
Dengan di bantu Dito, Nara bangkit berdiri berjalan sempoyongan masuk kembali kedalam ruangan Firman. Ia dan juga Dito, di sambut Tina yang sudah panik melihat keadaannya.
“Mau di obati?” pertanyaan konyol dari mulut Dito, sukses membuat Nara menatapnya tajam.
“Nggak usah, biarkan seperti ini, “ tolak Nara.
Dito pikir gadis itu hanya bercanda saja, Ia keluar dari ruangan itu menuju ruangannya melewati kedua pria yang tengah merenungi kesalahannya.
Ketika melihat sosok Dito yang sudah menjauh dari sana, kedua pria secara bersamaan memasuki ruangan Firman mendekati Nara.
“Nara, apa yang sakit?” tanya Rian duduk di sebelah kiri Nara.
“Sayang, mana yang sakit?” Alvian juga ikut-ikutan, duduk di samping kanan kekasihnya.
Nara memutar bola matanya malas, bangkit dari duduknya berjalan menghampiri Rian yang menyuruhnya mendekat.
“Hanya luka goresan, “ ujar Tina.
Wanita tua itu mengeluarkan obat merah dari dalam tasnya, menggunakan sedikit kapas mengoleskan Betadine pada kening Nara yang berdarah. Setelah selesai mengolesi dengan obat, Tina membalut luka itu mengunakan plester luka.
“Sudah, besok pasti kering.” Tina membereskan barang-barangnya, menentang tasnya hendak berjalan keluar.
“Mau kemana ma?” tanya Nara memeluk erat tubuh mamanya.
“Pulang, ini sudah sangat gelap. Kalian di sini saja, jangan bertengkar lagi.”
Setelah mengatakan itu, Tina melepaskan pelukan putrinya mengecup singkat kening Nara melangkah meninggalkan ruangan itu.
“Mama kok beda banget, “ gumam Nara.
Matanya masih terus memandangi pintu, walaupun sosok Tina sudah jauh menghilang dari sana. Tak menjelang lama, Dito kembali dengan membawa kotak obat berdiri terpaku di depan pintu.
“Loh, sudah di obati?” ujarnya mendekati Nara.
“Berasa gagal gue jadi dokter, “ timpalnya lagi, saat menyadari balutan luka itu di buat oleh Tina.
Alvian dan juga Rian, memutar bola matanya keduanya malas, menyandarkan punggung keduanya secara bersamaan ke sofa.
“Dokter bodong!” cibir keduanya bersamaan lagi.
Nara yang kesal dengan ketiga pria di hadapannya, mendekati Firman menumpahkan kepalanya keatas tangan Firman.
“Mama beda banget hari ini.” Batinnya mengusap-usap lembut tangan keriput ayahnya.
Tanpa Nara sadari, ketika dirinya mengangkat kepalanya melirik ketiga pria tersebut, jari telunjuk Firman sedikit bergerak dalam beberapa detik saja.
Mereka semua saat ini terdiam tak ada yang bersuara, hingga akhirnya telepon milik Alvian berbunyi membuat mereka mengalihkan pandangannya pada Alvian.
“Bagaimana David?” ujar Alvian menatap Nara.
Tanpa ada sedikit penjelasan darinya, Alvian bangkit dari duduknya berjalan keluar begitu saja dengan sedikit berlari.
“Mau kemana dia?” ujar Dito bertanya-tanya.
Nara sudah ikut bangkit berdiri, hendak mengejar Alvian. Namun, Ia langsung dihentikan oleh Rian yang sudah menghadang pintu.
__ADS_1
“Duduk!” titah Rian dingin.
“Menyingkir Rian, “ ujar Nara kekeh ingin mengejar Alvian.
“Nara!”
Mendengar penuturan dari Dito, tak hanya Nara saja Rian juga berbalik menatapnya sendikit takut.
“Dengarkan kata Rian, “ Dito keluar dari ruangan itu, dengan senyuman mengambang menatap sekilas Nara sebelum akhirnya benar-benar menghilang dari pandangan kedua Kaka beradik itu.
“Kau mau duduk, atau ku panggil Dito?!” ancam Rian.
Nara tau, jika Dito sudah ikut campur pria itu akan bersikap seperti Alvian. Dengan sangat terpaksa, Nara kembali ke tempatnya semula di samping Firman.
Ridwan dan juga Diandra bersama Evan dan juga Rani, saat ini tengah makan malam bersama Lian Sheng di meja makan Alvian.
Bram menjadi risau, Ia sama sekali tidak tau harus apa sekarang. Jika Ia membiarkan mereka, Alvian akan menghabisinya saat itu juga.
“Mati aku, “ gumamnya ketakutan.
“Aku tidak akan membunuhmu.”
Suara seseorang yang begitu familiar di telinga Bram, membuat berbalik mendapati Alvian sudah berada di belakangnya bersama Victor, dan juga David.
“Kalian berdua, ke markas. Victor, ikut aku.”
Alvian bersama Victor, melangkah mendekati meja makan. Sedangkan David dan juga Bram, sudah berlalu menuju markas.
Melihat langkah Alvian yang mendekat kearah mereka, Rani dan juga Evan menarik nafas lega. Keduanya seperti sedang di tahan saat ini, akhirnya mereka mendapat pertolongan juga.
“Alvian, “
Alvian menghentikan langkahnya begitu juga Victor, berbalik menatap Diandra yang memanggilnya. Wanita tua itu tersenyum, berjalan mendekati tangga.
“Ayok bergabung bersama kami, Mr. Lian ingin membahas pertunangan mu bersama Roseta.”
Alvian sedikit menatap Victor, membuat pria itu langsung melangkah tanpa menunggu lagi. Sedangkan Alvian, sedikit tersenyum menghampiri meja makan mengambil Alexa dari pangkuan Evan.
“Alvian, menurut mama dan juga ayahmu, pertunangan kalian berdua bisa di laksanakan Minggu depan. Bagaimana Mr. Lian?” ujar Diandra.
Ia sedikit bahagia, akhirnya apa yang diinginkannya bersama Ridwan selama ini terwujud juga untuk menikahkan Alvian dan Roseta.
“Jika itu menguntungkan ku, semua kejadian waktu itu akan aku lupakan.” Lian Sheng sama tidak mengalihkan pandangannya dari Alvian.
“Kau sendiri bagaimana Alvian?” tadi Diandra yang bersuara, sekarang giliran Ridwan yang bertanya pada Alvian.
“Dimana Roseta? Apa kalian yang menyembunyikannya selama ini?”
Sungguh di luar dugaan semuanya, Alvian mencoba memancing amarah Lian saat ini, dengan melontarkan pertanyaan itu.
“Jadi, kalian yang melepaskannya dari kurungan?” tanya Alvian lagi, seolah menangkap basah kedua pasangan suami-istri itu.
“Nak, lupakan itu okey?! Sekarang yang terpenting, kau dan Roseta akan bertunangan minggu depan, “ ujar Diandra mencoba membuat Alvian tidak melanjutkan perkataannya.
“Iyah, benar juga. Apa tidak bisa dalam lima hari lagi?”
__ADS_1
Rani dan Evan yang sedari tadi hanya menjadi penonton, berbalik menatap lekat Alvian mencari keseriusan dalam wajah adiknya.
“Ada apa Kaka, kaka ipar? Aku sangat tidak sabar menikah dengan Roseta, “ ujar Alvian semakin membuat Rani menatapnya tajam.
“Apa kau tidak waras?!” Nada suara Rani tidak bisa di kontrol lagi.
“Rani, jika adikmu sudah setuju itu artinya putriku sangat pantas bersanding dengannya, “ ujar Lian percaya diri.
Alvian menatap ponselnya yang bergetar, meletakkan kembali Alexa pada pangkuan Evan bangkit dari duduknya.
“Majukan pertunangannya, “ ujar Alvian.
Setelah mengatakan itu, Alvian melangkah kembali menuju kamarnya tanpa menyentuh makanan yang sudah di masak Diandra dengan penuh perasaan dan cinta yang membara.
“Baiklah Lian, sesuai permintaan putraku hari Sabtu pertunangan akan di laksanakan.”
Evan menarik nafasnya panjang, bangkit dari duduknya ikut berjalan meninggalkan meja makan bersama Alexa menuju kamarnya.
“Rani kecewa sama Ayah.”
Tak mau ketinggalan, Rani pun mengikuti jejak suaminya setelah menunggu Alexo mencapainya kedua ibu dan itu masuk kedalam kamar.
“Akan ku hubungi Roseta, “ ujar Diandra tersenyum senang.
“Ingat Ridwan, lima belas persen dari Jovanka grup milik putriku.”
“Tenang saja Lian, setelah Ia menikah dengan Alvian semuanya milik Roseta.”
Setelah kepergian Diandra, kedua pria itu mulai membahas pembagian saham Jovanka yang akan menjadi milik Roseta, setelah menikah dengan Alvian.
“Anda yakin tuan?” tanya Victor menatap Alvian yang sedang menandatangani berkas-berkas dihadapannya.
“Berikan semuanya pada Rian, pastikan Rian menyimpan semuanya tanpa di ketahui Dito.”
Victor menerima berkas itu namun, belum juga pergi masih menunggu jawaban Alvian soal pertanyaannya.
“Kau akan tau besok."
Victor hanya mengangguk, lalu merapikan semua berkas itu.
.
.
.
hmm, berkas apa itu guys?
Hai pembaca setiaku...
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.
makasih 🌹
__ADS_1