
Nara yang dari semalam tak kunjung pulang, mengundang kekhawatiran yang sangat besar dalam keluarganya terutama sang Mama.
“Rian apa kau tidak bisa mencari kakakmu? “ marah Tina yang begitu kesal melihat Rian hanya berdiam diri saja.
“Kau juga mas, anakmu belum pulang kamu malah asik menikmati gorengan bodoh itu, “
Rian menarik nafasnya panjang lalu mengambil jaketnya dan berjalan mengikuti ayahnya yang sudah lebih dahulu di atas motor.
Saat baru akan menghidupkan motornya, sebuah Alphard putih terparkir di depan rumah Atmaja.
“Rian apa Nara di rumah? “ tanya Alvian berusaha tenang.
Setelah mendapat gelengan kepala dari Rian, Alvian kembali masuk kedalam mobilnya.
“Kamu mau kemana? “ tanya Rian.
“Mencari Kakakmu, “ jawab Alvian dengan raut wajah panik, marah bercampur satu.
“Aku ikut, ayah kembali saja kedalam, “ pintah Rian yang ikut masuk kedalam mobil Alvian tanpa menunggu jawaban dari sang empunya.
Dengan segera Alvian dan Rian meninggalkan tempat itu. Firman yang kebingungan mematikan kembali motornya dan masuk kedalam rumah.
“Loh mas, kok nggak pergi? “ tanya Tina.
“Rian bersama teman Nara yang mencarinya, kita tunggu saja kabar dari Rian, “ ujar Firman menenangkan istrinya.
"Tapi kan mas, " serkah Tina lagi.
"Sudahlah buk, jika besok pagi Rian tidak kembali baru saya ikut mencari juga, " ujar Firman kembali ke meja makan.
Setibanya di rumah Alvian, Ia bersama Rian masuk kedalam rumah. Rian yang baru pertama melihat rumah semewah itu, berdiri mematung. Di tambah seluruh pengawal memberi hormat ketika Alvian, yang semakin membuat Rian tak bisa berkata-kata.
“Ayok, “ ujar Alvian Membahayakan lamunan Rian.
Setiba keduanya di dalam rumah, seluruh mata menatap hanya ke arahnya membuat Rian begitu gugup.
“Tidak usah takut mereka anak buah ku, “ ujar Alvian yang tau dengan pertanyaan dalam benak Rian.
“David sudah sadar? “ tanya Alvian kepada Victor.
“Sudah, dia siapa? “ tanya Victor melihat kehadiran Rian di tengah mereka.
“Nanti kau akan tau, panggil David, “ ujar Alvian.
Salah seorang pengawalnya berlari menuju kamar David, dan kembali dengan membuntuti David dari belakang.
“Jelaskan apa yang terjadi, “
David mengangguk lalu menceritakan semuanya.
Flashback 13 jam yang lalu
Setibanya di rumah Alvian menggunakan taksi, David dengan segera berjalan menuju meja makan yang di sana sudah ada Rani.
“Hai Nona, “ sapanya yang di jawab senyuman manis dari Rani.
__ADS_1
“Dimana Alvian? “ tanya Rani.
“Mengurus calon adik ipar mu, “ jawab David santai sembari memasukkan beberapa biskuit Rani kedalam mulutnya.
“Wooow, Desi bawakan aku teh ke taman! “ teriaknya lalu pergi meninggalkan David.
Saat tengah asik menikmati biskuit Rani, tiba-tiba seorang bodyguard masuk dengan beberapa lebam di wajahnya membuat David menghentikan kegiatannya.
“Ada yang menyerang di depan Tuan, “ ujarnya.
“Lindungi Nona muda, “ pintah David Lalu berlari keluar rumah.
Saat sudah di luar seorang pria menebaknya namun, dengan lihainya Ia menghindar dengan cepat.
Tak menjelang lama, Victor memarkirkan mobilnya dan mulai membantu David menghajar seluruh musuh.
“David lindungi Nona Rani, “ pintah Victor.
Namun, tanpa di sadarinya Ia malah pingsan akibat pukulan keras di belakang lehernya.
Flashback off
“Apa kau tau siapa pelakunya? “ tanya Alvian.
David hanya menggeleng sebab, dirinya pun sama sekali tidak mengetahui siapa dalang di balik penculikan Rani.
“Aku ingat, sebelum Rani pingsan Ia sempat meneriaki GPS, “ ujar Victor yang seolah membuka jalan bagi mereka untuk menemukan Rani.
“Tapi Tuan, Ilone sedang berada di Swiss bagaimana kita bisa melacak keberadaan Nona muda? “
“Aku bisa membantu kalian," ujar Rian
"Apa kau yakin bisa? " tanya Alvian memastikan sebab, ini sangat berbahaya bagi korban.
"Ia aku bisa, tapi bagaimana dengan Nara? “ tanya Rian menatap Alvian.
Sebab, Sedari tadi Ia disini sepertinya sia-sia jika tidak menemukan Nara.
“Bram sebutkan ciri-ciri wanita yang di pindahkan semobil dengan Rani, “ pintah Alvian.
“tingginya sekitar seratus lima puluh tiga, tidak terlalu, memakai hoodie putih dan juga baggy jeans serta rambutnya terurai panjang. Yah, Hoodienya mirip dengan punyamu, “
Degh
Jantung Rian berdegup kencang saat mengetahui kakanya pun ikut di culik. Tapi, apa motifnya Ia sendiri masih belum mengetahuinya.
“Dengar Rian, aku tidak akan memberikan siapapun menyentuh milikku, “ ujar Alvian dengan tegasnya.
“Baiklah aku akan membantu tapi tolong, selamatkan Nara, “ mohon Rian, yang di jawab anggukan kecil dari Alvian.
“Aku butuh earphone, tablet, dan juga dua laptop, “ ujar Rian meminta apa yang diperlukannya.
Setelah mendapatkan apa yang di minta tadi, dengan cepat Rian mulai mengoperasikan benda-benda dihadapannya dengan begitu lihainya.
Alvian dan anak buahnya yang melihat itu, membulatkan matanya. Bagaimana tidak, bahkan Ilone saja tidak pernah mampu sampai ke program yang di masuk Rian.
__ADS_1
“Aku butuh ID GPS itu, “ ujar Rian tanpa melepaskan pandangannya dari laptop.
Dengan segera David menyerahkan ID GPS yang terpasang pada Rina. Setelah memasukkan ID tersebut, Rian menekan tombol Enter lalu melepaskan earphone dan menyerahkan ke Alvian.
“Pakai Earphonenya, “ pintah Rian yang seketika membuat seisi ruangan tertawa kecil. Sebab, baru kali ini ada yang memerintah seorang Alviano Jovanka.
“Jika kalian masih tertawa akan ku pastikan mulut kalian di jahit, “ Kata-kata yang keluar dari mulut Alvian membungkam seluruh mulut yang terkekeh tadi.
Beberapa detik berikutnya, Tampilan di layar laptop dan tablet saling berhubungan menunjukkan lokasi Rina dan Nara yang di kurung.
“Itu lokasinya, “ ujar Rian menunjuk ke arah layar laptop.
Yah benar saja, Alvian bisa mendengar suara lantang Nara berteriak meminta tolong dan di ikuti teriakan Rani.
“Bang sat! “ umpat Alvian melepaskan earphone tak kuasa mendengar suara kedua wanitanya.
“David perintahkan beberapa orang pengawal dan ikut denganku, Victor kau ke markas ambil beberapa granat, “ pintah Alvian yang sudah siap beraksi.
Namun, Rian menahan tangannya dengan cepat sebelum Alvian melangkah pergi.
“Jika kau pergi terburu-buru mereka akan dalam bahaya, “ ujar Rian.
Alvian mengangkat tangannya menghentikan langkah David dan Victor yang hampir mencapai pintu.
“Lalu aku harus bagaimana? gadisku dan juga Kakaku sedang dalam bahaya sekarang, “ tanya Alvian.
David dan juga Victor yang mendengar kata gadis keluar dari mulut Alvian, keduanya seketika bertatapan lalu tersenyum.
"Sepertinya Macan ini akan tidur sebentar lagi, " gumam Victor pelan, yang ikut di angguki David.
“Aku punya rencana ini juga rencana Nara ketika kami sedang bermain game waktu kecil, “ ujar Rian.
Alvian kembali duduk di hadapan Rian lalu meletakkan semua barang-barangnya dan mulai mendengarkan rencana buatan Nara melalui mulut Rian.
“Baiklah aku setuju tapi, bagaimana cara menghubungi Nara dan Rani? “ tanya Alvian.
Rian mengeluarkan sebuah Drone dan kertas lalu meletakkan di atas meja.
“Drone? “ujar Alvian mengundang rasa penasaran David dan menghampirinya.
“Dari mana kau mendapatkannya, “ tanya David.
Rian tersenyum smrik mengingat kejadian Dimana dirinya berhasil mengambil benda-benda tersebut tepat di hari dimana Nara melaksanakan ujiannya.
.
.
.
.
BERKOMENTARLAH DENGAN BIJAK!!
MAKASIH SUDAH MAMPIR 🌹
__ADS_1