
Tangisan Nara semakin menjadi-jadi, Ia bangkit dari bawah langsung memeluk erat tubuh Alvian saat itu juga.
“Mau kemana kau?”
Nara melepaskan pelukannya, menatap lekat wajah Alvian dengan sisa-sisa air mata masih menempel pada pipinya. Alvian mengusap pipi Nara, lalu mengecup dalam kening gadisnya itu.
“Ayok, kita duduk di sana!” titah Alvian, menarik tangan Nara menuju sebuah bangku panjang di sana.
Alvian menarik Nara masuk dalam pelukannya, mengusap-usap surai panjang Nara lembut sembari menatap setiap insan yang berdiri di hadapan mereka. Mengerti dengan maksud dari tatapan Alvian, semuanya langsung membalikkan tubuh mereka, memunggungi Alvian dan juga Nara terkecuali Tiara yang masih mematung.
“Balik bodoh, “ ujar Alvaro, memutar tubuh Tiara.
Tiara yang hendak mengeluarkan suaranya, dengan cepat mulutnya di tutup oleh tangan David. Wajah Tiara memerah, menahan jantungnya yang berdegup kencang akibat perbuatan David.
Alvian mengangkat wajah Nara hingga pandangan keduanya bertemu, menempelkan keningnya pada kening Nara.
“Jaga dirimu baik-baik, ingat ada cincin dan kalung itu yang selalu bersamamu, “ ujarnya.
Nara menggelengkan kepalanya, tak terima dengan perkataan Alvian. Ia hendak menjauhkan kepalanya namun, di tahan lagi oleh Alvian.
“Jangan pergi kak, hiks hiks.”
Mendengar panggilan yang selama ini dirindukannya, Alvian mengecup bibir Nara dalam. Tak sampai di situ saja, Alvian sedikit melu mat bibir mungil Nara. Nara tak mau tinggal diam, Ia dengan sedikit keberaniannya membalas lu matan Alvian yang membuat kekasihnya itu, semakin memperdalam ciumannya.
Tiara yang baru mengerti akan maksud dari mereka berbalik, membulatkan matanya sempurna sedikit melirik sampingnya. Seperti dugaannya, kelima pria disampingnya ada yang mengusap kasar wajah mereka, mendengar desa Han yang keluar dari kedua pasangan di belakang mereka.
Merasa sudah kehabisan pasokan udara, Alvian melepaskan tautan Keduanya mengusap lembut bibir mungil Nara.
“Aku akan merindukan ini, “ ujarnya.
“Aku mohon Al.” Masih dengan permohonan yang sama, Nara tak ingin Alvian meninggalkannya.
Alvian kembali menarik Nara masuk kedalam pelukannya, mengecup berulang kali rambut Nara begitu sayang.
“Aku akan kembali sayang, “
Nara kembali meneteskan bulir-bulir bening dari matanya, ikut membalas pelukan Alvian begitu eratnya.
...***...
Kediaman Jovanka saat ini begitu riweh, Diandra sedari mencoba menenangkan Roseta yang tak hentinya meneteskan air matanya.
“Bibi, apa aku tidak akan menjadi nyonya Jovanka grup?!” ujarnya sembari berteriak heboh.
Alexa yang sedari tadi tenang dalam gendongan Rani, terkejut dan menangis saat teriakan Roseta menggema dalam telinganya. Rani menarik nafasnya panjang, menyerahkan putrinya pada salah satu pelayan di sana mendekati Roseta dan,
Plak
Semuanya mata terbelak melihat apa yang dilakukan Rani pada Roseta, Lian sudah mengarahkan senjatanya pada Rani.
“Singkirkan senjatamu dari wajahku!” bentak Rani, mengambil alih senjata itu dengan cepat lalu mengarahkan pada Roseta.
“Beraninya kau berteriak, kau tau aku sangat capek!” teriak Rani.
Ridwan mendekati Rani, merebut paksa pistol itu dari tangannya hingga membuat Rani tersungkur ke lantai.
__ADS_1
“Ayah!” bentak Evan, mendekati istrinya.
“Kau sudah mulai berani yah seperti adikmu!” Ridwan tak kala meninggikan suaranya.
Evan membantu Rani berdiri, lalu menatap lekat Roseta dan juga Diandra. Jika saja Ia mendapat kesempatan untuk menghabisi mereka, saat itu juga nyawa keduanya melayang.
“Kenapa memangnya? Kata Ayah dalam dirimu, hanyalah sebuah nama, “ ujar Rani tersenyum.
Diandra mendekati Rani dan hendak melayangkan tamparan pada pipi Rani, dengan cepat ditahan Evan.
“Jangan sentuh istriku!” ujar Evan dingin.
Ridwan menarik nafasnya panjang, mengusap kasar wajahnya mendekati Lian yang hanya memperhatikan mereka.
“Maafkan aku Lian, akan ku pastikan Alvian dan Roseta menikah, “ ujarnya.
“Tidak akan kubiarkan itu terjadi, “ bantah Rani saat itu juga.
Diandra yang semakin geram dengan sikap Rani pada Ridwan, melempar sembarang vas bunga di sana.
“Kalian berdua, keluar dari rumah ini!” usirnya.
Roseta tersenyum puas dengan perkataan Diandra, melipat kedua tangannya sombong menatap sembari meledek kedua pasangan itu.
Rani merasa seperti wanita dihadapannya ini sudah tidak waras lagi, Ia menggelengkan kepalanya sembari tertawa terbahak-bahak.
“PAK VERY!” teriaknya.
Saat itu juga, Very bersama dengan beberapa orang pelayan dari mansion Alvian, mendekati mereka. Tak hanya Roseta dan juga Lian, Diandra bahkan Ridwan sama sekali tidak mengetahui siapa Pak Very ini.
Pak Very menyerahkan sebuah kertas pada Rani, wanita itu langsung menunjukkan tepat pada wajah Diandra dan juga Roseta.
Rani kembali menyerahkan kertas bertuliskan saham Jovanka house atas nama Rani pada Very, mengikuti langkah Evan yang menariknya pergi dari sana.
Keempat manusia itu tidak percaya dengan semuanya ini, Kemana Alvian pergi pun mereka sama tidak mengetahui, rencana mereka jadi berantakan sekarang.
“Hancur semuanya!” teriak Diandra.
“Kemana Alvian pergi?” tanya Roseta, nadanya masih terdengar bersahabat.
“Kami juga sama sekali tidak mengetahui, kemana perginya?!”
Roseta tersenyum smrik, melangkah keluar rumah menuju parkiran mendekati mobilnya lalu meninggalkan tempat itu.
“Temukan dia, jika tidak kalian berdua ku habisi!” ancam Lian.
“Tenang saja Lian, kami pasti akan segera menemukan Alvian.”
“Satu lagi yang harus kau kerjakan Ridwan, “
Lian sedikit menggantung ucapannya, membuat kedua pasangan suami-istri itu menatap penasaran dengan kelanjutan Kalimatnya.
“Hancurkan gadis itu!” titah Lian.
Tak menunggu lama, baik Ridwan maupun Diandra mengangguk antusias menanggapi perkataan Lian. Sadar atau tidaknya mereka bertiga, sedari tadi Very masih memperhatikan mereka tanpa menjauh dari sana.
__ADS_1
“Kalian akan ku hancurkan terlebih dahulu, “ gumam Very pelan, meninggalkan tempat itu.
Ketika Ayahnya tengah sibuk mempersiapkan rencana untuk menghancurkan hidupnya, Alvian justru saat ini tengah menunggu keberangkatannya.
Sembari mengusap punggung gadisnya, Alvian melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul satu dini hari.
“David, kapan keberangkatan kita?”
Nara semakin mengeratkan pelukannya, tak mau mendengar perkataan yang akan keluar dari mulut David.
“Pukul dua tuan, sebentar lagi.”
Nara melepaskan pelukannya dari tubuh Alvian, bangkit dari duduknya mendekati Alvaro dan juga Dito yang duduk berhadapan dengan mereka.
“Kalian mau mengantarku pulang?” ujarnya bertanya.
Alvian juga ikut bangkit dari duduknya, ikut di samping kanan kedua pria itu. Sedangkan Nara, duduk di samping kiri mereka.
“Ada yang ingin aku sampaikan pada kalian berdua, “ ujar Alvian.
Alvian terlihat membisikkan sesuatu kepada keduanya, lalu menyandarkan kepalanya pada tempat duduknya menunggu jawaban dari keduanya. Setelah mendapat jawaban dari keduanya dengan anggukan, Alvian menarik nafasnya lega.
“Kalian ti-
“Tuan, sudah waktunya.”
“Bukannya jam dia?” tanya Alvian bingung.
“Waktunya keberangkatannya di majukan tuan.”
Alvian mengangguk, bangkit dari duduknya berjalan menjauh dari sana. Nara yang tadinya tidak mau memperdulikannya lagi, berlari memeluk Alvian dari belakang.
“Jangan tinggalkan aku Al, “ ujarnya melemah.
Alvian melepaskan tangan Nara pinggangnya, berbalik menatap lekat Nara sembari tersenyum lebar.
“Aku harus pergi, setelah semuanya selesai aku akan kembali. Jaga kalung ini, aku akan menikahimu.”
Setelah mengatakan itu, Alvian sedikit mengusap kepala Nara lalu melangkah pergi. Ia benar-benar akan meninggalkan Nara saat ini. Dengan dibuntuti Bram dan juga David, Alvian berjalan tak berbalik lagi.
“Alvian!” ujar Nara pelan, melepaskan cincin dari jari manisnya.
“Kau tau tuan muda Alviano, ketika kau memilih pergi dariku maka detik ini juga, aku Winara Atmaja tidak akan pernah menanti pulangmu lagi.”
Nara melirik ponselnya sekilas, berjalan pergi dengan di buntuti Tiara bersama ketiga pria itu di belakangnya.
.
.
.
Hai pembaca setiaku...
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
__ADS_1
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.
makasih 🌹