Dicintai Tuan Muda Alviano

Dicintai Tuan Muda Alviano
109 Hanya Duplikatnya Saja


__ADS_3

Setibanya mereka di kediaman Alvian, dengan cepat Alvian membawa berkas-berkas itu menuju ruang tamu.


Kiran yang melihat kedatangan Alvian bersama beberapa orang yang belum Ia lihat sebelumnya, mendekati pria itu.


“Siapa mereka Al?” tanya Kiran.


Ilone menaikkan sebelah alisnya, dengan maksud menanyakan hal sama pada Alvian, David, dan juga Bram.


“Nanti aku ceritakan, “ ujar Alvian, menatap Ilone.


Merasa tidak dipedulikan Alvian, Kiran berjalan menuju ruang televisi sembari menghentakkan kakinya yang menimbulkan bunyi menganggu.


“Kau mau kuhabisi dia?!” ancam Ilone, menatap tajam Alvian.


Alvian mengusap kasar wajahnya, lalu mulai mengarahkan seluruh anak buahnya untuk berjaga-jaga di sekitarnya.


“Gadis gila, “ umpat Bram, langsung disambut tawa renyah oleh Ilone.


“Semuanya, cepat berjaga-jaga di sekitar sana, “ David memerintahkan beberapa anak buahnya, untuk berjaga di sekitar kolam, dan juga beberapa tempat lainnya.


Setelah selesai, David kembali mendekati Alvian tepat di sebelah Niko.


Alvian dengan perlahan, mengeluarkan semua berkas-berkas itu lalu mulia memeriksa setiap isinya tanpa di bantu siapapun.


Baik Niko maupun ank buah Alvian, semuanya hanya menatap ketika Alvian mulia satu persatu memeriksa setiap berkas tersebut.


Senyuman terukir pada bibirnya, saat sebuah surat yang selama ini Ia cari ternyata benar-benar ada di sana.


“Surat wasiat, “ baca Niko sedikit keras.


Alvian membaca setiap kata yang berada pada surat itu, hingga akhirnya matanya tertuju pada tanda pengesahan di bawah surat wasiat tersebut.


“Ada apa Tuan?” tanya Ilone.


Eksepsi wajah Alvian berubah, membuat semuanya ikut penasaran dengan isi dari surat itu. Kepanikan mereka bertambah, ketika Alvian dengan cepat mengacak-acak semua berkas yang berada di atas meja.


“Sial,” umpat Alvian, saat berkas kepemilikan saham Jovanka grup sudah berada di tangannya.


Ilone dengan cepat menggambil kertas-kertas itu dari tangannya, Ia sedikit bingung dengan eksepsi Alvian saat ini.


“Bukannya ini memang wasiat Tuan besar, dan juga Ini berkas kepemilikan sahamnya kan?” ujarnya menatap Alvian.


Sama halnya dengan Ilone, baik Niko maupun David dan juga Bram, mereka semua dibuat bingung dengan ekspresi kesal Alvian.


“Iya memang itu wasiat dan juga berkasnya, tapi apa kalian tidak lihat dibawanya? Dibawahnya hanya ada paraf Kakek dan bunda saja, tidak ada stempel pengesahan di sana, “ jelasnya panjang lebar.


Keempatnya baru tersadar, setelah Alvian menjelaskan pada mereka. Alvian benar-benar kehilangan arah sekarang, Ia benar-benar tidak tau apa yang harus Ia lakukan lagi.


“Bagaimana sekarang?” ujar Ilone, menduduki sofa empuk itu.


“Al, apa kita tidak bisa menggunakan berkas ini saja?” ujar Niko.

__ADS_1


Alvian menarik nafasnya panjang, Ia mengusap kasar wajahnya kembali mengamati Berkas itu.


“Meskipun kita menggunakan berkas-berkas ini, semuanya tidak akan sah tanpa stempel Jovanka. Dan lagi, berkas-berkas ini sepertinya hanya sebuah duplikat saja.”


Mendengar perkataan Alvian, semuanya terkejut. Jika berkas tersebut duplikat, lalu kemana yang aslinya?!


“Lalu, kemana aslinya?” ujar David, bertanya.


Alvian menggelengkan kepalanya, dirinya benar-benar tidak tau kemana Viona ibundanya menyembunyikan seluruh berkas penting itu.


“Apa mungkin, Rani mengetahui semuanya?” ujar Bram, menebak-nebak saja.


“Dia bahkan pergi sebelum kakek meninggal, “ jelas Alvian.


Kini mereka benar-benar putus asa. Entahlah, harus apa mereka sekarang? Semua usaha mereka dalam sepuluh tahun, harus sia-sia ketika melihat berkas-berkas tersebut.


Kiran yang sedari tadi sibuk dengan tontonannya, mendekati Alvian dengan memasang wajah seimut mungkin mencoba mencari perhatian pria itu.


“Al, boleh Ak-


“Jangan mengganggu Kiran!” bentak Alvian.


Ilone yang tadinya menahan semuanya ketika melihat sikap genit wanita itu, menarik senyumannya saat melihat Alvian membentaknya.


Kesal di bentak Alvian, Kiran dengan sengaja menyenggol vas bunga yang berada di dekatnya, lalu berlari menuju kolam.


Seluruh pandangan tertuju pada vas yang sudah hancur di lantai, gadi itu benar-benar memancing amarah Alvian.


“Kau yakin Al? Apa kau tidak ingin mencoba lagi? Jangan-jangan Lidia menyembunyikan stempel itu di suatu tempat, “ ujar Niko.


Alvian menghembuskan nafasnya kasar tak memperdulikan perkataan Niko, Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam kantong celananya lalu menatap foto Nara pada layar ponselnya.


“Jadi ini ketua the gosip hot?!” ujar Ilone bertanya, ketika matanya dengan lancang melirik ponsel tuannya.


“Dari mana kau tau?” tanya Bram, penasaran.


Bagaimana tidak penasaran? Yang mengetahui grup itu, hanyalah mereka yang berada di Indonesia saja. Tidak mungkin kan, nama grup itu menyebar sampai pada anak buah Alvian yang berada di Swedia?!


“Jelaslah aku tau, Victor sudah menyebarkan berita hot itu, “ ujar Ilone santai.


“Dasar ember, “ umpat David kesal.


Dirinya memang harus kesal, sebab dialah admin grup paling populer dalam kalangan seluruh anak buah Alvian.


“Kau belum menjawab pertanyaan ku, Al, “ ujar Niko, Ia masih mengharapkan balasan dari Alvian atas pertanyaan tadi.


“Dengar Niko, aku sudah menelusuri setiap sudut rumah itu, tetap saja aku tidak menemukan apapun selain isi dari brankas tersebut.” Ilone yang mengambil alih, menjawab pertanyaan Niko.


Niko begitu frustasi sekarang, Ia berpikir sebentar lagi dirinya akan benar-benar lepas dari Lidia. Ia sudah muak, harus bekerja keras demi mendapatkan haknya.


Alvian terus menatap ponselnya, hingga akhirnya pikirkannya tertuju pada Nara yang dengan mudah bisa memecahkan Kalimat dari Viona ibundanya.

__ADS_1


Alvian sepertinya baru tersadar, Nara menyembunyikan sesuatu darinya. Kekasihnya itu mungkin saja ada hubungannya dengan semuanya ini.


“David, apa kau masih menyimpan foto yang kau temukan waktu itu?”


David yang awalnya bingung dengan maksud dari pertanyaan Alvian, tak lama kemudian Ia mengeluarkan ponselnya dan menampilkan foto jadul di sana.


“Siapa ini?” ujar Ilone bertanya.


Dalam tampilan ponsel David, terlihat ada seorang wanita yang tersenyum manis tengah dihapit sepasang suami istri disamping kiri, dan kanannya.


“Bukannya ini bibi Viona, terus siapa pasangan suami-istri itu?” ujar Niko.


Yah benar, wanita yang dihapit kedua pasangan suami istri tersebut adalah Viona, ibundanya Alvian.


“Apa kalian berdua merasa tidak asing, dengan kedua orang itu?” ujar Alvian, menatap Bram dan juga David.


“Iya tuan muda, wajahnya terasa begitu familiar sekali, “ jawab Bram, tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel David.


“Apa pikiran anda sama denganku, tuan muda?” David menatap wajah Alvian.


Alvian tersenyum smrik, mengangguk mengiyakan perkataan David. Ia lalu menyenderkan punggungnya pada sofa, sembari menatap Niko dan Ilone.


“Persiapkan kepulanganku, secepatnya!” tekat Alvian bulat.


Ilone yang masih bingung dengan semuanya, terus memperhatikan foto itu begitu juga dengan Niko yang berada di sampingnya.


“Memangnya, siapa mereka?!” kesal Ilone.


“Kau akan tau, jika kita sudah tiba di Indonesia, “ ujar Bram.


Alvian tertawa singkat mendengar perkataan Bram, Ia bangkit dari duduknya berjalan kearah lift hendak menuju lantai tiga.


Namun sebelum dirinya benar-benar pergi, Ia masih menyempatkan diri untuk membubarkan anak buahnya yang berada di sekitar ruang tamu.


“Kalian boleh bubar, tapi langsung menyebar di penjuru rumah ini.”


Setelah mengatakan itu, Alvian benar-benar meninggalkan ruangan tersebut. Sedangkan Ilone dan juga Niko, masih sibuk memperhatikan foto tersebut.


“David!” teriak keduanya secara bersamaan, saat David tanpa permisi mengambil ponselnya dan berlalu pergi.


.


.


.


Hai pembaca setiaku...


Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.


Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.

__ADS_1


makasih 🌹


__ADS_2