Dicintai Tuan Muda Alviano

Dicintai Tuan Muda Alviano
Bab 10 Gino dan Maya bertamu


__ADS_3

Sinar mentari mengalahkan gelapnya dunia muncul ke bumi membawa sinarnya menyinari setiap kehidupan yang sama sekali tidak peduli akan kehadirannya namun, Ia begitu setia tetap menjaga kehangatan setiap makhluk.


Nara tersadar dari pingsannya semalam, menatap sekeliling ruangan asing di hadapannya lalu bangkit duduk di bibir kasur.


“Sangat elegan, “ pujinya ketika maniknya menyusuri setiap sudut ruangan yang di dominasi nuansa Hitam namun begitu elegan dengan beberapa ornamen yang menjadi pemanis di kala mata memandang.


Terdengar handel pintu bergerak, dengan cepat Nara kembali ke posisi tidurnya semula menarik selimut menutupi sekujur tubuhnya dan menyisakan hanya wajahnya yang terlihat.


Alvian melangkahkan kakinya dan berdiri tepat di hadapan wajah Nara, berjongkok dan menyibakkan surai hitam gadis yang semalam menghuni kamarnya itu.


“Entah sadar atau tidak setelah beberapa detik ku pandangi wajahmu, aku tersandung. Tapi sialnya malah hatiku yang jatuh, “ gumam Alvian begitu pelan Namun tetap terdengar oleh Nara.


“Berhentilah berbual tuan, ini masih sangat pagi, “ ujar Nara bangkit dari tidurnya.


“Ternya kau hanya pura-pura tidur untuk mengelabuhi ku? Hmm, “ ujar Alvian tersenyum sumringah.


Alvian sedikit mencolek hidung Nara lalu ikut duduk di samping gadis itu. Keduanya terdiam beberapa saat sampai Alvian menggenggam tangannya.


Alvian tersenyum menatap wajah polos Nara menarik Nara masuk kedalam pelukan merasakan dada bidangnya.


Nara yang di perlukan seperti itu ingin menolak namun, Alvian mengeratkan pelukannya membuatnya pasrah dalam keadaan seperti itu.


“Wooow, “ ujar Nara.


“Ada apa? “ tanya Alvian kebingungan.


“Detak jantungmu, “ Alvian terkekeh pelan mendengar perkataan Nara.


Pria tersebut meniup ubun-ubun Nara, membuat gadisnya itu seketika memejamkan manik indahnya menikmati perlakuan Alvian.


“Dalam beberapa waktu belakangan ini dengan lancangnya kau berani masuk dalam pikiranku. Bahkan dirimu terus menari-nari di sana, membuatku tidak bisa melepaskan bayangmu, “ ujar Alvian.


Nara melepaskan pelukan pria itu lalu menatapnya lekat ke dalam maniknya.


“Apa maksud mu? “ tanyanya linglung.


“Tuan muda, apa anda di dalam? “ belum sempat Alvian menjelaskan maksud perkataannya, David sudah berteriak memanggil namanya.


“Astaga! Aku harus pulang sekarang, “ titah Nara yang baru sadar dari kemarin tak pulang ke rumah.


Dengan begitu tergesa-gesa Nara mengambil ponselnya di atas nakas, lalu segera berlari keluar kamar. Akan tetapi, Alvian dengan cepat mengunci pintu kamar menggunakan remote control.


“Kenapa pintunya tidak bisa di buka? “ rengek Nara yang masih berusaha membuka pintu kamar Alvian.


Sedangkan Alvian hanya duduk memainkan ponselnya seolah tidak terjadi apa-apa.


“Kak, apa pintunya rusak? “ tanya Nara mendekat ke arah Alvian.


Alvian menarik nafasnya panjang, “David aku ada urusan yang lebih penting pergilah dari sana! “ ujar Alvian sedikit berteriak.


David yang mendengar hal itu menaikkan keduanya alisnya, Ia berbalik ingin melangkah pergi meninggalkan tempat tersebut namun, di kejutkan dengan kehadiran Rina dan Rian yang entah dari kapan berada di sana.


“Mereka sedang apa? “ tanya Rina penasaran lalu menempelkan telinganya di balik pintu.


“Entahlah, aku jadi ikut penasaran, “ ujar Rian yang ikut menguping.


“Berhentilah menguping! “ teriak Alvian dari dalam kamar membuat semuanya berhamburan pergi dari dalam kamarnya.


“Ada apa di luar? “ ujar Nara penasaran dengan menghampiri Alvian yang berdiri tepat di depan pintu.

__ADS_1


Alvian tidak menjawab pertanyaan Nara, pria tersebut malah memilih mengambil handuknya Melangkah kedalam kamar mandi.


Nara menganga lebar melihat tingkah Alvian yang tidak perduli dengan perkataan Nara soal pintu tadi.


Karena kesal, gadis tersebut mengambil ponselnya lalu membuka instagramnya dan sialnya Ia postingan pertama yang muncul adalah gambar mesra Ani yang tengah mencium Gino.


“Dulu sebegitu cintanya aku dengannya, bahkan aku sampai rela meneteskan air mata berhargaku hanya untuknya. Tapi lihatlah bagaimana semesta mengatakan dia bukan yang terbaik untukku, “ gumam Nara pelan.


Nara kembali meletakkan ponselnya dan berjalan mengitari seluruh kamar Alvian, matanya menelusuri setiap sudut ruangan itu melepaskan kebosanan.


Sedangkan di luar kamar Alvian, tepatnya di ruang makan. Rian dan juga Rani, duduk mematung dengan sesekali menatap ke atas kamar Alvian meskipun tidak ada tanda-tanda munculnya kedua insan itu akan keluar.


Pandangan keduanya seketika teralihkan ketika ponsel Rian tiba-tiba berbunyi dan di sana tertera nam “Komandan Firman” yah Rian menyimpan kontak ayahnya seperti itu.


“Hallo yah, Kaka sudah di temukan. Tenang saja sebentar lagi kami pulang. “ ujar Rian sesaat sebelum memutuskan panggilan secara sepihak.


“Anak itu, aku bahkan belum mengatakan apapun, “ujar Firman kesal.


“Bagaimana mas? “ tanya Tina penasaran.


“Sebentar lagi mereka pulang, kamu sana temui keluarga Gino. Saya malas, “ ujar Firman.


Yah benar saja, Gino bersama Maya saat ini tengah berada di rumah Nara sejak tiga puluh menit yang lalu.


“Tunggu sedikit lagi yah, Nara dan Rian sebentar lagi pulang, “ ujar Tina membawa nampan berisi teh ke hadapan tamunya itu.


“Aduh Tina kita tuh nggak bisa lama-lama deh, “ ujar Maya dengan gaya khasnya yang menjengkelkan.


“Ya sudah pulang saja sana, “ usir Firman yang seketika hadir di ruang tamu. Tina sedikit mencubit pinggang suaminya, akibat mulutnya yang tidak bisa di kontrol.


“Sudahlah ma, nggak apa-apa om kami tunggu saja, “ serkah Gino melerai keributan yang hampir saja terjadi.


Alvian yang baru menyelesaikan ritual mandinya, keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk di bagian bawahnya.


“Aaaa, kak sana pake baju dulu! “ teriak Nara membuat Rani dan Rian yang berada di bawah seketika berlari menuju ke atas kamar Alvian.


“Kak, sana pake baju dulu! “ lagi-lagi teriakan Nara membuat dua orang di depan pintu saling bertatapan dengan mata yang membulat.


“Berhentilah berteriak, kau membuatku tuli, “ ujar Alvian melempar handuknya ke wajah Nara, setelah selesai mengenakan pakaian.


David yang baru saja keluar dari ruang kerja Alvian di tarik paksa oleh Rian dan Rani untuk ikut menguping.


“Nona, bukankah ini perbuatan yang tidak baik, “ ujar David khawatir jika tertangkap basah oleh Alvian.


“Nikmati saja kegiatan menguping ini, “ ujar Rian yang ikut di angguki oleh Rani.


Buk


Ketiganya hampir terjatuh, saat pintu kamar Alvian terbuka dan menampilkan kedua insan yang saling bergandengan tangan menatap mereka.


“Sedang apa kalian? “ tanya Alvian.


Namun, tidak ada yang berani menjawab. Rani dengan segera menarik kedua pria di sampingnya pergi begitu saja meninggalkan Alvian dan juga Nara yang kebingungan.


“Kak, aku harus pulang sekarang mama sama ayah pasti nyariin, “ ujar Nara sembari menggoyangkan lengan Alvian.


“Tidak ingin sarapan dulu? “ tanya Alvian.


Nara menggelengkan kepalanya sembari mengikuti Alvian menuruni anak tangga menuju tempat di mana Rian, Rani dan David berdiri.

__ADS_1


“David siapkan mobilku, “ pintah Alvian yang langsung di laksanakan David.


“Mau kemana Al? “ tanya Rani penasaran.


“Mengantar Nara dan Rian, “ ujarnya sesaat sebelum meninggalkan tempat itu sembari menggenggam erat tangan Nara.


“Bye Kaka cantik, “ ujar Rian yang ikut berlari ke arah Alvian dan kakaknya.


Setelah kepergian mereka, Rani menarik nafasnya panjang lalu kembali ke kamarnya dengan penuh semangat.


Dalam perjalanan, hanya Rian dan David yang terus mengoceh tak berhenti sampai tiba di rumah Atmaja.


Nara melihat keluar mobil, matanya berhenti pada objek besar di hadapannya yang merupakan mobil Gino.


“Mau apa dia kesini? “ kesal Rian yang sudah lebih dahulu turun barulah di ikuti Nara, David, dan juga Alvian.


“Ayah! “teriakkan Rian yang keras menghentikan Gino dan juga kedua orang tuanya dari kegiatan menyeruput teh lalu menatap ke arah pintu.


“Ada urusan apa kalian kesini? “ tanya Rian judes.


“Nara sayang, aku merindukanmu, “ ujar Gino ingin mendekati Nara namun, langkahnya terhenti di saat Alvian datang merangkul pinggang gadis tersebut.


“Keluar! “ satu kata yang lolos dari mulut Nara membungkam senyuman di bibir Maya saat melihatnya muncul.


“Heh gadis tidak tau di untung, kami kesini ingin meminta ganti rugi, “ ujar Maya dengan lantang.


“Atas dasar apa yah? “ tanya Firman.


“Karena putrimu sudah membatalkan pertunangan ini secara sepihak, “


Rian terkekeh pelan dan


Buk


Satu hantaman berhasil mengenai tepat di wajah Gino, semua yang berada di sana terkejut akan perbuatan Rian terkecuali Alvian yang tersenyum melihat kejadian di depannya.


“Beraninya kau! “ bentak Gino yang sudah mencengkeram erat kerah baju Rian.


“Biarkan mereka, “ David yang ingin melangkah melerai di hentikan oleh Alvian.


“Heii kau Ja Lang jika kau tidak membayar kerugian kami, maka-


“Apa? “ belum sempat Maya menyelesaikan perkataannya Tina dengan cepat memotong pembicaraannya.


“Cukup, pergilah dari sini Gino dan jangan pernah kembali lagi di hadapanku. “ tegas Nara sembari meletakkan beberapa lembar uang di atas meja, dan berlalu menuju kamarnya.


“Ya Nara! “ teriak Rian kesal dengan apa yang di lakukan oleh kakaknya.


“David! “ ujar Alvian kepada asistennya itu, yang langsung di sambut anggukan David sesaat sebelum meninggalkan rumah Nara.


Gino melepaskan kerah baju Rian dan mengambil uang pemberian Nara, lalu menarik Maya keluar rumah.


.


.


.


.

__ADS_1


makasih buat yang sudah mampir, di tunggu terus yah bakal up tiap hari kok 😘


__ADS_2