
Alvian menurunkan tubuh Nara ketika sudah berada di ranjang dalam ruang kerjanya.
Ruang kerja Alvian di lengkapi dengan sebuah kamar, dengan fungsi ketika Ia lembur dirinya bisa beristirahat di sana.
Alvian melangkah mengambil kaosnya dan juga sebuah celana yang sudah disiapkan David atas perintah Alvian.
Pria itu membuka baju Nara, sampai tersisa hanya dalaman saja.
"Biar aku saja Kak, " ujar Nara mencegah tangan Alvian yang sudah hampir jauh.
"Aku tidak akan apa-apakan kamu sayang. "
Nara terlihat berpikir sebentar, lalu membiarkan Alvian membantunya mengenakan baju.
"Mau aku bantu mengganti celana? "
Nara sedikit mendorong tubuh Alvian, bangkit berjalan menuju kamar mandi.
Alvian membaringkan tubuhnya di atas ranjang, sembari memainkan ponselnya menunggu Nara.
Setelah selesai mengganti celananya, Nara menghampiri Alvian.
"Kemari, " titah Alvian.
Pria itu menepuk sedikit tempat disebelahnya, kemudian menarik Nara berbaring di atas dada bidangnya.
Nara menempelkan telinganya pada dada bidang Alvian, sembari mendengarkan detak jantung pria itu.
"Aku mencintaimu, " ujar Alvian.
Gadis itu tersenyum tak menjawab perkataan kekasihnya, Ia malah bangkit dari atas tubuh Alvian.
"Mau kemana? " tanya Alvian.
Nara yang sudah hendak pergi, tangannya di tarik Alvian membuatnya terjatuh di atas pangkuan pria itu.
"Kak, aku harus kembali bekerja, " ujar Nara.
Alvian tak menjawab pertanyaan Nara, tangannya sudah jauh masuk kedalam baju Nara mencari gundukan kembar milik gadis itu.
Alvian sedikit meremas gundukan itu, sembari membenamkan wajahnya pada leher jenjang Nara.
"akh. "
******* yang keluar dari mulut Nara, membuat Alvian seketika melepaskan tangannya.
"Maafkan aku, " bisik Alvian.
Nara hanya menatapnya tanpa suara, kemudian mengeratkan pelukannya pada tubuh Alvian.
"Aku capek, " titah Nara pelan.
Alvian mengusap lembut punggung Nara, sembari mencium tangan gadis itu.
"Ya sudah hari ini tidak usah bekerja, " ujar Alvian.
Nara melepaskan pelukannya, menatap Alvian dengan senyuman khasnya.
"Benarkah? "
"Hmm. "
Mata Nara berbinar-binar, Ia lekas turun dari pangkuan Alvian berjalan keluar ruangan Alvian.
Alvian dengan tanpa ekspresi, mengikuti langkah Nara yang sudah tiba di depan devisi marketing.
"Kak Mer, hari ini Nara nggak kerja, "
Mendengar penuturan Nara, Meri dan juga Sendri melepaskan kegiatannya menghampiri gadis itu.
__ADS_1
"Kamu baik-baik saja cantik? " ujar Meri memegang tangan Nara.
Nara mengangguk mengiyakan perkataan Meri, mengambil tasnya.
"Tuan muda, " ujar Sendri.
Mari dan juga Nara mengalihkan pandangannya ke ambang pintu, mendapati Alvian tengah menatap kearah mereka.
"Ayok sayang, " ujar Alvian mengulurkan tangannya.
Tanpa berpamitan kepada kedua orang tersebut, Nara melangkah menerima uluran tangan Alvian. Keduanya beriringan menuju ruang Presdir, yaitu tempat kerja Alvian.
"Mereka benar-benar sepasang kekasih, " ujar Sendri tanpa mengalihkan pandangannya dari Nara dan Alvian yang sudah berlalu pergi.
"Lihatlah, kemana kedua gadis ini? "
Sendri berbalik menatap kursi Ana dan juga Ria yang masih belum berpenghuni.
"Entahlah, " ujarnya.
Sementara saat ini di atas rooftop, Ana dan juga Ria bersama Victor tengah asik mabar sembari mengawasi pekerjaan Nadia dan teman-temannya.
"Nad capek nih, " keluh Olive.
"Jika kalian berhenti, hukumannya di tambah lagi dan akan saya pastikan jauh lebih parah dari ini! " teriak Victor menggema.
Seolah kehilangan rasa capek, Olive dengan cepat kembali membersihkan tempat itu.
"Memangnya hukuman yang lebih para itu apa tuan? " kepo Ana.
Victor tak menjawab pertanyaan Ana, Ia hanya melemparkan senyumannya.
Ana yang melihat hal itu, menyeruput habis minuman di depannya.
"Sudah ku katakan tuan, jangan pernah tersenyum di hadapan si gila ini, " ujar Ria kesal.
Lagi dan lagi, bukannya mendengarkan perkataan Ria, Victor malah semakin terkekeh yang membuat Ana seketika hampir pingsan.
......***......
Kediaman Jovanka,
Setelah berhasil kabur dari amukan Rani, Alexo dan juga Bram berjalan menuju tempat tahanan yang berada di belakang rumah.
Keduanya membuka perlahan pintu masuk, Melangkah kedalam.
Keduanya menghentikan langkahnya, saat melihat kedalam tahanan Roseta.
"Uncle, " titah Alexo.
"Cepat bos, cari ke sekeliling sini dia pasti belum jauh. "
Dengan segera, keduanya berpencar ke seluruh penjuru tempat itu mencari keberadaan Roseta yang di duga kabur.
Alexo yang melangkah perlahan ke arah barat, menemukan potongan baju yang di duga milik Roseta.
"Sepertinya bibi Roseta belum jauh, " gumamnya.
Sembari mengendap-endap, Alexo menelusuri setiap sudut tempat itu. Namun nihil, Ia sama sekali tidak menemukan keberadaan Roseta lagi.
Bram yang melangkah ke Timur, berjalan perlahan menuju tembok yang terbilang cukup rendah. Meski begitu, tembok itu di lilit begitu banyak kabel.
"Kemana perginya?! "
Bram kembali menelusuri tempat itu, hingga sampai ke rawa tapi tak juga menemukan keberadaan Roseta.
Bram kembali bertemu Alexo di depan pintu tahanan, keduanya langsung menuju kamar Rani dan Evan.
Alexo yang hendak mengetuk pintu, menghentikan niatnya saat pintu sudah terbuka dari dalam.
__ADS_1
"Ada apa lagi? " ketus Rani menatap keduanya.
Tak memperdulikan perkataan Mamanya, Alexo meluncur masuk mendekati ayahnya.
"Gawat ayah, bibi Roseta kabur, " ujar Alexo.
Evan meletakkan laptopnya, menatap putranya.
"Yang benar? " tanya Evan memastikan.
Alexo mengangguk mengiyakan perkataan Evan, lalu berjalan keluar mendekati Bram yang berdiri jauh dari ambang pintu.
"Apa benar yang di katakan Alexo? "
Bram mengangguk mengiyakan perkataan Evan.
Tanpa menunggu lama, Evan mengambil ponselnya menghubungi David.
"David, Roseta kabur. "
Tak menunggu jawaban dari David, Evan memutuskan panggilannya secara sepihak lalu berjalan dengan tergesa-gesa menuju tempat tahanan.
David yang tengah sibuk dengan laptopnya, menghentikan kegiatannya berjalan menuju ruang kerja Alvian.
Victor yang juga sudah selesai dengan urusannya di rooftop, menghampiri Alvian.
"Ada apa? " tanya Alvian saat kedua asistennya itu masuk secara bersamaan.
"Ro-
"Tugas di rooftop sudah selesai, surat pemecatan mereka sudah di keluarkan. "
David yang ingin berbicara, dengan cepat di potong Victor.
"Apa sih Victor motong pembicaraan David, " tukas Nara membela David.
David yang mendapat pembelaan dari Nara, tersenyum puas meledek Victor.
"Katakan David, ada apa? " ujar Nara bertanya.
"Roseta kabur tuan muda. "
Mendengar penuturan David, semuanya dengan cepat bergegas meninggalkan ruangan Alvian, meninggalkan David seorang di sana.
"Lah pada kabur, " ujarnya bingung.
Tanpa menunggu lagi, David ikut berlalu meninggalkan ruang kerja Alvian.
"Victor langsung ke taman belakang saja, " ujar Alvian.
Victor mengangguk lalu mengendarai mobil dengan kecepatan penuh.
"Nona, pakai sabuk pengaman. "
Dengan segera, Nara menuruti perkataan Victor dengan di bantu Alvian.
David yang baru tiba di parkiran, menaiki motornya ikut melaju mengejar ketiga orang itu yang sudah lumayan jauh darinya.
Setibanya di kediaman Jovanka, Victor memutar mobil menuju taman belakang.
Nara dan juga Alvian bergegas turun, melangkah mendekati sebuah kain yang di duga milik Roseta.
"Jery, cari dia jangan sampai lolos, " ujar Alvian dari balik ponselnya.
.
.
.
__ADS_1
Makasih buat yang sudah mampir ke cerita aku 🌹