan putranya tadi.

__ADS_1


“Bukan urusan mama, sekarang pergi dari sini.”


“Apa begini caramu menyambut kedatangan mamamu?”


Senyuman smrik terukir pada bibir Alvaro, mamanya begitu lupa akan kejadian beberapa minggu lalu di kediaman Jovanka.


“Keluar!”


Teriakan Alvaro menggema dengan wajah memerah, membuat bulu kuduk kedua wanita itu terangkat ketakutan.


“Pelankan suaramu Varo, “ ujar gadis itu.


“Hei pela cur murahan, aku bukanlah Alvian yang akan menerima mu.”


Diandra yang hendak melayangkan tangannya pada pipi Alvaro, dengan cepat terhenti saat putranya lebih dahulu mencengangkan keras tangannya.


“Apa kalian pikir aku tidak tau? Mama dan ja Lang ini, menyerang rumah utama dengan berdalih bahwa itu aku yang melakukannya, “ titah Alvaro berapi-api.


Wajah Diandra memerah, mencoba tetap tenang setelah mendengar perkataan Alvaro. Penyerangan yang terjadi pada rumah utama Jovanka, semuanya ditumbalkan kepada Alvaro. Padahal, semua itu hasil dari kegilaan Diandra dan juga Roseta waktu itu.


“Feng! “ teriak Alvaro.


Seorang pria bertubuh tegap dan sangat tinggi, memasuki ruang tamu menemui Alvaro yang memanggilnya.


“Bawa mereka keluar!”


Mendapat perintah dari bosnya, Feng langsung menyeret paksa Diandra dan gadis itu keluar dari sana.


“Alvaro, beraninya kau mengusirku, “ ujar Diandra tak terima dengan perlakuan putranya.


“Alvaro!”


Teriakan gadis yang bersama Diandra, begitu menggema ketika melihat pintu apartemen Alvaro tertutup. Kedua wanita itu merasa kesal, dengan perbuatan Pria itu.


“Awas kau!”


Lagi dan lagi, Alvaro menghembuskan nafas panjang ketika teriakan dari wanita itu kembali menggema.


Jika Ia menerima mereka, Alvian akan semakin curiga kepadanya. Jadi, dengan melakukan ini Alvaro bisa dengan mulus menjalankan rencananya.


“Awasi mereka, jangan sampai kembali lagi.”


Feng hanya mengangguk patuh, mengiyakan setiap ucapan yang keluar dari mulut Bosnya itu.


Sudah hampir empat tahun, pria itu mengabdi pada Alvaro. Bukan tanpa alasan, karena Alvarolah istrinya bisa melahirkan dengan selamat.


Setelah hari itu, Feng memutuskan untuk mengabdikan hidupnya sebagai tangan kanan Alvaro sampai selamanya.


.


.


.


Hai pembaca setiaku...


Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.

__ADS_1


Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.


Dan lagi satu, yuk kritik dan sarannya dong 😚


__ADS_2