Dicintai Tuan Muda Alviano

Dicintai Tuan Muda Alviano
101 Pasangan Gila


__ADS_3

Sudah lewat tiga hari, lima hari, bahkan seminggu.


Nara sudah sejak pagi bersiap-siap hendak ke kantor, bersamaan dengan Rian yang hari menjalankan ospek pertamanya.


“Mau ku antar?” tawar Rian, menatap kakaknya.


“Halah, nggak usah sok nawarin diri! Lihat noh, Nabila sudah di depan pagar, “ oceh Nara sembari mengenakan sepatunya.


Rian tertawa renyah, berjalan mendekati Nabila tanpa membuka topinya. Nara tau, Rian baru saja menggunduli rambutnya kemarin. Nara sedikit iseng, menarik topi Rian hingga menampakkan kepala gundulnya itu.


“Hahahaha botak!” ledek Nara.


“Nara!” teriak Rian, mengambil paksa topinya.


Nabila ikut tertawa terbahak-bahak, mendekati kedua Kakak beradik itu. Merasa malu di ledek kedua gadis itu, Rian memanyunkan bibirnya.


“Tertawa terus, jalan kaki kau!” ancam Rian, seketika Nabila menghentikan tawanya langsung menaiki motor Rian.


“Eh, foto dulu, “ heboh Nara, menghentikan keduanya yang sudah akan melaju.


Nara mengangkat tinggi ponselnya, memotret dirinya dan juga kedua mahasiswa ospek itu.


“Sudahlah kak, kami akan telat, “ ujar Nabila.


Rian langsung meluncurkan motornya, meninggalkan Nara yang masih sibuk dengan ponselnya melihat foto-foto barusan.


“Jangan lupa kunci pintunya!” teriak Rian menggema, mendekati gang rumah mereka.


Nara yang masih dengan ponselnya, tersontak kaget ketika suara Rian mencapai gendang telinganya. Nara sedikit berlari masuk kedalam rumah, mengunci pintu lalu menenteng tasnya melangkah keluar kembali ke jalan. Langkah Nara terhenti, saat namanya dipanggil keras oleh Fitri yang tengah memegang taperware di depan jalan.


“Nara!”


Nara menghentakan kakinya kesal, berbalik menghampiri wanita itu yang menatapnya masam.


“Makan!”


Fitri memasukan sepotong roti kedalam mulut Nara, lalu Kembali masuk kedalam rumahnya. Nara meraung kesal, kembali melangkah sembari mengunyah roti itu dengan kesal.


Ketika sudah tiba di jalanan umum, Nara yang masih menunggu taksi yang lewat di kejutkan dengan sebuah mobil berhenti di hadapannya. Dari dalam mobil itu, keluarlah seorang pria yang sangat dikenali Nara. Tak hanya itu, seorang wanita juga keluar dari mobil yang sama.


“Mau kemana?” tanya pria itu, tak lain adalah Gino.


“Bukan urusanmu!” judes Nara, mendorong tubuh Gino berlalu dari sana. Namun baru selangkah, tangannya di cekal Ani yang saat itu bersama Gino.


“Kau semakin berani yah sekarang?!” ujar Ani melototkan matanya.


Nara mengangga lebar dengan apa yang di dengarnya, lalu menggelengkan kepalanya mengusir pikiran buruknya melepaskan kasar tangan Ani dari lengannya.


“Cik, siapa kau sehingga aku tidak berani?”


Nara yang hendak menghentikan taksi lagi, lagi di hentikan oleh Gino menarik tangannya turun hingga taksi itu berlalu dari hadapannya.


“Mau kalian apa?!” teriak Nara kesal.


“Simpel saja, kau cukup memberi kami sejuta kalau tidak, “ Ani menggantungkan ucapannya.


“Apa?! Bicara yang jelas!” geram Nara.

__ADS_1


“Foto ini, akan kami tunjukkan pada kekasih hayalanmu itu.”


Nara tertawa terbahak-bahak hingga meneteskan air matanya, Ia merasa kedua pasangan ini sebentar lagi akan menjadi penghuni rumah sakit jiwa.


“Perbaiki dulu editannya, di sebelah sini masih terlihat jelas.”


Nara sedikit mendorong keduanya, mengehentikan sebuah taksi yang berlalu di sana. Ani dan juga Gino, saling mengalahkan ketika melihat kepergian Nara.


“Semua ini karena ulahmu!” oceh Ani menyalahkan Gino.


“Heh ja Lang, kau sendiri yang tidak becus! Jika saja editanmu rapih, pasti kita sudah mendapatkan uang, “ ujar Gino.


“Kau sendiri, apa yang kau kerjakan huh?!” bentak Ani.


Beberapa orang pedagang di sana yang sudah tuli dengan teriakan keduanya, mengambil seember air lalu menyiram keduanya.


“Aww!” teriak Ani.


“Kalau mau ribut, jangan di sini!” marah pedagang itu.


Gino langsung masuk kedalam mobil begitu saja, tanpa menunggu Ani yang masih ingin ribut dengan pedagang itu.


“Tukang gorengan aja bangga!” oceh Ani.


“Ya terus kenapa kalau tukang gorengan?!”


Para pedagang yang tidak terima dengan ucapan Ani, membawa beberapa balok di tangan mereka mendekati gadis itu.


Ani yang sudah tidak menemukan Gino lagi, berlari masuk kedalam mobilnya mengikuti kekasihnya yang sangat tidak berguna itu.


“Dasar tidak berguna, kenapa kau meninggalkanku?!” masih dengan ocehan Ani, Gino melajukan mobilnya pergi dari sana. Jika tidak, mobil itu akan hancur lebur dalam sekejap.


“Argh! Dasar pasangan gila, “ ocehnya melangkah menuju lift.


Tanpa di sadarinya, dalam lift itu sudah ada Bianka di dalam sana.


“Nara, ada apa?” tanya Bianka, menyadarkan gadis itu.


“Diamlah, aku sedang stres.”


Bianka yang awalnya tersenyum manis, ketika mendengar ocehan Nara berubah menjadi masam saat itu juga.


Nara melangkah keluar dari lift, Ia langsung disambut oleh Ria dan juga Ana yang tengah asik bercanda gurau bersama Victor.


“Kalian kesini mau kerja, atau bergosip?” judes Nara.


Ketiganya langsung menganga, apa lagi ketika gadis itu melangkah begitu saja tanpa menunggu jawaban dari ketiganya.


“Apa dia salah makan?” Ria melangkah mengikuti Nara kedalam devisi marketing.


Sedangkan Ani dan juga Victor, keduanya masih mematung di sana tanpa bergerak. Sampai pada akhirnya, mereka dikejutkan dengan ponsel Victor yang berbunyi.


“Aku pergi dulu, “ pamit Victor, melangkah masuk kedalam lift.


Ana yang bingung haru apa? Terpaksa mengikuti jejak Nara masuk kedalam devisi marketing, seperti Ria tadi.


“Kau salah makan yah Nara?” tanya Ana polos.

__ADS_1


“Enak saja, bukan masalah salah makan.”


“Lalu apa?”


“Aku tadi bertemu mantanku bersama kekasihnya, keduanya sangat menyebalkan.”


Tawa Ana pecah mendengar ucapan Nara, entahlah gadis itu sampai terbahak-bahak dalam tawanya.


“Kau tidak waras?” Ria membungkam mulut Ana, dengan pertanyaan kecilnya.


“Sory guys, lanjutkan lagi ceritanya.”


Nara menceritakan secara detail alasan kekesalannya pagi ini, dan seperti biasanya Ia akan mendapat respon anggukan kepala dari kedua wanita itu.


“Kemana Momy Meri dan Sendri?”


Hampir seminggu tak masuk kantor, Nara benar-benar tidak tau kemana kedua rekan kerjanya itu.


“Ada tugas di luar, lusa baru kembali.”


Nara hanya mengangguk beroiyah, lalu menatap komputernya sama seperti kedua gadis disampingnya itu. Matanya melirik ponselnya sekilas, meski Ia mencoba menolak semuanya namun hatinya tidak bisa berbohong, Ia merindukan kekasihnya.


“Apa dia tidak mau mengirimkan pesan?” batin Nara bertanya-tanya.


“Lupakan Nara, “ gumamnya pelan kembali pada pekerjaannya.


Victor yang sudah tiba di ruangannya, dengan cepat memeriksa berkas yang baru saja didapatnya lalu mengambil ponselnya menghubungi Alvaro.


“Kau yakin?”


Mendapat jawaban singkat dari Alvaro, Victor kembali fokus pada laptopnya lalu menekan tombol pada balik telinganya.


“Ilone, data-data ini tidak falid, “ ujarnya.


“Kau gila Victor, aku sendiri yang memeriksanya. Periksa lagi!”


Victor kembali meneliti setiap data dalam laptopnya, mencoba mencocokkan dengan data perusahaan Jovanka saat ini.


“Sudah ku cek Ilone, ini tidak falid.”


“Apa kalian berdua bercanda? Tidak mungkin perjalanan ini sia-sia, “ ujar Alvian dingin.


Keduanya baru saja tersadar, bahwa Alvian juga bisa mendengar semua pembicaraan keduanya.


“Cepat bereskan!” bentak Alvian.


Bianka yang sedari tadi menguping pembicaraan Victor, tersenyum smrik mengirimkan pesan pada seseorang.


.


.


.


Hai pembaca setiaku...


Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.

__ADS_1


Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.


makasih 🌹


__ADS_2