Dicintai Tuan Muda Alviano

Dicintai Tuan Muda Alviano
Bab 21 Ancaman Victor dan David


__ADS_3

Alvian yang baru saja tiba di rumah sakit, melangkah perlahan membuka pintu ruangan dimana Firman di rawat. Di sana, hanya terdapat Nara seorang sebab Tina sudah pulang atas keinginan Nara bersama dengan Rian yang meski dengan susah payah di bujuk pulang.


“Heii, “ ucap Alvian lembut sembari mengusap pipi gadis di hadapannya itu.


Nara yang merasakan sentuhan itu, menggeliat bangun dan mendapati wajah Alvian tepat di hadapannya sehingga Ia bisa merasakan hangatnya nafas pria itu.


“Sudah sejak kapan Kaka disini? “ tanya Nara dengan posisi yang sama.


“Baru beberapa detik, apa kau sudah makan hmm? “ ujar Alvian mengelus surai panjang Nara.


Nara menggelengkan kepalanya, dari pagi tadi belum ada sebiji nasi yang menembus lambungnya.


“Kenapa belum, nanti kamu bisa sakit, “ ujar Alvian begitu lembutnya.


“Mari saya suapi, “ tambahnya lagi dengan menarik tangan Nara menuntutnya ke arah sofa.


Alvian mengarahkan sendok berisikan sepotong ayam dan juga nasi kedalam mulut Nara.


“Enaknya, “ ujar Nara setelah selesai mengunyah.


Alvian tersenyum lalu menyodorkan kembali sendok kedalam mulut Nara namun, gadis tersebut menggelengkan kepalanya.


“Kaka juga harus makan, “ ujarnya mengambil alih sendok dari tangan Alvian.


Saat hendak menyuapi Alvian, Nara seketika berhenti lalu menarik kembali tangannya membuat Alvian kebingungan.


“Kenapa? “ tanya Alvian.


“Ini bekas aku, “ ujarnya sembari melirik ke atas nakas.


Namun, Alvian dengan segera menarik tangannya menghabisi makanan yang berada di sendok bekas makan Nara.


“Ihh Kaka, “ ujar Nara.


Alvian hanya terkekeh kecil lalu mengusap-usap lembut rambut panjang Nara. Tak menjelang lama, makanan yang di bawah Alvian habis di lahap Nara.


“Mau ke taman? “ usul Alvian saat melihat Nara menyandarkan kepalanya di sofa.


“Tapi ayah, “


“Tenang saja, ada anak buah saya yang akan menjaganya, “ jawab Alvian yang sudah berdiri di hadapan Nara.


Nara sedikit mengangguk, lalu menerima uluran tangan Alvian keduanya beriringan menuju taman.


“Jangan biarkan siapapun masuk selain dokter! “ pintah Alvian kepada anak buahnya sesaat sebelum benar-benar meninggalkan ruang rawat Firman.


Setibanya kedua insan tersebut di taman, keduanya tak sengaja berpapasan dengan Gino dan juga Ani.


“Wooow setelah selesai denganmu, dia malah mencari mangsa baru, “ ujar Ani mencoba meledak Nara.


Nara hanya menatap keduanya tanpa berkata apa-apa, menarik Alvian hendak pergi.

__ADS_1


“Eits mau kemana? Nggak mau apa lihat kemesraan kita, “ ucap Ani menahan kepergian Nara dan Alvian.


Nara menatap Gino sekilas lalu kembali melirik Ani dengan senyuman, dirinya mengambil tangan Alvian melingkarkan di pinggul kecilnya.


“Sayang, aku mau ice cream, “ ujarnya sembari menatap manja Alvian.


Alvian mendengar perkataan Nara seketika tersenyum, lalu mengeratkan pelukannya dan menghujani pipi Nara dengan ciuman.


“Oke baby, “ bisik Alvian yang seketika membuat bulu kuduk Nara berdiri.


Sedangkan Gino yang melihat hal itu, menarik senyuman paksa lalu membawa Ani pergi dari sana.


“Kenapa sih kamu? Cemburu? “ tanya Ani menghentikan langkah keduanya.


“Jangan banyak bicara lagi, ayok jalan! “ pintah Gino dengan sedikit membentak Ani.


“Wah berani kamu, “ ujar Ani kesal.


“Ayok! “ teriak Gino menarik tangan Ani dan berlalu pergi dari taman.


Nara dan juga Alvian yang masih berada di posisi Alvian memeluk pinggangnya, saling bertatapan sekilas lalu kembali melihat drama di hadapan mereka.


Nara yang sadar akan posisi itu, dengan cepat ingin melepaskan tangan Alvian. Namun, Alvian semakin mengeratkan pelukannya membuat Nara seketika bertubrukan dengan dada bidangnya.


“Kenapa sayang? “ tanya Alvian yang semakin mendekatkan wajahnya.


Dengan cepat, Nara mendorong tubuh Alvian lalu berlari menjauhi pria itu menuju kolam dengan wajah memerahnya.


“Hahaha menggemaskan, “ gumam Alvian sesaat sebelum mengikuti Nara.


“Aku merindukanmu Al, “ ujar wanita itu, lalu berlalu meninggalkan taman dengan senyuman smrik.


...***


...


Kediaman Alviano


Ridwan yang baru saja kembali dari Swedia, langsung bergegas menuju rumah Alvian. Saat melangkah masuk kedalam rumah, Ia di sambut dengan pemandangan indah di depannya dimana Evan, Rani dan juga Alexo tengah asik bercanda gurau.


“Alexo, “ ujarnya membuat semua yang di sana menatap kearahnya.


“Kakek! “ teriak Alexo heboh berlari menghampiri Ridwan.


Evan dan Rani tersenyum lalu mengikuti Alexo menghampiri Ridwan yang tengah menggendong Alexo.


“Terima kasih Tuhan, anak-anak ku telah berkumpul kembali, “ ujar Ridwan menyambut Evan masuk dalam pelukannya.


“Apa kalian akan terus berpelukan sampai malam? Ayok makan! “ ujar Dianra yang baru kembali dari dapur.


Semuanya tertawa terbahak-bahak mendengar ocehan Dianra, lalu melangkah menuju meja makan.

__ADS_1


“Ayah senang akhirnya putri ayah tidak mengurung diri lagi, “ ujar Ridwan menggenggam tangan Rani.


Rani hanya tersenyum menanggapi perkataan Ridwan, lalu menatap ke arah Evan suaminya.


“Ini semua berkat Alvian dan juga-


Ucapan Evan terhenti lalu menatap ke arah Diandra dan kembali menatap wajah istrinya.


“Siapa? “ tanya Ridwan yang penasaran dengan seluruh ekspresi wajah menantunya itu.


“Calon menantu mu, “ ujar Dianra sebelum memasukkan makanannya kedalam mulut.


“Siapa gadis itu? Apa dia tau apa resikonya?! “ ujar Ridwan dengan ekspresi wajah yang terlihat marah.


“Maksud ayah apa? “ tanya Rani yang sepertinya tidak terima dengan sikap ayahnya.


“Kau tau Rani, Alvian di kelilingi banyak musuh. Gadis itu akan terus terancam, “ ujar Ridwan menjelaskan.


“Tidak perlu khawatir tuan Ridwan, aku tidak akan membiarkan siapapun menghancurkan kebahagiaan Alvian, “ ujar Victor yang baru saja memasuki rumah itu.


“Cukup Victor! Apa kau bodoh? Gadis itu akan selalu dalam bahaya, “ kesal Ridwan saat mendengar Victor lebih membela Alvian.


“Apa anda benar-benar memikirkan keadaan calon nona kami atau ada maksud lain Tuan Ridwan?! “ ujar David yang juga membuntuti Victor.


Seketika ekspresi wajah Ridwan berubah saat pendengaran menangkap suara David.


“Ayolah Ayah stop! Kau tau kan bagaimana kerasnya Alvian. Aku mohon kali ini saja, jangan rusak kebahagiaan adikku. “ ujar Rani melangkah pergi.


“Kamu apa-apaan sih Mas?! Kamu bisa tidak jangan menghancurkan kebahagiaan anak-anakku, aku capek jika setiap hari di musuhi mereka karena ulah mu, “ kesal Diandra dengan apa yang di katakan Ridwan.


“Saya peringatkan sekali lagi Tuan, jika anda berani macam-macam dengan gadis itu tidak akan kami biarkan anda menginjakan kaki disini lagi! “ telak David.


“Beraninya kalian, kalian itu hanya pengawal disini, “ ujar Ridwan dengan marah.


“Maaf tapi kami di gaji murni dengan uang tuan muda, bukan anda! “ jelas Victor.


Degh


Ridwan tidak bisa berkata apa-apa lagi, sebab memang benar semua pengawal yang berada di rumah itu, milik Alvian seorang.


Karena merasa di rendahkan oleh kedua asisten putranya, Ridwan memilih pergi meninggalkan meja makan.


“Ayah, kok kakek pergi sih? “ tanya Alexo saat melihat kepergian Ridwan.


“Ada urusan penting kalik, “ jelas Evan.


Victor dan juga David, ikut berlalu meninggalkan tempat itu menuju ruang kerja Alvian. Ruang kerja itu hanya bisa di masuki seizin pemiliknya.


.


.

__ADS_1


.


aaa makasih ya buat sudah mampir yuk ikutin terus cerita ini ❤️🌹


__ADS_2