Dicintai Tuan Muda Alviano

Dicintai Tuan Muda Alviano
107 Kehancuran Lidia


__ADS_3

Dengan gerakan secepat mungkin, Bram yang mendapat tatapan mata dari David segera menuju kamar Alvian.


Bruk


Sedikit rusuh memang pria itu namun, dirinya di buat terkejut saat membuka pintu kamar tuannya. Bagaimana tidak begitu? Yang Ia lihat di dalam sana, sosok Kiran tengah mengacak-acak beberapa berkas dalam nakas.


Tak mau membuang waktunya, Bram segera memotret kegiatan kotor Kiran lalu Kembali turun kelantai bawah melalui tangga.


“Kemana Tuan muda?!” katanya dengan sedikit tergesa-gesa.


Saat sudah hampir menginjak tangga terakhir, Bram baru mengingat bahwa Alvian tadi meminta untuk beristirahat di lantai tiga.


Bram kembali memutar haluan, dengan sekuat tenaga berlari menuju kamar yang letaknya di lantai paling atas.


“Tu-


Bram yang sudah tiba di depan pintu masuk, saat hendak mengetuk pintu Ia harus menghentikan aksinya ketika Alvian lebih dahulu membuka pintu dari dalam.


“Siapkan semua pasukan, sebar mereka ke setiap sudut rumah itu!” titah Alvian memasuki lift, sembari mengenakan jaketnya.


“Semuanya sudah di perintahkan David, Tuan muda.”


Alvian tak menjawab perkataan Bram, Ia melirik foto Nara pada ponselnya lalu mengecup benda pipi yang menampilkan gambar kekasihnya itu.


“Aku akan pulang beberapa hari lagi, “ gumamnya pelan.


Bram yang sedari tadi risau, terlihat tidak tenang dalam lift.


“Biarkan saja dia, setelah aku bereskan Lidia akan ku hancurkan dia.”


Bram berbalik menatap Alvian di sampingnya, apa tuannya itu peramal? Bagaimana Ia bisa tau isi kepalanya? Beberapa pertanyaan itu menghiasi kepalanya.


“Baik tuan, “ ujar Bram.


Keduanya melangkah keluar dari lift, dengan sedikit mempercepat langkahnya mendekati David yang sudah menunggu kedatangan keduanya.


Dari ambang pintu utama, Kiran tampak berdiri di sana menatap mobil yang di tumpangi Alvian dengan David sebagai pengemudi meninggalkan pekarangan rumah tersebut.


“Kau begitu berubah Al, lihat saja akan ku hancurkan ja Lang yang berani mendekatimu, “ tekatnya bulat.


Gadis itu melangkah kembali kedalam rumah, lalu menutup keras pintu. Bram yang kebetulan belum jalan, sempat mendengar celutukannya lalu tersenyum smrik.


“Selain Nara, gadis-gadis yang di dekati Alvian semuanya tidak ada yang beres.” Bram memakai helmnya, mulai melaju mengikuti Alvian dan juga David.


Setibanya Alvian di rumah lama Jovanka tepatnya tempat Lidia, bersamaan dengan kedua asistennya Ia memasuki rumah itu. Ini kali keduanya mereka kesana namun, kali ini dengan tujuan berbeda.

__ADS_1


“Maaf anda tidak boleh masuk!” bentak seorang penjaga, mencegah langkah Alvian yang hampir mendekati pintu.


Alvian tersenyum kecil sembari memijat pelipisnya, berbalik menatap David lalu melangkah masuk dengan santainya. Seiring dengan langkah kaki Alvian, beberapa anak buahnya langsung menyerang penjaga depan dengan secepat kilat.


Kaki Alvian terhenti di depan ruang tamu, saat Niko bersama Lidia dan juga seluruh pasukan mereka menunggu kedatangannya. Meski begitu Alvian sama sekali tidak gentar, Ia mengambil senjata api dari balik bajunya lalu melemparkan kehadapan dua musuh bebuyutannya itu.


“Kenapa membuat keributan malam-malam seperti ini, Alvian?Huft, “ ujar Lidia lalu menghembuskan asap rokok dari dalam mulutnya.


Mata Alvian langsung tertuju pada Ilone, yang dimana gadis itu baru saja mendekati Niko dari belakang.


“Kembalikan surat wasiat itu, “ titah Alvian pelan.


Ilone perlahan menyentuh tangan Niko, membuat pria itu memerintahkan beberapa anak buahnya yang berada di belakang agar segera keluar secara perlahan.


“Kenapa cucuku? Apa kau semakin risau karena aku berhasil merebut perusahaanmu yang berada di Kuala lumpur?”


Yah, hal itulah yang tadinya membuat David dan juga Bram terkejut. Wanita tua itu begitu sangat berbahaya, dirinya hampir memasuki Indonesia dalam hal merebut paksa seluruh perusahaan Jovanka grup.


“Ilone, dari mana saja kau?!” Lidia sedikit meninggikan nada bicaranya, tanpa mengalihkan pandangan dari wajah Alvian.


Bruk


Beberapa orang pengacara di seret David dan Bram kehadapan Lidia, membuat wanita tua itu sedikit menelan kasar salivanya. Bukan tanpa arti Lidia ketakutan, kedua pengacara itu merupakan orang bayaran Lidia yang waktu itu di minta untuk memalsukan surat wasiat Orlan Jovanka, yang tak lain adalah Kakek Alvian suami Lidia.


Alvian tersenyum smrik menatap Lidia, lalu dengan cepat menangkap senjata api yang baru saja di luncurkan Niko padanya. Lidia yang terkejut bukan main dengan tindakan Niko, bangkit dari kursinya menatap pria itu.


Dor


Bunyi tembakan peringatan yang di lepaskan Alvian, membuat tak hanya kedua pengacara itu saja yang ketakutan Lidia juga sudah mulai harus waspada sekarang.


“Dimana wasiat dan berkas kepemilikan saham Jovanka, “ ujar Alvian.


“K—kami tidak berada tidak!” Saking gugupnya, apa yang di jawab oleh salah pengacara itu sama sekali tidak di mengerti oleh Alvian.


“Jawab dengan baik, “ celutuk David, mencengkram keras kerah baju pengacara tersebut.


“Diam! Apa maksudnya ini? Kalian Keluar, kau Alvian keluar!” bentak Lidia panik.


Melihat kepanikan dalam wajah Lidia, Alvian semakin yakin untuk terus menyiksa wanita tua itu agar Ia segera mendapat kembali haknya.


“Ilone, berikan seluruh berkas perusahaan yang di rebutnya paksa!” titah Alvian.


Tanpa ada keraguan sedikitpun dari Ilone, gadis itu melangkah mendekati Bram dengan sebuah tas di tangannya yang berisikan seluruh berkas yang di maksud Alvian. Mata Lidia membulat sempurna, jantungnya berdegup tak beraturan saat ini. Satu-satunya orang yang Ia percaya selama ini, ternyata adalah tangan kanan dari musuhnya.


“Maafkan aku Nyonya, tapi Alvian adalah bosku.”

__ADS_1


Dengan senyuman menggambang, Ilone mendekati Lidia tanpa dosanya lalu melepaskan nametag dari bajunya.


Saat tangan terulur hendak memberikan nametag itu, Lidia yang sudah di kuasai oleh rasa marah melayangkan tangannya pada pipi gadis itu.


Plak


Suara tamparan keras itu mendarat di seluruh penjuru ruangan. Bukannya merasa bersalah atau takut dan semacamnya, gadis itu tersenyum lebar lalu tertawa renyah di hadapan Lidia.


“Masih berani kau tertawa?! Dasar Ja Lang!” bentak Lidia dengan tangan yang sudah mau mencapai wajah Ilone lagi Namun,


“Jauhkan tanganmu dari wajah Gadisku, “ Dingin Niko.


Wah wah, Lidia kecolongan lagi. Tadi Ilone, sekarang Niko dirinya hampir gila saat ini. Alvian memang bukan lawan yang sepadan baginya ternyata, seluruh orang kepercayaannya hilang dalam sekejap dan memberontak melawan dirinya.


“Jadi kau juga mau berkhianat? Penjaga!”


Seluruh anak buah Lidia yang sudah Ia persiapkan diam-diam tanpa sepengetahuan kedua orang itu, masuk secara bersamaan memenuhi ruangan itu.


“Menghabisi orang tua kalian aku bisa, apa lagi semut-semut kecil seperti kalian ini, “ gumam Lidia, kembali menduduki kursinya.


Mata Alvian yang tadinya hanya tertuju pada Lidia, seketika ingatannya tertuju kembali ke kejadian beberapa tahun lalu.


“Posisi itu, yah dirinya duduk di sana dan hanya menyaksikan bundaku di bunuh!” batin Alvian.


“David, habisi semuanya tanpa sisa!”


Setelah mengatakan hal itu, Alvian dengan gerakan cepat bergerak secara perlahan menuju kamar Lidia. Ia yakin, berkas-berkas saham itu di sembunyikan wanita tua itu dalam kamarnya.


Kakinya terus melangkah hingga mencapai kamar Lidia. Saat tangannya hendak meraih heandle pintu, Sebuah tangan menyentuh bahunya yang membuat Alvian berbalik dan menatapnya.


“Kau!”


.


.


.


.


Hai pembaca setiaku...


Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.


Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.

__ADS_1


makasih 🌹


__ADS_2