
Marni mendekati Nara, memegang pundak sahabat itu.
"Bianka berubah Nara, entah apa yang merasukinya, " ujar Marni saat sudah di dekat Nara.
Nara sedikit tertegun, Ia mengingat bagaimana indahnya pertemanan mereka Waktu kuliah.
Entah apa yang sudah terjadi dengan Bianka, Ia juga sama sekali tidak tau.
"Sayang, ayok kita pulang. Takutnya ada apa-apa di jalan."
Lexi Mendekati kedua gadis itu, memegang pundak istrinya marni.
"Apakah nanti aku bisa berkunjung ke rumah kalian?"
Lexi dan Marni secara bersamaan, mengangguk mengiyakan pertanyaan Nara yang ingin mengunjungi rumah mereka.
Bayi dari tangan Nara berpindah ke Lexi, Marni menarik sahabatnya itu masuk dalam pelukan sebagai tanda perpisahan keduanya.
“Hati-hati yah, “ ujar Nara setelah melepaskan pelukan keduanya.
“Nara, kau juga haru hati-hati, “ ujar Lexi mengingatkan sebagai seorang teman.
Nara mengangguk antusias, ikut melangkah mendekati mobil keduanya. Sebelum kedua pasangan itu masuk kedalam mobil, Nara sedikit mencubit pipi bayi Marni.
“Bye Nar, “ pamit Marni.
“Jauhi Bianka, “ peringat Lexi, sesaat sebelum mengemudikan mobilnya menjauhi pantai.
Mobil Lexi melaju berlawanan arah ke kota, meninggalkan Nara yang tidak tau harus berbuat apa sekarang.
Ia sedikit melangkah sembari menatap ponselnya, sama sekali tidak ada pesan dari Alvian. Kekasihnya benar-benar terpengaruh oleh foto dari Gino.
“Lupakan soal Alvian, kau harus menyelidiki ada apa dengan Bianka, “ gumam Nara yakin dengan keputusannya untuk menyelidiki masalah Marni, yang sepertinya berhubungan dengan dirinya.
...***...
Alvian baru saja memasuki kediaman Jovanka, auranya begitu dingin dan juga sangat menakutkan. Bahkan Rani yang hendak bertanya, mengurungkan niatnya ketika melihat ekspresi wajah Alvian.
“Alvian, ayah mau bicara, “ ujar Ridwan menghalangi jalan Alvian.
Bruk
Sebelum apa yang ingin disampaikan oleh Ridwan keluar dari mulutnya, sebuah Vas bunga melayang di udara melewati kepala Ridwan dan hampir mengenai kaki Diandra.
“Aaa!” teriak Diandra ketakutan.
Semuanya terbelak kaget, dengan apa yang mereka lihat di sana. Amarah Alvian memuncak, Ia sudah sangat muak dengan semuanya ini.
“David!”
David yang entah dari mana datangnya, sekilas sudah berada di samping tuannya dengan tabnya yang sudah menunjukkan sesuatu.
“Apa yang anda lakukan dengan pria ini Tuan besar?”
Tak hanya Ridwan, Diandra berkeringat dingin ketika melihat sosok Ridwan bersama Gino dalam tab milik David. Dari foto itu, terlihat Ridwan memberikan beberapa jumlah uang pada Gino.
“Apa kalian berdua lupa?! Aku sedang mengusut kematian bunda, jika kalian terus berulah akan ku seret kalian dalam kasus ini.”
“Hanya itu satu-satunya cara, agar bisa memisahkan kalian, “ ujar Ridwan berapi-api.
“Kau begitu terobsesi untuk menikahkan ku dengan Roseta, kenapa tidak kau saja yang menikahinya?!” bentak Alvian tepat di wajah Ridwan.
__ADS_1
Jujur, Ridwan begitu takut dengan amarah Alvian kali ini. Pria itu sepertinya sudah dirasuki setan, wajahnya memerah dengan tatapan yang tidak biasa.
“David, minta Victor hancurkan si brengsek itu. “
Setelah mengatakan itu, Alvian melangkah pergi menuju kamarnya. Ridwan mengusap kasar wajahnya.
Sedangkan David, tanpa menunggu lama langsung menghubungi Victor melaksanakan perintah Alvian tadi.
“Apa kalian tidak capek? Alvian akan menghabisi kalian, “ ujar Rani mendekati Ridwan dan juga Diandra.
“Diam! Kami tidak membutuhkan nasehatmu, “ ujar Diandra.
Rani tersenyum pasrah, kembali ke tempatnya semula. Setelah ini, Ia sudah bertekad untuk tidak ikut campur dalam kegilaan Diandra dan juga Ridwan lagi. Parsetan mereka mau bagaimana, itu bukanlah urusannya.
“Setelah ini, siapkan peti mati kalian sendiri. Aku tidak ingin repot-repot nantinya, “ ujar Rani memperingati keduanya.
Ridwan yang frustasi hari apa lagi, dikejutkan dengan ponselnya yang berdering. Pikirannya makin berkalut, ketika melihat nama yang tertera pada layar ponselnya.
“Hallo Lian, “ ujarnya berjalan keluar menuju kolam.
Diandra yang mendengar perkataan suaminya, menjadi khawatir tersendiri. Jika Lian Sheng yang menelpon, itu artinya ada yang tidak baik-baik saja.
“Semakin rumit saja, “ gumamnya.
Bram yang sedari tadi memperhatikan mereka, menjadi terkejut ketika mendengar nama Lian Sheng.
“Bukannya sipit itu sudah mati?!” ujarnya bingung.
Jelas, jelas waktu itu Ia sendiri yang melepaskan bom di ujung pantai sana. Lalu kenapa pria itu masih hidup?
“Ada yang tidak beres, “ gumamnya.
Benar saja, ketika Bram membuka pintu ruangan itu terlihat Alvian sedikit berkutat dengan pekerjaannya.
“Tuan-
“Ia di selamatkan oleh seorang wanita, ujar Alvian yang mengerti akan maksud kehadiran Bram di hadapannya.
“Siapa tuan?”
“Evan masih menyelidikinya,” jelas Alvian.
“Pergilah ke club malam ini, orang suruhan Oma sedang melakukan perdagangan besar-besaran di sana. Minta Adam bersamamu, “ tambah Alvian.
“Baik tuan.”
Bram keluar dari ruangan Alvian, sedikit berlari menuju kamarnya mempersiapkan diri menuju tempat yang di minta Alvian tadi.
Setelah kepergian Bram, Alvian sedikit khawatir dengan keadaan Nara saat ini. Pasalnya, Ia meninggalkan gadis itu jauh dari kota.
Seperti dugaan Alvian, Nara yang sudah berjalan jauh sama sekali belum menemukan kendaraan yang lewat.
“Jika kesal bunuh saja aku, bukannya meninggalkan aku di sini sendirian, “ oceh Nara sembari menendang krikil di sana.
Nara yang capek berjalan lagi, sedikit duduk di trotoar. Pikiran terbayang akan perkataan Lexi siang tadi.
“Jauhi Bianka.”
“Argh! Apa yang terjadi sebenarnya, Bianka dan Marni kenapa sih? Masa gara-gara menampar Bastian, Ia harus meneror Marni seperti ini, “ ujarnya.
Jika saja ada yang lewat dihadapannya, pasti Ia di kira gila karena berbicara sendiri. Nara menarik nafasnya panjang, tiba-tiba saja di kejutkan dengan munculnya sebuah mobil yang berhenti tepat dihadapannya.
__ADS_1
“Nara! Apa yang kau lakukan di sini? “
Bagai dewi penyelamat, Meski sempat tidak suka pada Tiara tapi melihat sosoknya, Nara begitu bahagia.
“Kau seorang malaikat, “ ujar Nara berlebihan.
Tiara sedikit terkekeh geli mendengar perkataan Nara, lalu membuka pintu mobilnya yang seolah paham akan maksud gadis itu.
“Masuklah!” ujar Tiara.
Setelah dipastikan Nara sudah berada dalam mobilnya, Tiara melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu. Dalam beberapa menit, sama sekali tidak ada percakapan di antara keduanya.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Tiara, membuka pembicaraan di antara keduanya.
“Awalnya aku bersama Alvian, “ Nara menggantungkan pembicaraannya.
“Lalu, kemana pria gila itu?”
“Dia marah meninggalkan aku sendiri di sini, “ jelas Nara.
“Kenapa?” tanya Tiara semakin penasaran.
“Mantan kekasihku menemui kita di kafe tadi, dengan foto seolah-olah dia meniduri ku Alvian jadi murkah. Padahal itu hanyalah sebuah editan, mana tidak rapi lagi editannya, “ jelas Nara sedikit kesal.
Tiara bukannya prihatin dengan kondisi gadis di sampingnya, Ia malah tertawa terbahak-bahak meledeknya.
“Dia begitu posesif, waktu bersamaku dia tidak seperti ini.”
Nara berbalik menatap wajah Tiara, menyadari hal itu tawa Tiara kembali bergema.
“Kau cemburu, haahahaa tenang saja aku tidak akan merebutnya. David, jauh lebih menggoda dari Alvian.”
Nara sedikit terkejut akan perkataan Tiara, Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Tiara menyukai David.
“Waktu itu, aku dan Alvian pacaran hanya sebatas hubungan bisnis. Aku cukup kecewa, saat Alvian memintaku untuk menjalin hubungan gila itu. “
“Benarkah?”
Tiara mengangguk, mengiyakan perkataan Nara. Nara lekat wajah Tiara, mencari titik kebohongan dalam wajah gadis itu namun, Ia sama sekali tidak menemukan apapun.
“Mau langsung pulang?”
Nara menggelengkan kepalanya, “ Biasakah kita ke suatu tempat?”
Tiara yang awalnya ragu, tampak berpikir sebentar sebelum akhirnya mengangguk menyetujui permintaan Nara.
“Baiklah Nona muda, “ ujarnya.
.
.
.
Hai pembaca setiaku...
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.
makasih 🌹
__ADS_1