
David segera turun dari mobilnya dan menuju ke arah segerombolan orang yang menutupi wajahnya.
"Mau apa kalian? sudah bosan hidup?!" ucap David berteriak.
Namun, bukan menjawab mereka malah menyerang langsung David
"BUKK!, "
pertarungan dimulai David menghajar satu persatu orang misterius itu.
"Dasar payah, apa ini yang kalian sebut pertarungan?" ucap David meremehkan.
Alvian yang malas meladeni parah musuh itu, hanya menyandarkan tubuhnya pada pintu mobil, menyaksikan pertarungan antara David dan segerombolan orang misterius itu.
Tanpa David sadari, salah satu orang misterius itu berada tepat dibelakangnya siap memukul David dengan balok kayu.
"BUKK" suara pukulan keras terdengar, David tersungkur akibat pukulan keras itu dan meringis kesakitan.
"Tuan, saya hampir mati! " David berteriak kepada Alvian, bukannya langsung membantu, masih Sempat-sempatnya Alvian mengunyah permen karet.
"Tuan!"
"Dasar lemah, " cibir Alvian mendekati David yang sudah sangat kewalahan.
"Mau apa kalian? " tanya Alvian dengan wajah datar namun, nada sedikit tinggi.
"Anda tidak perlu tau itu, yang penting kamu mati, " ucap satu dari segerombolan orang misterius itu lalu menyerang Alvian.
"Bukk!, "
Alvian menghajar satu persatu orang misterius itu, masih ada 6 orang lagi. Namun, sudah kehabisan tenaga ia kalah jumlah apalagi asistennya itu sudah tidak kehabisan pasokan tenaga juga.
ketika mereka melihat Alvian sudah kewalahan, ini kesempatan meraka untuk menghabisi Alvian. Saat orang misterius itu ingin memukul Alvian, seseorang menghadangnya tidak lain adalah Alvaro.
"Lemah, " cibir Alvaro.
Bisa-bisanya pria itu masih sempat mencibir, ketika parah musuh sudah mengarahkan senjata kearah ketiganya.
"Saya tidak memerlukan bantuan penghianat seperti mu."
Ini lagi, bukannya terima saja bantuan Alvaro, Ia masih saja mementingkan egonya. David berdecak kesal, sembari memegang tengkuknya yang sakit akibat balok tadi.
"Terima saja tuan, anda mau mati di sini?!"
Dengan penuh keterpaksaan dari David, Alvian akhirnya mau menerima bantuan Alvaro.
Dengan penuh kesadisan, Alvaro dan juga Alvian tak lupa David, meluncurkan beberapa serangan secara bersamaan hingga menghabisi seluruh musuhnya.
Tiara dengan kecepatan tinggi, melakukan mobilnya menambrak para bandit yang menghalangi jalan mereka.
“Kau tidak apa-apa Nara?”
“Aman, “ ujar Nara.
Dengan gesitnya, Tiara menyalip beberapa mobil menghindari kejaran musuh. Bram yang sedari tadi mengikuti mereka, sedikit terkejut dengan kemampuan Tiara dalam mengemudikan mobil.
Saat hendak memutar arah, dengan sangat terpaksa Tiara harus menghentikan laju mobilnya saat sebuah truk menghadangnya.
“Tiara, bagaimana ini?” Nara menatap Tiara.
__ADS_1
“Kau saja bingung, lalu aku?”
Keduanya masih tetap setia dalam mobil, sampai pada akhirnya Bram berhenti tepat di samping keduanya. Cukup menarik nafas lega, keduanya keluar dari mobil menghadapi parah bandit itu dengan Bram disamping keduanya.
“Siapa kalian?!” tanya Bram.
“Tidak perlu tau siapa kami? Serahkan flashdisk itu!”
Jadi, mereka juga menginginkan flashdisk yang ada pada tangan Nara. Kedua gadis itu saling bertatapan sekilas.
“Dito, kami di serang.” Nara menekan earphonenya yang langsung tertuju pada Dito.
Ada sedikit kekhawatiran dari pria itu, Ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Semuanya tergantung Tuhan, dan juga kemampuan Nara dalam bertarung.
“Nara, jaga baik-baik flash itu.”
Mendengar suara Dito yang pelan, Nara tau pria itu sudah kehabisan ide sekarang. Mau tidak mau, Nara maupun Tiara harus bertarung.
“Ayok bertarung Nara, “ bukan Nara yang semangat, kali ini Tiara begitu sangat bersemangatnya ingin melampiaskan segala amarahnya.
“Dasar bar-bar, “ cibir Bram.
“Kalian siap gadis-gadis?!”
Keduanya mengangguk antusias bersiap menyerang namun, suara tembakan yang muncul melumpuhkan seluruh musuh di sana tersisa pemimpinnya saja dan juga beberapa anak buahnya yang lain.
Nara berbalik, mendapati Alvian yang diikuti Alvaro mendekati mereka. Melihat hal itu, Tiara langsung menarik tangan Nara masuk kembali kedalam mobil.
“Kita harus bisa lepas juga dari Alvian, “ ujar Nara.
Masih menatap ke arah luar mobil melihat punggung Alvian yang sudah tertempel pada kaca mobil Tiara.
Parah musuh mulai menyerang, Alvian bersama anggotanya ikut membalas serangan itu. Dalam kesempatan itu, Tiara langsung memutar arah mobilnya melaju meninggalkan tempat tersebut.
“Sial, “ umpat Alvian menatap kepergian kedua gadis tersebut.
“Kejar mereka, biar kami yang mengurus ini.”
Masih dengan tangan yang terus mengayun menghantam musuh, Alvaro meminta Alvian mengejar kedua gadis itu.
Tentu saja Alvian mengikuti perkataan Alvaro, Ia melajukan mobilnya mengikuti Tiara yang sudah jauh dihadapannya.
“Nara, kita di kejar Alvian.”
Nara cepat-cepat memasukan flashdisk itu kedalam sepatunya. Alvian menghadang laju mobil Tiara, membuat keduanya lagi, dan lagi harus berhenti.
“Minggir Al, kau bisa tertabrak!” teriak Nara.
Sama sekali tidak memperdulikan perkataan gadis itu, Alvian mendekati Nara menarik tengkuk Nara mengecup bibir mungil Nara dengan brutal.
“Kau melakukan pelecahan terhadap seorang gadis!” Nara berhasil melepaskan pelukan Alvian.
Ketika Alvian hendak memeluknya lagi, dengan cepat Nara menghindar yang semakin membuat Alvian terbakar amarah.
“Mau serahkan flashdisk itu, atau kubunuh kalian berdua!”
Bukannya takut, Nara justru semakin memancing emosi Alvian dengan tertawa terbahak-bahak tanpa henti.
__ADS_1
“Winara!” Nara seketika menghentikan tawanya, menggelengkan kepalanya.
“Maaf Al, aku sangat membutuhkannya.”
Hari ini, sudah hampir ratusan kali Alvian mendapat penolakan dari Nara hanya karena sebuah flashdisk bodoh itu.
“Aku jauh lebih membutuhkannya dari mu Nara, “ Alvian melembutkan suaranya ketika tangannya sudah berada pada pundak Nara.
“Baiklah Al, “
Nara mengeluarkan benda itu dari dalam kaos kakinya, hendak menyerahkan pada Alvian. Namun, dengan cepat Tiara merebutnya dan berlari menuju mobilnya.
“Tiara!” teriak Alvian lagi.
Pria itu sebentar lagi akan kehabisan suara, dari tadi ia tidak berhenti berteriak akibat ulah dua gadi gila ini.
Alvian berlari menuju mobilnya namun, dengan cepat Nara merebut kunci mobilnya membuat Alvian semakin geram saja.
“Jangan macam-macam sayang, “
Sama sekali tidak memperdulikan perkataan Alvian, Nara memunggunginya lalu bergerak maju berlawanan arah dengan laju mobil Tiara.
Dor
Mendapat tembakan peringatan dari Alvian, Nara tersenyum puas mempercepat langkahnya menuju sungai kecil di sana.
Hari semakin gelap,aksi kejar-kejaran Nara dan Alvian masih terus berlanjut di sungai itu tanpa ada yang mau menyerah sedikit pun.
“Nara kembalikan kunci mobilku!” Alvian masih berusaha.
Nara menjulurkan lidahnya, mengejek Alvian yang sama sekali tidak berhasil menangkapnya meskipun sudah mempercepat langkahnya.
Berbeda dengan Nara yang masih mengurus Alvian, Tiara justru sudah tiba di depan gubuk Dito. Ia tampak berpikir sebentar, apakah haru masuk? Atau kembali ke kediaman Jovanka bersama flashdisk itu?
Beberapa menit terdiam, Tiara akhirnya memutuskan masuk kedalam gubuk Dito. Ketika sudah hampir mendekati Dito, Tiara memutar arah hendak kembali ke mobilnya. Namun, suara terikan Dito menghentikan langkahnya.
“Tiara! Kalian berhasil? Kemana Nara?” pertanyaan beruntun dari Dito, menyadarkan Tiara dari lamunannya.
“Ini, Nara masih mengurus Alvian.” Tiara menyodorkan flashdisk itu kepada Dito.
Sedikit mengangguk, Dito mulai membuka isi dalam flashdisk itu. Mata Tiara membulat sempurna, ketika melihat apa yang ditampilkan komputer Dito.
“Ini, “
.
.
.
Apa sih isi flashdisk itu? 🤔
Hai pembaca setiaku...
Makasih sudah mengikuti sejauh ini, maaf jika kurang srek atau banyak yang kurang dari cerita aku.
Tolong, kalau kalian baca, jangan lupa tinggalin jejak misalnya, komen atau like gitu biar aku tau gitu ada yg baca.
makasih 🌹
__ADS_1