Dicintai Tuan Muda Alviano

Dicintai Tuan Muda Alviano
55 Alvaro berkunjung


__ADS_3

Alvian yang mendapat kabar kedatangan Alvaro ke perusahaannya, menjadi cemas.


Alvian sedari awal menginjakan kaki di perusahaan itu, pikirannya terus berputar memikirkan apa yang akan di lakukan oleh Alvaro.


David melangkah masuk kedalam ruangan Alvian, mendapati Bosnya itu tengah risau seperti memikirkan sesuatu.


"Anda baik-baik saja tuan? "


Alvian mengangkat kepalanya menatap pria di hadapannya.


"Pantau terus Nara, jangan sampai Alvaro mendekati gadisku. "


David mengangguk lalu melangkah keluar dari ruangan itu. Tak lama setelah kepergian David, Victor memasuki ruangan Alvian dengan tergesa-gesa.


"Dia sudah di depan. "


Mendengar penuturan Victor, Alvian semakin risau. Pria itu melonggarkan sedikit dasinya, berjalan menuju kursinya.


Seorang pria bertubuh tegap, dengan perawakan mirip seperti Alvian berjalan menuju ruang kerja presdir Jovanka grup.


Seluruh mata tertuju padanya, tanpa berkedip sedikit pun.


Kakinya melangkah dengan di buntuti dua orang anak buahnya, Ia melewati devisi marketing.


Saat melirik ke arah pintu masuk ruangan itu, dengan cepat David menghentikannya.


"Ruangan Alvian di sebelah sana, " ujar David, menghalangi ambang pintu devisi marketing.


Alvaro tersenyum smrik, berjalan melewati ruangan itu menuju ruangan Alvian.


"David, ada apa? "


Suara Nara yang bertanya, membuat David dengan segera berbalik.


"Tidak ada Nona, anda bisa bekerja kembali. "


Nara yang hendak melangkah keluar, di tahan David dengan segera.


"Anda harus tetap di dalam ruangan ini Nona, " ujar David.


Nara menghela nafasnya panjang, melangkah dengan sempoyongan berjalan keluar.


"Dia harus ke toilet, " ujar Ria yang juga ingin pergi dari sana.


David mengangguk, membuntuti Nara hingga sampai ke depan toilet.


Alvaro dengan senyuman mengambang, memasuki ruangan Alvian yang langsung di sambut tatapan tak mengenakan dari Victor.


"Apa begini caramu menyambut tamu? "


Victor tidak memperdulikan perkataan Alvaro, Ia berjalan lalu berdiri di samping Alvian.


"Hallo my brother, " sapa Alvaro.


Sama seperti Victor, Alvian juga tidak memperdulikan kehadiran pria itu.


"Farhan, sepertinya kau harus menghancurkan tempat ini baru mereka mau menyambut kedatangan kita, " ujar Alvaro tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Alvian.


Alvian menatapnya tajam, menghentikan kegiatannya dengan laptop mendekati Alvaro.


"Katakan, ada apa kemari? "


Mendengar nada suara tak bersahabat dari lawan bicaranya, Alvaro terkekeh pelan.


"Santai saja, aku hanya berkunjung, " ujar Alvaro santai.


"Dan juga, menjemput calon Kaka iparku. "


Alvian yang sedari tadi mengontrol emosinya, kali ini Ia benar-benar ingin melupakan api dalam dirinya.

__ADS_1


"Jangan macam-macam Varo, " tegas Alvian.


"Hahaha, kenapa kak kau takut aku merebutnya? "


Victor yang sudah terlebih dahulu tersulut emosi, mengarahkan senjatanya tepat pada kening Alvaro.


Tak tinggal diam, Farhan juga dengan sigapnya mengarahkan senjatanya kearah Victor.


"Farhan! "


Satu suara yang keluar dari mulut Alvaro, dengan segera membuat anak buahnya menurunkan senjatanya.


"Kau tidak berubah Victor, sepertinya kau menuruni amarah tuan muda mu ini, " ujar Alvaro yang terdengar meledek.


Nara yang baru saja keluar dari toilet, terkejut saat melihat David sedari tadi menunggunya.


"Ayolah David, aku tidak akan kenapa-kenapa, " kesal Nara.


Pria itu sama sekali tidak memperdulikan perkataan Nara, Karena kesal Nara berjalan menuju ruang kerja Alvian.


"Nona, aku mohon jangan ke sana sekarang, " ujar David.


Nara yang di larang seperti itu oleh David, justru semakin membuatnya penasaran.


Dengan sedikit berjalan cepat, gadis itu melangkah menuju ruangan Alvian.


"Saya mohon nona, jangan kesana! "


David ikut melangkah mendekati Nara, mencoba membujuk agar gadis itu tidak masuk ke sana.


"Tidak David, saya harus menyerahkan berkas ini, " ujar Nara sembari menunjuk sebuah map di tangannya.


Sedangkan di dalam ruangan Alvian,


Victor sama sekali tidak memperdulikan perkataan Alvaro, Ia semakin gila ingin menghabisi pria itu.


Eksepsi wajah Alvaro yang sedari tadi tersenyum, berubah masam saat Alvian membentaknya.


"Sudah ku katakan Al, aku kesini untuk membawa pergi calon kakak iparku, " ujarnya santai.


Alvian yang sudah tersulut emosi, menarik kerah baju Alvaro.


Saat itu, Farhan yang reflek hendak menghentikan Alvian mengurungkan niatnya saat tangan Alvaro terangkat.


"Berhentilah mencari masalah denganku Varo, " ujar Alvian dingin.


"Al, tolong minta David untuk tidak mengikuti terus. "


Mendengar suara kecil itu menembus dinding pendengarannya, mata Alvain membulat lalu melepaskan tangannya dari kerah baju Alvaro.


Alvaro tersenyum puas melihat kehadiran Nara di sana.


Nara yang sudah berada dalam ruangan itu, terbelak kaget melihat kehadiran Alvaro di sana.


"Alvaro, " ujarnya mendekati pria itu.


Namun, dengan cepat Alvian menariknya bersembunyi di balik punggung pria itu.


"Hai Winara. "


Wajah Alvian semakin memerah, menahan amarahnya saat Nara membalas senyuman Alvaro.


"Kenapa kemari? hmm, " tanya Alvian lembut sembari memegang kedua pipi Nara.


"Ada berkas yang harus kau lihat, " ujarnya.


Alvian mengarahkan tangannya ke meja, dengan cepat Nara meletakkan dokumen itu di sana.


"Apa kau mengenalnya? "

__ADS_1


Pertanyaan yang keluar dari mulut Nara, membuat Alvian semakin terbakar api dalam dirinya.


"Ia Winara, kami sangat begitu dekat. "


Bukan Alvian yang menjawab, melain Alvaro. Pria itu dengan lancangnya memegang tangan Nara, membawa gadis itu menuju sofa.


"Benarkah, kenapa kemarin kau tidak memberitahu ku? "


Alvian yang mendengar hal itu, semakin memupuk kemarahan dalam dirinya.


Dengan begitu kasar, Pria itu menarik Nara dari sofa menjauhi Alvaro.


"Aw sakit Al, " ringis Nara.


Genggaman keras dari tangan besar Alvian, membuat tangan mungilnya merasakan sakit yang luar biasa.


"Lepaskan Al, kau menyakitinya. "


Kata-kata yang lolos dari mulut Alvaro, tak membuat Alvian melepaskan tangannya.


Victor dan David yang melihat Nara sudah meneteskan air matanya, mendekati Alvian.


"Tuan, "


"Diam! " teriak Alvian menggema.


Nara yang ketakutan dengan suara Alvian, melepaskan paksa tangan kekasihnya itu.


"Lihatlah Al, kau menyakitinya. "


Melihat kepergian Nara, satu serangan dari Alvian menghantam keras wajahnya.


Farhan dengan cepat, membantu Alvaro yang sudah tersungkur jauh.


Tanpa memperdulikan pria itu, Alvian berlari mengejar Nara yang sudah jauh dari sana.


Alvian memasuki devisi marketing dengan nafas memburu, tidak menemukan keberadaan Nara.


Pria itu menutup asal pintu, berlari menuju parkiran. Saat matanya melihat ke atas, Ia menemukan sosok Nara yang sudah berada di atas atap.


"Sudah ku katakan Varo, jangan pernah mencoba mendekati Nara, " ujar Victor.


Alvaro mengusap sudut bibirnya, tersenyum meremehkan perkataan Victor.


"Sayangnya kau salah, aku akan merebutnya dari tuanmu, " kekeh Alvaro.


"Lakukan saja, ku pastikan nyawamu akan terpisah dari tubuhmu, " ancam David.


Mendengar perkataan kedua anak buah Alvian, Alvaro tertawa renyah.


"Sebegitu mengabdinya kalian, " ujarnya.


Alvaro bangkit dari duduknya, hendak berjalan menuju pintu. Tangannya dengan cepat di tahan Victor.


"Jangan pernah berpikir untuk mendekati Nara. "


Alvaro tertawa kecil, mendorong tubuh Victor berlalu bersama Farhan meninggalkan Jovanka grup.


"Mari kita lihat, siapa yang akan menjadi tempatnya berpulang, " gumam Alvaro.


.


.


.


Makasih buat yang sudah mampir ke cerita aku 🌹


yuk komen sama likenya dong biar aku tau ada yang baca ❤️

__ADS_1


__ADS_2