Dicintai Tuan Muda Alviano

Dicintai Tuan Muda Alviano
59 Kembali ke rumah


__ADS_3

Sebuah mobil sport mewah, terparkir di halaman kediaman Keluarga Jovanka.


Rani bersama Evan yang asing dengan suara mobil itu, dengan menggendong Alexa keduanya beriringan menuju balkon kamar mereka.


"Itu bukan mobil Al, " ujar Rani.


Evan mengangguk menanggapi perkataan istrinya, dengan mata yang terus menatap kearah parkiran.


Dari balkon, dapat di lihat seorang pria bertubuh tegap mirip dengan sosok Alvian, berjalan keluar mobil.


Sontak saja, Rani dan Evan berjalan cepat keluar kamar.


Ketika mendekati ambang pintu, kaki keduanya seolah di paksa berhenti di saat sosok pria tampan tadi sudah terlebih dahulu berada di sana.


"Hallo Rani, " sapanya.


Evan menarik Rani bersembunyi di balik punggungnya, menatap tajam ke arah pria yang tak lain adalah Alvaro.


"Kenapa kak? aku tidak akan memakan istri dan anakmu. "


Seperti rumah sendiri, tanpa permisi Alvaro menyelonong masuk menuju sofa.


Sejak awal Ia menginjak kaki itu, bau rumah serta suasana itu membuatnya harus memutar kembali kenangan pahit dalam ingatannya.


"Varo, kapan kau pulang? "


Dengan suara yang lumayan bergetar hebat, Rani memberanikan dirinya mendekati Alvaro.


Sembari merentangkan tangannya, Alvaro meminta Rani mendekatinya.


Setelah berhasil mendapat persetujuan dari Alvian yang menganggukan kepala, Rani mengusap air matanya masuk kedalam pelukan Alvaro.


"Begitu bencinya dirimu hingga tidak mau memelukku? "


Sadar dengan sikapnya tadi, Rani seperti tertampar dengan apa yang di katakan Alvaro.


Dalam beberapa menit kemudian, Diandra yang sejak tadi pendengarannya menangkap suara seseorang yang begitu familiar, sedikit berjalan cepat ke ruang keluarga.


"Alvaro, " ujarnya.


Jantungnya berdegup kencang tak bisa di rem, wanita itu dengan tangisan menetes di pipinya mendekati Alvaro.


"Mommy. "


Melepas pelukan Rani, Alvaro bangkit mendekati wanita yang sudah melahirkan serta membesarkannya.


"Hiks hiks, kemana saja kau? "


Sembari mengecup singkat kening Diandra, tak luput juga Alvaro mengusap pelan punggung ibunya.


Ridwan memasuki ruangan itu, matanya memerah menahan amarahnya ketika melihat sosok Alvaro di sana.


"Diandra! "


Sontak, Alvaro melepaskan pelukan Diandra, semuanya mengikuti pandangannya yang saat ini tertuju pada Ridwan.


"Sedang apa kau di sini? "


Senyuman khas Alvaro, terukir indah di bibirnya ketika pertanyaan tadi menembus


lapisan dalam telinganya.


"Pulang, " jawab Alvaro santai.

__ADS_1


Seolah di siram dengan minyak, amarah dalam diri Ridwan semakin terbakar.


"Sudah ku katakan, jangan pernah kembali kesini sebelum saatnya. "


Walaupun dengan intonasi layaknya orang berbisik, Rani bisa mendengar apa yang di ucapkan Ridwan kepada Alvaro.


"Ada yang harus aku urus Ayah, " titah Alvaro menekan kata ayah.


Kata-kata Ridwan menyuburkan kecurigaan dalam diri Rani yang tadinya layu.


"Maksud ayah apa? "


Sadar suaminya keceplosan, Diandra mencoba mengalihkan perhatian Rani.


"Rani, kemana Alexo? "


Sedikit terukir sebuah senyuman pada bibir Evan, Ia tau ada yang tidak beres dengan Ridwan dan juga Diandra saat ini.


Tak ingin istrinya terpancing emosi, Evan dengan sigapnya membawa Rani menuju kamar.


"Tunggu mas, aku harus dengar penjelasan ayah. "


"Ayolah Rani, Alexa sudah rewel. "


Dengan penuh intimidasi, Rani akhirnya mau mengikuti Evan kembali ke kamar.


Setelah menghilangnya Rani dan juga suaminya dari pandangan ketiganya, Ridwan juga bergegas kembali ke kemar.


Bukan tanpa alasan, Ia khawatir jika nanti Alvian pulang menangkap basah dirinya tengah bersama Alvaro.


"Mari mama siapkan makan. "


Alvaro melepaskan tangan Diandra dari lengannya, Kecewa yah hanya kata itu yang selama ini Ia simpan dalam dirinya ketika menatap wajah Diandra.


Penuturan Alvaro serasa menyayat hati Diandra dengan perlahan. Putranya sudah melangkah mendekati ambang pintu, tapi kaki dan tangannya sama sekali tidak ingin mengejar dan menghentikannya.


"Mama harap, kamu bisa secepatnya mematuhi perkataan mama. " batin Diandra.


Rani dan juga Evan yang mendengar suara mobil Alvaro meninggalkan kediaman mereka, keduanya saling memandang satu sama lain dengan pikiran yang sepertinya sama.


"Aku curiga dengan mama Diandra dan juga ayah, " ujar Rani.


"Iya, aku juga sama. "


Untuk sekarang, Rani dan Evan hanya bisa mengumpulkan informasi. Keduanya sedang di larang Alvian untuk tidak terlalu jauh masuk kedalam sebuah masalah.


Berbicara soal Alvian,


Jovanka grup yang seluruh karyawannya sedang sibuk bersiap-siap pulang, harus mengurungkan niat baik mereka menunggu Alvian keluar terlebih dahulu.


"Apa kau akan tetap di sini? "


Nara yang pikirannya terbang kemana-mana, seketika tersadar di saat Alvian mendekatinya.


"Kalian dulu saja, aku ada urusan penting. "


Ekspresi datar yang sedari tadi di tunjukan Alvian, kini berubah masam ketika mendengar apa yang di katakan Nara.


"Mau kemana? "


"Ada yang harus aku temui, " ujar Nara yang seolah-olah menyembunyikan sesuatu dari Alvian.


"Kau tau Nara aku tidak suka di bo-

__ADS_1


"Tenang saja, aku tidak menyembunyikan apapun dari mu, aku pergi dulu bye. "


Seolah memupuk kecurigaan, Alvian menyuruh David mengikuti kemana perginya Nara.


"Baik tuan."


ketika sadar dengan isyarat mata Alvian, David dengan segera mengikuti jejak Nara yang sudah lumayan jauh dari parkiran.


Alvian mendekati mobilnya, di sana Ia di sambut Victor yang sudah membukakannya pintu.


Dengan kecepatan yang lumayan tinggi, Victor melajukan mobil Alvian menuju rumahnya bukan rumah utama milik Jovanka.


Dalam perjalanan pulang, kekhawatiran menyelimuti seluruh pikiran dan juga Hati Alvian. Kemana Nara pergi? pertanyaan itu terus berputar dalam kepalanya.


"Victor putar balik, kita ikuti David. "


Tanpa membantah sedikitpun, Victor memutar balik mengikuti David yang tengah membuntuti Nara.


David yang diam-diam membuntuti Nara, sedikit menarik nafasnya lega ketika melihat sosok kekasih tuannya memasuki sebuah toko buku.


"Sepertinya tuan muda terlalu posesif, " ujarnya.


"Apa katamu? "


Dunianya tidak baik-baik saja sekarang, Alvian mendengar apa yang Ia katakan barusan.


"Maaf tuan, Nona Nara hanya ke toko buku itu. "


Alvian yang baru saja beranda di belakangnya belum semenit, mengikuti jari telunjuk David kedalam toko buku.


Yang terjadi selanjutnya, membuat api dalam diri Alvian begitu membara.


Tidak begitu jelas, tapi dari luar toko Alvian melihat kekasihnya Nara tengah berduaan bersama pria yang wajahnya tidak bisa di lihat dari luar.


"Anda pasti salah paham tuan, " ujar Victor yang sudah paham akan maksud dari ekspresi wajah Alvian.


"Yang menggaji kalian saya, atau dia?! "


Dengan intonasi yang begitu tinggi, Alvian menatap tajam dua orang di hadapannya.


Api cemburu dalam dirinya begitu membara, ketika melihat Nara bersama pria lain yang sama sekali tidak di kenalinya.


"Ayok pulang. "


Victor maupun David, mengusap kasar wajah keduanya. Sepertinya sosok Alvian yang beberapa bulan ini tertutup, akan bangkit lagi dalam diri pria itu.


"Victor! "


Mendapat bentakan keras, Victor dengan segera berlari menuju mobil dan melaju meninggalkan toko itu.


Setelah kepergian Alvian, David masih terus berada di sana memperhatikan apa yang akan di lakukan Nara, dan siapa pria itu? Ia harus mencari tau sampai pada akar-akarnya kali ini.


Sebab, nasib seluruh karyawan rumah dan juga kantor, akan segera masuk kedalam neraka.


.


.


.


Makasih buat yang sudah mampir ke cerita aku 🌹


yuk komen sama likenya dong biar aku tau ada yang baca ❤️

__ADS_1


__ADS_2