Dicintai Tuan Muda Alviano

Dicintai Tuan Muda Alviano
Bab 47 Dibully


__ADS_3

Pagi ini, setelah selesai bersiap-siap Nara yang di antar Rian tiba di halaman kantor Jovanka grup.


Kakinya melangkah masuk kedalam kantor, Ia harus melewati beberapa Devisi agar sampai ke ruangannya.


Saat melewati bagian admin, dirinya sempat mendengar desas desus namanya di sebutkan.


"Itu, gadis gatel yang berani menggoda bos, " tutur seorang gadis saat Nara melewatinya.


"Iya sepertinya dia bukan gadis yang baik-baik, " ujar satunya lagi.


Nara menggelengkan kepalanya mencoba tenang, sembari melanjutkan langkahnya.


Saat Nara melewati Devisi Keuangan, Nadia sudah berdiri di ambang pintu menunggunya.


"Selamat pagi, " sapa Nara.


Wanita itu tidak memperdulikan perkataan Nara, Ia berdecak lalu menatap lekat tubuh Nara dari atas sampai bawah.


"Oh ini, gadis gatel tukang caper sama bos, " sindir Nadia.


Beberapa karyawan lain yang berada di sana, ikut tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Nadia.


Nara menghela nafasnya panjang, melangkah pergi. Tangannya dengan cepat di tahan Nadia, membuatnya mengerang kesakitan.


"Lepaskan aku, " keluh Nara.


Nadia terkekeh mendengar perkataan Nara, semakin mengeratkan genggamannya.


"Kenapa waktu itu nggak minta dilepaskan Tuan muda, huh! " bentak Nadia seketika.


Nara yang tidak mengerti akan maksud dari perkataan Nadia, mengerutkan keningnya.


"Jangan sok polos deh di sini, semua tau kok kamu itu ja lang yang di pake tuan muda kan?! "


Suara tamparan pada pipi Nadia, bergema di seluruh penjuru kantor. Nadia memegang pipinya, menatap marah kearah Nara pelaku yang menyebabkan pipinya memerah.


"Jaga mulut sampah mu itu, " peringat Nara.


Nara yang sudah hendak melangkah pergi, rambutnya diJambak Nadia.


Nara memelintir tangan Nadia, mendorong tubuh gadis itu ke tembok.


Nadia menatap kedua temannya, yang langsung menarik tangan Nara membawa Nara menuju toilet.


"Lepaskan aku! " teriak Nara berusaha melepaskan diri.


Namun, kekuatan teman-teman Nadia lebih besar darinya.


Nadia yang sudah terlebih dahulu ke toilet, menunggu kedatangan Sonia dan juga Olive di sana.


"Tutup pintunya, " pintah Nadia.


Olive melangkah merapatkan pintu, lalu kembali menghadap Nadia dan juga Sonia yang saat ini sudah menjambak rambut Nara.


"Lepaskan aku, " titah Nara.


Nadia terkekeh tak memperdulikan perkataan Nara, Ia semakin kuat menjambak rambut wanita itu.


Saat ini, Alvian dan juga berlalu menuju ruang kerjanya dengan senyuman indah terukir di bibirnya.


Ketika keduanya melewati Devisi Marketing, Alvian menghentikan langkahnya berbalik menatap David.


"Baik tuan. "


Seolah mengerti akan tatapan Alvian, pria itu menyelonong masuk dan mendapati hanya Sendri seorang yang berada di sana.


"Kemana yang lainnya? " tanya David dengan mata menyapu seluruh ruangan.


"Ana, Ria, dan buk Meri sedang ke kantin mencari kopi pak, " jelas Sendri.

__ADS_1


"Lalu Nona muda kemana? "


"Belum datang pak. "


David mengangguk lalu melangkah kembali ke tempat Alvian.


"Bagaimana? "


David hanya menggelengkan kepala, yang langsung di sambut raut kecewa dari tuannya tersebut.


Alvian mengambil ponselnya, dan menghubungi seseorang yang tidak lain adalah Nara kekasihnya.


Sudah hampir lima panggilan darinya, tak di jawab wanita itu. Alvian melangkah menuju ruangannya, yang langsung di sambut Victor.


Victor berbalik lalu melangkah pergi, setelah Alvian sudah duduk di singgasananya.


"Mau kemana Victor? "


Mendapat pertanyaan dari Alvian, pria itu menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap tuannya.


"Mau cari kopi tuan muda, " ujarnya.


"Kalau ketemu gadisku, suruh dia kesini. "


Victor mengangguk mengiyakan perkataan Alvian, melanjutkan langkahnya pergi.


Ana dan juga Ria yang baru saja kembali dari kantin, keduanya terburu-buru menuju kamar mandi.


Ana yang mendorong pintu toilet, berbalik menatap Ria.


"Kok nggak bisa di buka yah, " ujarnya.


Ria menahan tangan Ana, menempelkan kupingnya pada pintu. Karena penasaran, Ana juga ikut menempelkan telinganya.


"Dengarkan, " titah Ria.


"Gila itu suara Nara. "


Ana yang terburu-buru, tak sengaja menabrak tubuh Victor hingga keduanya hampir terjatuh. Tapi, dengan cepat Victor menahan pinggangnya.


Keduanya bertatapan lama, sampai akhirnya pikiran Ana kembali tertuju pada Nara.


"Bos tampan, i-itu di toilet. "


Ana yang belum bisa menetralkan gugup serta nafas yang memburu akibat berlari tadi, menjadi terbata-bata.


"Tenang, ada apa? " ujar Victor memegang kedua bahu Ani.


Bukannya membantu Ana tenang, pria itu justru membuat Ana semakin tidak bisa mengendalikan jantungnya.


"Nara, toilet! " teriak Ana.


Victor dengan cepat berlari menuju toilet. saat baru beberapa langkah, pria itu berbalik lagi menatap Ana.


"Tugasmu memberitahu tuan muda. "


Setelah mengatakan hal itu kepada Ana, pria itu kembali berlari menuju toilet.


Ana pun tak tinggal diam, Ia memasuki lift menuju ruangan Alvian.


Victor yang sudah tiba di depan toilet, menendang kuat pintu itu membuat yang berada di dalam terkejut akan kehadirannya.


"Tuan Victor, " ujar Nadia kaget, melepaskan tangannya dari dagu Nara.


"Apa yang kalian lakukan! " bentak Victor.


Nadia, Sonia, dan juga Olive yang ketakutan hanya bisa menunduk tanpa sepatah kata pun.


"Jawab! "

__ADS_1


Victor mendekati ketiganya, lalu menyeret paksa mereka keluar toilet.


Ria menyelonong masuk kedalam toilet, membantu Nara berdiri.


"Kalian di pecat! "


Mendengar suara dingin Alvian, semua yang berada di sana berbalik menatapnya.


Sonia dan juga Olive hanya bisa pasrah dengan keadaan mereka saat ini.


"Tapi kenapa tuan? " tanya Nadia tak sadar dengan apa yang dilakukannya.


"Masih berani bertanya kamu, yang kamu siksa itu calon istri pemilik Jovanka grup. "


Mata Nadia terbuka lebar, mendengar apa yang di katakan Victor.


Alvian menyerobot masuk ke dalam toilet, dan dengan segera menggendong tubuh Nara yang sudah lemas.


"Aku mau pulang, " ujar Nara pelan sembari mengalungkan tangannya di leher Alvian.


Alvian melangkah keluar dari toilet, berjalan melewati Nadia dan juga kedua temannya.


"Urus mereka! " pintah Alvian sesaat sebelum meninggalkan tempat itu.


Setelah kepergian Alvian bersama Nara, Victor menatap Ana dan juga Ria lalu tersenyum smrik.


"Gila Ria, senyuman tuan Victor manis banget, " ujar Ana bak kesetanan.


"Kalian berdua kemari. "


Mendengar penuturan Victor, Ana dan juga Ria dengan segera menghampiri Victor.


Victor menempelkan bibirnya pada telinga Ana membisikkan sesuatu, yang membuat gadis itu semakin tak bisa bernafas.


"Mengerti? "


Ana mengangguk mengiyakan perkataan Victor. Gadis itu tak melepaskan pandangannya dari wajah Victor, sembari tersenyum.


"Lain kali tuan, jangan berbisik seperti itu, " titah Ria.


Victor menarik alisnya naik, seolah tidak mengerti akan ucapan Ria.


"Dirinya bisa serangan jantung, " jelas Ria.


Victor hanya mengangguk mengiyakan perkataan Ria, lalu menatap tajam ke arah Nadia and the geng.


"Bangun! ikut ke rooftop, " pintah Victor pada ketiganya.


Ketiga gadis itu bangkit berdiri, berjalan mengikuti jejak Ana dan Juga Ria yang di dahulu Victor ke rooftop.


Setibanya di atas, Ana dan juga Ria menganga melihat banyak tumpukan sampah yang berserakan. Tak hanya mereka, Nadia dan kedua temannya pun ikut berekspresi sama.


"Bereskan! " pintah Victor.


"Kalian berdua, ayok duduk dan nikmati pizza bersamaku, " tambah Victor.


Ana tersenyum lebar, lalu beralih duduk di samping Victor yang di ikuti Ria.


Sedangkan Nadia and the geng, dengan kesalnya membersihkan seluruh tumpukan sampah yang sengaja di buat Victor.


"Bersihkan yang bersih, kalian sih pake main-main sama Nona muda, " ledek Ana.


Victor tertawa terbahak-bahak mendengar celetukan gadis itu. Sedangkan Ria menganga lebar tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


.


.


.

__ADS_1


Makasih buat yang sudah mampir I love you 🌹


__ADS_2