Dicintai Tuan Muda Alviano

Dicintai Tuan Muda Alviano
57 Teman Lama


__ADS_3

Nara yang sedari kemarin tidak di perdulikan kekasihnya, mengambil ponselnya.


Gadis itu menekan nomor Alvian, mengirimkan beberapa pesan padanya.


......Kak Al 🌹......


^^^^^^Lagi apa kak?^^^^^^


Melihat pesannya sama sekali tidak di baca, Nara meletakkan ponselnya kembali fokus pada laptopnya.


Nara tersentak kaget, saat bahunya di pegang oleh Carl HRD perusahaan Jovanka.


"Ada apa Pak? "


Carl meletakkan beberapa map pada meja Nara, Menyuruh gadis itu melihat isinya.


"Bantu saya mewawancarai mereka, " ujar Carl.


Nara melihat sekilas isi map itu, bangkit dari duduknya berjalan mengikuti Carl ke ruangan interview.


Setibanya di sana, Nara melirik kesekeliling ruangan yang sama sekali tidak berpenghuni.


"Loh, mana orang-orangnya? "


"Sebentar lagi, mereka sedang mendapat arahan dari tuan Victor. "


Nara hanya bisa mengangguk, mengiyakan perkataan Carl. Gadis itu berjalan mengitari ruangan itu, mengusir kebosanan.


"Nara, mereka sudah datang, " ujar Carl.


Nara berjalan mendekati Carl, meletakkan map yang ada di tangannya di atas meja.


"Astaga, " ujar Carl seperti kehilangan sesuatu.


"Ada apa pak? "


"Ponselku ketinggalan di atas meja kerjaku. "


"Biar saya yang ambil, " tawar Nara.


Bukan penawaran, sebab gadis itu sudah berjalan meninggalkan tempat tersebut tanpa menunggu persetujuan dari Carl.


Setibanya di ruang kerja Carl, Nara langsung mengambil ponsel Carl berjalan keluar ruangan.


Kakinya terhenti di ambang pintu, saat sosok Alvian berada di depannya.


"A-


Belum sempat Nara mengeluarkan suaranya, Alvian sudah bergegas meninggalkan ruangan Carl berjalan ke arah kantin.


Nara menarik nafasnya panjang, melangkah berlawanan arah dengan Alvian kembali menemui Carl.


"Pak, ini ponselnya, " ujar Nara.


Nara menyodorkan benda pipi itu kepada Carl, lalu mendekati sebuah kursi yang berada di sana.


"Kaki mu masih sakit? "


Nara mengangguk mengiyakan perkataan Carl, dengan pandangan yang masih fokus pada berkas di tangannya.


"Jika masih sakit, kau bawah kursi itu duduk di dekat pintu, " ujar Carl.


Nara yang patuh akan perkataan Carl, menarik kursi mendekati ambang pintu.


Ana dan juga Ria yang baru saja kembali dari ruangan David, tak menemukan keberadaan Nara lagi.


"Buk Mer, kemana Nara? "


Meri dan juga Sendri yang baru saja tiba di ruangan itu, menggelengkan kepala pertanda tak tau kemana gadis itu pergi.


"Kantin deh kayak, " ujar Ana.


Tak ingin berlama-lama lagi, Ria menarik tangan Ana keduanya beriringan menuju kantin.


Meri dan juga Sendri yang melihat hal itu, hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Alvian yang baru saja kembali dari kantin, berjalan menuju ruang interview dengan membawa beberapa makanan di tangannya.

__ADS_1


Pria itu menghentikan langkahnya, saat sosok Nara memenuhi matanya tengah duduk di dekat pintu.


"Tuan muda, " ujar Nara.


Darah dalam tubuh Alvian seolah berdesir hebatnya, ketika kata-kata tuan muda keluar dari mulut kekasihnya.


"Carl, setelah selesai temui aku di ruangan ku, " ujar Alvian.


Carl mengangguk antusias, lalu kembali fokus pada berkas di tangannya ketika Alvian sudah melangkah pergi.


Melihat kepergian Alvian, Nara yang sudah sangat lelah di tambah denyutan kakinya yang luka, memilih diam tidak ingin mengejar Alvian.


"Nara, panggil peserta wawancaranya masuk."


Nara mengangguk, sedikit mengintip keluar ruangan yang memang sudah di penuhi oleh beberapa orang.


"Arista Putri! "


Seorang gadis cantik dengan tampilan yang mewah, melangkah masuk ketika namanya di panggil.


"Minggir loh, ngalangin jalan tau, " ketusnya kepada Nara.


Nara dengan sedikit tertatih, berpindah posisi memberinya jalan. Carl yang melihat itu, menatap gadis itu tajam.


"Kenapa mau melamar di sini? "


Di saat gadis itu belum merasakan kursi, Carl sudah melontarkan pertanyaan kepadanya.


"Saya cantik, berprestasi yah masa nggak kerja di Jovanka grup sih, " jawabnya.


"Keluar! "


Tak hanya gadis itu, Nara juga kaget dengan ketegasan Carl. Ia seolah melihat Alvian dalam diri Carl.


"Tap-


Belum sempat gadis itu berbicara penuh, tangan Carl sudah mengusirnya keluar.


"Mario Balo! "


"Kenapa mau melamar di sini? "


Pertanyaan yang sama di lontarkan Carl, ketika Mario baru menginjakkan kaki di ambang pintu.


"Karena saya punya potensi di bidang tertentu, dan juga saya akan selalu meningkatkan kemampuan saya agar perusahaan tidak rugi menerima saya. "


Carl mengangkat tangannya, mengisyaratkan agar pria itu keluar.


Pria itu mengangguk patuh, melangkah keluar dari sana.


"Wawancara macam apa ini? " gumam Nara pelan.


Setelah kepergian Mario, Nara mengintip ke arah berkas di tangannya.


"Bianka Putri! "


Nara sontak kaget, memeriksa ulang berkas di tangannya.


"Bianka Putri, " ujarnya pelan.


Seorang gadis cantik dengan wajah begitu familiar, mendekati Nara sembari tersenyum lebar.


"Hahaha, " tawa Nara pecah, saat sosok yang di akui Bianka menghampirinya.


"Aku merindukanmu Nara. "


Bianka sedikit berlari, memeluk erat tubuh Nara.


"Akhm, " deheman dari Carl membuat keduanya tersadar.


Dengan cengengesan, Bianka berjalan mendekati meja Carl.


"Katakan, kenapa mau melamar di sini? apa karena dia temanmu? " ujar Carl melirik ke arah Nara sekilas.


"Maaf pak, saya punya potensi dalam bidang saya dan saya yakin kita bisa bekerja sama dalam memajukan perusahaan. Soal saya teman dia, saya juga baru tau jika Nara kerja di sini. "


Carl sama sekali tidak memperdulikan perkataan Bianka, pria itu sibuk memperhatikan berkas pada tangannya.

__ADS_1


"Besok mulai kerja. "


Bianka yang kaget, mengedipkan matanya berulang kali. Tak hanya Bianka saja, Nara pun ikut terkejut akan hal itu.


"Baik pak, terima kasih. "


Bianka berjalan mendekati Nara yang berdiri di ambang pintu, dengan senyuman mengambang.


"Yeah Ara, kita bakal sama-sama lagi. "


Nara menggangguk, lalu memeluk erat tubuh Bianka.


"Nara, Istirahat tiga puluh menit. "


Nara berjalan mendekati Carl, menyimpan berkas lamaran itu di atas meja Carl, bersama Binaka kedua berjalan keluar.


"Kita duduk di sana saja Ara, " ujar Bianka menunjuk ke arah sebuah kursi yang berada di dekat lift.


Keduanya beriringan menuju kursi itu, Nara tak hentinya tersenyum melihat Bianka.


"Ayolah Nara, berhentilah tersenyum. Nanti kita di kira lesbian lagi, " ujar Bianka.


Tawa keduanya pecah secara bersamaan. Masa-masa seperti ini, selalu di rindukan Nara.


"Mengapa nomormu sudah tidak bisa di hubungi lagi? Aku juga pernah kerumahmu, rumahmu kosong. "


"Ponselku rusak, dan semenjak hari wisuda itu kami tidak pernah di rumah, " jelas Nara.


"Maksudnya Nara? "


Bingung dengan apa yang di katakan Nara, Binaka menatap wajah sahabatnya itu.


"Ayahku koma sudah hampir tiga bulan ini, jadi aku, Rian, dan juga mama selalu di rumah sakit. kota baliknya pagi, siangnya pulang lagi ke rumah sakit. "


Bianka terdiam sebentar, Ia sama sekali tidak mengetahui kalau Firman koma. Itulah sebabnya, dirinya tidak pernah berkunjung.


"Bagaimana kabar Marni? "


"Dia sibuk dengan kafenya, " jawab Bianka.


"Lalu Bastian? "


Bianka yang mendengar hal itu, menatap lekat wajah Nara dan tanpa di sadarinya air matanya jatuh begitu saja.


"Dia berselingkuh. "


Nara dengan segera, membawa Bianka masuk kedalam pelukannya.


"Lupakan dia, ayok ceritakan bagaimana kau bisa bekerja di sini? "


Nara menceritakan semuanya kepada Bianka. Cukup lama keduanya mengobrol,hingga akhirnya keduanya di sadarkan dengan kemunculan Alvian.


"Dia, " ujar Bianka menatap Nara.


Tatapan Nara tidak lepas dari wajah Alvian yang berjalan mendekati keduanya.


"Iku saya ke ruangan. "


Mendengar perintah Alvian, Nara mengangguk mengiyakan perkataan pria itu.


"Bi, Nanti kita bicara lagi aku haru pergi. "


"Ya, pergilah aku harus pulang. Ini nomorku, jangan lupa hubungi aku. "


Nara menerima kertas kecil dari Bianka, lalu melangkah mengikuti Alvian yang sudah jauh dari hadapannya.


"Hallo, temui aku di tempat biasa, " ujar Bianka dari balik teleponnya.


Gadis itu memasukan ponselnya dalam tas, tersenyum smrik menatap punggung Nara kemudian melangkah pergi.


.


.


.


Makasih ya sudah mau mampir ke cerita aku 🌹 yuk komen sama likenya dong biar aku tau ada yang baca ❤️

__ADS_1


__ADS_2