
Seorang gadis cantik, berjalan menarik kopernya keluar bandara menemui jemputannya.
"Mau langsung pulang Nona? " tanya supir.
Hanya sebuah anggukan kecil yang di dapat supir, lalu Ia melaju meninggalkan bandara.
"Tapi pak, bisa kita lewat depan Jovanka grup? hanya lewat saja. "
Seolah membalas, supir itu juga hanya memberi anggukan sebagai respon dari perkataan wanita itu.
Ketika mobilnya mulai melaju mendekati Sagara grup, matanya tak henti menatap keluar mobil.
"Sepertinya dia tidak ada, " gumamnya pelan.
Mobilnya terus melaju, meninggalkan halaman kantor Jovanka menuju kediamannya.
"Aku merindukanmu. " batinnya pelan.
Saat ini, tepatnya di kediaman Alvian dengan sedikit tergesa-gesa David dan Victor mendekati Alvian yang berada di meja makan.
"Kemana saja kalian?! " bentak Alvian.
Mau bagaimana lagi? keduanya harus menerima resiko di teriaki Alvian seperti itu, sebab jika tidak berteriak mungkin saja Alvian akan membunuh setiap orang yang bernapas dengan udara yang sama dengannya.
"Maaf tuan, ada harus di bereskan. "
Mendapat tatapan yang seolah menunggu lanjutan perkataan Victor, David menyodorkan tabletnya kepada Alvian.
"Tarik kembali saham kita, mereka pikir selama ini saya akan diam saja! " pintah Alvian.
Salah satu rekan kerja sama Alvian yang bernama Carli, saat ini sudah banyak melakukan penggelapan dana dari proyek yang bekerja sama dengan perusahaan Alvian.
David dengan segera, menuntaskan pekerjaannya dalam lima menit. Kembali menyodorkan tabletnya, David memberitahu Alvian bahwa apa yang di perintahkan tadi sudah terlaksana.
"Hubungi Ilone, siapkan semuanya dua Minggu lagi aku ke Swedia."
Nara yang sedari tadi berdiri di ambang pintu, sedikit mengusap pipinya lalu kembali melangkah mendekati Alvian.
"Ada yang harus anda baca, " ujarnya setelah menaruh sebuah map di atas meja.
Sama sekali tidak ingin menatap wajah Nara, Alvian memeriksa isi berkas itu.
Victor lebih memilih meninggalkan meja makan, dari pada harus ikut menyaksikan kepahitan yang ada di depannya.
"Siapa yang memberikan ini padamu? "
Nada suara yang begitu tenang namun, bagi Nara itu seperti sebuah penolakan akan hadirnya di sana.
"Bu Irma, " jawab Nara.
"Saya permisi tuan, Nona, ada yang harus di urus."
Tak mau menunggu jawaban persetujuan dari Alvian, David juga ikut berlalu dari sana meninggalkan kedua insan yang saat ini, suana di antar mereka seperti sedang dalam benua Antartika yang begitu dingin.
"Bagian ini tidak balance dengan ini, revisi dan teliti! " bentak Alvian.
Cukup sudah, Nara sudah tidak bisa menahan sikap dingin Alvian. Bulir beningnya lolos begitu saja, sembari menyeka air matanya Nara mengambil berkas itu.
"Selamat pagi Nona, Tuan tukang yang akan merenovasi kolam belakang sudah tiba, " ujar Pak Very ketika sudah di depan Alvian.
"Mulai saja pekerjaannya."
__ADS_1
Setelah mengkonfirmasi dan mendapat jawaban dari Alvian, Pak Very melangkah pergi.
Nara yang sedari tadi masih di sana, perlahan ikut mengundurkan tubuhnya berlalu pergi.
"Mau kemana kamu?!"
Langkah kakinya kembali terhenti, ketika suara teriakan Alvian mencapai telinganya.
"Pekerjaan saya di sini sudah selesai, saya harus kembali ke kantor. "
Begitu formalnya bahasa yang di gunakan
Nara, membuat pendengar Alvian begitu malas mendengarnya.
"Mau kembali ke kantor, atau ingin bertemu pria lain? "
Nara yang tadinya menundukkan kepala, mengangkat wajahnya menatap Alvian bingung akan maksud dari pria di hadapannya itu.
"Maksudmu? "
"Huh, nggak usah sok polos sayang, aku tau kau tidak ingin pulang bersamaku, karena bertemu pria lain iya kan?" ujar Alvian berapi-api.
"Apa kau mabok susu? "
Tak memperdulikan ocehan konyol Alvian, Nara berlalu pergi keluar rumah.
Alvian sama sekali tidak mau menghentikan gadis itu, Ia memilih melanjutkan kembali makannya.
Setibanya di halaman depan, Nara mengusap kasar wajahnya. Mbok Ina yang sempat melihat Nara, berlari cepat kembali kedalam rumah.
"Tuan, no-
"Biarkan saja. "
Setelah menyelesaikan sarapannya, Alvian menekan tombol pada ponselnya, mengirim pesan kepada Victor agar pria itu menjemputnya di parkiran.
Benar saja, ketika sudah tiba di parkiran rumahnya, Victor menyambutnya dengan menerima tas dari tangan Alvian.
Setelah itu, keduanya melaju menuju kantornya.
Nara yang sudah terlebih dahulu kembali ke kantor, berjalan cepat menuju devisi marketing.
"Udah nganterinnya? "
Nara mengangguk, menjawab pertanyaan Sendri yang sudah berdiri di hadapannya.
Dimenit berikutnya, Irma bersama Meri dan juga Ana, memasuki ruangan itu.
"Nara, sudah di antar? "
Nara memilih bangkit dari duduknya, berjalan menyerahkan berkas tersebut.
Helaan nafas Irma terlihat kasar, ketika melihat coretan yang di bubuhkan Alvian.
"Semangat buk, " ujar Ana menyemangati.
Semua yang berada di sana, sedikit terkekeh melihat ekspresi capek pada wajah Irma.
"Sudah lanjutkan kerja kalian. "
Mendengar perintah dari kepala devisi mereka, anak-anak Meri langsung menuju meja mereka masing-masing.
__ADS_1
Alvian dan juga Victor yang baru saja tiba di parkiran, di sambut David dengan ekspresi yang begitu resah.
"Ada apa? "
"Dia sudah kembali tuan, " ujar David.
Victor yang tadinya memegang tas Alvian, seketika menjatuhkan tas itu begitu saja.
Akan sangat rumit kehidupan bosnya kedepan, dirinya harus segera mempersiapkan segala sesuatu agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Seolah tidak memperdulikan perkataan David, Alvian berlalu begitu saja menuju ruangannya.
Walaupun berusaha tenang, tetap saja pria itu sebenarnya risau dengan apa yang di katakan David.
Alvaro dan Lidia belum beres, ini sudah muncul masalah baru.
Kakinya sedikit terhenti, saat maniknya menatap kedalam ruang kerja Nara yang d sana, Nara tengah asik berbincang dengan Sendri.
Entahlah apa yang ada pikirannya, Alvian melonggarkan dasinya berjalan menuju ruangannya.
"Nona, apa kita bisa bicara berdua? "
Di luar nalar Victor, David justru menghampiri Nara. Nara yang juga penasaran apa yang ingin di sampaikan David, bangkit dari duduknya berjalan membuntuti David sampai ke tangga darurat.
Victor yang hendak mengikuti mereka, mengurungkan niatnya ketika Ana mendekatinya.
" Laporannya sudah siap, " ujar Ana setelah laporan yang di berikannya di terima Victor.
Ketika kaki mereka sudah menginjak tepat di samping tangga darurat, David berbalik namun tidak berani menatap wajah Nara.
"Tolong apapun yang terjadi, jangan pernah tinggalkan tuan muda. "
Nara mengusap kasar wajahnya, menatap lekat wajah David.
"Apa maksudmu? aku tidak meninggalkannya, " ujar Nara tenang.
"Tapi nona, akhir-akhir ini anda sepertinya menghindari tuan."
Senyuman pahit terukir pada bibir manis Nara, dimana ketika kata-kata David seolah terbalik dengan keadaan sekarang.
"Aku tau dia bosmu, tapi apa kau tidak sadar yang mencoba menjauh itu aku bukan dia, " tukas Nara.
"Maaf Nona, saya jadi salah paham."
Hanya anggukan kepala yang di dapat David, setelahnya kekasih tuannya benar-benar berlalu dari sana.
"Ayolah Tuan, dia gadis yang baik. Anda tidak perlu marah sebelum mengetahui kebenarannya. " batin David.
Sebegitu mengabdinya Ia dengan Alvian, sampai urusan asmara tuannya pun Ia harus turun tangan. Tak hanya dirinya saja, Victor juga begitu risaunya sama dengannya, ketika Alvian seolah menjauhi Nara.
.
.
.
Hai pembaca setiaku...
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.
__ADS_1
Dan lagi satu, yuk kritik dan sarannya dong 😚