
Alvian yang sudah sejak pukul empat tersadar dari tidurnya, berjalan menuju ruang kerjanya yang disana sudah terdapat David dan juga Victor yang tengah menunggunya.
“Bagaimana Victor, apa kata Ilone? “ tanya Alvian saat sudah duduk dihadapan kedua orang kepercayaannya itu.
“Transaksi itu akan di lakukan dalam beberapa menit lagi, akan tetapi Niko tidak ikut melakukan Transaksi busuk itu. Hanya tangan kanannya Mario dan juga Liam yang akan melakukan transaksi itu, “ jelas Victor.
“Hmmm jadi seperti itu, segera hubungi Tio dan katakan untuk hanya menyita barang-barangnya sedangkan tangan kanan Niko lepaskan mereka. Aku punya rencana yang menarik untuk mereka, “ ujar Alvian.
“Bagaimana perkembangan Evan dan juga Alexo? “ tanya Alvian.
“Apa sudah menemukan mereka Al? “ tanya Rina yang sedari tadi menguping.
Nada bicaranya memudar, di iringi dengan bulir bening matanya yang sudah membasahi pipinya.
“Rani, apa yang kau lakukan disini? “ tanya Victor menghampiri Rani.
“Katakan Victor, apa kau sudah menemukan mereka? "
“JAWAB! “ tangis Rani pecah, disaat para pria tersebut terus bungkam soal keberadaan suami dan juga putranya.
“Iyah, aku sudah menemukan mereka. Kau tenang saja hmm, aku akan segera membawa mereka kemari, “ ujar Alvian menarik Rani masuk kedalam pelukannya.
“Apa kalian bisa menepati janji itu? “ ujar Rani melepaskan pelukannya.
“Yah, dalam Minggu ini Alexo kita akan kembali, “ ujar Victor.
“Baiklah, apa rencana kalian, “ ujar Rani melepaskan pelukan adiknya, dan berjalan duduk di samping David.
“Mereka sedang di Indonesia, “ ujar Victor.
Rani yang tengah mengemil, menyimpan cikinya lalu fokus mendengarkan rencana Alvian.
“Ilone kemarin mengatakan bahwa mereka di kurung di Kalimantan, tapi letaknya dimana Ia sendiri tidak tau? sebab nyonya Lidia tak pernah mengatakan hal itu, “ ujar Victor lagi.
“Jadi? “ tanya Rani lagi.
“Sekarang hanya Rian yang bisa membantu kita, dan mungkin jam Sembilan baru mereka bisa kesini. Huftt itu akan sangat lama, “ ujar Alvian menyandarkan kepalanya di kursinya.
“Benarkah Rian akan kesini? “ tanya Rani tersenyum lebar mendengar nama Rian di sebut.
“Aaaa Aku akan meneleponnya dan dia bisa datang sekarang juga, “
Ketiga pria tersebut menganga, saat bumil mereka begitu bahagia dan antusias dengan kedatangan Rian.
“Apa dia akan berpaling dari kita? “ ujar David tak melepaskan pandangannya dari Rani yang tengah menelpon Rian di pagi buta.
“Apa?! “ tanya Rani dengan judesnya.
“Sebentar lagi mereka akan tiba disini, “ ujar Rani meletakkan ponselnya dan kembali fokus pada cikinya.
__ADS_1
Nara yang masih terlelap dalam alam bawah sadarnya, seketika terkejut disaat Rian yang sudah bersiap-siap memakai jaket dan memegang helmnya.
“Ayolah kak Rani sudah menungguku, “ ujar Rian yang begitu semangatnya.
“Apa kau gila, Ini masih jam empat lewat dua puluh lima menit Rian, “ kesal Nara sembari memakai Hoodie.
“Ma, Yah, kami pergi dulu yah, “ ujar keduanya.
Firman dan Tina hanya bisa mengangguk mengiyakan perkataan Rian. Yah sebab Rani sudah berbicara langsung kepada keduanya.
Sepanjang perjalanan mulut Nara tak bisa berhenti mengoceh sampai keduanya tiba di kediaman mewah Alvian.
“Maaf ada perlu apa sepagi ini? “ tanya Satpam.
Karena tidak ingin berlama-lama, Nara mengangkat ponselnya lalu mengambil gambar dirinya dan juga Rian. Dengan segera Ia menekan nomor Alvian, mengirimkan gambar itu.
Tak menjelang lama, satpam tersebut membukakan keduanya pagar rumah.
Setibanya di depan pintu, Maria kepala pelayan menyambut kedatangan keduanya dan mengarahkan menuju ruang kerja Alvian.
“Ya, apa kau tidak menunggu mataharinya muncul?! Aku masih ingin tidur, “ oceh Nara saat Alvian berdiri didepannya.
Karena tidak ingin terus mendengar ocehan tidak berguna Nara, Rian menerobos masuk menghampiri Rani.
“Haiii kak, “ sapanya.
Rani yang mendengar suara Rian, segera berhamburan dalam pelukan pria muda itu dengan begitu bahagianya.
“Hoho kau menertawakan ku, “ tambahnya lagi kesal dengan sikap Alvian.
Sedangkan seluruh penghuni ruangan tersebut hanya menatap keduanya dengan mulut terbuka.
“Dia terlihat seperti Bunda saat sedang marah, “ujar Rani.
David dan juga Victor hanya bisa mengangguk mengiyakan perkataan Rani. Sedangkan Rian seolah tidak perduli dengan semuanya.
“Sudahlah berhenti mengoceh, kau bisa tidur di sana, “ ujar Alvian Menunjuk sofa panjang di samping Rani dan juga Rian.
Mendengar perkataan Alvian, Nara tersenyum sumringah dan berlari menuju sofa tersebut.
“Pembuat onarnya sudah tidur, katakan kak kenapa kau memanggilku sepagi ini? “ tanya Rian.
“Aku membutuhkanmu, “ ujar Alvian sembari duduk di sofa yang sama dengan Nara berbaring lalu mengusap rambut gadisnya.
“Bantuan apa? “
Victor dan David mulai menjelaskan semuanya kepada Rian, tentang rencana mereka membebaskan Evan dan juga Alexo.
“Tapi aku belum pernah sampai meretas data-data seperti itu kak. Itu sangat sulit bagiku, “ jujur Rian.
__ADS_1
Alvian, Victor, David, dan juga Rina, seketika kehilangan akal mendengar pengakuan Rian.
Yah Rian hanya bisa melakukan pelaksanaan sederhana, jika sampai meretas Ia belum pernah mencobanya.
“Aku mohon, apa kau tidak punya seorang teman yang bisa membantu kita? “ ujar Rina dengan suara yang hampir habis menahan tangisnya.
“Ada seseorang yang bisa meretas data-data seperti itu, “ ujar Rian.
“Siapa? “ tanya David penasaran.
“Winara Atmaja, “
Seluruh mata seketika tertuju pada Nara yang tengah tertidur pulas, di tambah lagi dengan Alvian yang mengelus surai hitam Nara, membuatnya semakin tidak ingin membuka mata.
“Nara, “ ujar Alvian membangunkan Nara.
“Huft baiklah-baiklah aku akan membantu, “ ujarnya pasrah.
Semuanya menarik nafas lega ketika mendengar perkataan Nara, terutama Rani.
“Aku butuh data-datanya, “ ujar Nara.
Dengan segera David menyerahkan sebuah kertas bertuliskan data-data yang dibutuhkan oleh Nara.
Nara mulai mengotak-atik ponselnya, dan tak menjelang beberapa menit Ia tersenyum menatap Alvian.
“Aku menemukan lokasinya, “ ujarnya.
“Wooow secepat itu, Ilone saja butuh waktu beberapa hari dalam bekerja, “ puji Victor.
“Mereka tidak di kurung mereka sepertinya bebas namun, dalam penjagaan yang ketat disekitar rumah itu Ini alamatnya, “ ujar Nara sembari menunjukan ponselnya kepada Alvian.
“Persiapkan segalanya, sekarang juga kita berangkat, “ pintah Alvian melangkah pergi namun, tangannya di tahan Nara.
“Jika kau pergi seperti ini, mereka akan kembali sebagai mayat begitu juga dengan dirimu, “ ujar Nara.
“Benar apa yang di katakan Nara, Al, “ tambah Victor.
“Jadi harus bagaimana? “ ujar Alvian tidak sabar.
“Waktu yang tepat di malam hari, dan juga hanya Rani yang bisa menyelamatkan mereka, “ tambah David.
Nara mengangguk mengiyakan perkataan David, lalu kembali membaringkan tubuhnya di atas sofa.
Alvian menarik nafasnya panjang kembali ke tempatnya semula, sedangkan Rian dan juga Rani sudah sejak dua menit yang lalu menghilang dari sana.
.
.
__ADS_1
.
Berkomentarlah Dengan Bijak!!!