Dicintai Tuan Muda Alviano

Dicintai Tuan Muda Alviano
Bab 22 Roseta


__ADS_3

Rian yang baru selesai memakai seragam sekolahnya, terlihat tidak bersemangat untuk berangkat.


Hari ini merupakan hari dimana Ia mendengar kelulusannya namun, karena Firman tidak ada membuatnya menjadi kurang bersemangat.


“Ma, udah mau dua Minggu lebih ayah kok belum juga sadar sih?! “ ujar Rian.


Tina yang tengah mengemas bekal untuk Nara di rumah sakit, menghentikan kegiatannya lalu mendekati putranya.


“Kita harus banyak-banyak berdoa, agar ayah cepat sadar, “ Tina melanjutkan kegiatannya yang terhenti beberapa menit tadi.


Rian menarik nafasnya panjang, mengambil lilin lalu menuju tempat dimana biasanya mereka bersujud.


“Tuhan bisakah kau membuat ayahku sadar sebentar?! Hari ini, hari kelulusanku. Aku ingin dia sadar dan melihat diriku membuatnya bangga. “


doa Rian yang seketika membuat pipi Tina berlumuran air mata.


Menjelang beberapa menit kemudian, Rian dan juga Tina beriringan menuju motor lalu berangkat.


...***...


Di sebuah apartemen mewah, tampak seorang wanita berbusana terbuka tersenyum lebar saat melihat dirinya di cermin. Ia mengambil tasnya, lalu melangkah keluar apartemen menuju mobilnya.


“Aku akan bertemu Alvian terlebih dahulu, “ ujarnya sesaat sebelum meninggalkan tempat itu.


Alvian yang sudah sepagi ini bangun dan bersiap-siap, berjalan dengan begitu tergesa-gesa menuju meja makan.


“Pagi uncle, “ sapa Alexo saat Alvian baru saja menaruh bo kongnya di kursi.


“Morning boy. “


Mata Alvian Sedari tadi tidak menangkap kehadiran Ridwan disana, Ia hanya sibuk dengan sendok dan garpu.


“Uncle nggak lihat ada kakek disini? “ ucapan Alexo seketika menyadarkan Alvian tentang kehadiran Ridwan.


Alvian hanya menatap sekilas, lalu kembali fokus pada makanannya.


“Boy, kemana ayah dan mommy? “ tanya Alvian mencoba tidak menghiraukan Ridwan.


“Ah Iyah Lexo panggil dulu yah Uncle, “ ujar Alexo berlari mencari Evan dan Rani yang tengah asik menikmati udara pagi di taman.


“Untuk apa ayah kembali? “ tanya Alvian.


Diandra yang kebetulan ingin ke meja makan, mengurungkan niatnya saat mendengar pertanyaan Alvian kepada suaminya.


Ia tau jika dirinya terus melangkah ke sana, mungkin selamanya Alvian tidak akan mau menyapanya bahkan melihat wajahnya.


“Ayah ingin mengenalkan mu dengan putri sulungnya Lian Sheng. “


Ridwan meletakkan alat makanya dan menatap ke arah Alvian yang seolah tidak memperdulikan perkataannya.


“Apa ayah lupa dengan perkataan Victor dan David waktu itu?! “ ujar Alvian Santai.


Ridwan mendengar hal itu, menjadi kesal lalu meneguk air yang ada di gelas sampai tak tersisa.


“Dengar Alvian, kau dan Roseta pernah menjalan hubungan. Apa susahnya menerima kembali? Toh dia juga cantik dan sangat menjaga diri, “ jelas Ridwan.


“Cukup Ayah! Rasaku kepadanya sudah lama hilang, “ Alvian bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan Ridwan menuju ruang kerja.

__ADS_1


Setelah kepergian Alvian, Dianra datang menghampiri Ridwan tanpa sepatah kata pun.


“Kenapa dengan wajahmu? “ ujar Ridwan yang melihat ekspresi istrinya begitu datar.


“Berhentilah membuat masalah, kau tau aku yang akan dimusuhi oleh putraku. Paham! “ ujar Dianra yang kesal dengan perbuatan suaminya itu.


Ridwan hanya bisa menarik panjang nafasnya mendengar perkataan istrinya yang melarangnya menjodohkan Alvian.


Alvian yang hendak menuju parkiran, mendengar perkataan Dianra sekilas menarik senyumannya, lalu melangkah pergi.


Setibanya di Kantor, Alvian di sambut oleh beberapa pengawalnya dan juga Liara sekretarisnya dengan memasang wajah panik.


“Ada apa Liara? “ tanya Alvian yang berjalan menuju lift.


“Maafkan saya tuan, saya sudah menyuruhnya menunggu di lobi tapi dia tetap kekeh ingin menunggu di ruangan anda, “ ujar Liara saat sudah berada di dalam lift.


“Siapa? Katakan dengan jelas, “ Alvian berjalan keluar dari lift setelah sampai di lantai dua puluh sembari di buntuti Liara dari belakang.


Belum sempat Liara menjawab, David dengan segera menghampirinya di depan pintu ruangannya.


“Dia di dalam, “ ujar David.


Alvian yang memang mengerti akan ucapan David, berjalan menuju ruang kerja Victor mencari pria itu.


“Dimana Victor? “ tanya Alvian kembali menghampiri David.


“Sedang ada urusan dengan Tio menyangkut transaksi gelap itu, “ jelas David.


Alvian mengangguk, melangkah masuk kedalam ruangannya yang dimana disana sudah terdapat seorang wanita menunggunya.


“Al, “


“Katakan pada Liara, siapkan meeting sejam lagi, “ pintah Alvian yang langsung di angguki David.


“Al aku-


“Keluar! “


Degh


Hari wanita itu seketika hancur mendengar orang yang di cintainya mengusirnya keluar.


“Al apa maksudmu? “


“David panggil security! “ teriak Alvian menggema di seluruh ruangan.


“Al, aku kembali untukmu, “


Alvian bangkit dari duduknya berjalan menghampiri gadis itu mencengangkan dagunya keras.


“Sudah ku katakan jangan pernah muncul di hadapan ku lagi Roseta! “ ujarnya semakin kuat mencengkram dagu Roseta dan membawanya ke tembok.


“Berapa yang di bayar ayahku? Sampai kau mau mengikuti kemauannya hmm, “ telak Alvian membuat Roseta tak berani berkata.


Victor yang hendak memasuki ruangan tuan mudanya, menghentikan langkahnya saat melihat kejadian di depannya.


“Itulah yang akan kau dapatkan jika ikut masuk dalam permainan busuk tuan Ridwan, “ gumamnya.

__ADS_1


“Al lepaskan sakit, “ ujar Roseta.


Alvian dengan kasarnya melepaskan tangannya dari dagu Roseta, lalu melangkah pergi.


Namun, baru selangkah Ia berjalan dengan cepat Roseta memeluknya erat dari belakang. Jujur, dalam hatinya Alvian masih sangat menyayangi gadis itu tapi hal itu sudah tidak sebesar rasa bencinya sekarang.


Beberapa menit dalam posisi seperti itu, membuat Alvian merasa begitu merindukan pelukan Roseta.


“Ya Tuhan jangan lagi, “ ujar Victor pelan.


David yang baru saja kembali, melangkah masuk kedalam ruangan tanpa memperdulikan posisi Alvian dan Roseta yang tengah berpelukan.


“Bawa dia keluar! “ pintah David.


Dengan segera dua orang security yang di bawanya, menghampiri Roseta lalu membawanya keluar.


“Apa-apaan kamu?! “ kesal Roseta mencoba memberontak.


“Apa yang kalian tunggu, cepat bawa di keluar! “


Victor dan Alvian yang melihat ketegasan David, keduanya pasrah dengan apa yang di lakukan pria itu.


“Al, “ ujar Roseta manja, mencoba membujuk Alvian agar di lepaskan.


“Jika kau berani menyuruh mereka melepaskan dia, aku sendiri yang akan menghabisi mu! “


Alvian dengan segera mengisyaratkan kepada security yang langsung menyeret paksa Roseta keluar.


“Lepaskan! “ Roseta menghempaskan tangan parah security dari tubuhnya, melangkah menuju mobilnya.


“Lihat saja akan ku pastikan kau kembali kepada ku Al, “ gumamnya sesaat sebelum meninggalkan kantor Alvian.


Sedangkan dalam ruang kerja Alvian, David dan juga Victor terus menatap tajam ke arah tuanya.


“Berhentilah menatapku seperti itu, “ Kesal Alvian yang tidak terima terus di tatap dua orang di depannya.


“Sekali saja terlintas dalam pikiran mu untuk kembali padanya, kami akan mengambil alih seluruh kekayaanmu lalu menyerahkannya kepada Nona Nara. “


Victor dan Alvian yang mendengar keseriusan dari kata-kata David, keduanya saling bertatapan lalu kembali melirik kearahnya.


“Apa kau lupa, mereka belum ada hubungan yang serius. Hanya sekedar teman, “ jelas Victor yang seketika membuka isi kepala David.


Alvian yang juga tersadar akibat ulah Victor, dengan tergesa-gesa mengambil jasnya berlari keluar ruangan yang membuat kedua asistennya kebingungan.


“Bagaimana meetingnya! “ teriak David mengikuti langkah Alvian.


“Kalian urus saja, “


“Selalu saja seperti ini, “ elu Victor yang sudah sangat pasrah dengan tingkah Alvian.


.


.


.


Makasih buat yang sudah mampir, yuk komen sama like biar tau ada yang kesini 🌹

__ADS_1


__ADS_2