Dicintai Tuan Muda Alviano

Dicintai Tuan Muda Alviano
103 Alvaro Dicegat


__ADS_3

Nara yang menumpang mobil Victor ketika pulang, sedikit menunggu pria itu berlalu barulah dirinya masuk kedalam rumah. Sedangkan Alvaro, ketika hendak kembali dari pantai Ia sedikit ada urusan sehingga menitipkan Nara pada Victor.


“Jam berapa ini?” ujar Rian, berdiri menghadang Nara di depan ambang pintu.


“Jam tujuh, minggir!”


Nara mendorong tubuh Rian pelan, menyelonong masuk kedalam rumah. Ia kembali memutar bola matanya malas, saat melihat sosok Dito sudah asik di depan televisi bersama Nabila.


“Sedang apa kalian?”


Dito dan juga Nabila saling bertatapan, keduanya lalu melepaskan tawa mereka ketika pertanyaan yang seharusnya sudah diketahui jawabannya masih saja di tanyakan Nara.


“Seperti yang kau lihat, “ ujar Dito, mengunyah kacang.


Nara yang sudah malas berbasa-basi pada keduanya, melangkah masuk kedalam kamarnya. Ketika ingin menghidupkan ponselnya, Nara baru tersadar bendah pipi itu sudah tidak bernyawa lagi.


Setelah mencolokkan kabel charger pada ponselnya, Nara melangkah masuk kedalam kamar mandi membersihkan tubuhnya.


“Kemana Nara?” tanya Fitri, saat melihat Rian sedang merenung di depan pintu.


“Mandi kayaknya, “


Fitri masuk kembali kedalam rumah, lalu keluar lagi dengan membawa sebuah taperware berisikan beberapa makanan.


“Kalian sudah makan?” Fitri mendekati Rian.


Rian menggelengkan kepalanya, lalu Fitri Menyodorkan taperware itu kepada Rian.


“Apa ini?” tanya Rian.


“Makanlah, tidak ada racun didalamnya!” judes Fitri, ketika melihat Rian mencium-cium makanan itu.


Rian menatapnya dengan tatapan mencurigakan, ketika mendapat sedikit tabokan dari wanita itu Rian terkekeh kecil.


“Tumben kau baik?!”


“Kalian keluarga ku satu-satunya, mau sebenci apapun aku pada kalian, tetap akan kembali ke kalian.”


Rian menarik nafasnya, seolah meledek keseriusan Fitri. Wanita itu sedikit berdecak, lalu kembali melangkah menuju rumahnya.


“Kadang dia baik, kadang otaknya gesrek, “ gumam Rian.


“Siapa?” Nabila mengangetkan Rian.


Rian mengusap dadanya, menunjuk kearah rumah Fitri menggunakan bibirnya. Nabila hanya mengangguk mengiyakan saja, lalu melangkah keluar sembari membawa tasnya.


“Kau sudah pulang?” tanya Rian.


Mendapat anggukan kepala dari Nabila lagi, Rian meletakkan taperware pemberian Fitri keatas meja di samping Nabila ikut mencari sendalnya.


“Biar ku antar, “ tawarnya penuh semangat.


Dito yang baru mendekati keduanya, menyentil kening Rian sembari menggelengkan kepalanya.


“Rumahnya di samping rumahmu, Jangan sok mau nganterin! Dia bisa sendiri, bahkan bisa balik lagi kesini dalam hitungan menit.”


“Tapi bang, nanti dia kesandung gimana? “ lebay Rian.


Nabila menggelengkan kepalanya, melangkah menuju rumahnya yang jaraknya hanya lima langkah dari rumah Rian. Tak lama setelah kepergian Nabila, Ratna mamanya Nabila melewati halaman rumah itu hendak ke warung depan.

__ADS_1


“Hallo Tante, mau Rian antar, “ basa-basi Rian.


Mendapat tatapan datar dari Ratna, Dito tertawa terbahak-bahak meledek Rian kembali melangkah masuk kedalam rumah.


Ketika Dito mendekati Nara yang baru saja keluar dari kamarnya, gadis itu langsung tertuju pada tangan Dito yang tengah memegang taperware.


“Dari mbak Fitri yah, ayok makan!” dengan semangat, Nara menarik tangan Dito ke meja makan.


“Nara, setelah makan ada yang ingin aku sampaikan padamu.”


“Apa?”


“Setelah makan.”


Sesuai dengan perkataan Dito tadi, setelah kedua selesai makan yang tanpa menunggu Rian, keduanya langsung menuju depan televisi dengan membawa sebuah laptop.


“Kemarin, aku berhasil membobol data ini, tapi datanya tidak falid dengan yang waktu itu.”


Nara langsung mengotak-atik laptop Rian, masuk pada laman web yang dibuatnya sendiri mencocokkan data yang di maksud Dito tadi.


“Yah, di bagian sini seperti ada sedikit pemalsuan, “ ujar Nara.


Dito mengikuti jari telunjuk Nara, fokus pada beberapa bagian yang sangat jelas ada sedikit perombakan di sana.


“Aku tidak yakin Nara, apa kita terlalu jauh?”


Nara yang tadinya asik dengan laptopnya, langsung berhenti ketika apa yang di katakan Dito berhasil menggoncang semangatnya.


“Benar Dit, kita seharusnya hanya melindungi berkas ini, “ ujar Nara.


Keduanya menyenderkan kepala pada sofa, menatap telivisi yang terus menampilkan berbagai macam tonton. Rian yang memasuki ruangan itu, menatap keduanya heran melangkah menuju meja makan.


Rian kembali mendekati keduanya, dengan membawa makanan sepiring untuk dirinya sendiri. Rian duduk di hadapan keduanya, memakan sambil mengecap memanas-manasi kedua insan itu.


Tak


Dito menyentil kepalanya, membuat Rian langsung tersedak saat itu juga. Nara sama sekali tidak memperdulikan keduanya, pikiran berkalut pada laptop di hadapannya.


...***


...


Alvaro yang tengah melajukan mobilnya ingin kembali ke apartemen setelah menyelesaikan pekerjaannya, dalam pertengahan jalan dirinya di hadang oleh beberapa orang tak di kenal.


“Ulah siapa lagi ini?” keluhnya.


Alvaro mengambil senjata tajam di belakang bangku penumpang, mengusap kasar rambutnya lalu turun dari mobil.


“Siapa kalian?!” ujarnya berteriak.


“Serahkan gadis itu!”


Alvaro yang bingung akan maksud dari para preman di sana, sedikit melirik bangku penumpang yang kosong lalu kembali menatap mereka.


“Siapa yang kalian cari?” pancing Alvaro, agar mereka mengungkapkan siapa yang sedang di cari.


Bukannya menjawab pertanyaan Alvaro, para preman itu minggat dari sana menggunakan motor merek. Melihat hal itu, Alvaro yang tadinya sudah semangat ingin bertarung, menjadi kesal dengan kepergian mereka. Ketika salah satu dari mereka hendak berlalu di hadapan Alvaro,


Bruk

__ADS_1


Dengan celurit panjang pada tangannya, Alvaro langsung menjatuhkannya dari motornya. Tak terima temannya di serang seperti itu, para preman yang lainnya langsung mengambil tindakan.


Maka, terjadinya pertempuran di antara Alvaro dan juga preman-preman itu. Alvaro mendekati seorang pria yang mempunyai tinggi badan yang sama dengannya, memukulnya secara membabi buta tanpa ampun.


Ketika melihat salah satu tanda pada lengan mereka, Alvaro melepaskan pukulannya lalu membuangnya ke arah teman-temannya.


“Kalian di suruh siapa?!” teriak Alvaro menggema.


Sama sekali tidak ada jawaban dari mereka, sampai Alvaro mengeluarkan senjata apinya barulah salah satu dari mereka membuka suaranya.


“Bukan kamu yang kita cari!”


Bukan jawaban itu yang ingin di dengar oleh Alvaro, Ia tersenyum smrik lalu mendekati mereka sedekat mungkin.


“Kalian mau jujur, atau markasmu ku hancurkan!” ancam Alvaro.


“Silahkan saja, seperti kau tau saja markas kami?!” nantang salah satu dari mereka.


Alvaro tersenyum meremehkan, mengeluarkan ponselnya lalu mengarahkan pada mereka. Mata mereka membulat, melihat isi dari ponsel itu.


“Jujur!” banyak Alvaro, memasukkan ponselnya lagi.


“Tolong tuan, jangan hancurkan markas kami, “ mohon ketua preman itu.


“Makanya jujur!” Alvaro kehabisan kesabarannya saat ini.


“Kami di suruh oleh, “


Bruk


Belum sempat pria itu menyelesaikan perkataannya, kaca mobil Alvaro sudah hancur terkena bongkahan batu besar.


“Sial!”


Alvaro tak memperdulikan para preman itu lagi, Ia berlari mendekati mobilnya yang sudah hancur sebagian. Dari jarak yang lumayan jauh, mata elangnya masih mengangkap seseorang yang di duga pelaku yang menghancurkan mobilnya.


Alvaro mengendari mobil mengenaskan itu, dengan kecepatan tinggi mengejar orang tersebut. Sedangkan para preman itu, mengambil kesempatan untuk kabur dari Alvaro.


Bruk


Dengan menggunakan mobilnya, Alvaro menambrak pelaku tersebut hingga tergelincir ke jalanan aspal. Alvaro keluar dari mobilnya, menghampiri pelaku itu lalu membuka helmnya.


Alvaro membulatkan matanya, tak percaya akan apa yang matanya tangkap di hadapannya.


“Kau!”


.


.


.


Hai pembaca setiaku...


Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.


Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.


makasih 🌹

__ADS_1


__ADS_2